Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Awal Baru Memasuki Normal Baru

Edisi 1261 | 02 Jun 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selama pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk mengatasi pandemi virus Corona atau COVID-19, program Perspektif Baru tidak mengadakan wawancara. Program Perpektif Baru menyampaikan paparan Pakar Komunikasi Hijau (Green Communications Specialist) yaitu Wimar Witoelar, yang juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden semasa pemerintah K.H. Abdurrahman Wahid.

Wimar mengatakan bagi mereka yang terpaksa harus bekerja lagi maka bekerja. Tapi bagi mereka yang bisa menunggu maka dilanjutkan saja pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sampai betul-betul aman nanti. Jadi tidak ada sebetulnya konflik kepentingan, atau kompromi antara keamanan kesehatan dengan kegiatan ekonomi. Dua-duanya harus berjalan.

Menurut Wimar, kalau harus memilih maka harus diutamakan kesehatan dulu, baru kepentingan ekonomi berjalan. Itu karena tidak ada gunanya ekonominya berjalan, jika orangnya sakit semua atau bahkan meninggal. Itu sebetulnya logika sederhana tapi entah kenapa banyak orang yang memang tidak bisa mengikuti logika sederhana itu. Jadi prioritas nomor satu harus selalu keselamatan dari kesehatan, kesejahteraan sosial, baru kemudian kegiatan ekonominya.

Boleh dibilang secara lebih luas penantaan kehidupan dunia akan berubah pelan-pelan karena tidak bisa orang hidup seperti dulu lagi. Misalnya, pekerja di perusahaan pun mungkin akan mengurangi berkumpul dalam jumlah banyak dan komunikasi melalui internet akan tetap dipertahankan untuk menunjang komunikasi fisik yang banyak bahayanya.

Berikut perspektif Wimar Witoelar.

Kompetisi Penanganan COVID-19

Sekarang ini ada kompetisi ranking seperti ranking Olimpiade, tapi ini bukan olah raga. Ini ranking dari prestasi mengatasi COVID-19. Walaupun belum ditutup pertandingannya karena prestasi itu bisa naik - turun, sehingga negara yang sudah berhasil bisa mengalami gelombang kedua dan seterusnya. 

Namun kini sudah kelihatan ada jajaran negara yang masuk papan atas seperti Norwegia, Vietnam, Korea, Cina. Ada yang masuk papan tengah yaitu Jerman, Spanyol, Malaysia, Thailand. Ada yang papan bawah antara lain Amerika Serikat, Indonesia, dan sekarang mungkin tersusul oleh Meksiko dan Brazil. Ini adalah ranking iseng-iseng saja yang dibuat atas dasar angka pertumbuhan kasus COVID-19 dan perkembangannya.

Jadi kita mengetahui mengapa orang mementingkan adanya Lockdown, adanya karantina sebab  penyebaran virus COVID-19 terjadi kalau memang tidak ada yang menghambat menjalarnya penyakit itu dari satu orang ke orang lain, dari suatu kelompok ke kelompok lain.

Kalau dibiarkan memang menjalar terus kecuali ada teori herd immunity yang dicoba. Teori itu masih sangat berisiko tinggi seperti yang terjadi di Swedia. Secara kasarnya dilakukan pembiaran agar orang-orangnya membatasi diri secara moderat dan masing-masing. Namun eksperimen ini belum terbukti. Hasilnya berbeda sekali. Swedia mungkin memiliki 10 kali lebih besar jumlah korban COVID-19 dibandingkan Norwegia. 

Ada juga mungkin negara yang sebetulnya mau menerapkan lockdown, tapi penduduknya dan juga pelaksanaannya kurang efektif menjaga disiplin. Jadi efeknya seperti itu. Mudah-mudahan Indonesia tidak masuk golongan itu. Itu bisa dilihat di statistik di website di mana-mana.

Namun ini menjadi seperti pertandingan kompetitif walaupun ukurannya tidak jelas. Ketidakjelasan ada karena datanya dan ketepatannya berbeda-beda, dan bahkan ada yang tidak pakai data sama sekali. Dari perbandingan dan jumlah korban sebetulnya orang sudah bisa mengambil patokan kebijaksanaan.

Penularan Melalui Kebebasan

Angka-angka yang kelihatannya seperti pengumpulan angka pertandingan olah raga itu bukan main-main, tetapi betul-betul melihat bagaimana status perkembangan atau pengendalian COVID-19 dan bagaimana nasibnya di kelanjutannya nanti. Tempat yang sudah ramai dimana orang sudah bebas berkeliaran, sudah tidak percaya atau lupa dengan COVID-19 itu akan terhukum nantinya dengan mulainya gelombang berikutnya.

Jadi yang sekarang keadaannya sudah mulai bagus bisa merosot lagi dengan penyakit yang melebar dari penularan melalui kebebasan orang. Kalau begitu, maka pandemi ini tidak akan berhenti karena memang pandemi itu terjadi karena tidak ada pembatasan. Kalau pembatasan dijaga dengan baik, maka dia akan berhenti, misalnya di China, Vietnam dan Thailand. Tapi di negara-negara seperti Amerika Serikat, Indonesia, dan banyak lagi negara lain penyebaran itu tidak berhenti. Terus saja  jatuh korban dan makin lama makin banyak.

Misalnya, Swedia yang tidak dikenakan pembatasan dan hanya mengandalkan pada imunitas yang berkembang sendiri, jumlah korbannya 10 kali lebih banyak dibandingkan di Norwegia yang merupakan negara tetangganya.

Jadi karena orang sudah mempunyai teori masing-masing, saya rasa seharusnya orang melihat pada konsensus di antara para ahli epidemologi dan dokter terpercaya untuk kemudian dilaksanakan. Jangan tidak sabar, jangan merasa bosan tidak pergi ke mana-mana selama dua bulan. Selama sehat, kita itu beruntung. Jadi jangan berkeluh kesah. Tentu saja berkeluh kesah boleh tapi kuasailah emosi kita dengan mengerti apa sebetulnya pokok persoalannya. Kita ini dibatasi oleh pemerintah, oleh dokter, atau dibatasi oleh kepentingan kita sendiri untuk memelihara kesehatan.

Angka penularan itu kalau sudah berhenti maka berhentinya sementara. Itu karena kalau tidak dijaga, kalau orang mulai jalan-jalan lagi di luar, mulai bergerak bebas, maka akan ada gelombang kedua, gelombang ketiga, gelombang keempat. Tidak akan berhenti jadinya kalau begitu seterusnya. Jadi kalau pun sekarang sudah banyak anjuran atau izin untuk boleh bekerja lagi, kita harus lihat anjurannya itu bertahap.

Bagi mereka yang terpaksa harus bekerja lagi maka bekerja. Tapi bagi mereka yang bisa menunggu maka dilanjutkan saja pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sampai betul-betul aman nanti. Jadi tidak ada sebetulnya konflik kepentingan, atau kompromi antara keamanan kesehatan dengan kegiatan ekonomi. Dua-duanya harus berjalan.

Kalau harus memilih maka harus diutamakan kesehatan dulu, baru kepentingan ekonomi berjalan. Itu karena tidak ada gunanya ekonominya berjalan, jika orangnya sakit semua atau bahkan  meninggal. Itu sebetulnya logika sederhana tapi entah kenapa banyak orang yang memang tidak bisa mengikuti logika sederhana itu.

Di Amerika Serikat saja yang orangnya pintar tidak bisa karena ada kepentingan politik dari sebagian yang menginginkan ekonomi cepat diaktifkan kembali, sedangkan sebagian lagi ingin mengikuti keilmuan ilmiah untuk mengutamakan kesehatan. Jadi tidak ada kesepakatan. Presidennya ingin cepat tapi gubernur-gubernurnya khawatir terhadap penduduknya, jadi merasa lebih perlu mencari keamanan dulu.

Di Indonesia pun banyak yang sudah mengerti permasalahannya. Ada yang sudah dua bulan ini jarang keluar, atau kalau keluar hanya untuk yang penting-penting saja. Tapi ada juga yang mencuri kesempatan, mereka mengira larangan keluar itu adalah larangan yang membatasi kebebasan kita. Padahal itu adalah pengaturan untuk menjamin keselamatan kita.

Jadi kalau melihat orang mulai bekerja, maka itu bagus saja untuk yang memang sangat membutuhkan. Pemerintah juga membantu dengan memberikan bantuan untuk orang yang belum bisa bekerja. Tapi apa gunanya bekerja kalau kemudian terkena penyakit lagi.

Kita harus sama-sama menjaga solidaritas jangan sampai terjangkit penyakit lagi. Kita tidak tahu nanti setelah hari raya selesai dan orang tidak terlalu banyak berpergian, apakah mungkin angka penyebaran COVID-19 akan tetap rendah, atau menurun, atau malah naik lagi. Kalau naik lagi  dengan  gelombang kedua, lalu gelombang ketiga, maka percuma jika kita membuka pintu kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang ramai itu tidak akan ada gunanya kalau orangnya sakit atau sudah meninggal atau kehidupan sosialnya tidak dijaga.

Jadi prioritas nomor satu harus selalu keselamatan dari kesehatan, kesejahteraan sosial, baru kemudian kegiatan ekonominya. Ada yang ekonominya maju pada beberapa usaha, tapi dengan mengorbankan sekian banyak orang yang bertambah sakit. Jadi ini betul-betul antara keserakahan dan tanggung jawab.  

Protokol Normal Baru

Sekolah-sekolah di negara lain sudah mulai ada yang buka. Yang tercatat pertama yaitu di Denmark yang merupakan negara paling cepat di antara negara lain. Tapi pembukaan sekolah dilakukan dengan protokol baru yang mengurangi risiko misalnya jumlah siswanya diperkecil di kelas dengan orangnya dijadwalkan terpisah. Ada juga ketentuan mengenai memasang jarak di antara orang-orangnya, kemudian juga sering cuci tangan, dan sebagainya.

Memang risiko itu yang hendak dihindari. Jadi kalau sudah kembali sekolah tidak akan seperti normal yang dulu, bahkan banyak hal-hal yang tidak akan normal seperti dulu. Penerbangan pun tidak akan demikian. Yang susah diatur itu adalah orang-orang yang berada di tempat kumpulan seperti di pasar dan di pantai. 

Kalau di negara lain, yaitu negara-negara Barat, karena pada musim panas orang senang sekali pergi ke pantai, maka kita tidak tahu akibatnya nanti. Kita tinggal lihat saja nanti kalau sudah lewat masanya, kalau orang sudah tenang lagi, berapa orang yang kemudian terkena penyakit. Itulah yang disebut normal baru (new normal). Jadi orang-orang yang tidak akan kembali kepada normal yang dulu tapi ada new normal.

Boleh dibilang secara lebih luas penantaan kehidupan dunia akan berubah pelan-pelan karena tidak bisa orang hidup seperti dulu lagi. Misalnya, pekerja di perusahaan pun mungkin akan mengurangi berkumpul dalam jumlah banyak dan komunikasi melalui internet akan tetap dipertahankan untuk menunjang komunikasi fisik yang banyak bahayanya.

Ini berarti juga bahwa penataan perusahaan akan berbeda, dan ujungnya juga penataan kota. Kota-kota sekarang itu dibuat tanpa memperhatikan keamanaan dari segi penularan. Begitulah di kota-kota besar. Kalau kota-kota yang kecil bahkan lebih menusiawi. 

Perubahan paling cepat bisa dilakukan yaitu di sektor-sektor yang sekarang sudah mulai berubah. Jadi memang harus berubah kalau tidak bisa berubah. Sektor itu yaitu seperti sekolah-sekolah tadi yang kita bicarakan. Kemudian juga di perusahaan-perusahaan besar yang punya sumber daya manusia  dan sumber daya uang yang membuatnya fleksibel. Kalau perusahaan kecil atau usaha menengah dan kecil, maka itu tidak banyak feksibilitasnya. Dia bisa berhenti atau dia tetap jalan. Dia bisa berpenghasilan atau tidak berpenghasilan.

Perusahaan besar bisa menyesuaikan dan memilih cara kerjanya agar dia tetap hidup. Kita sudah dengar bahwa Twitter dan Facebook akan mengizinkan karyawan bekerja dari rumah untuk seterusnya. Begitu karena juga untuk jenis usaha lain yang memang memungkinkan kerja dari rumah. Restoran mungkin lebih banyak yang memanfaatkan proses delivery sekarang.

Industri seperti hotel tidak bisa fleksibel. Hotel hanya bisa buka atau tutup karena tidak bisa dikerjakan dari rumah. Coba dipikirkan. Ini menjadi tantangan inovasi bahan pemikiran dan bahan untuk orang berkreasi. Industri baru sekarang bukan lagi start up teknologi tapi bagaimana mengatur perusahaan pada jaman pasca COVID-19.

Jadi nanti seperti perang dunia terakhir yaitu Perang Dunia II yang mengubah banyak tatanan hidup dari zaman sebelumnya. Sekarang juga akan ada dua zaman, yaitu sebelum COVID-19 dan sesudah COVID-19. Mudah-mudahan pembaca termasuk orang yang bisa menyesuaikan, kalau tidak perusahaannya maka orangnya. Karena lama-lama perusahaan yang tidak memberi keleluasaan untuk bekerja di rumah akan ketinggalan oleh perusahaan yang lebih fleksibel.

Kalau kita perhatikan baru-baru ini juga sebetulnya ada golongan pekerjaan atau golongan orang yang sebetulnya bisa produktif bekerja di rumah, dan ada yang harus berada di kantor atau di tempat kerja. Kalau sudah fleksibel itu maka akan lebih sehat kehidupannya.

Syukurlah kita sudah mulai mempersiapkan pemindahan ibu kota. Soalnya ibu kota baru itu nanti bisa dibuat dengan pertimbangan pasca COVID-19. Kota-kota besar yang ada sekarang seperti Singapura, New York, Hongkong, Bangkok, dan Jakarta adalah kota pra COVID-19 yang orang kalau tidak berkumpul dalam kota dalam jumlah berjuta-juta, maka dia akan kalah persaingan. Nanti tidak begitu. Nanti yang dikumpulkan adalah kreatifitas, inovasi, skill dalam bekerja dan bukan pengumpulan-pengumpulan orang.

Kalau benar transisinya maka dunia akan lebih baik. Tapi pra syaratnya banyak sekali. Tidak boleh ada energi terbuang untuk persaingan politik. Tidak boleh ada perebutan kekuasaan, yang membuat orang buntu pikirannya. Sebetulnya nanti akan terlihat apa gunanya kekuasaan kalau memang tidak bisa menciptakan kesejahteraan.

Akhirnya yang akan maju adalah kota-kota sejahtera. Kalau negara seperti Swiss, misalnya, orangnya sedikit tapi banyak kreasinya. Ini akan tetap lebih maju daripada negara seperti Bangladesh atau India yang orangnya banyak sekali dan tidak bisa bekerja tanpa orang-orang itu. Kita harapkan ini menciptakan suatu normal baru sehingga akhirnya ada manfaatnya pengalaman COVID-19 ini. Jangan seluruhya penderitaan, jangan hanya korban yang tercatat, tapi juga ada inovasi baru, ada perusahaan-perusahaan jenis baru yang muncul di atas puing-puing COVID-19 ini.