Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Edimon Ginting

Kenaikan Harga Akibat BBM Seharusnya Kecil

Edisi 323 | 21 Mei 2002 | Cetak Artikel Ini

Sama seperti kejadian-kejadian sebelumnya, kenaikan BBM pada tanggal 3 Mei kemarin juga menimbulkan reaksi yang keras. Ada demo mahasiswa, polemik di media massa serta yang paling memprihatinkan adalah munculnya pemogokkan masal angkutan kota di beberapa daerah di Indonesia. Umumnya mereka menuntut kenaikan tarif. Di sebuah wilayah di Jakarta para sopir angkutan kota menuntut kenaikan 20% tarif sebagai pengganti dari kenaikan harga bensin sebesar 9,3%. Kenaikan tarif transportasi ini kemudian menciptakan multiplier efek terhadap harga-harga barang yang lain, akibatnya harga komoditas pangan dan kebutuhan pokok lainnya menjadi naik. Inilah pangkal dari semua penolakan yang terjadi oleh kalangan mahasiswa. Yang menentang kenaikan harga BBM ini umumnya keberatan karena rasa keadilan publik. Tapi sayangnya tanpa menaikkan harga BBM dengan tetap mempertahankan subsidi dengan kata lain, juga sebetulnya mencederai rasa keadilan publik karena mereka yang menikmati subsidi sebagian besar adalah mereka dari kelompok kaya. Disamping persoalan itu kelemahan terbesar dari pemerintah pada saat kenaikan harga BBM diberlakukan adalah kurangnya antisipasi atas dampak buruknya. Padahal kondisi seperti ini terjadi pada setiap kali kenaikan BBM terjadi. Karena itu kita akan membahas tentang kemungkinan apa saja yang bisa dilakukan dalam mengurangi dampak buruk kenaikan harga BBM ini. Tamu Perspektif Baru kali ini adalah Dr. Edimon Ginting ekonom dari IRIS Indonesia dan staf pengajar pada program pascasarjana Universitas Indonesia. Inilah Perspektif Baru dengan pemandu Ruddy Gobel.

Dalam situasi yang serba sulit seperti sekarang ini kenaikan harga BBM memang sesuatu yang tidak bisa di terima. Tetapi kenapa pemerintah tetap saja mengambil kebijakan yang tidak populer ini, apa dasarnya?

Kebijakan ini sangat mahal kalau kita lihat dari harganya. Tahun yang lalu misalnya pemerintah harus mengeluarkan Rp 68 triliun untuk subsidi BBM. Kalau kita bagi uang ini untuk orang miskin misalnya kita bisa memberikan Rp 1 juta per orang untuk 60 juta orang. ini sangat mahal biayanya. Jadi ini memang kebijakan yang mahal dan tidak tepat sasaran. Seperti anda bilang tadi ini akan sebagian besar akan dinikmati oleh kaum kelas menengah ke atas.

Kata pemerintah bahwa subsidi adalah untuk orang miskin tapi bagaimana bisa subsidi saat ini lebih banyak menguntungkan orang kaya, perhitungannya seperti apa sebetulnya ?

Kita lihat dari porsi konsumsinya, BBM itu siapa yang pakai? Jadi khususnya subsidi BBM itu kebanyakan ke orang kaya. Minyak tanah saja sendiri misalnya itu juga banyak dikonsumsi oleh orang-orang yang tinggal di kota dan tidak miskin. Jadi ini memang salah sasaran. Kalau misalnya bensin, solar sudah jelas sebagian adalah untuk orang yang punya mobil pribadi. Kalau yang naik bus itu sebenarnya porsi bensinnya di dalam biaya produksi bus itu tidak besar. Karena bus itu kan masal penumpangnya, jadi itu orang kelas atas jelas yang akan mengkonsumsi.

Jadi sekali lagi kita tegaskan karena subsidi dikenakan pada per liter bahan bakar, jadi siapa yang menggunakan bahan bakar yang lebih banyak adalah mereka yang menikmati subsidi paling besar, begitu pak?

Benar sekali apa yang anda katakan. Ini karena subsidinya adalah selisih antara harga pokok dengan harga jual per liter. Karena semakin banyak kita konsumsi itu BBM akan semakin banyak kita pakai subsidi pemerintah.

Mungkin bisa sedikit memberikan angka-angka berapa yang diterima oleh masyarakat miskin sebetulnya dari subsidi ini dan berapa yang sebetulnya lari pada sasaran yang tidak tepat?

Saya pikir hampir di atas 80% itu lari ke sasaran yang kurang tepat dan lebih dari itu memberikan distorsi. Dengan adanya BBM yang murah kita tidak akan pernah mencari alternatif energi lain yang lebih murah misalnya. Jadi seperti yang saya sering agak heran melihatnya, gas itu kita eksport ke luar negeri yang otomatis itulah energi yang lebih murah dan BBM kita konsumsi disini. Hanya di Indonesia misalnya orang pakai minyak tanah untuk memasak. Di tempat lain itu dipakai untuk menerbangkan pesawat. Jadi sangat-sangat betul menimbulkan distorsi, disamping memang sudah menimbulkan kesenjangan juga menimbulkan distorsi ekonomi.

Jadi sebetulnya pendapat yang selama ini mengatakan bahwa bahan bakar minyak, misalnya minyak tanah, bensin adalah kebutuhan pokok sehingga agak sulit untuk mencari alternatif adalah pendapat yang salah.

Betul ya, tidak harus BBM tentunya. Di negara lain ini bukan BBM sebagai yang utama. Mereka juga pakai gas, pakai listrik dan pakai energi-energi yang lain yang banyak yang bisa dikembangkan dan mungkin lebih murah. Dan itu saya pikir baik untuk semuanya, untuk ekonomi dan baik untuk kebersihan lingkungan.

Jadi sebetulnya apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini dari sudut pandang masyarakat kemudian dari sudut pandang pemerintah. Apakah kita sudah harus mulai mencari alternatif energi baru atau tetap menuntut agar supaya BBM ini bisa diperoleh dengan harga murah.

Saya pikir tidak kuat kita untuk membiayai subsidi BBM. Sehingga bisa menyediakan BBM dengan harga murah di bawah harga pasar, itu kita tidak kuat secara ekonomi. Pemerintah seharusnya membuat semacam peta bagaimana strategi pengembangan energi ke depan. Jadi walapun sekarang BBM mahal tapi tujuannya adalah untuk membuat kita itu ke arah konsumsi yang lebih efisien. Kita akan mempunyai energi alternatif panas bumi dan gas serta yang lain-lain yang bisa akan membuat tidak hanya produksi dan konsumsi lebih efisien.

Yang agak menarik belakangan ini adalah harga BBM setiap bulan akan naik, turun. Apakah mungkin dia akan turun atau apakah dia akan naik-naik terus dan kenapa seharusnya seperti itu ?

Ini begini, ini sebetulnya tujuannya untuk mengurangi fiscal risk untuk APBN. Kalau dulu tahun yang lalu harga BBM tetap di pasar, otomatis subsidi di APBN itu naik, turun. Jadi defisit APBN itu naik, turun. Sekarang sebaliknya harga di pasar di-fixed, dia berubah, dan subsidi di APBN itu di fixed kecuali kalau nanti memang harga itu sudah di atas harga maksimum. Dengan demikian pemerintah akan harus mengsubsidi. Ini tujuannya adalah membuat, memberikan seperti ke APBN yang lebih besar dibandingkan tahun lalu.

Tadi kita sudah sempat bicara bahwa harga bahan bakar minyak akan naik, turun sesuai dengan kondisi atau harga pasar. Indonesia itu mengikuti harga pasar berdasarkan MOPS. Pak Edimon barangkali bisa jelaskan apa itu MOPS dan kenapa harus mengikuti itu ?

Jadi itu mid oil price di Singapura. Ini dianggap harga yang mewakili tingkat efisiensi dari segi refinery-nya. Jadi disini tidak ada pajak, biasanya negara lain itu ada pajak untuk minyak, jadi harga MOPS ini tidak ada pajaknya. Jadi dianggap harga efisien dan ini dianggap juga akan mendorong Pertamina untuk lebih efisien, kalau harga yang dipakai adalah harga yang efisien.

Sebetulnya lebih menguntungkan mana buat pemerintah, dalam arti bahwa pemerintah dibebankan anggaran pemerintah. Apakah itu ditetapkan flat atau mengikuti kenaikan harga pasar seperti sekarang ini?

Dari segi beban pemerintah kalau flatnya tinggi itu mungkin lebih menguntungkan bagi pemerintah untuk membuat flat. Tapi masalahnya sekarang flat di bawah harga pasar. Jadi itu akan merugikan pemerintah, karena apa ada dua resiko yang besar disini. Harga minyak akan berubah-ubah, yang kedua juga resiko kurs yang akan besar. Jadi sebetulnya dari segi APBN lebih menguntungkan kalau harga di pasar ini yang berubah-ubah. Tapi nantikan seperti yang anda bilang tadi ada dampak yang harus kita manage.

Saya ingin sebetulnya para pendengar semua tahu bahwa berapa besar komponen subsidi yang diberikan oleh pemerintah, itu tergantung dari apa saja. Apakah itu hanya tergantung dari harga pasar, apakah itu tergantung juga dari kurs karena mengingat kalau rupiah kita anjlok berarti pemerintah harus nombokin lebih banyak lagi, bagaimana itu pak ?

Itu perhitungannya sederhana sebetulnya, jadi yang dibayar sebagai subsidi itu adalah selisih antara harga pokok Pertamina dengan harga jual di pasar yang ditentukan oleh MOPS. Selisih itu yang dibayar oleh pemerintah sebagai subsidi. Jadi kalau besar kecilnya subsidi ditentukan oleh satu, harga pasar yaitu MOPS, yang kedua efisiensi pertamina. Jadi kita harus mengejar dari Pertamina supaya lebih efisien sehingga subsidinya itu bisa dikurangi kalau dia lebih efisien.

Penolakan atau inti dari penolakan masyarakat akibat kenaikan harga BBM ini adalah kenaikan harga BBM akan menyebabkan terjadinya kenaikan harga-harga bahan pokok. Apakah memang benar kenaikan harga BBM kalau dari hitungan-hitungan ekonomi. Berapa persen sebetulnya persentasi dari kenaikan harga BBM terhadap kenaikan harga-harga barang pada umumnya.

Kita ambil kasus paling tinggi saja, saya sudah melakukan studi sebetulnya. Dampak kenaikan BBM terhadap inflasi itu sekitar 1,3%. Tapi masalahnya sekarang ini akan bervariasi dari barang ke barang. Untuk transport misalnya, katakanlah saya hitung dari bus sekitar 12%-13%. Itu adalah cost dari minyak. Ini berarti kalau harga BBM naik, katakanlah seperti sekarang ini 9% jadi kalikan saja 9% x 12%, itu kira-kira 3,6% mestinya harga naik. Tapi masalah sekarang sering lebih dari itu kenaikannya, karena para pemilik ini juga ingin labanya itu ikut naik begitu harga BBM naik. Ini yang jadi masalah, kenaikan laba itu kadang-kadang lebih besar dari kenaikan harga BBM. Jadi saat permulaan tadi anda bilang bahwa ada yang menaikkan sampai 20%. Itukan sedikit over shooting atau melebihkan. Ingat disini, kalau ekonomi itukan selalu tergantung. Jadi ini perlu diperhatikan betul-betul, jadi kita sebaiknya harus menaikkan harga secara fair bukan secara tidak fair.

Ini berarti prosentase atau rata-rata kontribusi kenaikan harga BBM terhadap inflasi itu hanya 0,8%-1,13%. Tapi nyatanya di pasar dan ini selalu menjadi kritik buat banyak orang terutama buat penelitian-penelitian atau laporan-laporan inflasi yang dihasilkan oleh pemerintah bahwa sebetulnya kenaikan itu tetap. Faktanya terjadi kenakan besar. Itu kenapa bisa sampai seperti itu?

Ini satu hal sebetulnya. Penyebabnya adalah satu, dampak psikologis ada kecenderungan bahwa pedagang terutama sering menaikkan harga lebih dari yang semestinya. Sehingga ini kemudian menjadi merembet ke tempat lain sehingga menyebabkan inflasi tambahan yang kita sebut tadi adalah dampak psikologis. Satu ilustrasi yang perlu dicatat misalnya universitas ikutan menaikkan SPP sebanyak 10% per tahun, katanya gara-gara BBM. Ini kurang benar. Penyebab inflasi itu tidak cuma BBM, seperti saya bilang tadi inflasi hanya 1,5%, maksimal dari BBM. Tapi hal-hal lain masih ada yang menyebabkan inflasi. Jadi harus kita ingat BBM itu bukan sebagai satu-satunya sumber.

Jadi kalau Pak Edimon katakan tadi bahwa sebetulnya pengaruhnya atau yang menyebabkan itu sebetulnya dampak psikologis yang tidak di manage. Artinya bahwa masih ada kemungkinan kita untuk melakukan upaya agar supaya kenaikan dampak psikologis ini tidak besar sehingga kenaikan yang terjadi atau kenaikan harga BBM benar-benar sesuai dengan perhitungan yang semula.

Betul sekali. Environment kita disini belum sampai ke arah dimana kita semua berdagang secara fair atau fair trade. Kalau itu sudah ada barangkali dampak psikologis ini bisa diminimumkan. Di negara lain ini biasanya kalau kita menaikkan harga secara sembarangan begini, dianggap unfair trading dan ini hukumannya berat. Jadi bisa ijinnya dicabut, didenda dan lain-lain. Disini belum ada, barangkali perlu kita kembangkan sebuah institusi yang bisa mengawasi dan kemudian bisa juga melakukan semacam denda sehingga hal-hal seperti ini bisa dicegah.

Kita akan bicara tentang diperlukan satu lembaga yang penting untuk mengawasi ini. Tapi bagaimana itu kalau terjadi pada pedagang-pedagang kecil misalnya tukang sayur dan sebagainya.

Masyarakat juga harus diberikan informasi, mestinya harga fair yang naik itu sebaiknya disosialisasikan untuk barang-barang tertentu misalnya beras. Kita sosialisasikan ke masyarakat sehingga dengan demikian dia bisa menjadi kontrol tersendiri kalau ada pedagang yang menaikan secara tidak benar. Mereka bisa argue atau kalau memang barang itu bukan barang kebutuhan pokok yang mendesak bisa menunda. Tindakan menunda itu sendiri adalah tindakan ekonomi yang akan menurunkan harga. Jadi dengan begitu kita beri informasi kepada masyarakat yang akurat dan menarik.

Tadi kita sempat berdiskusi bahwa ternyata kenaikan harga BBM dampaknya terhadap kenaikan bahan-bahan pokok itu seharusnya, seharusnya sekali lagi saya tekankan seharusnya tidak besar. Tapi kemudian faktanya terjadi kenaikan yang berlipat-lipat. Itu disebabkan karena faktor psikologis atau dampak psikologis. Kita bisa manage dampak melalui upaya price surveillance atau upaya pengawasan harga. Pak Edimon bisa tolong jelaskan lagi bagaimana mekanisme operasional pegawasan harga ini ?

Mungkin orang-orang agak skeptik terhadap ide ini. Tapi sebetulnya ini bisa diimplementasikan dengan efektif. Karena di negara lain melakukannya di Australia misalnya, mereka setiap melakukan kebijaksanaan seperti ini akan diawasi dengan ketat. Disini kita juga bisa lakukan. Mekanismenya begini, kita mulai saja kita mulai dari komoditi-komoditi yang penting ke masyarakat. Tidak banyak komoditi yang penting. Mulai dari sana lalu kemudian nanti dilanjutkan komoditi-komoditi lain secara random, sehingga para pedagang ini mulai mengerti bahwa environment kita sekarang ini memang harusnya begini. Berdagang secara lebih fair sehingga kita tidak melakukan atau menggeserkan beban yang berlebihan ke orang lain yang notabene mungkin customer kita.

Apakah ini tanggung jawab pemerintah atau tanggung jawab masyarakat secara swadaya. Padahal kan kita sekarang punya yang namanya Komisi Pengawasan Persaingan Usaha dan kita juga punya UU perlindungan konsumen yang melindungi konsumen dari praktek-praktek yang tidak wajar bagaimana seharusnya?

Sebetulnya dalam UU perlindungan konsumen disebutkan semestinya ada lembaga seperti ini bisa swadaya seperti YLKI. Tapi bisa juga punya pemerintah yang mestinya menyediakan barang publik, semacam informasi yang melindungi publik dan memberdayakan publik. Kita harus melindungi konsumen di negara kita ini. Karena merekalah sumber pertumbuhan ekonomi. Kalau kita bisa melindungi mereka berarti kita melindungi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi kita. Ini mestinya barang publik tapi supaya ini punya gigi cenderung harus memang independen seperti KPPU. KPPU kalau di Amerika itu dua sisi, KPPU persaingan usaha tapi juga ada perlindungan konsumen di sisi lain. Jadi dengan demikian mereka bisa bekerja hand in hand untuk mencapai hasil yang sama, yaitu consumers protection yang lebih baik.

Bicara soal consumer protection dan eksistensi dari KPPU. Kalau dengan regulasi yang ada sekarang, apakah mereka sudah cukup memadai untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga yang tidak wajar ini atau apakah kita perlu sebuah regulasi baru dan tentu kalau sudah bicara regulasi baru dan tentu kita berhubungan lagi dengan DPR?

Regulasinya sudah ada. Saya baca UU perlindungan konsumen itu sudah ada. Disana disebutkan satu pasal yang menyebutkan bahwa mestinya ada semacam lembaga untuk menolong masyarakat kepada hal seperti ini. Tapi sampai sekarang gaungnya belum kelihatan. KPPU ini kan masih terbatas kapasitasnya. KPPU diperbesar juga dan juga mestinya untuk kepentingan konsumen lembaga-lembaga untuk konsumen juga disediakan.

Ada ide yang baik untuk menggalakkan partisipasi masyarakat dalam memantau harga ini masyarakat secara sendiri-sendiri itu secara operasionalnya bagaimana?

Operasionalnya seperti saya bilang tadi, masyarakat kan konsumen mereka itu bisa menurunkan harga dengan menunda konsumsi. Itu otomatis akan terjadi diskon kalau terjadi over stock di pasar. Kita tunda konsumsi kita, itu akan membuat harga akan turun dengan sendirinya. Itu salah satu cara untuk mengontrol dampak psikologis, ini dari sisi konsumen. Tapi untuk barang-barang yang urgent, yang sangat tidak elastis misalnya beras dan lain-lain, kita tidak bisa menunda. Disini peran pemerintah yang sangat penting. Jadi dengan adanya fair trade, banyak hal yang bisa kita dapatkan. Misalnya dengan pedagang bisa saling percaya. Jadi selama ini misalnya kita naik taksi, kalau sudah naik taksi kurang percaya sama sopir taksi karena tidak ada fair trade impuls yang melindungi konsumen dan produsen. Jadi saya pikir gain-nya tidak hanya untuk BBM tapi ke depan pun, kita akan sangat mendapat manfaat yang besar kalau kita punya lembaga yang memberdayakan konsumen.

Jadi saya tegaskan lagi di samping kita perlu satu lembaga secara individu, masyarakat pun bisa dengan attitude tadi dengan melakukan perubahan pola konsumsi apabila harga naik, kita tundalah kalau itu bukan kebutuhan pokok. Tentu berbeda kalau kebutuhan pokok tapi ada lagi satu yang menarik dan sedang santer di dengung-dengungkan oleh pemerintah, adalah dana kompensasi. Ini merupakah salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi dampak buruk itu bagaimana mekanismenya?

Saya pikir ini sudah didistribusi dan diimplementasikan, hasilnya cukup saya pikir lebih baik dari beberapa tahun yang lalu, walaupun dulu ada kritik. Saya pikir memang sudah ada perbaikan dalam implementasinya, tapi itukan tujuannya sama. Tapi kalau saya punya ide, bila saya dulu kebetulan terlibat dalam pembuatan policy. Mestinya sebagian dari uang ini digunakan untuk kepentingan tadi consumer protection tadi. Sehingga tidak hanya dikompensasi secara langsung, tapi kita juga memberikan environment yang berbeda untuk masing-masing orang untuk ketentuan harga. Jadi dengan demikian dampak psikologis bisa dihilangkan. Jadi ada dua cara. Kompensasi salah satu ada yang langsung efektif mungkin bagi yang tidak punya informasi pasar itu bisa dilakukan. Tapi lebih penting saya pikir adalah secara umum yang cakupannya lebih luas adalah consumer protections.

Apa sebetulnya dana kompensasi, bagaimana menghitungnya, bagaimana mencairkannya, dan apakah para pendengar ini juga merupakan bagian atau pihak yang penting memperoleh dana kompensasi itu?

Saya pikir ada beberapa alokasi. Tapi saya tidak mengikutinya secara detil. Alokasi itu dilakukan oleh Bapenas dengan menteri keuangan. Alokasi itu diantaranya untuk program pendidikan, kesehatan dan untuk penanganan masalah pesisir serta lain-lain. Saya pikir cukup positif, minimal dampak langsung itu bisa dikurangi. Tapi lagi-lagi namanya kompesansi ini pun tidak akan meng-cover dampak psikologis. Jadi sekali lagi saya tetap merekomendasi pemerintah itu mestinya membelanjakan uang untuk barang publik yang namanya consumers protections. Karena memang dampak dari penurunan subsidi BBM cukup besar. Baik untuk APBN, baik untuk kita semua dari segi konsumen dan lain-lain. Jadi perlu itu sekali lagi saya rekomendasikan consumers protection.

Ada satu pertanyaan yang kelihatanya simpel tapi mungkin masyarakat akan terus gelisah kalau ini tidak dijawab. Adalah kalau harga pasar BBM terus menerus naik, apakah ini akan terjadi sampai pada satu level harga di mana masyarakat tidak mampu untuk menjangkau itu, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?

Tidak akan terjadi harga terus naik. Harga naik ini karena fluktuasi harga pasar di internasional. Ada kemungkinan nanti justru harga BBM bisa turun karena memang dengan mekanisme sekarang yaitu Keppres No.9 ini, bisa turun. Jadi dengan demikian nanti mestinya kalau harga BBM turun, harga beras juga ikut turun, harga tarif angkutan ikut turun dan lain-lain ikut turun. Dan ini juga harus di enforce, siapa yang akan meng-enforce. Biasanya kecenderungannya di teori ekonomi itu, harga itu lebih cepat naik dari pada turun. Lagi-lagi ini fungsi dari lembaga konsumen yang kuat tadi. Kalau harga naik saya pikir tidak akan terus menerus. Jadi itu tidak perlu kita khawatirkan. Kalau pun harga nanti naik, pemerintah sudah membuat semacam batas atas. Itu tidak akan terlampui kalau misalnya itu harus terlampaui pemerintah akan menambahkan subsidi.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...