Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Rachelle, Deja, Yudha

Kompetisi Debat untuk Pengembangan Diri

Edisi 1223 | 27 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Para tamu kita adalah siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 70 yang saya undang sebagai contoh dari anak muda yang konstruktif yang memberi harapan dan juga punya skill set tertentu di bidang bahasa dan dalam interaksi sosial khususnya debat. Mereka adalah Rachelle, Deja, Yudha.

 

Debat ini beda dengan komunikasi lain seperti pidato karena interaksi dalam dua pihak yang terlibat sangat berbeda. Dalam debat kita tidak hanya berbicara satu sama lain, tetapi juga menjaga gagasan, ide, argumen atau analisis kita. Jadinya bagi saya lebih kompetitif untuk dibandingkan dengan pidato.

 

Pada saat ini pejabat, pegawai, dan pengusaha adalah orang-orang yang lahir pada  1900-an, sedangkan English Debate muncul pada tahun 2000-an. Jadi pemikiran dan gagasan yang sistematik yang ada di sekolah-sekolah baru muncul tahun itu. Jadi  bergabung dengan English Debate, maka mereka bisa membantu angkatannya ketika nanti ada yang akan menjadi pengusaha, orang pemerintahan, pejabat, dan sebagainya. Ini akan menjadi kesempatan kita untuk bisa belajar diplomasi dan negosiasi yang mungkin pada tahun itu sangat minim aksesnya.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witolear sebagai pewawancara dengan narasumber Rachelle, Deja, Yudha.

Kita merasa terhormat karena kali ini datang orang-orang yang waktunya itu mahal karena harus izin dulu dari sekolah. Tamu kita adalah siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 70 yang saya undang sebagai contoh dari anak muda yang konstruktif yang memberi harapan dan juga punya skill set tertentu di bidang bahasa dan dalam interaksi sosial khususnya debat. Saya bicara mengenai debating society atau english society yang ada di SMA 70 yang saat ini dipimpin oleh Rachelle. Silahkan Rachelle memperkenalkan teman dan juga kegiatan Anda.

 

Nama saya Rachelle pemimpin English Community 70 pada tahun ini. Tim saya ada Yudha dan Deja. Mereka berdua adalah speaker yang membantu saya dan saling membantu satu sama lain dalam kompetisi dan pelatihan di debat.

 

How much time do you spend on these activities per week?

 

Rachelle:

We spend approximately 48 hours for practice. Untuk latihan sendiri saja kita tidak berhenti satu hari pun. Hari Sabtu dan Minggu pun kita juga latihan dari pukul 09.00 sampai sekitar 16.00. Itu pun sudah seperti sekolah biasa. Hari biasa sepulang sekolah pun kita juga latihan dari pukul 15.00 – 18.00. Sebisa mungkin kita aktif untuk latihan.

 

Apakah tidak ada waktu untuk bermain?

 

Rachelle:

Mainnya pada waktu sekolah.

 

Tapi saya terkesan karena Anda berpikiran luas sehingga memilih bidang ini untuk spent your time.  Robert Kennedy pernah mengatakan, “It matters not if you spend time away from school but what matters is what you spended for.” Kalau kita menghabiskan waktu untuk duduk di cafe maka bagus saja, tapi lebih bagus lagi kalau ada kegiatan yang konstruktif.

 

Apa yang menginspirasi atau mendorong Rachelle untuk masuk ke dalam kegiatan bahasa Inggris dan debating club ini?

 

Rachelle:

Dulu saya mempunyai concern di bidang lingkungan, tapi saya bingung bagaimana cara untuk menyampaikan argumentasi saya mengenai mengapa beberapa hal di dunia ini harus diperbaiki. Kemudian English Debate muncul dan mengajak saya untuk bergabung, mencoba dulu selama dua sampai tiga minggu.

 

Saya pikir English Debate sangat berat pada saat itu, tapi setelah saya turun langsung dan mencoba ternyata English Debate sangat mudah karena di situ kita diberikan ruang untuk betul-betul latihan dari dasar. Jadi tidak langsung diberi latihan yang berat.  Dari situ saya belajar dan lama-kelamaan pikiran saya lebih berat lagi. Ini mungkin karena pengetahuan saya jauh lebih luas, dan concern saya makin terbuka.

 

Pada saat ini pejabat, pegawai, dan pengusaha adalah orang-orang yang lahir pada 1900-an, sedangkan English Debate muncul pada tahun 2000-an. Jadi pemikiran dan gagasan yang sistematik yang ada di sekolah-sekolah baru muncul pada tahun itu. Saya pikir mungkin dengan  bergabung dengan English Debate, maka saya bisa membantu angkatan saya ketika nanti kami semua ada yang akan menjadi pengusaha, orang pemerintahan, pejabat, dan sebagainya. Ini akan menjadi kesempatan kita untuk bisa belajar diplomasi dan negosiasi yang mungkin pada tahun itu sangat minim aksesnya.

 

Bagaimana situasi politik sekarang menurut kalian? 

 

Deja:

Kalau kita bandingkan dengan misalnya tahun 1998, maka ruang untuk membuka opini setelah 1998 jauh lebih terbuka, misalnya kita mau mengekspresikan opini kita maka bisa saja itu membuat kita dalam bahaya. Setelah 1998 sudah lebih terbuka peluang untuk membuka opini.

 

Mungkin ini merupakan salah satu alasan English Debate mulai ramai pada 2000-an. Dengan adanya ruang yang sangat besar untuk membuka opini maka ini tidak bisa disia-siakan karena kita sudah mendapat dukungan dengan ruang sebesar ini. Jadi kita harus dengan cara se-kreatif mungkin untuk mengekspresikan opini kita kepada orang banyak, misalnya dengan debat ini.

 

Debat ini beda dengan komunikasi lain seperti pidato karena interaksi dalam dua pihak yang terlibat sangat berbeda. Dalam debat kita tidak hanya berbicara satu sama lain, tetapi juga menjaga gagasan, ide, argumen atau analisis kita. Jadinya bagi saya lebih kompetitif untuk  dibandingkan dengan pidato.

 

Apakah ini berarti tidak merasa perlu untuk ikut kampanye?

 

Deja:

Kalau kampanye perlu, tapi salah satu sarana kampanye sekarang ini adalah debat Pilpres itu.

 

Apa cita-cita Deja?

 

Deja:

Saya tertarik dengan bisnis atau menjadi pengusaha. Tapi saya juga ditawari oleh bapak saya untuk menjadi lawyer.

 

Satu lagi, saya perkenalkan yang hadir di wawancara ini adalah Yudha. Saya dengar Anda memiliki cita-cita ingin menjadi dokter. Apa hubungannya dunia kedokteran dengan dunia debat dan bahasa Inggris? Dimana kira - kira klopnya?

 

Yudha:

Sebelum masuk dunia debat, saya mempunyai hobi membaca berita tentang hubungan internasional, ekonomi, dan politik.  Hal itu dimulai dari masa SMP yang mana saya dikenalkan oleh guru saya tentang isu-isu atau topik yang bisa jadi pembicaraan.

 

Setelah saya masuk SMA 70 dengan wadah yang benar dan saya juga orangnya senang untuk mengobrol dan berdiskusi dengan orang lain, saya melihat debat ini sebagai salah satu sarana saya untuk mengeluarkan hobi saya. Jadi di kegiatan debat ini saya tidak merasakan sebagai beban, tapi saya malah melihat ini sebagai rekreasi karena saya bisa bertukar pikiran sama teman-teman yang lain.

 

Mengenai cita-cita saya sebagai dokter, sebenarnya saya ingin bertanggung jawab kepada lingkungan dan bangsa saya. Ketika saya mau mengamalkan skill  untuk keselamatan orang lain, setidaknya saya bisa memberi sesuatu untuk bangsa saya. Seperti yang John F Kennedy katakan “Jangan pernah menanyakan apa yang bangsa kamu berikan kepada kamu, tetapi kamu tanyakan diri kamu apa yang kamu telah berikan untuk bangsa kamu.”

 

Apakah sekarang di SMA 70 guru-guru tidak ada yang keberatan Anda bicara ke sana-sini, atau topiknya harus disetujui terlebih dahulu?

 

Rachelle:

Untuk topik sejauh ini sudah ditentukan oleh coach atau juri kami yang sudah tersertifikasi. Jadi semua pembahasan itu sudah sempat dikaji sendiri oleh pelatih kita. Sertifikasinya pun juga ketat karena kalau skornya tidak sesuai batas, maka dia tidak bisa menjadi coach atau tidak bisa menilai kita saat debat.

 

Kalau untuk guru-guru sendiri, saya merasa khawatir karena pada saat ini mereka masih kurang memberikan penghargaan kepada kami yang sudah mencoba untuk memberikan performa English Debate kepada teman-teman kita. Dari situlah kenapa kita saat ini sedang berusaha maksimal mendapatkan lebih banyak penghargaan untuk membuktikan kepada guru-guru kami bahwa English Debate sangat membantu dalam policy dan pemikiran. Jadi anak-anak di SMA 70 tidak menyalurkan pikirannya dengan cara yang salah.

 

Apakah mereka mendukung kegiatan ini?

 

Rachelle:

Sampai saat ini mereka sangat mendukung karena kita sudah bisa membuktikan dalam waktu kurang dari enam bulan kita sudah bisa memberikan lima piala ke sekolah.

 

Pertanyaan untuk Yudha. Kalau harus memilih satu topik internasional, apa kira-kiranya yang akan dipilih?

 

Yudha:

Menurut saya, topik internasional yang sangat menarik untuk dibahas adalah Belt and Road Initiative yang dibuat oleh Republik Rakyat Tiongkok. Mereka memberikan suatu dana pinjaman infrastruktur yang sangat besar kepada negara-negara berkembang untuk menjalin kerjasama hubungan dagang dengan Republik Rakyat Cina. Itu sangat menarik untuk melihat dari perspektif beberapa negara, dari negara Republik Rakyat Cina maupun dari negara yang dipinjamkan oleh debitur, juga dari negara seperti Amerika Serikat yang hegemoninya sedang tersaingi oleh China. Kedua adalah isu brexit.

 

Apakah Anda tidak khawatir terkena isu bahwa itu adalah alat untuk masuknya asing ke Indonesia?

 

Deja:

Salah satu yang pasti diperdebatkan adalah pengaruh Cina dalam negara yang diberikan inisiatif tersebut. Kita bisa mengambil contoh Sri Lanka, yang memberikan salah satu pelabuhannya sebagai leasing selama 99 tahun. Itu karena terkadang negara-negara yang dipinjamkan  cenderung ada potensi tidak bisa membayar. Jadinya mereka menggunakan salah satu exit mechanism dengan leasing.

 

Ini bisa menjadi concern atau menjadi salah satu yang diperdebatkan. Tapi kita juga bisa melihat benefit yang bisa diambil dalam inisiatif itu karena selain ini adalah pembangunan infrastruktur yang membuat hampir seluruh jalur yang terkena silkroad atau jalur sutera di zaman Medieval (abad pertengahan) itu terkoneksi satu sama lain. Juga membangun koneksi soft power ke Cina yang bisa menyaingi Amerika. Perspektif baik atau buruknya itu tergantung kita bisa berdebat dimana.

 

Darimana Anda mendapat inspirasi topik-topik ini?

 

Rachelle:

Sebenarnya topik ini bisa diambil dari film atau berita yang muncul. Mungkin ketika kita melihat berita, misalnya kemarin di Unesco seluruh delegasi Indonesia mengenakan batik, mungkin itu bisa memberikan inspirasi untuk memperdebatkan apakah soft power itu baik atau tidak.

 

Jadi setiap hari kita membaca berita dan nonton youtube, sehingga tidak mengurangi waktu kita untuk rekreasi atau senang-senang. Justru ini merupakan media kita untuk refreshing. Pulang sekolah jenuh, banyak PR, dan segala macam, kemudian kita latihan English Debate dan kita bisa senang-senang. Mungkin kita bisa debat tentang art atau mungkin tentang musik. Itu semuanya bisa dilakukan.

 

Jadi Anda merasa bahwa pengetahuan itu bisa diambil dari mana saja, tidak terbatas pada satu sumber. Kalau bahasa Inggrisnya, darimana kalian belajar?

 

Deja:

Saya belajar bahasa Inggris dari games, film, dan youtube.

 

Bagaimana pendapat Yudha mengenai sumber pengetahuan?

 

Yudha:

Pada zaman yang modern ini pengetahuan bisa di dapat dari mana saja. Teman-teman saya yang dari luar negeri pun juga mendapatkan pengetahuan dari semua hal, tidak hanya ter-confined dari satu sekolah saja. Itu karena sekolah untuk dasar-dasarnya hanya sebagai kata pengantar saja.

 

Misalnya, dalam soft skill seperti musik atau bahasa itu harus dipelajari dan dilatih setiap hari secara konstan agar ke depannya kita bisa ahli di bidang tersebut. Ini berbeda dengan ilmu matematika, IPA, atau kimia yang diajarkan di sekolah karena di dunia luar itu tidak hanya tentang matematika, biologi, dan kimia saja.

 

Kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan orang lain. Dan untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri kita memerlukan soft skill yang menurut saya di debat ini sangat amat berguna bagi saya.

 

Apakah Anda pernah mengamati jenis-jenis orang yang ikut bergabung dengan Debating Club? Apakah itu orang yang akademiknya lebih kuat dari yang lain atau ada ciri-ciri tertentu?

 

Rachelle:

Sebetulnya belum tentu karena kalau jago di IPA, maka belum tentu pengetahuan umum juga jago. Di sini kita membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin bergabung.

 

Deja:

Misalnya saya, nilai pelajaran sekolah saya hancur. Tetapi di debat ini yang dibutuhkan adalah kerajinan, mencari informasi, atau awareness, setidaknya tentang berita sosial yang beredar, misalnya konflik di Suriah atau mungkin perang dagang di Cina dan sebagainya. Jadi yang bergabung tidak terikat dalam akademik sekolah saja, tetapi bisa fleksibel siapa saja.