Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. Selfiyanti Bimantara, Sp.THT-KL

Telinga Sehat Investasi Masa Depan

Edisi 1213 | 02 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Narasumber kita hari ini adalah Selfiyanti Bimantara yaitu dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan serta Kepala dan Leher (THT KL).  Jadi kita membicarakan mengenai hal yang selama ini sering kita abaikan yaitu kesehatan telinga dan pendengaran.

 

Menurut Selfiyanti, pendengaran yang sehat berawal dari telinga yang sehat, pendengaran yang sehat otomatis produktifitas bagus, kualitas hidup bagus dan tujuannya mencapai bahagia. Jadi kalau kita tidak bisa menjaga telinga yang sehat pasti kualitas hidupnya otomatis juga jelek.

 

Selfi mengatakan saat ini generasi milenial banyak yang menggunakan earphone tanpa mempedulikan kesehatan telinga. Padalah dalam menggunakan earphone ada rumusnya, yaitu tidak boleh lebih dari 60 volumenya dan tidak boleh lebih dari 60 menit. Kalau ini dibiarkan atau diabaikan akan mengganggu syaraf pendengaran dan itu bisa berakibat tuli permanen. Itu maksudnya bukan 60 menit sekaligus tapi harus dibagi, biasanya per 10 menit. Tidak boleh terus-terusan juga dalam waktu 60 menit.

  

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur  sebagai pewawancara dan narasumber  dr. Selfiyanti Bimantara, Sp.THT-KL.

Mengapa dokter spesialis telinga selalu diiringi dengan juga spesialis bidang hidung, tenggorokan, kepala, dan leher?

 

Ini sebenarnya organ yang terpisah tapi berhubungan. Jadi disebutkan satu – satu karena organnya masing – masing, yaitu telinga sendiri, hidung sendiri, tenggorakan sendiri, kepala sendiri,  leher sendiri, tapi saling berhubungan. Jadi tidak bisa dipisahkan satu – satu kalau berbicara penyakit.

 

Berbicara penyakit, apa arti penting kita menjaga kesehatan telinga agar tidak terkena penyakit karena biasanya bila tidak ada gejala kuping merasa sakit maka kita malas untuk ke dokter?

 

Iya benar, karena biasanya tidak kelihatan apa – apa. Pembahasan kesehatan telinga saat ini tepat sekali waktunya karena pada 3 Maret kita baru saja memperingati World Hearing Day. Tahun ini temanya dari World Health Organization (WHO) adalah Hear the futures and prepare for it. Saat  diadaptasi ke bahasa Indonesia menjadi, “Telinga Sehat Investasi Masa Depan.”

 

Pendengaran yang sehat berawal dari telinga yang sehat, pendengaran yang sehat otomatis produktifitas bagus, kualitas hidup bagus dan tujuannya mencapai bahagia. Jadi kalau kita tidak bisa menjaga telinga yang sehat pasti kualitas hidupnya otomatis juga jelek.

 

Mengapa kesehatan telinga sampai menjadi perhatian seluruh pihak dan seluruh negara?

 

Sejak 1951 sebenarnya WHO sudah aware terhadap gangguan pendengaran. Itu karena gangguan pendengaran khususnya untuk anak – anak akan menyebabkan gangguan bicara, gangguan bicara juga pastinya akan mempengaruhi produktivitas manusia itu sendirinya. Gangguan bicaranya bukan gagap lagi tapi tidak bicara dan tidak dapat menyebutkan kata yang tidak jelas.

 

Jadi WHO mendesak negara – negara anggotanya untuk membuat rencana nasional masing – masing dan tercetuslah target Sound Hearing 2030. Artinya, pada 2015 diharapkan sudah dapat menurunkan 50% gangguan pendengaran, dan pada 2030 sudah 90% tidak ada lagi gangguan pendengaran.

 

Bagaimana kondisinya sekarang ini, apakah masih banyak masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan pendengaran?

 

Data secara global disebutkan pada 2013 ada 360 juta orang atau 5,2% seluruh dunia memiliki gangguan pendengaran. Itu data dari WHO. Ini pasti akan meningkat terus. Itu data pada 2013 dan saya belum dapat data terbarunya, terutama untuk di negara – negara berkembang termasuk Indonesia. Data di Indonesia yang saya punya agak lama yaitu ada 4,6% yang mengalami gangguan pendengaran atau sekitar 9,6 Juta orang, dan itu masih ke empat tertinggi di dunia. Posisi Indonesia berada setelah Srilanka, Myanmar, India.

 

Berbicara mengenai gangguan telinga, saya baru saja pergi dan pulang ke Medan naik pesawat. Di pesawat telinga saya sering berdengung, dan mungkin yang lainnya pernah mengalaminya juga. Apa penyebabnya itu?

 

Ganguan pendengaran atau secara global disebut tuna rungu karena ada infeksi, ada masalah di anatomi telinganya, masalah bising ganguan pendengaran, generatif usia, dan terakhir karena kotoran.

 

Biasanya masalah-masalah yang dikeluhkan karena pesawat, berenang, atau sakit nyeri disertai demam di telinga berhubungan dengan infeksi, inflamasi atau peradangan di daerah telinga pada saat naik pesawat.

 

Kalau orang sedang pilek maka ada saluran, yang menghubungkan antara hidung dan telinga ke tengorokan, bernama tuba eustachius yang biasanya menjadi masalahnya. Dia tidak bisa buka - tutup dengan sempurna penyeimbangan tekanan di dalam ruangan tengah telinga kita dengan ruangan kabin. Jadi seharusnya dia bisa buka - tutup sempurna tapi ini tidak bisa. Jadi tekanan ini yang bikin sakit nyeri seperti ke tutup, sama halnya seperti saat orang diving atau saat berada di ketinggian. Jadi tidak harus di pesawat, misalnya saat dia naik lift dari lantai bawah ke lantai paling atas, maka itu bisa menyebabkan telinga sakit juga. Jadi tidak harus terbang.

 

Apa itu termasuk ganguan pendengaran?

 

Iya kita menyebutnya begitu. Gejalanya bisa dari ringan sampai berat. Kalau dia flu berat saat  naik pesawat, maka itu bisa menyebabkan gendang telinganya pecah. Pada saat diving juga. Kalau orang-orang diving saat ke atas atau turun itu ada aturannya. Kalau itu tidak bisa dicapai dengan baik maka itu bisa menyebabkan pecah gendang telinganya.

 

Apa tipsnya untuk menghindari telinga berdengung karena faktor ketinggian dan lainnya?

 

Kalau berbicara telinga berdengung itu sebenarnya banyak sekali penyebabnya, tapi salah satu diantaranya adalah pada saat ketidak seimbangan tekanan di dalam telinga tengah dengan tadi saat naik pesawat itu bisa berdengung. Kalau menghindarinya sebenarnya apalagi sedang flu jangan naik pesawat, tapi kalau sudah kejadian di atas pesawat yang harus di antisipasi pada saat landing, karena landing ini yang justru jadi masalah. Perbanyak mengunyah terus di buat seperti ingin menguap atau menelan  sebisa mungkin membuat salurannya terbuka atau bisa juga dengan meminum obat-obatan pada saat di pesawat.

 

Apakah boleh menggunakan cotton bud dok membuka ini?

 

Tidak ada hubunganya cotton bud dengan kasus ini karena masalah ini ada di telinga tengah. Telinga terbagi menjadi tiga, yaitu ada telinga bagian luar, ada telinga bagian tengah, dan dalam. Pada saat kita di pesawat  keluhan-keluhan yang biasanya timbul karena perbedaan tekanan adalah bila itu nyeri atau berdengung maka biasanya karena saluran yang ada di bagian tengah. Sedangkan kalau cotton bud itu untuk masalah di telinga luar.

 

Apakah boleh mengunakan cotton bud untuk membersihkan telinga?

 

Saya tidak menyarankan, coba lihat dan baca di kemasan cotton bud yang biasanya orang – orang lalai membacanya. Itu tidak di peruntukan untuk telinga. Sebenarnya cotton bud itu untuk komestik. Jadi kalau di klinik kecantikan untuk memoles obat ke muka atau kulitnya saja. Tapi tidak untuk telinga karena diameter cotton bud itu dengan liang telinga hampir sama. Nanti yang ada bukan mengambil kotoranya tapi mendorong makin ke dalam, makin menumpuk di dalam. Di dalam sana banyak saraf telinga dan ada gendang telinga. Jadi gendang telinganya dapat terobek tanpa sengaja.

 

Apa upaya yang bisa kita lakukan oleh diri sendiri untuk menjaga kesehatan telinga, membersihkan telinga?

 

Secara umum hidup sehat, cuci tangan, jangan sembarangan menggosok mulut, hidung, telinga lalu tidak usah pakai apapun untuk membersihkan telinga karena telinga itu sebenarnya self clearing, jadi telinga itu bisa membersihkan sendiri dengan sendirinya. Telinga ada efek keluar daya migrasi nya epital kulit telinga kita dan produksinya biasanya seiring dengan waktu dia akan kedepan dan akan luruh sendiri tidak harus dibersihkan oleh kita. Tapi produksinya setiap orang berbeda - beda tergantung rasnya, tergantung aktivitas, tergantung perempuan atau laki – laki.  Karena dipengaruhi banyak hal ada yang produksinya berlebih sehingga sebelum dia luruh sudah menumpuk tambah lagi dengan kebiasaan pakai cotton bud sehingga dia makin tertumpuk di dalam.  Sebabnya perlu ke THT untuk di bersihkan secara berkala antara 6 - 8 bulan sekali, seperti kita membersihkan karang gigi harus 6 bulan sekali. Di THT juga seperti antara 6 - 8 bulan sebenarnya ini tidak ada patokan baku, tapi rata-rata yang diambil sudah penuh itu biasanya 6 – 8 bulan sekali, tapi mungkin bisa juga setahun sekali untuk memeriksakan kesehatan telinga.

 

Biasanya orang tua bila anaknya tidak merasa ada gangguan di telinganya maka tidak membawa ke dokter THT. Apa dampaknya kalau anak tidak secara rutin dibawa ke dokter THT?

 

Kalau kita berbicara tentang anak khususnya pada saat dalam masa tumbuh kembang, maka itu akan mengganggu pertumbuhan bicara karena bagaimana dia bisa bicara kalau dia tidak bisa mendengar. Jadi urusannya bisa panjang. Kalau kasus seperti ini biasanya karena kelainan bawaan pada saat ibunya hamil, istilahnya kongenital.

 

Dalam kasus anak sekolah yang paling sering ditemukan adalah kotoran telinga. Telinganya tersumbat dan dia diam saja, dia tidak memberitahu gurunya bahwa dia tidak mendengar gurunya bicara apa karena malu sama gurunya. Jadi dia ketinggalan pelajaran dan nilai juga menjadi jelek. Itu pasti akan mengganggu prestasi anak di sekolah.

 

Lalu untuk masalah infeksi, kalau masalah infeksi dibiarkan terlalu lama, misalnya di daerah telinga yang biasanya sering disebut “congek”,  bisa menyebabkan komplikasi organ lain yang dekat dengan telinga seperti ke otak jadi meningitis (radang selaput otak) dan sudah pasti akan mempengaruhi kualitas hidup si anak sendiri.

 

Masyarakat sering menilai bahwa gangguan telinga itu termasuk penyakit ringan dan memang sulit sekali untuk kita ketahui secara kasat mata. Bagaimana kita bisa mengetahui kalau anak kita ada kendala atau gangguan di telinganya?

 

Anak muda saat ini biasanya suka pakai earphone, mereka suka tidak peduli dengan lingkungan. Jadi, kalau dia sedang menonton TV bersama-sama menggunakan volume yang besar padahal yang lain merasa volumenya terlalu besar, maka ini sudah menjadi tanda-tanda bahwa si anak pendengarannya bermasalah.

 

Selain itu bila dipanggil tidak cepat responnya. Lalu untuk yang masalah earphone, kaitannya juga dengan smartphone,  berdasarkan data 2018 yang saya tahu bhawa pengguna smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Kebanyakan penggunanya adalah anak-anak milenial. Mereka ssudah pasti mendengarkan musik dengan smartphone dan durasinya sampai berjam-jam, kadang-kadang dibawa sampai tidur malam. Ini bisa dipastikan nanti gangguan pendengarannya akan meningkat.

 

Dalam menggunakan earphone ada rumusnya, yaitu tidak boleh lebih dari 60 volumenya dan tidak boleh lebih dari 60 menit. Kalau ini dibiarkan atau diabaikan akan mengganggu syaraf pendengaran dan itu bisa berakibat tuli permanen.

 

Apakah 60 menit itu dalam satu hari?

 

Iya benar, tapi maksudnya bukan 60 menit sekaligus tapi harus dibagi, biasanya per 10 menit. Tidak boleh terus-terusan juga dalam waktu 60 menit.

 

Dalam upaya menjaga kesehatan telinga anak, masalah yang sering dihadapi oleh orang tua adalah anak suka tidak mau dibawa ke dokter telinga. Apa tipsnya supaya anak mau ke dokter telinga?

 

Bila si anak sudah komunikatif, sudah bisa diberi pengertian, bisa diajak bicara baik-baik, maka  jangan dipaksa. Kalau dipaksa, si anak malah akan mengamuk setiap mau dibawa ke dokter THT. Kalau dia komunikatif maka dia bisa dibujuk untuk diberi pengertian mengenai pentingnya menjaga kebersihan telinga untuk dirinya sendiri dan untuk kesehatannya sendiri.

 

Dalam membujuk, orang tua yang lebih tahu detail kepribadian anak. Intinya tidak boleh dipaksa. Kalau dipaksa maka biasanya dia akan trauma ke dokter THT. Misalnya, belum apa-apa dia sudah dipegangi oleh banyak orang dan itu biasanya akan membuat trauma. Saya biasanya  menghindari yang dipaksa seperti itu. Lebih baik anak diajak mengobrol terlebih dahulu, disuruh untuk pegang alat-alat yang saya mau pakai supaya dia nyaman dulu dengan keadaan seperti itu, biasanya dia mau.

 

Di rumah tentu saja orang tua juga harus menyiapkan anak mau dibawa ke dokter THT. Yang terpenting, jangan dibohongi, harus dikasih tahu bahwa kita mau periksa  untuk kesehatan dan  kebaikannya. Jadi anak harus dipersiapkan.

 

Kalau dari sisi makanan, apakah ada upaya yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan telinga?

 

Sebetulnya secara umum saja karena telinga ini tidak ada yang khusus harus tidak boleh ini, tidak boleh itu. Jadi kalau telinga itu karena berhubungan dengan hidung, korelasinya itu anak-anak yang sering pilek biasanya sering mengalami infeksi telinga juga atau ada gangguan di telinga. Jadi makanan atau minuman yang mencegah supaya tidak mudah terkena pilek misalnya minuman es, itu yang membuat gejalanya makin bertambah dari hidung ke telinga.

 

Tadi ada data bahwa di Indonesia penderita penyakit telinga masih cukup tinggi. Apakah ini ada kaitannya juga karena sewaktu kecilnya mereka sudah mengalami gangguan kesehatan seperti pilek, dan bagaimana prediksinya ke depan nanti?

 

Kalau secara keseluruhan yang mengalami tuli kongenital ada sekitar 2%. Jadi tidak semuanya karena kongenital. Namun memang fokusnya adalah hampir 50% gangguan pendengaran itu sebenarnya dapat dicegah. Misalnya, sejak ibu dalam kondisi hamil, periksakan secara dini dan rutin ke petugas kesehatan, bidan, dokter, atau dokter spesialis kebidanan & kandungan. Pastikan ibu dan bayi yang dikandungnya sehat.

 

Lalu, dapat diprediksi juga saat ibu hamil terkena infeksi virus atau tidak karena anaknya bisa juga kemungkinan dapat infeksi itu dari ibunya. Itu dapat dilakukan pencegahan dengan vaksin yang sudah dikembangkan di Indonesia. Jadi itu bisa diberikan untuk pencegahan tuli kongenital. Setelah bayi-bayi ini lahir dilakukan screening dan bila diketahui ada tuli berat, maka itu bisa dilakukan implan koklea untuk tata laksana dini secepatnya sehingga ke depannya dia dapat berbicara seperti anak normal lainnya.