Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Anggun Anggrekawati

Jangan Anti Politik

Edisi 1159 | 25 Jun 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita berbincang-bincang tentang sesuatu yang mungkin dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mungkin juga perspektifnya bisa menambah pengetahuan dan isprirasi bagi Anda semua. Kita berbicara mengenai hal-hal yang keterkinian dari perspektif atau kacamata aktivis mahasiswa, yaitu Anggun Anggrekawati, Ketua Senat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Menurut Anggun Anggrekawati, mahasiswa sekarang kurang sekali daya kritisnya, bahkan dalam hal kecil saja mereka kurang kritis. Ini mungkin karena kurangnya wadah dimana mahasiswa mendapatkan pendidikan atau hal yang seperti itu. Juga banyak sekali mahasiswa yang anti politik. Sebenarnya jangan sampai anti politik karena dalam hidup kita sehari-hari sudah berpolitik, bahkan dalam kelas atau dimanapun. Jadi yang penting tidak buta politik.

Berikut wawancara Budi Adi Putro dengan narasumber Anggun Anggrekawati.

Apakah Anda bisa dikatakan sebagai aktivis gerakan mahasiswa atau memang orang yang aktif di organisasi saja?

Orang yang aktif di organisasi.

Apakah organisasi yang dimaksud di sini hanya terlibat dalam gerakan-gerakan internal organisasi Anda yaitu Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) atau juga mempunyai aktivitas di luar organisasi Anda?

Punya, kita aktif di kegiatan internal dan eksternal. Saat ini di PMB sedang digalakan agar lebih ke kegiatan eksternal.

Kalau kita berbicara mengenai salah satu Tri Dharma perguruan tinggi maka ada pengabdian masyarakat, yaitu bagaimana kita sebagai mahasiswa tidak hanya sekadar belajar, tidak hanya melakukan penelitian, tapi juga kita melakukan sesuatu untuk masyarakat.

Bagaimana di PMB, seberapa penting aktifitas keluar untuk membantu masyarakat dan kegiatan apa saja yang selama ini dilakukan untuk bisa menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi tersebut?

Di PMB ada tiga asas yaitu Kemahasiswaan, Kemasyarakatan, dan Kenasionalan. Maksud dari Kemahasiswaan adalah kita sebagai mahasiswa dituntut untuk mendapatkan pendidikan, dan setelah lulus kita mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara. Jadi seluruh kegiatan PMB itu untuk Kemahasiswaan, Kemasyarakatan, dan Kenasionalan sehingga ruang lingkupnya luas sekali.

Apa yang diperjuangkan PMB untuk keluar organisasi secara etika, program, dan ideologis? Apa yang ingin menjadi concern PMB untuk masyarakat nasional, Bandung, dan orang di luar PMB sendiri?

Untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yaitu bagaimana caranya supaya seluruh masyarakat merasakan hal yang sama.

Mengapa yang menjadi concern bukan hal-hal lain seperti masalah pluralisme, toleransi, atau pendidikan? Mengapa PMB fokus untuk bergerak keluar dan dengan tema keadilan sosial?

Sebenarnya PMB memiliki banyak fokus, tetapi kita sekarang lebih mengikuti suara mahasiswa karena itu sama dengan suara rakyat. Jadi kita mengikuti isu-isu yang ada di masyarakat. Misalnya, di Bandung akan ada penggusuran di daerah Taman Sari, kita memperjuangkan supaya masalah ini cepat teratasi. Jadi fokus kita adalah kenyamanan, yaitu bagaimana masyarakat bisa nyaman di kota Bandung, jadi kita memperjuangkan itu.

Apa yang menjadi concern yang lain bagi PMB sebagai organisasi mahasiswa yang independen?

Program-program kita lebih concern ke anak-anak muda, misalnya, mahasiswa yang akan menjadi penerus bangsa. Soalnya, yang saya rasa mereka membutuhkan wadah sendiri, sehingga bagaimana caranya agar PMB bisa menjadi sebuah ruang lingkup untuk mereka belajar yang tidak didapatkan di kampus.

Bagaimana animo mahasiswa, anak-anak muda di Bandung untuk ikut organisasi dan ikut berjuang bersama visi dan misi PMB. Apakah mereka masih cukup "melek" untuk kegiatan-kegiatan non belajar dan non pacaran?

Menurut saya, sekarang mereka lebih concern kuliah dibandingkan dengan mengikuti organisasi. Kalau pun ikut organisasi, mereka lebih senang di internal, sedangkan urusan eksternal mereka tidak tahu menahu.

Kalau kita bicara mengenai keresahan Anggun sebagai seorang mahasiswa dan Ketua Senat PMB terkait dengan kondisi bangsa, masyarakat, dan pemuda kita sekarang, apa yang menjadi concern Anda?

Mahasiswa atau anak muda sekarang tidak tahu tentang isu-isu yang terjadi di Indonesia. Misalnya, masalah HTI, atau siapa calon presidennya, atau calon gubernurnya. Jadi mereka kurang mengetahui apapun tentang berita terkini karena mereka kurang membaca, dan rasa ingin tahunya juga kurang. Mereka lebih concern ke dirinya sendiri.

Apakah Anda melihat bahwa Indonesia sedang ada problem, atau makin lama Indonesia makin baik sehingga tidak perlu ada yang dikritisi?

Ada, menurut saya, problemnya banyak sekali. Misalnya, banyak sekali pemimpin di Indonesia yang tidak bisa bertugas sesuai dengan tugasnya atau porsinya.

Seharusnya mereka yang dibayar oleh pajak kita untuk menyelesaikan masalah.

Betul.

PMB ada di Bandung, sebentar lagi kita melihat ada dua pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang begitu beririsan dengan teman-teman PMB di Bandung, yaitu ada Pilkada Jawa Barat dan Pilkada Kota Bandung. Bagaimana Anda melihat proses politik Pilkada Jawa Barat dan Pilkada Kota Bandung?

Pilkada di Bandung dan di Jawa Barat tidak begitu ramai seperti pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta karena warganya juga bisa antusias untuk melaksanakan Pilkada dengan damai.

Apakah proses kampanye sekarang sudah menjawab banyak hal-hal yang dibutuhkan, atau Anda melihatnya hanya ramai-ramai gincu politik saja?

Saya rasa sekarang kampanye mereka sudah cukup baik karena dibantu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Saat ini aturan kampanye yang dibuat oleh KPU, yaitu mulai dari Baliho, spanduk, dan sebagainya tidak boleh ada unsur menghina Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) sedikitpun.

Apakah Anda melihat calon-calonnya sudah cukup mempresentasikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Jawa Barat?

Cukup, tetapi saya masih bingung mau pilih yang mana karena memang ada beberapa poin yang belum tersampaikan.

Apa yang Anda harapkan, tetapi mungkin belum terwujud dari proses politik kampanye dan proses perdebatan yang ada menjelang Pilkada Jawa Barat?

Mereka banyak sekali membuat program kerja yang saya rasa tidak terealisasi secara maksimal.

Apakah PMB terlibat dalam proses edukasi politik terutama untuk kalangan muda menjelang Pilkada?

Ya, karena PMB independen sehingga dijadikan mitra oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk membantu dalam hal sosialisasi dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) sampai Pilgub Jawa Barat.

Bagaimana kriteria pemimpin yang diinginkan dan dibutuhkan terutama oleh kalangan anak muda, dan bagaimana mereka memilih orang. Apakah memilih orang karena faktor calon tersebut adalah artisnya, atau ganteng, atau ada yang bisa nyanyi kemudian dipilih, atau dia memilih pemimpin karena substansinya?

Yang saya lihat sebagai anak muda, pertama adalah dari program kerjanya, kemudian cara berbicara di depan publik seperti apakah santun, sehingga bisa dijadikan contoh bagi rakyatnya.

Apakah anak muda sekarang lebih banyak memilih karena faktor rasional atau emosional?

Kebanyakan emosional karena kebanyakan anak muda sekarang hanya ikut-ikutan saja.

Apakah anak muda sekarang kehilangan atau kekurangan daya kritis?

Iya kurang sekali, bahkan dalam hal kecil saja mereka kurang kritis.

Apa yang membuat mahasiswa sekarang lebih tidak peduli terhadap kondisi sosial?

Mungkin karena kurangnya wadah dimana mahasiswa mendapatkan pendidikan atau hal yang seperti itu. Yang saya tahu juga banyak sekali mahasiswa yang anti politik. Sebenarnya jangan sampai anti politik karena dalam hidup kita sehari-hari sudah berpolitik, bahkan dalam kelas atau dimanapun. Jadi yang penting tidak buta politik, yang penting kita tahu pendidikannya seperti apa.

Apakah menurut kamu politik itu jahat?

Politik itu tidak jahat, yang jahat adalah orangnya.

Saya mau membacakan data dari penelitian Alvara Research terkait dengan potensi radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa. Presentasi mahasiswa dan pelajar yang tidak mendukung pemimpin non muslim cukup besar yaitu 29,5%, mahasiswa yang setuju dengan negara Islam ada 23%, mahasiswa yang setuju dengan pernyataan siap berjihad demi tegaknya negara Khilafah ada 34%. Apakah ini sudah masuk taraf bahaya atau belum?

Menurut saya, riskan sekali. Di lapangan saya melihat juga seperti itu karena sekarang lagi tren mahasiswa berhijrah. Para mahasiswa ikut-ikutan aksi yang sebenarnya mereka juga tidak tahu apa isinya. Mereka ikut berjuang jihad mengatasnamakan Allah, tetapi mereka tidak tahu atas dukungan siapa. Mahasiswa seharusnya tidak boleh mendukung salah satu pihak manapun. Mereka seharusnya sadar terhadap keragaman atau perbedaan, walaupun misalnya pemimpinnya non-muslim asalkan dia bisa bekerja dan tanggung jawab maka itu lebih utama.

Apakah radikalisme di kalangan mahasiswa sudah mulai menjadi ancaman? Apakah potensi-potensi radikalisme atau intoleransi merupakan isu yang dibuat-buat atau memang isu yang cukup mengkhawatirkan?

Sebenarnya sangat mengkhawatirkan karena jumlah remaja di Indonesia sangat banyak. Mengkhawatirkannya ketika kita yang tidak tahu apa-apa, hanya belajar dari satu orang, sehingga menjadi ikut-ikutan.

Bagaimana kondisi di Bandung terkait dengan hal itu, misalnya di kampus-kampus. Apakah gejala eksklusivitas itu makin tinggi?

Tinggi sekali, bahkan di kelas saja ada yang tidak ingin pemimpinnya non-muslim.

Jadi menjustifikasi orang bahwa dia tidak Islami.

Bahkan sekarang dalam penampilan pun dikritik. Misalnya penampilannya tidak baik, celananya terlalu ketat, dan sebagainya.

Mengapa hal semacam ini bisa terjadi, gejala-gejalanya meningkat, dan makin bahaya?

Jadi di kalangan mahasiswa sekarang ada tren bahwa ketika saya masuk kelompok hijrah, kemudian tidak ikut hijrah maka tidak akan dianggap sebagai teman mereka.

Apakah PMB dan Anda pribadi mempunyai semacam antibiotik atau obat untuk membantu mengobati penyakit semacam ini, dan apa yang coba Anda tawarkan atau lakukan?

Secara pelan-pelan saya merangkul seluruh anggota PMB yang masih muda maupun yang sudah senior supaya bisa belajar bersama-sama bahwa hal-hal yang berbau radikal harus dijauhi. Kita harus sadar terhadap keragaman dan perbedaan. Saya juga mewadahi para pemuda lainnya dengan suatu program kerja atau kegiatan untuk merangkul mereka sehingga bisa belajar bersama-sama.

Apakah kegiatan yang dibuat tersebut juga mengkampanyekan bahwa pluralisme menjadi suatu hal yang penting dan menjadi basis utama bagi kekuatan bangsa kita?

Iya, jadi kita harus selalu menghindarkan isu yang berbau SARA.

Apakah menurut Anda Pilkada Bandung atau Jawa Barat yang sudah dekat ini sedikit menyinggung isu SARA?

Tidak, untungnya di Bandung aman karena semua calonnya satu agama. Jadi memang tidak terlalu ramai dan selalu dihindari isu yang berbau SARA tersebut.

Menurut Anda, bagaimana caranya agar bisa meyakinkan mereka (mahasiswa) bahwa memang pluralisme dan toleransi itu bukan sesuatu yang mengawang, tetapi betul-betul memang harus kita perjuangkan dan lakukan?

Kalau menurut saya, caranya adalah dengan memberitahu mereka bahwa hal tersebut tidak benar. Mahasiswa tidak boleh ikut-ikutan, harus mempunyai pemikiran sendiri dan kritis.

Apa mimpi Anda sebagai seorang mahasiswa, pemuda, dan Ketua Senat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) untuk Kota Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia yang lebih baik?

Saya menginnginkan kita yang muda-muda berkarya agar tua kaya-raya, dan mati masuk surga.

Apa nafas atau benang merah yang penting sekali untuk tetap dilestarikan?

Yang penting berlandaskan atas Pancasila dan asas PMB.

Apa saja yang menjadi asas PMB?

Ada tiga, yaitu Kemahasiswaan, Kemasyarakatan, dan Kenasionalan.