Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Malpraktik Presiden Trump

Edisi 1242 | 28 Jan 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Pada tahun ini Amerika Serikat (AS) akan menggelar pemilihan presiden. Jadi potensi bahaya yang mungkin akan meledak menjadi bom politik adalah apa yang terjadi di AS menjelang pemilihan presiden. Kita membicarakan hal ini dengan Wimar Witoelar, yang aktif mengikuti perkembangan di AS dan luar negeri.

Wimar Witoelar mengatakan yang beda pada Pemilu AS tahun ini adalah sekarang orang sudah mendapat kesempatan untuk melihat aksi Trump sebagai presiden yang hampir semuanya dari segi orang yang tidak mendukung dia itu sangat salah, dan orang yang dukung dia itu sebetulnya karena ragu-ragu saja untuk mengambil pilihan baru. Jadi bedanya dari Trump pada waktu 2017 sampai sekarang adalah sekarang track recordnya sudah mulai penuh, banyak contoh dari malpraktik yang dia lakukan sebagai presiden.

Yang terakhir ini bahwa Trump menggunakan abuse of power, penyalahgunaan kekuasaan yaitu menggunakan pengaruhnya sebagai presiden yang digunakan terhadap presiden Ukraina yang baru saja dipilih. Trump minta tolong untuk sekongkol menjatuhkan salah satu bakal calon penantangnya di Pemilu yaitu Joseph Biden. Itu tidak pernah di AS orang terang-terangan mencoba mempengaruhi Pemilu dengan bantuan asing. Jadi pada saat-saat ini yang paling bagus bagi rakyat AS adalah mempertahankan prinsip demokrasi melalui partai yang demokratis.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan narasumber Wimar Witoelar dan sebagai pewawancara Budi Adi Putro.

Saat ini potensi bahaya yang mungkin akan meledak menjadi bom politik adalah apa yang terjadi di Amerika Serikat (AS) menjelang pemilihan presiden. Jujur saja saya sebagai wartawan tidak terlalu banyak mengetahui apa yang terjadi di AS. Namun itu selalu muncul di headline  CNN, dan sepertinya keras sekali menggambarkan suasana politik di AS. Apa yang paling menjadi catatan dari Wimar Witoelar, mungkin beberapa saat atau beberapa waktu menjelang pemilihan presiden AS tahun ini?

Jadi kalau kita ingat, Presiden Donald Trump dilantik pada 20 Januari 2017, dan nanti 20 Januari 2021 akan dilantik presiden baru, mungkin dia terpilih lagi mungkin juga tidak. Popularitas dia  atau ratingnya di kalangan pemilih selalu tinggi, tapi kelakuan politiknya banyak mengecewakan orang. Dia tidak pakai perencanaan, dia pakai orang hanya sekali pakai dan dibuang. Jadi banyak sekali orang yang diganti-ganti.

Kalau dilihat dari polling terakhir, yang menginginkan dia diganti sudah di atas 60%, tapi yang mendukung dia masih 37%. Ini karena yang pro pada Donald Trump itu dia mau apa juga tetap pro, jadi sangat emosional  perkembangannya.

Kapan pemilunya akan dilaksanakan?

Pemilunya dilaksanakan pada November 2020.

Apa yang membedakan menjelang Pemilu AS kali ini dengan Pemilu empat tahun lalu? Apa yang membedakan antara dulu Clinton versus Trump dengan sekarang Trump versus Biden mungkin?

Mungkin yang beda bahwa sekarang orang sudah mendapat kesempatan untuk melihat aksi Trump sebagai presiden yang hampir semuanya dari segi orang yang tidak mendukung dia itu sangat salah, dan orang yang dukung dia itu sebetulnya karena ragu-ragu saja untuk mengambil pilihan baru. Jadi bedanya dari Trump pada waktu 2017 sampai sekarang adalah sekarang track recordnya sudah mulai penuh, banyak contoh dari malpraktik yang dia lakukan sebagai presiden.

Apa yang menjadikan Trump malpraktik sebagai presiden?

Yang terakhir ini bahwa dia menggunakan abuse of power, penyalahgunaan kekuasaan yaitu menggunakan pengaruhnya sebagai presiden dan digunakan terhadap presiden Ukraina yang baru saja dipilih. Trump minta tolong untuk sekongkol menjatuhkan salah satu bakal calon penantangnya di Pemilu yaitu Joseph Biden. Itu tidak pernah di AS orang terang-terangan mencoba mempengaruhi Pemilu dengan bantuan asing.

Apa yang dilakukan oleh Trump untuk menggunakan kekuatannya kepada Ukraina, karena mungkin banyak pembaca yang belum tahu apa yang terjadi dengan Ukraina dan AS waktu itu. 

Trump menahan uang yang sudah dialokasikan, sudah disetujui DPR, untuk Ukraina membeli persenjataan mempertahankan diri. Trump menahan-nahan itu sambil meminta presiden Ukraina yang baru untuk menggali-gali keterangan jelek mengenai Joseph Biden dengan banyak orang yang terlibat tentunya. Dia menggunakan tangan-tangan orang itu untuk menekan presiden Ukraina yang baru untuk menurut, kalau tidak maka uangnya tidak akan dikeluarkan.

Apakah itu terbuka atau berupa rekaman atau berupa penyadapan sampai akhirnya kebocoran ini bisa ketahuan oleh publik?

Terbuka, pertama dari laporan yang namanya whistleblower. Jadi di AS ada lembaga dimana orang boleh melaporkan sesuatu kejadian tapi bisa mendapat perlindungan asal dia punya bukti atas tuduhannya, namanya whistleblower, seperti orang meniup peluit begitu. Jadi misalnya ada whistleblower X menunjukkan permainan curang Presiden Trump. Kemudian dari ucapan whistleblower itulah orang-orang bisa memperkuat tuduhan itu, sehingga lama-lama menggununglah bukti daripada penyalahgunaan wewenang.

Pada 1970-an ada kasus watergate Presiden Nixon yang akhirnya membuat dia harus mengundurkan diri. Kali ini skandal politik justru terjadi antara Presiden Trump dengan Presiden di Ukraina. Sudah sejauh mana kasus ini bergulir?

  

Ini sama dengan skandal watergate, boleh dibilang di satu segi lebih kaya dan lebih gurih karena banyak detailnya. Banyak yang melaporkan bukti-bukti dan juga banyak yang memang ingin konsekuen menjatuhkan. Dalam polling-polling setiap minggu naik terus porsi orang yang ingin menjatuhkan Trump sebelum dia maju Pemilu. Jadi sekarang diragukan apakah dia bisa maju Pemilu.

 

Hanya masalahnya begini, kalau dia mendapatkan impeachment atau pemakzulan presiden, di AS itu adalah suatu proses yang dimulai dari Kongres (DPR). Kalau di Kongres terbukti bahwa presiden harus di impeach maka diajukan ke Senat. Di senat kemudian diadili, disetujui atau tidak. Di Kongres saat ini partai mayoritasnya adalah Demokrat, jadi sudah pasti Trump akan kalah di situ. Kemudian kalau masuk ke Senat, mayoritas adalah partai Republik. Jadi kemungkinan Trump kalah suara di Senat itu tidak besar, kecuali kalau keterlaluan skandalnya.

 

Apakah menurut Anda skandal politik ini sudah cukup keterlaluan atau tidak dalam kaedah demokrasi?

 

Menurut saya, karena saya terpengaruh CNN dan koran-koran seperti New York Times dan Washington Post, memang sudah di luar batas. Bahkan New York Times  dan  Washington Post   sampai diputus langganannya di Istana Gedung Putih.  Jadi bisa dilihat mirip sekali dengan Nixon pada 1970-an. Lebih gawatnya koran-koran ini bukan hanya dicekal di White House tapi di semua kantor pemerintahan.

 

Ini adalah skandal politik luar biasa, buat orang akal sehat mana pun ini pasti sudah layak secara logika dan secara konstitusionalitas untuk di impeach, tapi apa yang membuat Trump masih tetap melenggang dengan sangat baik untuk Pemilu berikutnya?

 

Soal melenggang itu hanya pede politik saja, sebetulnya dia sudah panik. Kalau kita lihat berapa banyak pejabat yang dia ganti, tapi dia masih mempertahankan citra bahwa dia itu pede. Kalau kita lihat semua dukungan Trump yang baru itu sudah tererosi, yang ada itu dukungan Trump pada waktu dia terpilih pertama kali yaitu orang-orang yang justru tidak berpendidikan atau yang kurang pintar.

 

Tadi kita sudah membahas satu per satu kelemahannya Trump yang mungkin saja membuat dia bahkan tidak bisa ikut Pemilu ke depan karena impeachment. Tapi kemarin kalau saya lihat Trump membuat pengumuman yang cukup penting dan mendapatkan apresiasi publik ketika pemerintah AS dalam sebuah operasi militer bisa membunuh Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin ISIS yang selama ini ditakuti. Seperti juga dulu George Bush, menjelang Pemilu sekitar 2004 - 2005 saya lupa, bisa membunuh Osama bin Laden. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?

 

Sebetulnya yang membunuh Osama bin Laden itu Obama. Kalau George Bush membunuh Saddam Hussein. Jadi memang peristiwa luar negeri suka dipakai untuk menyelamatkan posisi dalam negeri. Tapi sekarang orang karena saking seringnya menerima bohongnya Trump, tahu bahwa matinya seorang al-Baghdadi bukan pekerjaan dia tapi Special Forces, Intel, dan tentara yang biasanya dijelek-jelekkan oleh Trump yang melakukan operasinya secara independen. Sejauh kita lihat, peristiwa itu tidak menambah gengsinya Trump, kita tinggal lihat lagi ke depannya nanti.

 

Kalau kita bicara makro indikator, selama ini agak sulit para penentang Trump untuk menyerang Trump dalam bidang ekonomi misalnya karena hampir semua makro indikator Amerika itu cenderung lebih membaik dibanding warisan Presiden Obama yang lalu. Anda melihatnya seperti apa dari segi statistik, makro indikator dan juga postur politik luar negeri AS di saat perang dagang semakin besar antara AS dan Tiongkok saat ini?

 

Itu propaganda golongan Trump, kalau saya bisa ajak Anda melihat statistiknya sebetulnya statistik ekonomi AS tidak lebih baik daripada statistik ekonomi Obama pada waktu tahun terakhirnya. Trump sangat menganggap itu sebagai hasil dirinya. Jadi orang-orang sebenarnya tahu juga bahwa itu bukan hasil Trump, tapi sekali lagi yang dukung Trump itu justru orang yang tidak tahu, orang yang tidak berpendidikan, orang yang tidak aktif di partai dan sebagainya. Tapi kalau politik itu kan tergantung dalam Pemilunya siapa yang menang, jadi kita belum bisa menyimpulkan.

 

Sebelum kita membahas apakah strategi “Firehose of Falsehood” atau mungkin era “Post-Truth” atau ujaran kebencian dan rasisme yang dipakai oleh Trump akan dipakai lagi, saya mau mengukur dulu kekuatan lawan politik Trump yakni Partai Demokrat. Di sana kutubnya hanya dua, Demokrat dan Republik. Seberapa mampu kekuatan Partai Demokrat, terutama orang-orang yang mungkin akan diusung Demokrat di Pilpres AS bisa menyaingi kehebohan Trump?

 

Kekuatan resmi politik AS ada di Kongres (DPR) dan Senat.  Di Kongres sudah terbukti bahwa mayoritasnya dimenangkan oleh orang Demokrat dalam Pemilu lalu. Saya lupa persentasenya tapi kira-kira 60% Demokrat. Kalau di Senat karena pemilu Senat itu baru akan berlangsung tahun ini juga, maka saat ini memang keseimbangannya berada di pihak Republik.

 

Hanya saja suara partai Republik mungkin pelan-pelan tergerus oleh lanjutnya skandal politik Ukraina, dan ada satu lagi mengenai penarikan pasukan AS dari Syria secara unilateral tanpa pemberitahuan dan langsung ditarik. Itu saja sudah lebih kuat untuk menjatuhkan, tapi untungnya Trump saat persis bersamaan dia melakukan kesalahan lalu Baghdadi ditembak. Banyak yang menganggap itu kebetulan saja, tapi ada juga yang menganggap hasil daripada strategi Trump.

 

Bagaimana dengan poster politik Demokrat saat ini? Apakah calon-calon Presiden yang kemungkinan akan menantang Trump sudah cukup kuat struktur politiknya?

 

Yang paling kuat barangkali Joe Biden kemudian yang dua semi finalis terkuat ada Elizabeth Warren dan Bernie Sanders.

Dari 3 orang itu siapa yang punya postur politik, kemampuan politik, dan popularitas politik paling besar untuk menyaingi popularitasnya Trump?

 

Jadi tiga-tiganya punya kredibilitas, tiga-tiganya punya pengikut tapi pengikutnya beda-beda. Dari segi integritas, tiga-tiganya sama kuat, tapi ada yang senang, ada yang didukung karena sikapnya secara ideologi juga sama. Jadi kalau ideologi di Demokrat belum beres karena banyak macam-macam. semuanya tidak senang partai Republik tapi ada yang senang pada ekonomi yang masih kapitalis, ada yang mulai mendukung sosialis walaupun tidak mau pakai label itu. Bernie dan Elizabeth Warren sama-sama sosialis, tapi tidak mau mengaku.

 

Apakah itu mungkin cukup menjadi antitesa yang baik untuk melawan presiden Trump?

 

Saya rasa cukup.

 

Kalau kita melihat peneliti demokrasi dimana-mana sudah menyimpulkan bahwa Trump  memakai selang kebohongan, kalau tidak salah “Firehose of Falsehood” kemudian konservatisme kanan “Left-wing Populism”, dan segala macam untuk bisa menang di Pemilu kemarin. Apakah strategi itu masih menjadi primadona dalam politik?

 

Kalau bagi Trump tidak ada hal strategi lain, mungkin hanya didukung orang-orang yang menganut kepercayaan pada “Firehose of Falsehood”, pada populisme kanan. Memang tidak punya senjata lain, tapi kita tidak tahu apakah dia akan menang dengan cara itu. Kalau di media hanya beberapa media, terutama Fox News yang masih dukung dia. Kalau media yang lebih liberal  sudah mulai luntur kepercayaannya pada Trump.

 

Postur politik perang dagang sekarang masih cukup kencang, belum ada yang mau mengalah antara AS dan Tiongkok. Bagaimana menurut Anda?

 

Sebenarnya ada dua macam laporan. Ada yang mengatakan bahwa Trump berkata ini sehari lagi tinggal ditandatangani, tapi delegasi Cina mengatakan tidak ada tanda-tanda itu. Jadi kita tidak tahu ke mana, dan dari mulai ditandatanganinya perdamaian perang dagang sampai efeknya yang nyata itu masih perlu waktu.

 

Sekarang Indonesia di mata AS. Yang paling terlihat dari kasat mata orang awam seperti saya yang menjadi wartawan, pada lima tahun lalu ketika Jokowi dilantik menjadi presiden pada 2014 Presiden Obama mengirimkan utusan John Kerry menteri luar negeri untuk bisa menghadiri pelantikan Presiden. Kali ini Presiden Trump hanya mengutus, saya bilang hanya mengutus karena selevel Secretary of Transportation untuk bisa menghadiri pelantikan Presiden. Bagaimana ini menunjukkan postur Indonesia di mata Presiden Trump?

 

Dari dulu sampai sekarang Indonesia tidak pernah penting di mata AS. Indonesia mungkin di negara Asia nomor berapa. Yang lebih penting dari Indonesia adalah Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, misalnya. Kalau dibilang resources-nya, impor-impor resources Indonesia segitu-gitu saja, tidak punya kekuatan politik. Jadi menurut saya secara subjektif, janganlah salah anggap bahwa Indonesia itu penting buat Amerika.

 

Menjelang beberapa bulan lagi Pilpres AS, suasana politik Amerika mungkin makin panas. Apa yang Anda prediksi dalam beberapa bulan ke depan?

 

Saya prediksi bahwa kemerosotan Trump ini akan terus dan dia ditinggalkan orangnya satu-per satu. Sekarang sudah banyak juga, kecuali ada sesuatu blunder di pihak Demokrat yang terlalu cepat melakukan usaha untuk impeachment. Tapi pada saat-saat ini yang paling bagus bagi rakyat AS adalah mempertahankan prinsip demokrasi melalui partai yang demokratis.