Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Jangan Buru-Buru Meninggalkan Protokol COVID-19

Edisi 1266 | 02 Jul 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selama pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk mengatasi pandemi virus Corona atau COVID-19, Program Perpektif Baru menyampaikan paparan Pakar Komunikasi Hijau (Green Communications Specialist) yaitu Wimar Witoelar, yang juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden semasa pemerintah K.H. Abdurrahman Wahid.

Wimar Witoelar mengatakan saat menghidupkan kembali kegiatan sehari-hari dan kegiatan ekonomi harus tanpa mengundang bahaya dari bangkitnya kembali COVID-19. Tetapi kebijaksanaan untuk menghentikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada hakekatnya mempersilakan penduduknya untuk ke luar dari pengasingan zaman COVID-19 dan mulai menghidupkan roda perekonomian serta kegiatan sehari-hari.

 

Dalam hal ini yang harus diingat adalah kalau wabahnya sudah terkendali angkanya, sudah tidak meningkat, dan sudah rata-rata bagus, itu bukan berarti orang boleh bebas bergerak. Orang boleh bebas secara terbatas dan jangan mengundang COVID-19. Jadi jangan buru-buru meninggalkan protokol COVID-19.

Protokol dasar dari COVID-19. Pertama, jangan berdekatan dengan orang yang sakit. Kedua, jangan berdekatan supaya virusnya tidak sampai menular. Ketiga, cuci tangan pakai sabun menggunakan air yang mengalir sehingga tidak ada yang menempel di kulit kita atau terbawa ke badan kita. Kalau protokol tersebut dipegang, rantai penularan COVID-19 akan putus dan wabahnya berhenti. Itu yang terjadi di Islandia, Korea Selatan, Jepang, dan beberapa negara lainnya.

Berikut perspektif Wimar Witoelar.

Relaksasi PSBB

 

Saat menghidupkan kembali kegiatan sehari-hari dan kegiatan ekonomi harus tanpa mengundang bahaya dari bangkitnya kembali COVID-19. Jika kita lihat provinsi-provinsi di Indonesia, maka kita lihat ada yang angka penderitanya masih naik terus, seperti Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan. Ada juga yang sudah bisa dikatakan stabil bahkan sedikit menurun seperti DKI. 

 

Tetapi kebijaksanaan untuk menghentikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah tidak menunjukkan perbedaan. Jadi di setiap provinsi dengan perbedaan-perbedaan kecil pada hakekatnya mempersilakan penduduknya untuk ke luar dari pengasingan zaman COVID-19 dan mulai menghidupkan roda perekonomian serta kegiatan sehari-hari.

 

Ini mengundang bahaya karena gelombang pertama COVID-19 belum selesai, tapi orang sudah ramai lagi. Malah bisa ada bahaya munculnya gelombang kedua dan selanjutnya dari pandemi ini. Kejadian seperti ini terlihat di beberapa tempat di luar negeri seperti di Korea.

 

Setelah sementara waktu selesai, kini mulai ada gejala akan hidup lagi pandemi itu karena semangat orang yang terlalu tidak terkendali untuk menghidupkan kegiatan, dan ini terjadi terutama di Amerika Serikat (AS). Di AS, kira-kira setengah negara itu dan mereka negara yang sangat besar tentunya, sudah selesai pandeminya. Namun setengah lagi belum malah bahkan ada yang meningkat melebihi negara bagian lainnya. 

 

Kalau New York pada awalnya dikenal sebagai negara bagian yang paling terkena musibah itu, sekarang malah termasuk yang stabil. Jadi perjuangan melawan COVID-19 di New York menunjukkan hasil yang baik dengan pada dasarnya melaksanakan protokol kesehatan, yaitu secara konsisten memasang jarak antara warga atau social distancing, kemudian memakai masker dan sering-sering cuci tangan pakai sabun.

 

Kalau yang lain adalah seperti negara bagian di AS pada umumnya. Kemarin sewaktu Presiden Trump gegabah mengadakan rapat raksasa di kota Tulsa negara bagian Oklahoma, hasilnya sangat kontraproduktif. Itu karena Oklahoma termasuk bagian yang COVID-19-nya masih ganas, masih tinggi.  Jadi acara dengan ribuan pendukung Presiden Trump itu bahkan dikuatirkan akan membangkitkan kembali pandemi COVID-19. 

 

Boleh dikatakan itu suatu kegagalan total di Oklahoma dan juga secara strategis tidak ada keuntungan politiknya karena negara bagian Oklahoma adalah negara bagian yang memang sudah kuat dukungannya terhadap Presiden Donlad Trump, tapi malah berkumpul dalam namanya rapat raksasa. Yang tadinya diperkirakan akan sampai seratus ribu orang oleh tim kampanye, tapi hanya mencapai enam ribu sehingga bagian dari ruangan itu banyak yang kosong.

 

Jadi itu malah menimbulkan kerugian daripada risiko kesehatan tanpa ada keuntungan dari ekonomi atau politik. Minggu ini pertemuan serupa tapi lebih kecil akan diadakan di Arizona yang juga negara bagian pendukung Presiden Trump di mana juga dikuatirkan terjadi hal yang sama.

 

 

Disiplin Mengikuti Protokol

 

Kota Daegu di Korea Selatan melaporkan bahwa penyebaran COVID-19 di tempat itu sudah mencapai 0 tingkat. Ini luar biasa sebab Daegu adalah tempat pertama meledaknya wabah COVID-19 di Korea Selatan pada Maret lalu, dan waktu itu dengan cepat dia mencatatkan angka penyebaran yang sama dengan Wuhan. Tetapi kemudian berhentinya sama dan bahkan sedikit lebih cepat.

 

Sekarang di Daegu tidak bertambah lagi karena orang di Korea Selatan sangat disiplin. Jadi kalaupun sudah selesai PSBB atau restriksinya, tetap saja dia jalankan protokolnya sejauh itu masih direkomendasikan. Dia tidak ke luar rumah, dia cuci tangan pakai sabun, dia pakai masker, dan sebagainya. Jadi bisa hilang sama sekali.

 

Berbeda dengan Singapura yang sempat hilang tapi kemudian muncul lagi. Memang rahasianya adalah bahwa ketika orang itu berhenti menjalankan restriksi, jangan cepat dinikmati dan tenang-tenang saja dulu karena wabah bisa akan kembali lagi. Penularannya akan mucul lagi kalau orang itu terlalu ramai menggunakan kebebasannya.

 

Di Korea mereka tetap tertib. Walaupun sekarang bebas sama sekali sudah boleh apa saja, tetapi orang masih memperhatikan distancing di jalanan, dan masih memakai masker. Itu karena tidak ada ruginya. Mereka berpikir yang penting adalah disiplin dan kerja sama saling membantu. Sebaliknya, di tempat-tempat seperti beberapa negara bagian di AS dan Inggris orang sangat tidak disiplin.

 

Kemarin di Inggris ada pantai di Kota Bournemouth yang penuh sekali penduduk yang berjemur karena memang dinyatakan sudah boleh keluar, hanya belum dinyatakan bebas betul. Tetapi begitu keluar, orang rebutan bahkan ribut seperti ada huru-hara. Akhirnya pantai tersebut ditutup oleh polisi, tentara dan aparat, lalu dikosongkan. Sekarang pantai itu lengang lagi karena kebebasan yang diberikan tidak bisa dipercayakan pada disiplin orang untuk menjalankannya.

 

Di AS, hal itu terjadi di Texas, Florida, California, Oklahoma, Arizona, dan di banyak negara bagian. Bahkan negara bagian yang pertama menjadi epicentrum pandemi dunia yaitu New York, sekarang justru menjadi juara karena bagus penertiban yang dilakukan di New York. Sampai sekarang New York sedang mempersiapkan peraturan untuk melarang orang datang dari negara bagian lain, kecuali mau dikarantina terlebih dulu selama dua minggu.

 

Jadi bayangkan kalau di sini diterapkan seperti itu. Ketika orang Jawa Tengah ke Jakarta dan dikarantina dulu, apa mau dan apa itu bisa? Jadi memang COVID-19 bukan masalah ekonomi, bukan masalah apa-apa tetapi masalah sosial, psikologi. Orang harus mau menjalankan aturannya dan harus mau sembuh.

 

Kalau orang merasa disiksa oleh protokol COVID-19, maka dia tidak merasa khawatir akan kena penyakitnya. Dia lebih baik mengambil risiko dengan bergerak bebas misalnya main ke mall daripada dia terus merasa tersiksa. Jadi pertama adalah dalam pikiran kita. Apakah kita mau atau tidak melanjutkan disiplin, atau lebih baik kita ambil risikonya? 

 

Di AS dan di Inggris yang justru negara liberal ada kebebasan, tetapi negara totaliter seperti Rusia pun tidak disiplin dan merajalela juga COVID-19 di sana. Yang sebetulnya mempunyai disiplin sosial adalah negara seperti Islandia, Selandia Baru, kemudian Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara yang memang budayanya adalah displin dan kerja sama. Dalam masalah apapun dia bisa disiplin dan kerja sama.

 

Misalnya, mengapa Korea Selatan bisa cepat sekali meningkatkan industrinya, seperti industri mobil, industri elektronik, industri pembuatan kapal? Itu Karena  memang dilakukan sebagai pekerjaan bersama. Jadi patriotismenya bukan dalam mengibarkan bendera, bukan dalam politik, bukan dalam anti komunisme tapi dalam sikap bersama menghadapi masalah bersama. Jadi sekarang Jepang pun, seperti Korea Selatan, termasuk negara yang bisa survive dari COVID-19. Itu sangat mengagumkan

 

 

Prinsip Sederhana COVID-19

 

COVID-19 itu sifatnya sederhana tapi mematikan dalam kerumitan detailnya. Pada prinsipnya sederhana, dia hanya bisa diderita dan menularkan orang melalui penularan virus melalui udara dengan berbagai cara yang akhirnya hinggap di orang lain. Jadi kalau tidak ada hubungan antara orang yang sakit dengan yang akan dijangkiti maka tidak ada bahaya.

 

Sebaliknya, kalau orang itu berada dekat jarak penularan dari orang yang penderita COVID-19 maka kemungkinan penularannya cepat dan bisa banyak. Bisa dari satu orang ke 10 lalu ke 100, dan terbayang 10 orang yang ditulari itu kemudian menular lagi. Pertumbuhannya bisa dahsyat dalam satu hari bisa puluhan ribu. Itu cirinya COVID-19.

 

Jadi mematikannya itu sebetulnya sederhana, yaitu putuskan jaringan penularan dengan berbagai cara. Yang paling jelas, misalnya, protokol dasar dari COVID-19. Pertama, jangan berdekatan dengan orang yang sakit. Kedua, jangan berdekatan supaya virusnya tidak sampai menular. Ketiga, cuci tangan pakai sabun menggunakan air yang mengalir sehingga tidak ada yang menempel di kulit kita atau terbawa ke badan kita.

 

Jadi kalau protokol tersebut dipegang, rantai penularan COVID-19 akan putus dan wabahnya berhenti. Itu yang terjadi di Islandia, Korea Selatan, Jepang, dan beberapa negara. Tapi kalau virus itu dibiarkan hinggap di orang menulari, maka tidak ada berhentinya. Itu yang terjadi di Indonesia, AS, dan banyak negara di Eropa sebelum mereka mengendalikannya seperti di Spanyol.

 

Sekarang yang banyak ada di Amerika Latin, Brazil, Meksiko, Paraguay, Kolombia. Keadaannya  sudah gawat bisa menyamai yang sudah ada di AS. Jelas Brazil sudah menyamai AS dengan banyak yang susah dikendalikan dan bahkan wabah jadi bisa bertahan bertahun-tahun.

 

Jadi, mengapa COVID-19 yang tadinya cepat menyebar di Korea Selatan bisa cepat berhentinya? Itu karena begitu ada kabar COVID-19 maka sistem kesehatannya langsung turun tangan dan mencegah COVID-19 menular dari orang ke orang. Orang dilarang untuk bertemu dengan lock down atau dikarantina mutlak. Kalau orang mau mengkarantina diri maka tinggal di rumah, dan mau melakukan semua yang dikehendaki oleh protokol COVID-19.

 

Sesudah itu kalau kelihatannya wabah sudah berhenti maka itu tetap sangat berbahaya bahwa wabah bisa mulai lagi. Itu yang dikhawatirkan yang disebut dengan istilah gelombang kedua, lalu gelombang ketiga. Gelombang kedua dan ketiga bisa lebih parah, dari yang awalnya terjadi wabah selama tiga bulan malah bisa menjadi lebih panjang mencapai satu tahun.

 

Kita kenal wabah-wabah yang besar seperti Flu Spanyol itu terjadi selama bertahun-tahun. Sampai yang menjadi korban waktu itu mencapai setengah penduduk di Eropa. Karena itu pada saat kelihatannya sukses, maka jangan langsung pergi ke pantai, laut, jalan raya, atau ke pesta. Itu akan menimbulkan wabah globang kedua. 

Jadi yang harus diingat dari cerita ini, kalau wabahnya sudah terkendali angkanya, sudah tidak meningkat, dan sudah rata-rata bagus, itu bukan berarti orang boleh bebas bergerak. Orang boleh bebas secara terbatas dan jangan mengundang COVID-19. Jadi jangan buru-buru meninggalkan protokol COVID-19.