Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Sonny Keraf

Kurangi Ketergantungan pada Energi Fosil yang Kotor

Edisi 1207 | 02 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan mengenai penyediaan dan pemanfaatan energi listrik yang sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan kita sehari - hari. Narasumber kita adalah Dr. Sonny Keraf yang sekarang menjabat sebagai anggota Dewan Energi Nasional dari unsur Pemangku Kepentingan Lingkungan Hidup.

 

Menurut Sonny Keraf, sampai hari ini sebagian besar kebutuhan listrik kita termasuk di banyak negara maju masih dipasok dari sumber energi fosil. Energi fosil ini adalah energi yang kotor karena menghasilkan emisi karbon yang berdampak pada gas rumah kaca yang mempengaruhi juga perubahan iklim. Jadi kecenderungan baru sekarang ini, terutama negara negara maju dan kita di Indonesia, mulai bergeser ke energi yang terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga air.

 

Jika kita gagal beralih ke energi terbarukan banyak dampaknya. Salah satu di antaranya adalah kita tidak berhasil menurunkan suhu permukaan bumi dan dengan demikian kita akan mengalami secara global perubahan iklim, dan itu punya dampak yang mengerikan. Bumi kita akan sangat terancam.

 

Itu karena perubahan iklim pada akhirnya akan berdampak memusnahkan bumi, yaitu suhu bumi  akan terus-menerus naik lalu kemudian es di kutub akan mencair, permukaan air laut akan naik, terjadi bencana badai, terjadi bencana tidak hanya gagal panen pertanian tapi juga gagal tanam, dan akan mengganggu suplai makanan bagi masyarakat, akan menimbulkan kelaparan dan seterusnya.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dan narasumber Dr.  Sonny Keraf.

Saat ini peran energi listrik sangat vital dan strategis bagi kehidupan kita sehari hari, bermasyarakat, maupun dalam proses pembangunan. Semua aktifitas perekonomian dan juga proses pembangunan membutuhkan ketersediaan energi listrik. Bahkan negara negara maju yang menguasai perkenomian dunia, mereka berhasil mencapai proses pembangunan ekonominya berkat ketersediaan energi listrik yang andal dan terjangkau bagi masyarakatnya. Bagaimana kondisi energi listrik di Indonesia saat ini?

 

Sebelum menjawab pertanyaan itu mungkin ada baiknya saya jelaskan dulu mengenai jenis energi agar pembaca mempunyai pemahaman yang lebih komprehensif juga. Ketika bicara tentang energi, kita harus menyadari sebagaimana disinggung tadi bahwa energi sudah menjadi jantung kehidupan suatu bangsa dan masyarakat.

 

Energi ini dibagi menjadi dua. Kalau hari ini kita bicara energi yang berkaitan dengan listrik, sesungguhnya energi juga kita butuhkan dan kita pakai untuk kebutuhan yang non listrik yaitu transportasi yang kita pakai untuk bahan bakar dan semacamnya. Hari ini kita konsentrasi tentang listrik. Kita pakai listrik selain untuk kebutuhan rumah tangga, juga untuk industri khususnya dalam kaitan pembangunan, sehingga benar benar memang energi adalah jantung kehidupan dari masyarakat suatu negara.

 

Saya di Dewan Energi Nasional mewakili pemangku kepentingan lingkungan hidup. Ini karena energi terkait dengan lingkungan, dalam arti sampai hari ini sebagian besar kebutuhan listrik kita termasuk di banyak negara maju masih dipasok dari sumber energi fosil. Energi fosil ini adalah energi yang kotor karena menghasilkan emisi karbon yang berdampak pada gas rumah kaca yang mempengaruhi juga perubahan iklim. Jadi kecenderungan baru sekarang ini, terutama negara negara maju dan kita di Indonesia, mulai bergeser ke energi yang terbarukan. Tetapi tantangannya masih cukup berat karena energi terbarukan itu jauh lebih mahal harganya dibandingkan energi fosil.

 

Apa saja contoh dari energi terbarukan?

 

Indonesia sebenarnya sangat kaya. Kita memiliki energi terbarukan yang luar biasa banyaknya tapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Kita mempunyai energi dari hydro (air) karena sungai di Indonesia sangat banyak, dan sungai itu bisa dibendung untuk kemudian menjadi pembangkit listrik, baik dalam kapasitas yang besar (PLTA) maupun juga mikro.

 

Kita juga mempunyai panas bumi, seperti yang ada di Sumatera, Jawa, Sulawesi, NTT, Ambon, Papua, dan Maluku. Kita punya Geothermal, kecuali Kalimantan tidak punya. Kita juga mempunyai matahari, angin, gelombang laut, dan bio energi yaitu dari minyak sawit, minyak jarak, kemiri. Juga ada biomassa yang bisa dari sampah, daun daunan, kayu, dan seterusnya. Jadi sesungguhnya kita mempunyai potensi yang sangat banyak tetapi tadi masih mahal. Itu karena teknologinya masih tergolong baru, dan lebih banyak impor. Itu yang menyebabkan sejauh ini kita belum maksimal mengembangkan potensi potensi yang kita miliki tadi.

 

Apa tantangan untuk kita bisa meningkatkan pemakaian energi terbarukan di Indonesia?

 

Sesungguhnya tantangan yang terbesar adalah komitmen pemerintah untuk tahap demi tahap secara serius dan konsisten mengembangkan energi terbarukan, dan sekaligus melepaskan diri dari ketergantungan terhadap energi yang bersumber dari fosil tadi.

 

Jangan dilupakan bahwa kita memang mempunyai sumber energi fosil, yaitu minyak bumi, gas, dan batubara. Namun cadangan yang kita miliki itu dari tahun ke tahun semakin menurun karena kita pakai terus-menerus. Dulu kita adalah eksportir untuk minyak bumi. Kita ekspor besar-besaran pada waktu itu harganya masih mahal, tapi yang terjadi kemudian adalah sekarang kita menjadi pengimpor bahan bakar minyak.

 

Sekarang kita masih ekspor batubara dan kita mengekspornya besar besaran. Saya kuatir kita akan menjadi pengimpor batubara juga nanti. Kita masih mempunyai gas juga, tetapi lama-kelamaan semakin berkurang, Kondisi ini yang seharusnya memaksa pemerintah untuk kemudian lebih serius dan konsisten mengembangkan energi terbarukan yang kita miliki tadi.

 

Masalahnya adalah tadi karena teknologinya masih baru untuk energi terbarukan. Kedua, wilayah khususnya untuk hydro (air) dan panas bumi itu lokasinya jauh di pedalaman, berada di hutan-hutan, di gunung-gunung sehingga memang membutuhkan investasi yang sangat besar, selain teknologinya yang impor dan mahal. Itu menyebabkan harga energi terbarukan saat ini masih jauh lebih mahal dibandingkan dengan energi fosil.

 

Sesungguhnya kita bisa mengembangkan itu kalau pemerintah serius dan konsisten, dengan cara  mengembangkan berbagai kebijakan untuk memaksimalkan pengembangan energi terbarukan. Misalnya, menetapkan harga, dan memberikan subsidi kepada energi terbarukan. Dengan demikian dia bisa berkompetisi dengan fosil. Kalau tidak, tidak mungkin energi terbarukan akan berkembang dengan baik.

 

Saya tahu dan menyadari bahwa memang sekarang ini berbagai proyek sudah sedang dirintis oleh pemerintah dengan berbagai pihak swasta. Ada di panas bumi, panel surya, dan ada di angin. Bahkan ada yang sudah mulai juga. Tetapi itu masih terlalu lambat karena belum terlalu menarik bagi investor atau pihak swasta untuk masuk ke dalamnya karena berbagai kebijakan yang masih dirasakan terlalu membebani energi terbarukan. Padahal di negara-negara lain justru energi terbarukan ini yang diberikan insentif, seperti harganya dibantu untuk kemudian dia bisa saing dengan energi fosil.

 

Selain kendala-kendala masih tingginya biaya investasi sehingga kurang menarik bagi para investor, apakah ada kendala juga dalam hal melakukan pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan ini, misalnya adanya penolakan dari masyarakat atau pihak-pihak tertentu?

 

Betul, itu menjadi masalah berikutnya, selain tadi dari sisi harga, investasi dan seterusnya. Para investor atau upaya untuk mengembangkan energi terbarukan masih sering harus berhadapan dengan masyarakat dan berbagai pihak termasuk didalamnya adalah LSM, misalnya.

 

Terkait dengan masyarakat, memang seringkali terjadi benturan konflik dalam arti tertentu penolakan terkait dengan akusisi lahan, sehinga memang sering kali ada penolakan. Tapi dalam arti tertentu kemudian dengan mediasi dan seterusnya masyarakat kemudian bisa menerima.

 

Yang tidak kalah sengit, dan itu tantangan dan keluhan teman-teman investor dan asosiasi-asosiasi yang berusaha untuk mengembangkan energi terbarukan tidak hanya hydro tapi juga panas bumi, adalah penolakan dari teman-teman lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang lingkungan. Ini tantangan berat bagi saya karena saya yang mewakili kepentingan lingkungan, dalam kenyataannya ada benturan antara kepentingan lingkungan dan kepentingan lain.

 

Mengapa teman-teman LSM menolak pembangunan energi terbarukan, padahal energi terbarukan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan energi fosil?

 

Pada dasarnya begini, kecenderungan teman-teman LSM adalah alasannya tidak salah sesungguhnya tetapi terlalu parsial pendekatannya, mereka mutlak - mutlakan memperjuangkan satu aspek lingkungan lalu mengorbankan aspek lingkungan lain. Dalam realitasnya pengembangan energi terbarukan, saya selalu katakan yang terjadi adalah mengupayakan untuk bisa bersinergikan dan menjembatani antara kepentingan lingkungan dan kepentingan lingkungan.

 

Kepentingan lingkungan itu adalah misalnya menjaga dan melestarikan ekosistem hutannya di satu pihak, dan mengembangkan hydro atau panas bumi. Di pihak lain hydro dan panas bumi  kita butuhkan karena tadi mempunya efek positif untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim tadi.

 

Sementara di pihak lain juga perlu ada upaya untuk menjaga lingkungan, yaitu kawasan hutan dan ekosistem di sekitarnya termasuk satwa di dalamnya seperti ada Orangutan, burung, dan macam-macam di dalamnya. Dua kepentingan ini yang harus didamaikan. Persoalannya adalah seringkali teman-teman LSM hanya berjuang untuk satu aspek pendekatan secara mutlak-mutlakan dan parsial yang menyebabkan terjadi konflik di lapangan yang mengganggu pengembangan energi terbarukan.

 

Apakah benar energi terbarukan itu merusak lingkungan seperti yang dituduhkan oleh NGO dan juga banyak pihak?

 

Jadi setiap aktivitas manusia pasti punya dampak terhadap lingkungan, kita makan pun ada dampak terhadap lingkungan. Contoh, buang air besar (BAB). Kalau kita BAB sembarangan mengakibatkan mengotori lingkungan, merusak kesehatan masyarakat, merusak kesehatan lingkungan, dan seterusnya. Tetapi dampak tadi bisa dikendalikan, maka ada kakus, ada WC untuk kita buang kotoran dampak dari kita makan tadi. Jadi kita manage, kita kendalikan, kita kelola yaitu membuatnya di tempat khusus yang namanya toilet, WC, kakus, dan seterusnya.

 

Demikian pula aktivitas industri, kita butuh industri untuk pembangunan, contoh konkritnya tadi. Demikian pula dengan energi terbarukan. Kita mau bicara tentang hidro, mau bicara tentang panas bumi pasti ada dampaknya, tidak bisa tidak. Semua aktivitas ada dampaknya. Pertanyaannya adalah dampak itu apakah bisa kita kendalikan? Apakah bisa kita kelola dengan baik, sehingga tidak sampai menimbulkan dampak yang masif, yang betul-betul merusak, seperti contoh tadi kita BAB pasti ada dampaknya tapi kalau kita buangnya di kakus tidak ada dampaknya. Jadi itu bisa kita kendalikan.

 

Demikian pula yang selalu diklaim oleh teman-teman LSM lingkungan bahwa hidro merusak ekosistem hutan, hidro berdampak kepada mengganggu dan bisa memusnahkan Orangutan. Demikian pula panas bumi, katanya kalau itu dibuka maka hutan akan punah dan seterusnya. Saya katakan itu mau tidak mau dia punya dampak, tetapi dampak itu bisa dikendalikan dan sudah ada instrumen untuk itu yaitu analisis mengenai dampak lingkungan.

 

Analisis mengenai dampak lingkungan adalah studi ilmiah tentang potensi-potensi dampaknya, potensi dampak itu bisa dikendalikan dengan sejumlah mekanisme dan prosedur yang harus dipenuhi. Harus dilakukan A, B, C, dan seterusnya sehingga potensi dampak tadi bisa dikendalikan.

 

Jadi sesungguhnya intinya adalah bagi saya mari kita duduk bersama sehingga kepentingan kawasan ekosistem hutan, kepentingan pelestarian burung, kepentingan pelestarian orangutan dan seterusnya bisa kita jaga sementara pembangunan listrik dari air, pembangunan pembangkit listrik dari panas bumi bisa terus kita dorong sehingga mengurangi ketergantungan kita kepada energi fosil yang kotor. Dengan demikian Indonesia juga punya kontribusi dalam rangka untuk mitigasi perubahan iklim.

 

Itu karena perubahan iklim pada akhirnya akan berdampak memusnahkan bumi, yaitu suhu bumi  akan terus-menerus naik lalu kemudian es di kutub akan mencair, permukaan air laut akan naik, terjadi bencana badai, terjadi bencana tidak hanya gagal panen pertanian tapi juga gagal tanam, dan akan mengganggu suplai makanan bagi masyarakat, akan menimbulkan kelaparan dan seterusnya.

 

Karena itu dengan berbagai aspek tadi, mari kita duduk bersama. Ada mekanisme, ada prosedur untuk kepentingan lingkungan wilayah hutan yang kita jaga, tetapi kepentingan untuk membangun pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik panas bumi juga bisa kita kembangkan tanpa akan menimbulkan dampak yang merusak bagi lingkungannya.

 

Pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan sangat penting dan itu ada manfaatnya dari sisi lingkungan salah satunya tadi untuk mitigasi perubahan iklim. Bagaimana kalau dlihat dari sisi manfaat lainnya, misal dari sisi ekonomi?

 

Dari sisi ekonomi, saya kasih contoh, sekarang pemerintah sudah menetapkan kita untuk mengembangkan atau memanfaatkan yang namanya B20, yaitu solar dicampur dengan minyak sawit sebanyak 20%. Dengan demikian kita mengurangi ketergantungan impor BBM termasuk di dalamnya solar, sehingga secara ekonomi kita bisa menghemat devisa.

 

Kini kita makin mengembangkan B20 menuju kepada B30, bahkan B40. Presiden di dalam debat kemarin mengatakan dia punya mimpi untuk sampai ke B100. Tentu itu tidak hari ini tapi sekian tahun ke depan. Dengan demikian ketergantungan kita yang saya gambarkan tadi terhadap impor bahan bakar fosil tadi, yaitu BBM atau Crude Oil makin berkurang.

 

Dengan demikian menyelamatkan keuangan juga secara ekonomi dilihat dari sisi penghematan devisa kita. Itu baru salah satu aspek ekonominya. Kita juga bisa tidak mengimpor BBM kalau kita menggunakan PLTA apalagi sekarang kecenderungan global saat ini adalah mengganti BBM dengan mobil listrik, mobil listrik yang sebenarnya sudah ada di depan mata kita.

 

Di dunia sekarang semua perusahaan otomotif berlomba untuk mengembangkan mobil listrik, sehingga kelak kita tidak lagi mengkonsumsi solar, kita tidak lagi mengkonsumsi bensin dan seterusnya tetapi setiap rumah bisa mempunyai listrik dari panel surya di atap nya, malam hari dia charge baterai untuk mobilnya, dan pada pagi hari dia pasang baterai di mobilnya dan  mobil digunakan tanpa harus mengisi BBM lagi.

 

Apa dampaknya bagi kita masyarakat Indonesia jika kita gagal beralih dari energi fosil ke energi terbarukan?

 

Banyak dampaknya, salah satu di antaranya adalah kita tidak berhasil menurunkan suhu permukaan bumi dan dengan demikian kita akan mengalami secara global perubahan iklim, dan itu punya dampak yang mengerikan. Bumi kita akan sangat terancam oleh peningkatan suhu bumi.