Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Sarwono Kusumaatmadja

Perspektif Sarwono Mengenai Indonesia

Edisi 1181 | 02 Jan 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selamat bertemu kembali sahabat Perspektif Baru. Setelah sekian lama tidak bertemu, saya mendapat kehormatan untuk mewawancarai seorang yang disebut sudah lebih dari tokoh, yaitu seseorang yang sangat berperan dalam sejarah Indonesia dan juga dalam kehidupan saya. Baru-baru ini dia menerbitkan biografinya yang berjudul, "Menapak Koridor Tengah." Dia adalah Sarwono Kusumaatmadja.

Menurut Sarwono, tidak ada mekasinme suksesi dan ketiadaan mekanisme suksesi itulah yang menjadi kelemahan dari rezim Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru. Andaikata ada mekanisme suksesi, maka orang akan bisa terkoreksi dengan sendirinya. Bukan hanya tidak ada, secara aktif memang diharamkan berbicara suksesi. Jadi, ada dua hal yang tidak boleh disentuh. Ke satu, batas-batas sakralnya konstitusi, dan satu batas lagi adalah tidak boleh membicarakan pergantian presiden. Jadi, koridor tengah adalah suatu area diantara batas itu dan di situ kita bermanuver.

Sarwono mengatakan Indonesia sekarang pada dasarnya baik. Artinya kita memang mengalami hal-hal yang besar dan kadang-kadang mengerikan juga. Kalau kita melihat sejarah dari negara-negara lain, mereka juga sempat menghadapi hal-hal yang luar biasa jelek. Misalnya, Jerman pada zaman Hitler, fasisme Jepang, kemudian revolusi budaya di Tiongkok oleh Mao Zedong. Tapi ada titik dimana satu bangsa selalu bisa mengambil pelajaran dari itu semua dan bangkit, termasuk Indonesia. Kita adalah negara besar. Kita tidak akan hanya mengalami hal yang kecil, juga ada beberapa trauma-trauma politik yang masih akan kita alami. Pada dasarnya, bukan hanya survive tapi juga bisa berkembang bagus di masa yang akan datang.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Sarwono Kusumaatmadja

Tamu kita hari ini Sarwono Kusumaatmadja segenerasi dengan saya, seusia dengan saya, dan berarti dia mengalami banyak masa Indonesia dari mulai pasca kemerdekaan sampai masa Soekarno. Dia juga sempat tingal di Eropa dalam masa Soekarno, kemudian kembali dalam masa perjuangan 66, masuk ke Golkar dan sampai sekarang aktif dalam dialog politik, budaya, dan sangat tajam analisanya mengenai kondisi di Indonesia.

Bagi saya, dia adalah orang yang sangat bisa dimanfaatkan oleh generasi manapun, baik generasi muda maupun generasi lama untuk mengerti dengan lebih tajam apa itu Indonesia dari dulu sampai sekarang.

Bagi saya sebenarnya ini mudah, tapi juga challenging untuk mewawancarai Sarwono mengenai bagaimana pentingnya pesan dia dan pentingnya buku yang dia tulis "Menapak Koridor Tengah." Kalau kita membaca buku tersebut, kita bisa mendekatinya dari berbagai pihak, misalnya dari pengalaman pribadi, perjuangan kemahasiswaan, aktivisme politik dari seorang pemimpin pemerintahan, dan sebagainya. Jadi saya ingin fokus terlebih dahulu pada masa kecil Sarwono sampai lulus SMA karena di situlah mungkin mulai terbentuk karakter Sarwono yang sekarang. 

Menurut Anda, apa yang membuat Anda menjadi seperti sekarang?

Saya rasa kombinasi dari berbagai hal. Pertama, tentunya pengalaman hidup. Karena itu buku ini berorientasi pada pengalaman, dan pengalaman itu tergantung dari ingatan, sehingga cerita tentang saya di buku ini di mulai pada 1948 dimana saya waktu itu mulai mengingat apa yang terjadi di sekeliling saya. Kedua, mungkin keberuntungan atau apa yang saya tidak bisa jelaskan, karena waktu saya lahir sampai berumur SD, saya tidak dihitung dan dianggap kalau dibandingkan dengan Mochtar Kusumaatmadja, itu tidak ada apa-apanya.

Jadi kakak Sarwono yaitu Mochtar Kusumaatmadja adalah orang yang sangat berprestasi. Dia pernah menjadi rektor, menteri, dan sebagainya.

Dari dulu Mochtar memang ditandai bahwa dia akan menjadi orang sukses karena dia mandiri, sangat cerdas, anak gaul, dan menonjol sekali. Sedangkan saya tidak, berbeda sekali. Namun rupanya yang melihat sesuatu yang istimewa dalam diri saya adalah justru paman saya, yaitu dr. Soedarsono yang juga ayah dari Juwono Soedarsono. Dia meminta ke Ibu saya agar saya ikut dalam keluarganya karena waktu itu dia ditugaskan sebagai Duta Besar di Eropa.

Pada usia kira-kira kelas 6 SD Anda diajak ke luar negeri oleh dr. Soedarsono yang bertugas sebagai diplomat di Eropa. Dimana itu?

Di Beograd, Yugoslavia sebagai duta besar dan saya menjadi anggota keluarganya. Saya senang saja karena ada Juwono juga di situ, yang usianya dengan saya tidak jauh, kalau dengan Mochtar jauh. Jadi hitung-hitung saya menjadi anak bungsu mereka. Tapi saya tidak punya pretensi apa-apa, artinya senang saja diajak dan ibu saya juga senang bahwa saya diajak.

Tiba-tiba satu waktu Om Son (Panggilan untuk dr. Soedarsono - Red) memanggil saya. Dia mengatakan, "Kamu tahu tidak bahwa bakat kamu itu banyak, cuma harus digali dan kamu ini orangnya tidak bisa didorong-dorong, disuruh-suruh, atau dipaksa, kamu harus dicemplungin." Dicemplungin dalam arti kata mungkin dilepas dalam suatu lingkungan yang sama sekali asing supaya ketahuan bisa atau tidaknya survive dari situ. Jadi, saya dikirim begitu saja ke Inggris untuk bersekolah di sana, sedangkan Om Son tetap di Beograd, dan Juwono juga di Inggris tetapi di tempat lain.

Jadi saya ke Inggris sendirian naik kereta api. Waktu itu belum ada google map, belum ada bus, tapi sampai juga ke Inggris. Di sekolah itu saya tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa apa-apa, jadi sedih sekali. Saat itu usia 13 tahun dan sedih sekali, tapi saya pikir mungkin ini maksudnya dicemplungin. Jadi I have to survive, dan bukan hanya survive, tapi kalau bisa berkembang.

Akhirnya saya mati-matian untuk menjadikan pengalaman itu sangat berharga. Saya betul-betul konsentrasi untuk mencari tahu bagaimana caranya, bukan hanya survive tetapi juga memanfaatkan kehadiran saya di sekolah itu.

Pada usia sekian pasti ada resistensi juga dari rekan-rekan, ada bullying, dan sebagainya. Apakah Anda juga memiliki pengalaman negatif tersebut?Ada, orang-orang Inggris itu tentu banyak yang baik tapi yang bakatnya bully juga ada, dan caranya beda. Kalau orang-orang Inggris dari kelas ningrat mem-bully-nya verbal. Jadi mereka akan berusaha mengatasi kita dengan menggunakan kata-kata yang pedas, sinis, dan segala macam. Kalau yang lainnya ada yang bully fisik seperti malak atau minta duit, kita didorong ke satu sudut ruangan yang tidak ada siapa-siapa, dipelototin dan dimintai duit. Itu masing-masing ada caranya untuk mengatasi ternyata.

Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk mengatasi keadaan itu, sehingga Anda menjadi sama?

Waktu saya masuk ke King School, saya dimasukkan di suatu kelas dimana saya adalah murid tertua karena saya tidak terlalu bisa bahasa Inggris. Jadi teman sekelas saya muda-muda semua. Setelah 2,5 tahun saya naik kelas di luar jadwal beberapa kali, sehingga ketika saya meninggalkan sekolah itu, saya menjadi murid termuda di kelas.

Bukan hanya itu saja yang membuat heboh di King School, waktu itu saya meramalkan bahwa De Gaulle akan menjadi presiden dari Prancis yang berikutnya. Walaupun waktu itu De Gaulle kuda hitam, jadi tidak dihitung. Betul De Gaulle itu figur yang monumental, tapi waktu De Gaulle ikut pemilihan, dia itu kuda hitam. Jadi seperti Jokowi, tidak dihitung.

Apakah semua pengalaman itu relevan terhadap penyesuaian Anda ke Jakarta karena seperti yang kita ketahui bahwa dari Inggris ke Jakarta itu agak susah?

Jadi pengalaman-pengalaman itu memberikan saya kepercayaan diri bahwa situasi apapun yang saya hadapi selalu ada jalan keluarnya, selalu bisa diatasi, dan bukan itu saja, saya juga meyakini bahwa saya tidak hanya mampu mengatasi masalah yang saya hadapi tapi juga mampu menjadikan itu bermanfaat.

Apakah karena Anda mempunyai pengalaman di Yugoslavia dan Inggris, maka Anda merasa berada di satu kelas yang beda daripada teman-teman di SMA Kanisius sebab itu di Indonesia?

Tidak juga, karena saya juga tahu bahwa orang itu tidak perlu ke Eropa untuk menjadi orang yang mempunyai pengalaman khusus. Ada beberapa contoh, baik di Institut Teknologi Bandung (ITB) maupun SMA, dimana keistimewaan orang selalu ada saja.

Anda menyebut-nyebut ITB, maka saya jadi kena urat syarafnya ITB. Bagaimana kesan dan pengalaman Anda mengenai ITB?

Sebenarnya saya masuk ITB juga karena ingin mencari perkara saja. Saya ingin tahu apakah bisa atau tidak masuk ITB karena ITB memiliki reputasi paling susah untuk dimasukkin. Kemudian saya tanya sama orang, "Apa fakultas yang paling susah dijalani di ITB?" Orang mengatakan Teknik Sipil karena banyak dosen killer-nya. Karena alasan itu jugalah mengapa saya masuk ke ITB.

Jadi bukan karena ingin membuat jembatan atau mempunyai aspirasi mengenai infrastuktur.

Tidak, karena saya juga pernah kerja di Atria dan Widya Pertiwi, yang merupakan perusahaan konsultan untuk membuat bangunan. Memang sederhana dan mungkin karena sederhana akhirnya pekerjaan sebagai engineer itu menjadi membosankan. Kalau saja tingkat kecanggihannya lebih tinggi mungkin menjadi lebih menarik. Tapi pada saat yang sama, waktu itu juga saya berada di dunia politik.

Bagaimana Anda masuk ke dunia politik dan apakah ada hubungannya dengan peristiwa yang berlangsung di masyarakat?

Ini merupakan kebetulan juga, saya dan Wimar Witoelar waktu itu adalah aktivis. Ketika menjelang pemilihan umum (Pemilu) 1971, pada 1969 ada insiden di Bandung yang dikenal dengan insiden Rene Conrad, dimana seorang mahasiswa ITB yang kebetulan sedang lewat di tempat keonaran, entah tertembak atau ditembak sehingga meninggal. Kemudian yang dipersalahkan membunuh Rene Conrad adalah seorang kopral yang bernama Djani Maman Surjaman. Itu menjadi cerita besar sekali. Dia adalah kopral polisi, dan kami terlibat dalam gerakan protes waktu itu.

Jadi bukan karena peristiwa Gestapu yang membentuk introduksi untuk ke politik.

Bukan, itu justru aktivisme di ITB yang kemudian salah satu milestone atau tonggaknya adalah peristiwa Rene Conrad itu. Pada saat yang sama Kodam Siliwangi juga sedang merekrut anak-anak muda untuk masuk Golkar sebagai calon.

Bagaimana bisa tentara merekrut orang untuk masuk partai?

Jadi pada waktu memasuki Orde Baru, Soeharto memutuskan supaya Orde Baru membentuk suatu kekuatan politik baru yang kemudian harus bertanding lewat Pemilu. Tadinya dia mau memilih dari partai-partai yang ada, tetapi tidak ada yang atraktif. Jadi yang namanya Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar waktu itu ditransformasikan menjadi peserta pemilu.

Jika pembaca Perspektif Baru ingin lebih mengetahui cerita mengenai Sarwono, silakan membeli bukunya "Menapak Koridor Tengah." Bisa juga mengikuti banyak sekali liputan Sarwono. Buku ini sebetulnya adalah bagian pertama dari dua bagian, yang bagian kedua belum ditulis. Tapi ini berhentinya kira-kira pada waktu Sarwono menjadi Sekjen Golkar.

Betul, tahun 1988.

Kembali kepada tentara membuat Golkar. Saat itu kebanyakan aktivis mahasiswa memang ikut. Saya juga ikut sebentar, tapi kemudian keluar karena alasan pribadi. Apakah Anda lurus karir politiknya di Golkar?

Kelihatannya seperti itu, naik-naik terus. Jabatannya semakin lama semakin signifikan, sehingga menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar pada 1983. Menurut saya, itu kejadian yang unik juga karena biasanya Sekjen Golkar dijabat oleh pensiunan militer dengan perwira tinggi, bintang satu yang kemudian dipromosikan menjadi bintang dua setelah pensiun dan usianya juga 58 tahun.

Berapa usia Anda waktu itu?

Umur 40 dan sipil. Ini membuat heboh juga, mengapa orang muda ini bisa menjadi Sekjen Golkar. Para tentara ada yang kesal juga.

Anda mendapat panggilan dan tempat di situ, pertama, karena diberi kesempatan oleh Soeharto. Bagaimana kesan Anda mengenai Soeharto?

Menurut saya, Soeharto secara alamiah adalah orang yang sangat cerdas. Dia juga seorang yang pekerja keras, setiap hari dia mempelajari laporan-laporan dari kabinet dan sumber-sumber lain dari pukul 22.00 sampai 01.00 pagi. Kemudian juga bangun tidur pukul 04.00, sholat subuh, jalan kaki, lalu membaca laporan, dan memberikan instruksi.

Yang tidak banyak dia lakukan adalah bicara di publik.

Bicara, tapi datar saja. Ini salah satu hal mengapa banyak orang yang menganggap remeh Soeharto karena tidak mengikuti pidatonya. Kalau kami, di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempelajari apa yang dia bicarakan, dan dari situ kita mengerti bahwa di balik setiap pidatonya ada strategi. Kemudian, itu yang coba kita jabarkan.

Mengapa sekarang banyak sekali kesan negatif mengenai Soeharto, dari segi pelanggaran Hak Asasi Manusia, korupsi, bahkan uangnya tidak habis-habis sampai sekarang dipakai dalam pemilu, dan sebagainya. Padahal segi positifnya yang Anda gambarkan bagus sekali, dimana sebetulnya letak disonansinya?

Sebenarnya dia kelamaan saja menjadi presiden. Tidak ada mekanisme suksesi dan ketiadaan mekanisme suksesi itulah yang menjadi kelemahan dari rezim Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru. Andaikata ada mekanisme suksesi, maka orang akan bisa terkoreksi dengan sendirinya. Bukan hanya tidak ada, secara aktif memang diharamkan berbicara suksesi.

Jadi, ada dua hal yang tidak boleh disentuh. Ke satu, batas-batas sakralnya konstitusi, dan satu batas lagi adalah tidak boleh membicarakan pergantian presiden. Jadi, koridor tengah adalah suatu area diantara batas itu dan di situ kita bermanuver.

Menurut Anda, bagaimana Indonesia yang sekarang?

Pada dasarnya baik. Artinya kita memang mengalami hal-hal yang besar dan kadang-kadang mengerikan juga. Kalau kita melihat sejarah dari negara-negara lain, mereka juga sempat menghadapi hal-hal yang luar biasa jelek, Jerman pada zaman Hitler misalnya, fasisme Jepang, kemudian revolusi budaya di Tiongkok oleh Mao Zedong. Tapi ada titik dimana satu bangsa selalu bisa mengambil pelajaran dari itu semua dan bangkit, termasuk Indonesia.

Saya kira itu karena kita adalah negara besar. Kita tidak akan hanya mengalami hal yang kecil, juga ada beberapa trauma-trauma politik yang masih akan kita alami. Pada dasarnya, bukan hanya survive tapi juga bisa berkembang bagus di masa yang akan datang.