Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Mengalami Humanisme Gus Dur

Edisi 1209 | 27 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Wimar Witoelar, yang menjabat Ketua Dewan Mahasiswa ITB pada 1969. Wimar Witoelar juga dipercaya menjadi Juru Bicara Presiden semasa Pemerintahan K.H. Abdurrahman Wahid.

 

Wimar Witoelar mengatakan Gus Dur lebih menghargai manusia daripada apapun. Dia selalu mengatakan bahwa negara itu dibuat untuk manusia, bukan manusia dibuat untuk negara. Di depan saya dia menelepon pemuda-pemuda Jawa Timur. Dia mengatakan,Kalian jangan ke Jakarta, jangan turun, tidak perlu bela saya, nanti bisa terjadi pertumpahan darah.” Padahal tadinya mereka sudah ingin turun ke jalan. Jadi saya lihat sendiri bahwa dia berbeda dengan yang dilaporkan orang, bukan menghasut orang untuk membela dia, justru menganjurkan orang supaya mundur sebab kita harus menyelamatkan negara ini.

 

Itu karena Gus Dur mengetahui bahwa negara akan selamat kalau tidak ada orang yang melebihi kekuasaannya, dan dia takut kalau sebagai presiden dengan popularitasnya seperti itu, dia bisa melampaui kekuasaannya sendiri. Jadi lebih baik dia mundur saja, memberi contoh supaya demokrasi berjalan. Tapi ada orang-orang yang bodoh atau tidak mengerti yang menganggap kemundurannya merupakan kelemahannya, dan kelucuan humanisme dia dianggap sebagai kapitulasi atau mengalah. Padahal itu semuanya adalah untuk membimbing demokrasi.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dan narasumber Wimar Witoelar.

Apa kabar Wimar?

 

Baik. Saya ingat sekali bahwa dulu Didit juga sangat dekat dengan kami dan Gus Dur. Mungkin Anda masih ingat bahwa kita adalah lima orang terakhir yang mengunjungi Gus Dur sebelum meninggal di ruangannya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), walaupun tidak semuanya bisa masuk ke ruang tersebut.

 

Betul, bahkan kita berkunjung di Hari Natal, tepat di tahun menjelang Gus Dur meninggal. Kali ini kita bicara mengenai Gus Dur karena pada Desember dan Januari publik Indonesia memperingati Haul Gus Dur atau kita biasa menyebutnya dengan bulan Gus Dur.

 

Ada pepatah mengatakan, “Jangan tangisi kepergian seseorang, tapi rayakanlah bagaimana kehidupan dan nilai-nilai kehidupan yang dia torehkan selama ini.” Jadi pada wawancara kali ini kita mencoba merayakan nilai Gus Dur.

 

Tepat sekali karena Gus Dur adalah orang yang banyak meninggalkan legacy atau kearifan yang harus kita gunakan. Di satu pihak kita bersedih secara pribadi, di lain pihak kita bersyukur bahwa Indonesia sempat mengenal seorang Gus Dur yang sempat membuat Indonesia semarak di mata dunia.

 

Sebelum kita masuk ke legacy yang ditinggalkan oleh Gus Dur. Ada yang menarik di sini yaitu mantan presiden meninggal tetapi saya tidak melihat ada orang yang setiap tahunnya justru merayakan kepergiannya. Tidak hanya dengan doa, tetapi juga dengan kajian-kajian yang mendalam, refleksi-refleksi, dan itu konsisten setiap tahun dengan melibatkan orang yang semakin banyak. Apa istimewanya sampai fenomena tersebut terjadi pada Gus Dur?

 

Gus Dur adalah orang yang mempunyai substansi banyak. Jadi kalau orang ingin mengingat Gus Dur, maka banyak yang bisa diingat. Bukan hanya orangnya atau baiknya, tapi pelajaran-pelajaran dan resep-resep kemasyarakatan yang dia jalankan yang mana itu berlaku untuk setiap orang. Karena itu pengikutnya makin lama makin banyak. Dan yang “nyinyir” atau melawannya makin lama makin sedikit. Sekarang tidak ada lagi orang yang berani mengatakan Gus Dur itu tidak benar, anti demokrasi, dan sebagainya. Pada akhirnya orang mengerti.

 

Ketika banyak literasi mengatakan kenapa Gus Dur begini atau begitu. Gus Dur selalu menjawab, “Biarkan nanti sejarah yang menjawab.” Apakah sekarang kelihatan bahwa sejarah akhirnya menjawab banyak hal?

 

Menurut saya, iya. sekarang Gus Dur sudah mulai diapresiasi. Saya hanya satu tahun bersama Gus Dur, tapi apa yang saya raih dari dia itu saya proses sampai dengan saat ini.

 

Bagaimana perjalanan Wimar Witoelar mengenal Gus Dur? Apakah memang sudah kenal dari dulu?

 

Saya tentu sudah mengenal dari lama, tapi dia tidak mengenal saya. Apalagi sudah menjadi presiden, saya hanya mengikuti dari jauh. Saya mempunyai aktivisme di bidang pers, TV dan saya banyak mengomentari kegiatan Gus Dur, terutama di saat dia disalahmengerti. Kalua orang mencela Gus Dur, saya suka menulis atau mengatakan bahwa, “Anda salah tafsir, Gus Dur itu maksudnya seperti ini.” Dan itu ditafsirkan sebagai pembelaan. Memang saya sifatnya barangkali memiliki loyalitas, jadi kalau saya membela orang dikira saya adalah orangnya, padahal saya tidak kenal.

 

Jadi Gus Dur itu orang yang sangat saya apresiasi. Bahkan karena begitu kagumnya, sehingga saya tidak semangat kalau bertemu dia karena kalau ketemu bingung mau bicara apa. Saya merasa sangat rendah, tapi tulisan-tulisan saya mendapat perhatian dari beliau dan keluarganya. Lama-lama saya diperkenalkan kepada Gus Dur, terutama waktu beliau sedang diserang oleh DPR, partai-partai, Ormas, dan saya selalu memberikan komentar bagaimana mengatasinya. Akhirnya diperkenalkan, waktu itu saya dibawa ke ruang minum teh dimana ada Gus Dur, Alwi Shihab, dan beberapa orang. Jadi saya itu dikuasai oleh kekaguman dan tidak pernah berfikir bahwa pendapat saya akan dipakai.

 

Tadi Anda katakan bahwa Anda memang pengagum Gus Dur, menganggap Gus Dur tinggi sekali, dan tiba-tiba Anda dipanggil untuk minum teh bersama Gus Dur. Apa yang terjadi?

 

Saya datang dan ada Yenny Wahid di sana. Dia bicara ke Gus Dur, “Gus, kemarin Wimar tulis di koran ini mengenai Anda. Terus dia minum teh saja dan mengobrol dengan yang lain. Sampai selesai dia tidak bicara dengan saya hal-hal yang penting. 

 

Jadi Anda berpikir bahwa ini tidak serius undangannya.

 

Pokoknya saat itu saya hanya berpikir sempat bertemu dengan Gus Dur, minta foto, dan pulang saja. Tapi kemudian saya dihubungi lewat telepon,Sebetulnya Gus Dur ingin tanya, apa Anda berminat jadi Juru Bicara Gus Dur?”

 

Apakah Gus Dur tahu Anda ada di situ?

 

Tahu, karena Gus Dur menyebut nama saya terus. Tapi diajak bicara mengenai bola, sashimi, pokoknya bukan hal yang serius. Jadi saya pikir saya terlalu kecil untuk diajak bicara serius. Saya pikir jangan-jangan memang hanya ingin berterima kasih sebab saya anggap itu sebuah penghargaan dengan saya diundang untuk minum teh. Jadi saya bisa cerita ke istri bahwa saya dipanggil Gus Dur.

 

Kemudian sewaktu saya ke luar dari Hotel Hilton bertemu anggota DPR. Dia bertanya,Mas Wimar ngapain dipanggil Gus Dur?” Rasanya bangga bisa bertemu presiden. Tapi kalau ditanya ngapain, saya tidak tahu juga. Jadi agak lucu situasinya waktu itu. Kemudian saya dengar memang Gus Dur gayanya lucu. Jadi sebetulnya dia berniat untuk mengangkat saya jadi juru bicara. Barangkali waktu itu adalah semacam interview dia melihat saya.

 

Apakah bisa kita katakan seperti penjajakan?

 

Betul, dan rupanya itu berkenan. Kemudian ada juga yang lobby ke Gus Dur dengan mengatakan, “Gus Dur perlu seorang juru bicara seperti Wimar Witoelar. Terus jawabannya yang terkenal dan ada di buku adalah, “Saya bukan membutuhkan orang seperti Wimar Witoelar, saya membutuhkan Wimar Witoelar.

 

Bagaimana pada akhirnya setelah pertemuan pertama?

 

Kemudian Yenny berkata,Nanti dipanggil aja.Saya mengatakan Minggu depan Gus Dur akan ke Kuba, apakah saya boleh ikut? “Belum, belum dipanggil, kata Yenny. Padahal akan senang kalau bisa ikut ke banyak negara, hitung saja sebagai magang. Akhirnya setelah kembali baru Yenny mengatakan,Bapak ingin bertemu mas Wimar pada pukul 04.30 sebelum jalan pagi. Kata saya, dimana?  “Di Istana,kata Yenny. Saya berkata Okay, tapi bagaimana cara masuknya? Kemudian saya diberi tahu oleh Yenny bagaimana cara masuknya. Dia mengatakan di sebelah masjid Baiturrahim. Dan saya tidak tahu dimana itu.

 

Dulu saya wartawan Istana sehingga mengetahui tempatnya, yaitu di ujung dekat air mancur.

 

Saya datang dengan supir saya bernama Marsum. Kemudian saat mau masuk dia mengatakan,Takut untuk masuk karena ada yang pegang senapan mesin.Saya mengatakan itu memang untuk jaga kita, masuk aja tenang aja. Jadi bertemu Gus Dur dan langsung ikut jalan. Di sana ada orang-orang yang saya kenal dan ada yang saya tidak kenal.

 

Apakah memang betul kalua jalan pagi itu merupakan ajang lobby-lobby?

 

Betul, di kemudian hari kalau jalan pagi saya berdirinya di dekat Gus Dur untuk bisa mengantisipasi.

 

Akhirnya setelah jalan pagi, Gus Dur mengajak saya untuk mengobrol di kantornya. Dia bertanya, Apakah Anda siap menjadi Juru bicara?” Saya jawab siap, dan tanya mulai kapan? Kata Gus Dur, “mulai sekarang.Kemudian saya bertanya apa deskripsi tugasnya? Kata Gus Dur,  Itu terserah, Anda yang lebih tahu karena belum pernah ada juru bicara.

 

Siapa yang mendampingi Anda waktu itu?

 

Marsillam Simanjuntak yaitu kawan saya selama mahasiswa tapi dia kawan yang jauh di atas saya berpolitiknya. Jadi saya minder juga.

 

Apakah sejak itu Anda bertugas menjadi juru bicara Presiden?

 

Iya betul. Saya diberi ruangan dan langsung terjadi pembagian lencana. Saya diberi lencana Emas. Lalu saya tanya Marsilam,Apa ini emas?” Dia menjawab, Jangan tanya ke saya, tanya saja ke Paspampres.Dia memang orangnya tengil. Jadi saya bertanya ke Paspampres mengenai arti warna  dari lencana. “Setiap lencana ada warna dan artinya.  Kalau yang berwarna merah artinya boleh masuk ke Istana. Kalau warna hijau ke halaman,” jelas dia.  “Kalau yang warna emas bagaimana pak?” Tanya saya. Dia menjawab, “Itu sampai ke hidung Pak Presiden.

 

Jadi Anda mempunyai akses langsung sampai hidung Presiden.

 

Jadi saya tidak perlu identitas, cukup itu saja.

 

Zaman itu Anda dikenal sebagai tokoh demokrasi, menggulingkan Soekarno, mengkritik Orde Baru, menjatuhkan Orde Baru, dan sebagainya.

 

Karena hal itu saya senang dan bangga sekali.

Tapi justru kebalikan, ketika itu Gus Dur dianggap oleh kritikus sebagai tokoh yang justru dalam prakteknya bertentangan dengan demokrasi dan bertentangan dengan politik kemanusiaan. Bagaimana Anda melihat Gus Dur dari dalam ?

 

Saya sangat sadar itu, sehingga saya sangat berterima kasih bisa bertugas di situ. Saya sangat sadar bahwa Gus Dur dinilai secara salah oleh orang-orang yang memandangnya dalam jangka pendek. Sebenarnya Gus Dur banyak kemampuannya, tapi kalau orang yang tidak kenal akan menganggap dia banyak kekurangan, dan mungkin yang diakui hanyalah bahwa dia bisa melawak.

 

Saya pikir orang yang bisa melawak seperti Gus Dur pasti cerdas sekali, orang bodoh tidak bisa melawak seperti itu. Jadi saya makin lama makin kagum karena itu saya menyambut baik sekali.  Saya bertanya ke Gus Dur tentang bagaimana saya harus menghandle orang yang mengkritik Gus Dur. Dia hanya menjawab, Itu terserah Pak Wimar saja.Kemudian saya bertanya apakah tidak ada instruksinya? Gus Dur menjawab tidak ada. Jadi saya tidak diinstruksikan, dan tidak harus melapor kepadanya. Itu kerjaan ideal, menurut saya.

 

Jadi Anda diberikan otoritas penuh untuk melakukan apapun atas nama presiden.

 

Penuh dan otoritas itu oleh orang luar dikira lebih daripada semestinya. Tapi saya tidak tahu karena saya tidak pernah test juga.

 

Kita bercerita tentang Gus Dur, mengenang Gus Dur, di bulan Gus Dur ini. Gus Dur  banyak legacy-nya dan sekarang orang banyak mengingat-ingat lagi apa yang pernah diperbuat. Ternyata 20 bulan selama menjabat presiden itu mengena sekali.

 

Dia bisa mengembalikan tentara ke tempatnya, mengembalikan warga negara Tionghoa kepada tempat yang setaraf dengan warga lain dengan melegalisir imlek dan sebagainya. Dia mulai mengejar koruptor tapi keburu digulingkan, jadi tidak selesai. Berkas-berkasnya sudah ada pada Jaksa Agung waktu itu Marsillam Simanjuntak. Jadi menarik sekali, di situ seperti dewan mahasiswa jadinya, ada kampanye tiap hari.

 

Anda melawan politikus-politikus yang juga patut dilawan waktu itu.

 

Iya, mula-mula saya agak khawatir lihat tokoh-tokoh seperti Amien Rais atau AM. Fatwa karena mereka itu tokoh. Sedangkan saya hanya aktivis mahasiswa, walaupun usianya kira-kira sama. Namun lama-lama saya menjadi confident juga bahwa orang-orang itu sebetulnya tidak ada substansinya. Jadi saya berani untuk berdiri tegak melawan mereka. Gus Dur dipanggil ke DPR saya juga ikut, saya malah menjadi juru bicara di sana sampai Amien Rais sesudahnya datang. Saya sebenarnya dekat dengan Amien Rais karena waktu kampanye anti Soeharto kita sering sama-sama.

 

Anda juga katanya salah satu pendiri PAN, apakah betul?

 

Betul, saya ikut mendirikan PAN tapi keluar. Waktu itu Amien Rais juga sempat berbisik kepada saya, “Pak Wimar bagus yah pekerjaannya sebagai juru bicara.Saya jawab terima kasih, tapi sebenarnya beliau mau menawarkan pekerjaan lain tapi saya menolaknya karena menurut saya sementara ini pekerjaan saya sudah bagus. Jadi saya berperan betul, setiap hari itu tidak cari pekerjaan, tidak lengang dan sangat teraktualisasi.

Kalau kita bicara mengenai substansi, tahun ini Gus Dur diperingati dengan hiruk-pikuk tahun politik kita yang super panas, super sensitif, sepertinya sedikit-sedikit tidak ada bercandanya, meledek sedikit langsung marah, sensitif dan lapor polisi. Orang jadi merefleksikan rindu Gus Dur, bahkan tema Haul kesembilan Gus Dur adalah “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.Apa nilai yang kita bisa tangkap dari jargon itu?

 

Bahwa ujung-ujungnya selalu dia lebih menghargai manusia daripada apapun. Dia selalu mengatakan bahwa negara itu dibuat untuk manusia, bukan manusia dibuat untuk negara. Sewaktu saya masih mengurus olah raga, saya suka dimarahi oleh orang yang mengurus olah raga juga, yaitu seorang jenderal. Dia mengatakan, “Mas Wimar harus ingat bahwa olah raga itu perang seperti Tennis Wimbledon, bahwa olahraga itu perang dan atlet itu serdadunya dan kita adalah pemimpinnya.

 

Kalau menurut saya, tokohnya adalah mahasiswa. Kita hanya angkat koper saja dan mengamankan Gus Dur seperti itu. Jadi artis atau olahragawan atau individu itu lebih dia hargai daripada tokoh-tokoh. Orang seperti Munir yang merupakan aktivis dianggap lebih penting daripada ketua partai, karena ketua partai bisa berganti tapi tokoh yang berintegritas  akan tetap ada.

 

Itu terjadi bahkan ketika Gus Dur harus melewati masa-masa sulit di kepresidenan. Apa betul bahwa Gus Dur tidak mau banyak kompromi dengan hal-hal yang teknis bahkan untuk melanggengkan kekuasaan dia meskipun dia sangat bisa katanya, tapi dia lebih memilih hal-hal yang secara value dia perjuangkan selama puluhan tahun sebagai tokoh demokrasi?

 

Di depan saya dia menelepon pemuda-pemuda Jawa Timur. Dia mengatakan,Kalian jangan ke Jakarta, jangan turun, tidak perlu bela saya, nanti bisa terjadi pertumpahan darah.” Padahal tadinya mereka sudah ingin turun ke jalan. Jadi saya lihat sendiri bahwa dia berbeda dengan yang dilaporkan orang, bukan menghasut orang untuk membela dia,  justru menganjurkan orang supaya mundur sebab kita harus menyelamatkan negara ini.

 

Mengapa Gus Dur tidak mau mempertahankan kekuasaan atau kompromi sedikit saja?

 

Karena dia mengetahui bahwa negara akan selamat kalau tidak ada orang yang melebihi kekuasaannya, dan dia takut kalau sebagai presiden dengan popularitasnya seperti itu, dia bisa melampaui kekuasaannya sendiri. Jadi lebih baik dia mundur saja, memberi contoh supaya demokrasi berjalan. Tapi ada orang-orang yang bodoh atau tidak mengerti yang menganggap kemundurannya merupakan kelemahannya, dan kelucuan humanisme dia dianggap sebagai kapitulasi atau mengalah. Padahal itu semuanya adalah untuk membimbing demokrasi.

 

Di tengah situasi politik yang panas, antara elit panas, semua saling melapor, Gus Dur dengar-dengar dulu itu melewati saat-saat yang sulit dengan santai saja. Apa yang bisa kita tangkap dari situasi-situasi santai, penuh humor yang tidak seperti sekarang serba sensitif sekali?

 

Dia itu terlihat santai, tapi kadang-kadang saya berpikir apa betul santai atau tidak. Misalnya, dia sedang harus menghadapi lawan politiknya saat pertemuan di Istana Bogor, yang biasanya dia didampingi oleh menteri atau penasihatnya, malah Yenny mengatakan Gus Dur ingin didampingi saya. Saya pikir mau membicarakan politik, ternyata dia malah membicarakan Beethoven dan Mozart. Jadi dia itu bicara rileks sekali selama satu jam, dia bandingkan musik Jerman dengan musik Arab.

 

Itu di tengah situasi politik yang genting.

 

Iya, saya musik Jerman tahu tapi musik Arab tidak tahu. Dia jelaskan semuanya, sangat berbudaya. Yang tidak dia ceritakan pun saya tidak bertanya.

 

Apa nilai atau sesuatu hal yang baik yang sepertinya saat ini sangat relevan menurut Anda?

 

Gus Dur itu egonya ditekan. Kalau egonya kelihatan besar itu sebetulnya humor saja. Misalnya, kalau dia dihina, tidak melawan, dan menghadapi oposisi politik itu dengan besar hati. Sebetulnya dia itu ditawari banyak sekali kompromi politik waktu memorandum satu dan dua yang akhirnya menyudahkan pemerintahannya.

 

Misalnya, di memorandum dua itu Golkar mengatakan melalui saya untuk menyelamatkan Gus Dur. Itu karena saya lebih kenal dengan orang Golkar daripada orang Gus Dur, misalnya Akbar Tandjung dan Marzuki Darusman, semuanya itu teman-teman saya selama mahasiswa. Mereka mendesak saya untuk bicara kepada Gus Dur.

 

Kalau Gus Dur mau memberikan enam kursi kepada Golkar, maka mereka tidak akan menyerang. Waktu itu Gus Dur malah menertawakan saya, dan tidak memberikan apa yang mereka mau. Sebenarnya saya sudah tahu bahwa Gus Dur tidak akan setuju, tapi berhubung saya sudah janji untuk bicara dengan Gus Dur, jadi saya sampaikan saja. Dia malah memberikan lelucon bahwa akan memberikan enam kursi menteri, tetapi salah satu Menteri yang akan dia tunjuk adalah saya. Saya pun langsung menolaknya.

 

Itu yang kemudian menurut Anda  relevan sekali kalau misalnya politik itu kita pandang dari kacamata humanis.  

 

Iya, karena Gus Dur itu menganggap masalah itu serius tapi dia tidak pernah menganggap dirinya serius. Memang luar biasa sekali dia.

 

Luar biasa, dan cerita-cerita itu mudah-mudahan menginspirasi kita. Mengenai nilai-nilai dan pesan-pesan perjuangan Gus Dur semoga tetap lestari dan menjadi refleksi juga bagi politisi yang sedang bertarung keras di Pemilu kali ini.

 

Tapi tidak pernah ada orang seperti Gus Dur dan tidak akan ada, itu sebagai inspirasi saja.