Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Tauhid Ahmad

Pertumbuhan Ekonomi Terancam Virus Corona

Edisi 1249 | 29 Apr 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan hal yang sangat penting mengenai penyebaran wabah virus Corona yang dapat mempengaruhi perekonomian global khususnya perekonomian negara Indonesia. Kita membicarakan topik ini dengan Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development Economics and Finance (INDEF).

Tauhid Ahmad mengatakan dampak ekonomi dari virus Corona cukup luas. Yang terdampak adalah pariwisata, industri, dan perdagangan. Ini tentu saja karena faktor permintaan dari China mengalami penurunan akibat mereka menghentikan produksi dan juga mengurangi produksi karena orang tidak bisa bekerja di pabrik. Otomatis mereka juga menghentikan permintaan dari negara-negara mitra dagang termasuk Indonesia.

Menurut Tauhid, industri-industri yang berorientasi ekspor perlu di-support, paling tidak ada berapa peluang yang bisa diberikan pemerintah. Pertama adalah kita mengurangi atau pun menahan dulu pembayaran pajak bagi industri yang terkena dampak dari virus Corona, ini sifatnya sementara. Yang juga penting adalah pemerintah memberikan fasilitas bagaimana memberikan kredit yang persyaratannya lebih mudah dan sebagainya bagi industri yang mungkin sekarang punya kesulitan keuangan karena mereka tidak bisa menghasilkan keuntungan yang normal ataupun laba yang normal.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan narasumber Tauhid Ahmad dan sebagai pewawancara Hayat Mansur.

Di bidang kesehatan, dampak virus Corona itu telah menyebabkan lebih dari 2.900 orang meninggal dan lebih dari 50.000 orang terjangkit virus ini. Lalu, bagaimana dampak virus Corona ke bidang ekonomi?

Dampak ekonomi dari virus Corona cukup luas. Yang pertama terdampak adalah pariwisata. Kita punya wisatawan dari China yang datang ke Indonesia rata-rata setahun hampir 2 juta wisatawan. Jadi cukup besar dari total 15 juta wisatawan mancanegara. Dengan adanya krisis karena virus ini, maka otomatis hampir selama Februari 2020 sudah turun jumlah wisatawan dari China, mungkin 5% sampai lebih dari 20% jumlah wisatawan dari China turun drastis.

Wisatawan China yang tidak jadi ke sini diikuti juga wisatawan-wisatawan lainnya dari luar negeri, sehingga sekarang banyak tempat seperti hotel, restoran, pusat perbelanjaan, makanan dan minuman yang berada di pusat wisatawan sudah mulai berkurang. Sekarang tingkat hunian sekitar rata-rata 30% - 50%. Jadi berdampak sekali di lokasi-lokasi seperti halnya Bali, kemudian Manado, Batam, dan juga beberapa kota lain yang menjadi pusat wisatawan China.

Selanjutnya yang terdampak bagi kita adalah sektor industri. Pertama, sebagian besar industri kita sekitar 27,5% mengimpor bahan baku dari China. Jadi ketika bahan baku dihentikan ataupun berkurang ataupun terlambat, maka otomatis industri akan mengalami perlambatan dalam produksi. Ada kemungkinan bahwa perlambatan ini nanti akan menyebabkan sedikit kenaikan harga dari hasil-hasil produksi industri kita.

Meskipun sekarang industri punya cadangan, katakanlah tiga atau empat bulan, tetapi kalau ini terus berlanjut tentu saja akan menyulitkan industri di dalam negeri kita untuk berproduksi. Kami khawatir kalau beberapa industri strategis tersebut terkena dampak, dan belum ada solusi mencari bahan baku dalam waktu yang cepat, maka beberapa industri akan melakukan efisiensi, tentunya diharapkan tidak terlalu besar. Kami berharap harus ada antisipasi beberapa industri yang akan berdampak, misalnya industri di bidang chemical, kemudian besi, baja, dan sebagainya. Industri tersebut sangat tergantung impor bahan baku dari China.

Dampak ekonomi terasa juga di sektor perdagangan. Sejak adanya virus Corona ini beberapa komoditas dunia kita mengalami penurunan harga. Misalnya, sekarang harga minyak jenis Brent turun 15% - 17%. CPO kita juga turun kurang lebih sekitar 3% - 5%. Kemudian juga nikel dan sebagainya yang sebagian besar China sebagai negara terbesar tujuan ekspor industri kita.

Ini tentu saja karena faktor permintaan dari China mengalami penurunan akibat mereka menghentikan produksi dan juga mengurangi produksi karena orang tidak bisa bekerja di pabrik. Otomatis mereka juga menghentikan permintaan dari negara-negara mitra dagang termasuk Indonesia. Jadi ketiga sektor ekonomi itu yang sekarang cukup terdampak.

Apakah tiga sektor itu hanya Indonesia saja atau di seluruh dunia?

Saya kira itu terjadi di seluruh dunia. Tentu saja volume, besaran, dan magnitudenya akan berbeda-beda. Negara-negara yang terdampak langsung adalah yang memiliki keterkaitan mitra dagang ekonomi cukup besar dengan China, dan porsi perdagangan dalam struktur ekonominya besar juga, sehingga otomatis paling besar dampaknya. Misalnya Singapura, sekarang pertumbuhan ekonominya minus karena memang sebagian besar ekonominya ditunjang oleh perdagangan, dan itu dominan dari China.

Dampak virus Corona ke bidang ekonomi ada di tiga sektor yaitu pariwisata, industri dan perdagangan. Berapa lama dampaknya akan berpengaruh di sektor ekonomi ini?

Saya kira ini tergantung seberapa banyak atau seberapa dalam luasan daripada virus ini terjadi. Di China sebenarnya tensinya sudah mulai menurun, tetapi di beberapa negara misalnya di Eropa seperti Italia, kemudian Timur Tengah, dan sebagainya justru baru muncul. Jadi itu saya kira akan berbeda-beda. 

Kalau kita menilik pengalaman-pengalaman SARS pada 2003 paling cepat tiga bulan dan paling lama enam bulan. Jadi tergantung kecepatan bagaimana masing-masing negara bisa meredam virus itu, serta seberapa jauhnya penanganannya. Kalau penanganan terhadap korban virus itu cepat, maka otomatis dampak ke kita juga cepat berakhir, tapi dengan catatan di negara asalnya baik China maupun negara lain juga memiliki kecepatan yang sama.

Kami melihat 3-6 bulan bahwa efek dari virus ini bisa ditangani dari sisi ekonomi. Jadi kalau kita baru mulai dan tiga bulan belum selesai, maka kita hitung saja maksimal enam bulan recovery di bidang ekonomi. Itu karena tidak mudah misalnya mendatangkan wisatawan, kemudian menyuplai bahan baku industri maupun berkaitan dengan produksi pabrik-pabrik di China yang semula katakanlah kehilangan produksi cukup banyak. Mereka akan mengejar ketertinggalan dalam waktu 3 - 6 bulan.

Kalau di bidang pariwisata, dapat dilihat dengan jelas bahwa wisatawan China berkurang ke Indonesia. Bila di bidang industri maka orang awam akan berpikir mengapa sampai industri terganggu? Bukankah kalau mau kirim barang ke China maka kita tinggal kirim saja?

Sebagian besar industri kita yang terganggu adalah industri berorientasi ekspor. Sebagai catatan, China merupakan salah satu tujuan ekspor utama terbesar kita, proporsinya kurang lebih 14%. Menurut saya, itu adalah yang paling besar di antara negara mitra dagang kita. Jadi karena China terbesar, ketika China mengalami penurunan permintaan, maka otomatis mereka akan mengurangi permintaan dari Indonesia dan itu merupakan hasil industri, misalnya hasil CPO, nikel, batubara, dan sebagainya.

Ini berimplikasi bahwa industri kita akan mengurangi volume produksinya. Saat volume produksi kita berkurang, tentu saja akan berdampak pada target dari produksi industri kita berkurang, dan mereka juga otomatis akan mengurangi target untuk pencapaian laba bagi perusahaan dan sebagainya. Inilah dampaknya ke kita. Industri-industri inilah yang saya kira pemerintah harus support ketika mereka mengalami pertumbuhan atau perlambatan permintaan untuk ekspor.

Apa support pemerintah yang sangat diperlukan oleh dunia industri dan bisnis untuk menghadapi dampak virus Corona?

Saya kira industri-industri yang berorientasi ekspor perlu di-support, paling tidak ada berapa peluang yang bisa diberikan pemerintah. Pertama adalah kita mengurangi atau pun menahan dulu pembayaran pajak bagi industri yang terkena dampak dari virus Corona, ini sifatnya sementara. Jadi seharusnya pada April atau Mei mereka bayar pajak, tapi karena ada virus Corona seharusnya bisa tunda beberapa bulan sampai mereka bisa normal kembali. Kalau tidak ada dukungan itu maka beban keuangan dari industri juga akan menjadi berat.

Mengapa hanya penundaan bukan pemotongan pajak?

Saya kira kalau pemotongan pajak nanti akan masuk ke Omnibus Law. Jadi kita harus mengubah regulasi. Tapi yang paling mungkin menunda. Pemotongan bisa dilakukan tapi berat karena regulasinya harus kuat dulu. Kalau penundaan saya kira itu bisa masuk kebijakan yang lebih cepat diputuskan oleh pemerintah.

Yang juga penting adalah dari pemerintah memberikan fasilitas bagaimana memberikan kredit yang persyaratannya lebih mudah dan sebagainya bagi industri yang mungkin sekarang punya kesulitan keuangan karena mereka tidak bisa menghasilkan keuntungan ataupun laba yang normal.

Jadi ketika mereka tidak ada kesulitan likuiditas dan sebagainya tentu saja industri akan mengikuti ketentuan perbankan. Sekarang mereka sedang kesulitan maka harus diberikan keringanan. Saya kira Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa memberikan satu kelonggaran, relaksasi dalam pengawasannya. Bagi industri tertentu yang terkena dampak diberikan keleluasaan untuk diberikan kredit dengan persyaratan yang lebih mudah.

Apakah kebijakan tersebut sudah mulai dijalankan oleh pemerintah?

Kalau saya lihat itu belum dimasukkan, pemerintah saat ini punya insentif kebijakan fiskal untuk mendorong daya beli dan menguatkan daya beli domestik. Misalnya, pemerintah akan menggelontorkan atau memulai kartu pra kerja di berbagai provinsi, kemudian memberikan bantuan untuk keluarga penerima manfaat atau keluarga miskin yang semula Rp50.000 menjadi Rp200.000. Lalu ada juga subsidi bunga untuk perumahan, diskon tiket pesawat, pembebasan atau pengurangan daripada jasa pelayanan penumpang sampai juga memberikan bantuan untuk kredit, terutama promosi untuk turis atau pariwisata.

Yang diberikan pemerintah memang bisa mempercepat terutama daerah-daerah yang mengandalkan sektor pariwisata dan juga daya beli masyarakat. Namun untuk sektor industri yang saya sebutkan tadi, itu belum ada fasilitas yang diberikan. Jadi ada yang sudah jalan tetapi menurut saya ada yang belum tepat dan belum pas dilakukan oleh pemerintah. Padahal saat ini di sektor moneter juga penting, misalnya bahwa pemerintah harus bisa menjaga kredit di sektor perbankan tetap rendah di tengah situasi saat ini. Bahkan kalau bisa suku bunga BI Rate lebih rendah daripada 4,75%, menurut saya.

Jadi agar kalangan perbankan bisa lebih menurunkan suku bunga perbankan dan otomatis bisa menggerakkan dunia usaha, maka perlu ada kebijakan stabilitas yang memang mendorong sektor moneter lebih adaptif terhadap keadaan seperti ini. Saya kira ini belum banyak digali oleh pemerintah dari apa yang disampaikan oleh kementerian keuangan maupun kementerian perekonomian, kurang lebih seperti itu.

Lalu, apakah dampaknya ke masyarakat biasa atau publik?

Pertama, secara langsung dengan adanya bantuan itu maka daya beli masyarakat meningkat terutama untuk kelompok menengah atau kelompok masyarakat miskin. Mereka menambah bantuan sampai enam bulan dari Rp50.000 menjadi Rp200.000, itu akan menambah daya beli.

Dengan bantuan lain, misalnya untuk sektor wisata dan sebagainya, sebenarnya mempertahankan agar sektor-sektor tersebut tidak turun. Jadi yang punya peluang, misalnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor hotel, jasa, dan sebagainya ataupun pengurangan pegawai yang sifatnya outsourcing tidak terjadi, maka itu bisa dikurangi dengan bantuan ini.

Sebenarnya yang sekarang diperlukan masyarakat adalah adanya bantuan untuk di bidang kesehatan, katakanlah bantuan untuk alat masker. Kemudian produk sanitasi itu harus dialokasikan secara cepat pada beberapa wilayah yang terkena dampak, misalnya Depok ataupun Bandung, ataupun beberapa wilayah yang kemungkinan menjadi episentrum daripada wilayah. Saya kira itu penting.

Yang kedua adalah memperbesar kemampuan daya beli tidak hanya kelompok miskin tapi yang rentan miskin. Itu hal yang penting. Meskipun tanpa Corona, ekonomi kita sebenarnya lagi turun karena efek perang dagang yang masih berlanjut maupun sebenarnya domestik kita lagi terganggu. Jadi perlu ada yang sifatnya langsung tapi tidak langsung, tentu saja bagaimana mendorong industri, kemudian pariwisata, hotel, restoran tetap bekerja secara optimal dan mereka tidak mengurangi atau tidak melakukan proses PHK dan sebagainya.

Jadi mereka tetap berproduksi, tetap bekerja seperti biasa sehingga tidak berdampak ekonomi secara besar. Otomatis memang caranya hanya dua, bagaimana mengurangi beban keuangan daripada industri atas pariwisata tadi ataupun memang berupaya mempertahankan permintaan atau pasar mereka yang sekarang sedang down, misalnya jumlah tamu hotel dan sebagainya.

Apa yang harus dilakukan dalam menghadapi dampak ekonomi ini dari sisi masyarakat karena ketika kemarin pemerintah menggumumkan ada dua orang terjangkit virus Corona langsung terjadi panic buying?

Saya kira ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di Korea, Jepang, Singapura ketika hari pertama, atau dalam waktu seminggu ketika terjadi penyebaran virus. Panic buying pasti terjadi. Katakanlah, mereka akan membeli persediaan makanan, minuman, alat kesehatan kurang lebih mungkin bisa sebulan sampai dua bulan.

Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat tetapi pemerintah harus bisa memberikan jaminan atau garansi bahwa ketersediaan bahan pangan, alat kesehatan, dan sebagainya tersedia sampai kapanpun dengan harga yang memang terjangkau. Jadi masyarakat tidak perlu terlalu berlebihan panik karena itu dijamin oleh pemerintah. Pemerintah harus tegas. Kalau perlu untuk bantuan kesehatan dan sebagainya diberikan gratis dan menjadi tanggung jawab pemerintah.

Saya kira dalam situasi tertentu pemerintah bisa menaikkan statusnya, apakah memang ini sebagai bencana atau tidak. Kalau memang masuk bencana, otomatis ada keleluasaan bagi pemerintah untuk mengeluarkan anggarannya dan tentu saja ini bisa di-cover oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sehingga masyarakat tenang. Misalnya bahan pangan pokok akan banyak kehilangan stok dan sebagainya, pemerintah harus supply, perlu ada pencadangan, dan perlu ada operasi pasar dari pemerintah. Saya kira itu yang perlu dilakukan.

Apakah dalam kondisi ini ada setitik optimisme kita untuk ekonomi Indonesia pada tahun ini tetap membaik?

Kalau di 2020 saya kira kita sulit menghindari bahwa ekonomi kita akan lebih baik dibandingkan 2019. Pada 2019 kita terkena dampak perang dagang dan memang domestik agak lebih menurun. Pada 2020 ada virus Corona atau COVID-19. Ini tentu saja punya dampak yang signifikan, berkurang antara 0,2% sampai 0,3%. Itupun sebelum virus Corona masuk ke Indonesia. Saya kira setelah kemarin diumumkan maka dampaknya akan jauh lebih besar. Koreksi kami untuk pertumbuhan ekonomi bisa jauh di bawah 4,8% atau 4,7% bahkan pertumbuhan kita bisa 4,5% dari yang biasanya 5%.

Untuk 2020 saya agak kurang yakin kita membaik, tapi kami agak yakin karena ini rangenya biasanya tiga sampai enam bulan yang berarti sampai triwulan tiga kita masih menghadapi kendala ekonomi, maka triwulan 4 baru mulai kembali normal. Tetapi tentu saja ini dengan satu syarat bahwa stimulus yang diberikan oleh pemerintah di berbagai sektor termasuk di moneter berjalan efektif. Saya kira itu kuncinya. Yang kita harapkan memang tidak terlalu besar dan pada triwulan empat kita baru mulai kembali. Pada 2021 kemungkinan kita akan kembali ke angka pertumbuhan ekonomi 5%.