Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. Raissa E Djuanda, MGizi, SpGK

Gizi Pengaruhi Masa Depan Anak

Edisi 1210 | 27 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan bicara mengenai persoalan gizi yang ada di Indonesia. Gizi sangat penting untuk kita ketahui karena sehari – hari pasti kita makan untuk memperoleh asupan gizi. Jadi saat ini  narasumber kita Dokter Spesialis Gizi, yaitu dr. Raissa Edwina Djuanda, Mgizi, SpGK.

 

Raissa Edwina Djuanda mengatakan gizi sangat penting karena kecerdasan seseorang anak ditentukan dari gizinya optimal atau tidak. Itu karena berpengaruh ke tumbuh kembangnya, kemampuan otaknya untuk berpikir,  lalu berpengaruh ke masa depannya nanti seorang anak ini akan jadi apa, dia akan mendapat pekerjaan yang bagus atau tidak.

 

Asupan gizi yang paling minimal adalah mencakup gizi yang seimbang. Gizi seimbang itu setiap makan harus ada karbohidratnya contohnya nasi, kentang, atau mie, atau yang lainnya. Lalu harus ada proteinnya. Ini bisa didapat dari ikan, ayam, tahu, tempe, dan telur. Kemudian harus ada sayur – sayuran yang bermacam ragam dan juga buah – buahan. Dalam sehari itu harus ada semua.

 

Menurut Raissa Edwina, asupan Itu bisa berpengaruh terutama sebelum anak tersebut berusia tiga tahun. Itu karena berpengaruhnya ke otak dan 80% otak berkembang sampai maksimal di usia tiga tahun. Setelah berusia tiga tahu, otaknya tetap berkembang juga tapi sudah pelan. Jadi yang paling optimal itu sampai anak berusia tiga tahun. Itu yang kita harus maksimalkan.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adi Putro sebagai pewawancara dan narasumber  dr.Raissa E Djuanda, MGizi, SpGK

Terkadang kita percaya bila sudah makan kenyang berarti otomatis gizi kita sudah terpenuhi. Saat kita berbicara masalah gizi, apa masalah yang kita hadapi sehari – hari terutama untuk masyarakat pedesaan dan perkotaan?

 

Gizi sangat penting karena kecerdasan seseorang anak ditentukan dari gizinya optimal atau tidak. Itu karena berpengaruh ke tumbuh kembangnya, kemampuan otaknya untuk berpikir,  lalu berpengaruh ke masa depannya nanti seorang anak ini akan jadi apa, dia akan mendapat pekerjaan yang bagus atau tidak.

 

Jadi level kesuksesan, keberhasilan kita dalam hidup ditentukan juga dengan gizi yang kita asup. Bagaimana logikanya?

 

Ya memang benar. Jadi logikanya seperti ini, sekarang di Indonesia masalah utama pada anak adalah banyaknya angka yang stunting (bertubuh pendek) karena kurang gizi. Dari penelitian yang sudah ada dapat dibandingkan otak anak yang kurang gizi terlihat ibaratnya otaknya kosong. Anak yang gizinya normal otaknya terlihat lebih padat dan penuh.

 

Dari syaraf – syaraf juga sudah ada gambaranya. Kalau syaraf anak yang gizinya normal ibaratnya kabel banyak dan bergeraknya cepat, tapi kalau yang gizinya kurang dia seperti putus – putus syarafnya. Jika anak yang kurang gizi tumbuh menjadi dewasa, maka akan susah menangkap pelajaran.

 

Itu masalah kecerdasan yang akhirnya seperti Anda katakan sukses atau tidaknya orang di masa depannya juga jadi berpengaruh. Namun banyak orang yang sampai sekarang, baik yang di perkotaan atau pedesaan, tidak mengetahuinya. Itu karena bagi kita kalau makan kenyang berarti gizi kita pasti tercukupi. Apakah itu salah atau benar?

 

Itu sebenarnya salah juga karena kalau makan kenyang maka harus dilihat lagi apa yang kita makan. Bila yang dimakan kenyang, tapi terus – menerus berupa Mie Instan dari pagi sampai malam dan setiap hari, maka kita bisa kekurangan salah satu zat gizi. Kandungan mie instan  hanya karbohidrat. Kita dapat kekurangan protein, lemak, mineral, vitamin, dan lain – lainnya. Jadi kita harus memilih makanan yang tepat.

 

Apa asupan gizi yang paling minimal harus kita asup setiap hari?

 

Jadi yang paling minimal adalah mencakup gizi yang seimbang. Gizi seimbang itu setiap makan harus ada karbohidratnya contohnya nasi, kentang, atau mie. Itu bisa diganti dengan yang lain. Lalu harus ada proteinnya. Ini bisa didapat dari ikan, ayam, tahu, tempe, dan telur. Kemudian harus ada sayur – sayuran yang bermacam ragam dan juga buah – buahan. Dalam sehari itu harus ada semua.

 

Jadi kalau hanya, misalnya nasinya yang banyak atau mie instannya saja, maka itu belum memenuhi kaidah gizi.

 

Iya benar belum memenuhi kaidah gizi. Itu bisa berpengaruh terutama sebelum anak tersebut berusia tiga tahun. Itu karena berpengaruhnya ke otak dan 80% otak berkembang sampai maksimal di usia tiga tahun.

 

Bagaimana dampaknya bila anak SD atau remaja yang mengkonsumsi mie instan setiap hari?

 

Setelah berusia tiga tahu, otaknya tetap berkembang juga tapi sudah pelan. Jadi yang paling optimal itu sampai anak berusia tiga tahun. Itu yang kita harus maksimalkan.

 

Ada satu pertanyaan yang sangat ingin saya tanyakan. Apakah mie instan itu memang seburuk itu?

 

Ya, sebenarnya dibilang buruk tidak juga karena mie instan banyak membantu orang, terutama yang sedang mengalami bencana. Jadi yang paling mudah memang mie instan.

 

Tapi mie instan bisa menjadi kebiasaan karena orang dapat setiap hari makan mie instan.

 

Itu dia yang ditakutkan kalau menjadi kebiasaan. Jadi bila anak sejak kecil sudah dibiasakan makan mie instan terus – menerus, maka nanti dia akan terbiasa meminta itu. Kalau tidak ada, ibaratnya dipaksa harus ada. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka itu menjadi tidak baik.

 

Apa yang menjadikannya tidak baik, apakah kandungan MSG-nya?

 

Yang tidak baik karena anak tersebut jadi berisiko kekurangan salah satu zat gizi. Selain itu, kalori mie instan besar sekali. Jadi satu bungkus bisa sekitar 400 kalori. Itu setara dengan dua mangkuk nasi.

 

Jadi kalau banyak orang mengira makan satu bungkus mie instan bisa dibilang “ngemil” maka itu salah besar.

 

Itu yang salah karena kalorinya sangat besar, sehingga dikhawatirkan anak tersebut menjadi obesitas.

 

Jadi intinya mie instan itu baik asal tidak terlalu sering dan takarannya diatur.

 

Iya, takarannya diatur dan kalau bisa ditambahkan protein dan lemak lainnya. Contohnya, makan mie instan bisa ditambahkan seperti telur dan sayur.

 

Apakah itu bisa mengkompensasi kelemahan dari mie instan?

 

Bisa mengkompensasi, tapi memang tidak boleh terlalu sering karena kalorinya besar sekali dan bisa membuat orang ketagihan.

 

Apa bahayanya kalau kita mengkosumsi kalori yang besar?

 

Bahaya yang ditakutkan adalah obesitas. Kalau sudah obesitas maka mulai muncul penyakit-penyakit. Begitu seseorang kelebihan berat badan, penyakit – penyakit seperti diabetes, darah tinggi, kolesterol, dan asam urat akan muncul.

 

Apakah penyakit-penyakit yang bahaya itu hanya dimiliki orang-orang tua yang lanjut usia, atau orang-orang dewasa juga. Apakah anak-anak kecil, remaja mungkin dapat terkena masalah yang sama Dokter?

 

Sekarang sudah banyak contohnya. Mereka yang masih anak - anak diketahui sudah terkena sakit jantung karena kegemukan, lalu anak kecil diketahui sudah darah tinggi, kolesterolnya naik sekarang masalahnya seperti itu.

 

Tadi kita berbicara obesitas, kelebihan kalori, dan gizi yang tidak seimbang. Bagaimana dengan stunting, apa penyebab utamanya? Apakah pemahamannya yang salah, pemberian asupan  makanan yang salah atau seperti apa Dokter?

 

Masalah stunting sebenarnya adalah dari dalam kandungan. Jadi mengapa pentingnya seribu  hari kehidupan seseorang itu dihitung sejak saat dia di dalam kandungan ibunya. Saat Ibunya mulai hamil, maka gizinya harus bagus dan optimal.

 

Kesalahannya adalah terkadang seorang wanita tidak tahu kapan dia hamil. Jadi badan dia belum siap menerima. Contoh, seseorang yang sebelumnya seperti merokok, minum alkohol, begadang, dan makananya tidak baik, lalu dia mengetahui hamil. Pada saat dia hamil biasanya ada masalah lagi dalam ibu hamil, contohnya mual - mual, muntah. Semakin susah makan membuat gizinya makin tidak terpenuhi dan itu bahaya untuk janinnya. Janinnya dari usia nol hari dalam perut, itu sudah berisiko terkena kekurangan gizi yang nantinya bisa stunting.

 

Jadi pada saat pra melahirkan atau kehamilan sentral sekali?

 

Iya sangat penting, jadi seorang perempuan yang sudah menikah harus optimal mempersiapkan gizi di dalam badannya dari sebelum dia mempunyai anak.

 

Seperti Dokter katakan bahwa gaya hidup yang kurang sehat kebanyakan terjadi pada perempuan di perkotaan. Bagaimana dengan ibu - ibu yang ada di pedesaan, apakah masalahnya sama seperti masalah anak-anak perkotaan atau ada masalah yang lain?

 

Kalau di pedesaan biasanya masalahnya lebih ke arah check up kesehaktan secara teratur atau tidak. Sebenarnya Ibu hamil itu harus rutin memeriksakan kesehatannya ke tempat kesehatan terdekat seperti  Posyandu atau Puskesmas. Jadi terkadang permasalahan yang tinggalnya di pedesaan susah mengaksesnya. Jadi pemeriksaaan tidak dilakukan secara rutin dan nanti tidak terdeteksi berat badannya, apakah naik, normal, atau tidak, dan bagaimana janinnya.

 

Jadi masalah masyarakat di Indonesia terutama yang ada di daerah pedesaan adalah mungkin susah mengakses tempat pelayanan kesehatan untuk menjaga kehamilannya. Apa kesalahpahaman yang mereka lakukan yang akhirnya membuat potensi anak - anaknya menjadi  stunting?

 

Menurut saya, sebenarnya mengapa penting ada penyuluhan gizi ke seluruh masyarakat karena banyak orang-orang yang mengabaikan, terutama yang sering saya dengar ada di pedesaan. Contoh, kalau hamil maka janin bayinya tidak boleh besar - besar karena nanti harus di caesar saat melahirkan. Sedangkan di sana tidak mungkin melakukan hamil dengan caesar karena dokternya saja jarang ada.

 

Jadi ketakutan-ketakuatan dengan adanya mitos-mitos hamil sehingga tidak boleh makan - makanan tertentu, misalnya, saya pernah dengar ibu hamil bolehnya setiap hari hanya makan durian saja, tidak pernah makan yang lain. Ada saja kasus-kasus seperti itu. Jadi bayinya berisiko kekurangan zat gizi, dan itu mengapa diperlukannya penyuluhan edukasi.

 

Dokter tadi sudah mengungkapkan kepada kita bahwa ternyata masalah stunting itu dimulai dari saat kehamilan, dan itu diawali dengan pemahaman yang salah. Kalau kita bicara gizi, apa yang paling minimal harus dilakukan oleh ibu hamil?

 

Jadi yang paling minimal adalah pertama, harus rutin memeriksakan diri ke Posyandu atau Puskesmas terdekat. Kedua, biasanya ibu hamil pasti perlu tablet penambah darah. Kalau dikasih jangan sampai tidak diminum. Ketiga, dari sisi gizi maka makan harus dengan gizi seimbang. Jadi harus ada karbohidratnya misalnya nasi. Harus ada protein karena sangat penting untuk pembentukan dan tumbuh kembang si janin juga. Jika protein seperti ayam, ikan, atau sapi susah didapat maka setidaknya mengonsumsi telur atau tahu-tempe yang juga termasuk protein dan bisa dibilang murah meriah juga. Yang terakhir, sayuran dan buah-buahan.

 

Seberapa perlu susu untuk ibu hamil?

 

Kalau gizi susu sudah bisa mencukupi dari makanan, maka susu tidak diperlukan lagi asal asupannya tercukupi. Tapi untuk ibu-ibu yang susah makan dan bisanya minum susu saja, maka susu mungkin diperlukan.

 

Jadi susu itu untuk mengkompensasi mual yang kemudian orang susah makan sehingga  gizi untuk anaknya khawatir kurang. Tadi dokter mengatakan bahwa stunting dimulai saat ibu hamil. Bila ibu-ibu hamil sudah memiliki asupan gizi cukup baik, dan anaknya lahir sehat tanpa stunting, apakah bisa stunting terjadi pasca melahirkan?

 

Bisa. Misalnya, saat lahir sehat tapi ternyata saat besar di luar itu ada problem makan, kemudian saat mulai MPASI diberikannya tidak sesuai  dengan seharusnya, tidak sesuai dengan gizi yang seimbang, maka itu yang nanti dapat membuat anak menjadi stunting.

 

Apa masalah utama yang membuat anak itu akhirnya stunting, apakah memang karena kesalahan asupan gizinya itu?

 

Masalahnya dari pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) pertama kali. Jadi bayi itu disarankan untuk diberikan MPASI. MPASI itu adalah pasca ASI. Jadi pemberian ASI yang disarankan selama minimal enam bulan, kalau bisa lebih sampai dua tahun dan itu lebih bagus. Namun setelah enam bulan, anak sudah harus belajar makan dan biasanya ibu-ibu suka salah. Jadi entah MPASI-nya diberikan terlalu cepat sebelum enam bulan, atau malah lambat sekali karena terus-menerus diberi ASI. Padahal ASI setelah bayi berusia enam bulan sudah tidak bisa menjadi makanan utama.

 

Jadi setelah enam bulan maka ASI sudah harus di kombinasi.

 

Iya, walaupun ASI masih keluar. Contoh, ada orang yang sampai dua tahun ASI masih keluar sehingga terus memberikan ASI. Padahal ASI saja sudah tidak cukup karena setelah enam bulan kualitas ASI tersebut sudah mulai turun. ASI sudah perlu didampingi dengan makanan lainnya.

 

Jadi praktek pemberian MPASI sangat penting, yaitu setelah bayi berusia enam bulan sudah mulai diberikan. Jadi yang diberikannya itu yang ada karbohidratnya. Misalnya, pertama bisa diberikan bubur beras dahulu lalu diberi buah-buahan, dicoba diberi sayuran, lama-lama kita coba beri daging, beri telur sampai anak tersebut siap makan dan jadi pintar makannya. Itu susah-susah gampang melatih anak supaya pintar makan nantinya.

 

Saat ini ada pemahaman yang saya tidak tahu benar atau salah yaitu, “Yang penting harus ada nasinya, apapun tapi harus ada nasinya, mau pakai mie harus ada nasinya, sayur harus ada nasi, yang penting ada nasi.” Bagaimana pemahaman seperti itu terutama untuk anak?

 

Sebenarnya itu orang Indonesia sekali. Kalau tidak makan nasi maka tidak kenyang. Itu tidak sepenuhnya salah. Saya mengatakan seperti itu karena kebutuhan anak dan dewasa itu memang beda. Kalau dewasa butuh karbohidrat hanya sekitar 50%, sedangkan anak butuh 60-70%. Jadi memang lebih banyak butuh karbohidrat atau butuh nasi. Jadi ibu-ibu suka ada yang campur nasi dengan mie. Namun salahnya adalah kalau cuma makan 100% karbohidrat saja, padahal kebutuhan karbohidrat tadi hanya 60-70%. Jadi 30% kita campur dengan yang lain dengan memberikan telur, dan sayuran.

 

Tadi Anda mengatakan bahwa stunting menjadi problem utama. Solusinya adalah pemahamannya yang harus diperbaiki. Apakah pemerintah perlu turun tangan juga untuk menangani masalah stunting? Kalau pemerintah harus turun tangan, apa yang harus dilakukan dan apa yang selama ini belum dilakukan sebenarnya?

 

Menurut saya, ini problem kita semua. Jadi memang pemerintah harus turun tangan dalam masalah ini. Yang paling penting adalah selain menyediakan akses kesehatan yang baik seperti Puskesmas, sebaiknya juga di Posyandu dilakukan edukasi. Jadi langsung turun ke masyarakat. terutama yang daerah-daerahnya sulit dijangkau atau masyarakat tersebut juga sulit untuk mengakses ke kesehatan tersebut untuk memeriksa kesehatan, dan lain-lain.

 

Jadi harus memberikan penyuluhan-penyuluhan supaya treatment-nya benar. Itu masalahnya bukan karena orang tidak punya akses kepada protein, tapi karena mungkin pemahamannya tidak tahu mengenai itu. Pesan untuk kita semua,  apa yang paling utama perlu dilakukan agar generasi Indonesia stunting?

 

Jadi yang paling penting adalah pertama harus memperhatikan gizi ibu hamil, dan juga lebih baik sebelum merencanakan kehamilan. Setelah melahirkan, juga sangat penting memperhatikan gizi anak. Jadi jangan sampai terabaikan.

 

Bila diminta untuk identifikasi, apakah bisa atau tidak mengidentifikasi anak secara fisik bahwa dia berpotensi stunting atau tidak?

 

Ciri-ciri anak tersebut adalah perawakannya pendek. Dilihat dari anak-anak yang seusianya, apakah anak itu kelihatan paling pendek diantara teman-temannya. Dari hal itu sudah harus curiga, atau anaknya kurus sekali sampai kelihatan tulangnya, itu juga harus curiga. Sebaiknya segera dibawa ke ahli kesehatan untuk di check dulu karena sebenarnya check mudah hanya tinggal ukur tinggi badan, bisa juga lingkar lengan, lalu tinggal dimasukkan ke grafik. Grafik-grafik itu semua ada di Posyandu dan Puskesmas.