Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Salman Aristo

Film Bumi Manusia Memenuhi Harapan

Edisi 1229 | 25 Okt 2019 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita kali ini terbilang khusus yaitu penulis skenario film, yaitu Salman Aristo. Kita mewawancarainya sehubungan dengan film Bumi Manusia.

 

Salman Aristo mengatakan perjalanan Bumi Manusia di industri film Indonesia sudah seperti mitos. Awalnya, dulu Garin Nugroho kemudian pindah ke Mira Lesmana. Lalu pindah ke Garin, terus balik lagi ke Mira. Di antara Garin terus kembali lagi ke Mira yaitu sekitar 2008 - 2009, saya baru selesai mengadaptasi Laskar Pelangi pada saat itu, Hanung telepon saya.

 

Menurut Salman, awalnya dia langsung menolak tawaran untuk menjadi penulis skenario film Bumi Manusia. Alasannya, ini karena novel karya Pram. Ilmunya belum cukup, walaupun saat itu sudah ada skenarionya. Ini bukan masalah jelek atau bagus, tapi visi sutradara itu beda-beda. Sekitar awal 2018 Hanung telepon lagi. Kali ini akhirnya dia tidak menolak.

 

Akhirnya ini menjadi skenario paling panjang yang Salman kerjakan. Hampir dua tahun kurang sedikit karena memang prosesnya sangat luar biasa sekali, bagaimana mengadaptasinya, keluasan, kedalaman, dan semuanya itu membuat dia menguras semua yang dia punya sampai habis, isi ulang, habis lagi, sehingga lumayan panjang.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber  Salman Aristo.

Skenario film Bumi Manusia yang ditulis oleh Anda sangat bermutu, mengena, dan menurut saya, sangat menangkap jiwa daripada novelnya sendiri. Jadi saya ingin konsentrasi pada itu. Apakah Anda sudah mengenal novel itu sebelum dapat tugas menulis skenario?

 

Sangat mengenal. Jadi saya mengenal novel Bumi Manusia saat kuliah pada 1994. Tapi sebelum itu, sebenarnya kebetulan ayah saya (almarhum) memiliki kebiasaan yaitu di rumah buku-buku ditumpuk saja dan banyak sekali saat itu. Saya menemukan kumpulan cerita pendek (Cerpen), yaitu cerita dari Bloranya Pramudya Ananta Toer.

 

Saya mulai kenal dari situ, mulai baca itu, dan saya tertarik novel Pramudya walau saat itu belum tahu siapa Pramudya, belum tahu posisi politisnya seperti apa, dan belum paham juga karena waktu itu saya masih SMA. Misalnya, cerita bahwa perang itu bisa digambarkan dengan sangat personal dari kaos kaki yang bolong, dan segala macamnya. Kebetulan memang sudah senang menulis pada saat SMP, lalu SMA. Saya kemudian coba-coba menulis puisi, lalu  menulis cerpen saat kuliah di Bandung.

 

Dimana Anda kuliah?

 

Saya kuliah di Universitas Padjadjaran (UNPAD) jurusan jurnalistik. Zaman itu sekitar era 1990-an kalau tidak menjadi aktivis maka tidak keren. Itu bukan karena masalah ideologi dan segala macamnya, tapi kalau tidak begitu maka tidak gaul. Kebetulan saya juga memang tertarik menjadi aktivis pada saat itu.

 

Dari  buku-bukunya Pramoedya, apakah novel Bumi Manusia termasuk yang kental jiwa sosial-politiknya atau yang lain juga sama?

 

Sama. Dulu saya sempat membaca hampir semua buku Pram, menurut saya,  Bumi Manusia sebenarnya justru malah mungkin yang paling general dibandingkan buku-buku Pram lainnya karena dia lebih ke romantis, tapi tetap pada posisi sebagai anti penindasan, dan itu yang paling kuat dari semua tema Pram.

 

Anda bisa menerjemahkan suatu buku menjadi dialog dengan begitu tepat. Bagaimana perjuangannya?

 

Pada 2008 sutradaranya yang sekarang Hanung Bramantyo pernah telepon saya. Jadi perjalanan Bumi Manusia di industri film Indonesia sudah seperti mitos. Awalnya, dulu Garin Nugroho kemudian pindah ke Mira Lesmana. Lalu pindah ke Garin, terus balik lagi ke Mira. Di antara  Garin terus kembali lagi  ke Mira yaitu sekitar 2008 - 2009, saya baru selesai mengadaptasi Laskar Pelangi pada saat itu, Hanung telepon saya.

 

Saya kenal Hanung dari 2003. Film pertama layar lebar saya dan dia sama. Dia mengatakan apakah saya mau membantu menggarap film Bumi Manusia atau tidak? Sepertinya tidak sampai 10 detik, saya langsung menolaknya. Alasan saya menolak karena ini novel karya Pram. Ilmu saya belum cukup, walaupun saat itu sudah ada skenarionya. Ini bukan masalah jelek atau bagus, tapi visi sutradara itu beda-beda. Sekitar awal 2018 Hanung telepon saya lagi. Kali ini  akhirnya saya tidak menolak.

 

Akhirnya ini menjadi skenario paling panjang yang saya kerjakan. Hampir dua tahun kurang sedikit karena memang prosesnya sangat luar biasa sekali, bagaimana mengadaptasinya, keluasan, kedalaman, dan semuanya itu membuat saya menguras semua yang saya punya sampai habis, isi ulang, habis lagi, sehingga lumayan panjang. Bumi Manusia adalah penulisan skenario yang paling panjang untuk saya.

 

Dalam film Bumi Manusia ini apakah ada bagian-bagian yang memang dieliminasi dari bukunya?

 

Banyak. Pertama, karena memang proses mengadaptasi begitu, jadi ada perbedaan medium. Itu saja sudah pasti membuat ada penyesuaian. Buku dan film adalah dua medium yang berbeda. Kedua, pemikiran Pram yang dituangkan dalam bukunya sangat lebar sekali, itu tidak bisa betul-betul digali seperti halnya di novel, sehingga harus dibuatkan strateginya. Ketika berstrategi  ada yang tidak masuk dalam strategi ceritanya, maka otomatis harus dengan ikhlas tidak masuk ke dalam skenarionya.

 

Apakah secara ideologis Anda sejalan dengan Pram?

 

Kalau ditanya sebenarnya saya tidak pernah menemukan Pram seperti sosialis. Lucunya seperti itu. Di luar aktivitas personal dia yaitu di buku-bukunya, Pram yang saya tangkap adalah sosialis. Kalau ditanya, iya saya sosialis mungkin seperti itu, dekat ke sana. Tapi kalau mau dilihat lagi sejak kapan sih founding fathers tidak sosialis?  

 

Apakah ada rencana untuk diberi subtitle? Tapi kalo diberi subtitle bahasa Inggris  sebetulnya isinya sudah ada berbagai macam bahasa, ada bahasa Belanda, bahasa Jawa, malah yang tidak ada Bahasa Indonesia. Apakah Anda yang menangani untuk bahasa Belanda?

 

Kalau bahasa Belandanya ada translator, tapi keputusan untuk sepaham dengan apa yang dilakukan oleh Pramudya Ananta Toer di novelnya adalah keputusan penulisan.  Jadi penulisan skenario ini dikerjakan oleh tim development. Ada Hanung juga terlibat betul di dalam, dan produser dari Falcon sesekali masuk, tapi keputusan itu adalah keputusan dari penulisan ketika kita mengikuti langgam bahasa yang ada di dalam novel. Jadi tidak mendadak lantas di bahasa Indonesiakan semua misalkan. Jadi mengikuti betul begitu, jadi waktu pertama kali development, terjadi perdebatan yang sangat keras sekali di media development dan saya cenderung sendirian.

 

Ketika saya bilang, tidak mau melakukan revisi apapun di draft satu ini, saya mau merayakan Pram, dan semua orang mengatakan, “Anda sendiri yang bilang adaptasi, kan harus ada penyesuaian dan segala macam.” Ya, tapi kapan kita merayakan Pram? Jadi itu posisi pertama dulu yang saya pegang keras betul dan itu menyebabkan 3 - 4 meeting itu tidak selesai-selesai. Semua merasa tidak mungkin karena ini adalah adaptasi, saya kemudian minta diberi kesempatan kerjakan draft satu dulu, saya tidak mau merevisi pemikirannya Pram sama sekali. Akhirnya diberi kesempatan, dan waktu itu biasanya jatah mengerjakan draft satu adalah delapan pekan, sekitar dua bulan, tapi akhirnya empat bulan lebih baru jadi draf satu, tetapi  untungnya waktu itu Hanung sedang produksi film lain, jadi dia tidak terlalu rewel.

 

Untuk film raksasa seperti itu lumayan waktu empat bulan penulisan skenarionya.

 

Empat bulan itu baru draft satu karena sampai mengunci final draft hampir sekitar satu tahun kemudian, penulisannya itu selesai hampir dua tahun kurang.

 

Anda katakan Hanung terlibat langsung, apakah aktor dan atrisnya juga terlibat dalam penulisannya?

Tidak, waktu itu belum casting, casting baru mulai dilakukan dekat-dekat ke final draft.

 

Apakah ada rencana internasionalisasi untuk film ini?

 

Terakhir saya berbincang dengan produsernya dari Falcon, yaitu Naveen Frederica ada rencana untuk berusaha bekerja sama dengan platform digital seperti Netflix yang skalanya internasional, itu yang terakhir saya dengar seperti itu. Kemudian sudah mulai ada rencana sesi festival yang dilaksanakan baru bulan-bulan ini. Kita mulai mengirimkan film ini sudah dari beberapa bulan lalu setelah film ini rilis di Indonesia. Syarat film untuk diikutsertakan dalam festival harus dirilis dulu, namun ada juga yang bisa dikirimkan atau disebar ke festival sebelum dirilis.

 

Apakah Anda ikut terlibat dalam proses casting atau menilai kecocokan pemerannya?

 

Secara porsi kerja sebenarnya tidak. Penulis skenario selesai setelah skenario dinyatakan final. Namun karena saya dengan Hanung hubungannya cukup dekat, saya memberi beberapa saran, kemudian Hanung bertanya, berbicara dengan saya, akhirnya itu terjadi.

 

Bagaimana prosesnya untuk pilihan yang akhirnya jatuh kepada misalnya pemeran Nyai Ontosoroh?

 

Awalnya tentu saja ada beberapa nama. Jadi kalau untuk beberapa karakter yang cukup sentral seperti Minke dan Nyai Ontosoroh itu agak pinpoint casting. Kita sudah tentukan beberapa nama dan langsung dicoba, tentu ada beberapa nama yang kita sudah diskusikan bahkan di dalam development saja kita sudah berpikir juga, dan kebetulan nama Ine Febrianti berulang kali disebut. Kebetulan saya memang sudah kenal serta Hanum juga mengagumi kemampuan akting Ine. Akhirnya kita coba casting dan Hanung juga setuju Ine pas untuk menjadi pemeran Nyai Ontosoroh.

 

Bagaimana proses pemilihan peran Minke sehingga akhirnya diperankan oleh Iqbal?

 

Jadi waktu itu sebenarnya sempat menghebohkan dunia sosial media terutama di Twitter yang banyak protes atas pemilihan Iqbal pada saat itu karena dia sudah begitu populer dengan Dilan, waktu itu jumlahnya penontonnya mencapai 6 juta orang. Sebenarnya nama Iqbal sudah disebut di ruangan development skenario sebelum dia jadi Dilan. Jadi sebelum Dilan rilis nama Iqbal sudah disebut lebih dulu, dan kebetulan film pertama Iqbal adalah film anak-anak berjudul 5 Elang, produsernya saya bersama Shanty Harmayn dan penulis skenarionya juga saya.

 

Jadi saya mengetahui sekali potensi Iqbal, dan saya suka sekali sama potensinya dari awal. Waktu itu saya bicara sama Hanung, Minke harus diperankan oleh aktor yang umurnya nggak jauh. Minke harus berusia 17-18 tahun. Jangan diperankan oleh aktor yang usianya 20-30 tahun karena nanti tidak dapat “keluguan”, “kenaifan”, spirit bertarungnya, seperti itu. Ini jadi seperti anak yang tidak tahu apa-apa kemudian terbentur-bentur dan kalah juga di Bumi Manusia, perannya seperti itu di awal. Jadi memang harus benar-benar genuinely anak dengan umur 17-18 tahun. Lalu begitu kami sortir hanya tinggal beberapa nama yang umur di kisaran itu yang secara akting, secara potensi, dan akhirnya nama Iqbal sudah disebut namun belum dibicarakan ke Falcon waktu itu. Kemudian setelah Dilan rilis dan meledak juga, Falcon kemudian menerima dengan senang hati usulan itu.

 

Mengenai Iqbal dan Minke banyak bagian bahasa Belandanya, apakah semua tidak pakai dubbing?

Jadi pemain sangat luar biasa, menurut saya pribadi. Komitmen mereka terhadap bahasa betul-betul detail dan memang ada coach-nya, kebetulan translatornya juga menjadi semacam co-directornya Hanung di bagian bahasa dan memang native, orang Belanda tapi sangat lancar sekali berbahasa Jawa. Jadi kita mendapat yang agak lumayan spesifik. Orang ini mengerti betul Bahasa Indonesia. Jadi ketika dia membaca dialog yang saya tulis, dia mengejar betul bahasa Belandanya secara sense, bahkan bukan cuma sekadar kata. Jadi translationnya itu sudah masuk pada level transcreation, dia mencari yang tepat secara ritme juga, dia kejar betul Bahasa Indonesianya waktu itu.

 

Memang yang terkesan kepada saya mengenai film itu adalah perhatiannya pada detail, seperti detail bahasa, terus detail pemandangan juga. Apakah Itu semuanya pemandangan asli, tidak pakai CGI?

 

Ada beberapa menggunakan Computer Generated Imagenary (CGI). Misalnya, untuk kota Surabaya sekitar mungkin 40% - 50% CGI. Hanung membangun studio di Jogja, lalu sisanya ditambah. Jadi CGI itu menambah lanskap.

 

Lalu, seberapa jauh Nyai Ontosoroh menghayati perannya?

 

Disiplin Ine adalah teater maka sewaktu kita memilih dia karena satu, jadwal dia tidak terlalu penuh karena dia sangat pemilih sekali kalau mau main layar lebar, sedikit filmnya, tidak banyak dan dia lebih banyak bermain teater, sehingga dia punya kedisiplinan yang tinggi terhadap bagaimana masuk ke dalam dunia karakter. Disiplinnya tinggi sekali, jadi komitmennya terhadap karakter itu sangat serius, dan tidak ada penggampangan.

 

Kalau saya tidak salah baca, apakah ada semacam museum set dari Bumi Manusia di Jogja?

 

Iya betul, jadi Hanung mempunyai studio alam yang berlokasi di Desa Gamplong. Studionya juga disebut studio Gamplong. Set Bumi Manusia itu sekarang dijadikan museum dan bisa dikunjungi.