Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Muhammad Romahurmuziy

Jangan Memilih Siapa yang lebih Islami

Edisi 1158 | 11 Jun 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kami beruntung karena dalam tahun politik kami untuk pertama kali bisa mengundang seseorang yang mempunyai kredibilitas, entah sebagai calon wakil presiden atau calon presiden. Dia juga mempunyai banyak pendapat yang sejalan dengan saya, walaupun saya belum tahu akan memilih siapa. Tamu kita adalah Muhammad Romahurmuziy.

Menurut Romahurmuziy, kita harus mengarahkan debat dan dialog calon presiden dan wakil presiden berdasarkan tematik. Jadi Itu harus didasarkan bukan atas ujaran kebencian, bukan didasarkan atas sektarianisme, bukan didasarkan bahwa yang ini pasangannya lebih Islami. Sama sekali bukan seperti itu. Kalau itu kita munculkan berarti kita membangkitkan luka lama yang mungkin belum sembuh. Katakanlah, efek Pilkada DKI atau mungkin efek kontestasi 2014.

Romahurmuziy mengataka kita harus mempunyai obsesi untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara maju. Hal itu tidak bisa broadband, tidak bisa kemudian melepaskannya hanya pada mekanisme pasar karena pasar itu kejam. Jadi kita juga harus melakukan pendidikan kepada pasar dengan cara negara tampil, dan tampilnya harus memiliki konsepsi jangka panjang, tidak bisa jangka pendek. Jadi dia melihat bahwa kuncinya ada di sumber daya manusia (SDM).

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan narasumber Muhammad Romahurmuziy.

Muhammad Romahurmuziy yang akrab dipanggil Bang Romi adalah orang yang saya tidak kenal sebelumnya. Sebetulnya perhatian saya mulai tertarik sewaktu ada konflik di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), statement-statement Anda, dan yang terakhir sekarang. Jadi saya ingin sedikit berkenalan politik dengan Anda. Apakah Bang Romi serius untuk menjadi calon wakil presiden atau calon presiden?

Saya memandang bahwa ketika seseorang terpilih menjadi pimpinan partai politik, dia memang harus serius untuk memimpin bangsa ini. Jadi kalau ditanya mau menjadi Wapres atau Presiden, maka saya mau menjadi presiden. Namun kesempatannya belum datang karena hari ini saat kita berbicara demokrasi kita maka bukan hanya substansial tapi juga prosedural.

Partai Anda yaitu PPP adalah partner atau koalisi pendukung pemerintah. Apa istilahnya yang betul?

Tidak ada istilah yang baku, hanya saja di dalam proses dialektika demokrasi selalu ada koalisi dan oposisi. Koalisi adalah yang mengemban amanat pemerintahannya, maka kita bagian dari koalisi pemerintahan Jokowi –JK.

Apakah ini berarti Anda tidak mempunyai suara negatif seperti #gantipresiden2019 kecuali penggantinya adalah Romi. Jadi tidak apriori terhadap pemerintah?

Yang jelas saya belum membuat hastag.

Saya senang karena Anda menjawab pertanyaann saya dengan jujur, politis, dan saya yakin tidak berbohong. Saya sudah punya pilihan calon presiden, sedangkan pasangannya belum ada calon. Sebetulnya yang beredar di masyarakat dan orang juga tahu ada banyak calon wakil presiden. Ada yang kredibel dan ada juga yang "ngaco", tapi Anda termasuk yang kredibel.

Ada juga calon lain dari partai yang bernafaskan Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yaitu Muhaimin Iskandar yang saya sudah kenal dari dulu. Saya awam dalam ke-Islaman dan politik Islam. Yang saya lihat Bang Romi dengan Muhaimin sama-sama dari partai yang bernafaskan Islam. Partai Anda mendukung dan sejalan dengan pemerintah sekarang, bagaimana dengan partainnya Muhaimin?

Partai Muhaimin lebih duluan karena dia sudah bergabung sejak proses pemilihan presiden pada 2014, sedangkan kami baru bergabung setelah kontestasi usai.

Tapi itu bukan alasan bagi saya harus prefer Cak Imin.

Tidak harus menjadi alasan karena bisa saja sikap dia pada 2019 berbeda.

Kalau saya harus menjelaskan kepada orang, apa alasan saya harus memilih Bang Romi daripada Cak Imin yang saya kenal duluan?

Karena dari seluruh preferensi hari ini, kita mendekati politik dengan cara scientific. Preferensi masyarakat hari ini adalah pilihan untuk presiden yaitu pada orang yang berusia 50-60 tahun, tapi pilihan untuk wakil presiden pada orang berusia 40-50 tahun.

Apakah ini berarti Jusuf Kalla sudah tidak bisa?

Secara konstitusional memang sudah tidak bisa. Jadi bukan kata masyarakat, tetapi itu kata Undang-Undang Dasar (UUD). Kecuali UUD-nya yang sekarang digugat di Mahkamah Konstitusi (MK), kemudian dikabulkan oleh MK. Itu karena memang pemaknaan Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar cukup detail. Sementara menurut penggugatnya di MK, pemaknaan Undang-Undang itu tidak sebagaimana original intent dari pembuat UUD.

Okay, saya tidak mau mempersoalkan Jusuf Kalla tapi saya mau mempersoalkan diri saya sendiri. Jadi, apakah memang sudah tidak bisa orang yang berumur 73 tahun seperti saya untuk mencalonkan diri?

Meskipun Perdana Menteri Malaysia Mahathir yang berumur 93 tahun masih bisa. Menurut saya, dengan naiknya Mahathir ada yang berbahaya yaitu tokoh-tokoh veteran bisa terkena stimulus untuk bangkit lagi.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, mengapa saya harus memilih Anda daripada Muhaimin?

Saya tidak harus dipilih oleh Kang Wimar sehingga tidak perlu alasan juga. Hanya kalau boleh saya ingin mengatakan bahwa sejak dulu saya memiliki obsesi untuk paling tidak mensejajarkan Indonesia dengan posisi yang semestinya. Hari ini posisi Gross Domestic Product (GDP) per kapita kita masih urutan ranking 115.

Republik ini dianugerahi jumlah penduduk pada posisi terbesar keempat di dunia. Semestinya ekonomi kita juga nomor empat di dunia kalau kita sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Kenyataannya, hari ini ekonomi kita nomor 16, apalagi GDP per kapita kita hari ini nomor 115, sehingga perlu ada improvement pada usaha yang cukup dahsyat.

Kita juga tahu persis bahwa Indonesia tidak bisa menginginkan sukses di semua lini. "You can bit all the people at one time, you can also bit all the people at one time, but you can’t bit all the people all the time".

Jadi kita harus memilih apa yang harus kita proyeksikan menjadi sektor yang paling bisa men-drive kemajuan Indonesia. Kemajuan itu perlu karena kita tahu persis bahwa bagian terlemah dari masyarakat kita adalah tidak bisa apa-apa. Secara intelektual, mohon maaf, mereka berpendidikan rendah, dan secara kekayaan mereka tidak punya.

Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan itu membutuhkan sumber daya yang luar biasa, artinya sumber daya finansial, dan itu harus negara yang tumbuh besar. Bahkan negara sekelas Amerika Serikat (AS) pun yang hari ini menjadi 23,5% ekonomi dunia tetap ingin tumbuh besar.

Pada 1990 Presiden Bill Clinton pernah mengumpulkan seluruh pakar-pakar AS berjumlah 65 orang. Mereka terdiri dari lintas displin ilmu seerti ada bio teknologi, geo politik internasional, ekonomi, dan seterusnya. Selama enam bulan mereka berdiskusi setiap pekan hanya untuk menjawab satu pertanyaan Bill Clinton, "Bagaimana cara agar AS pada 50 tahun ke depan tetap menjadi pemimpin peradaban dunia?" Artinya, ekonomi AS tetap nomor satu karena pada waktu itu China tumbuh double digit selama beberapa tahun bahkan lebih dari satu dekade, sehingga itu bagi AS merupakan sebuah ancaman.

Akhirnya setelah enam bulan berkumpul, 65 pakar tersebut menghasilkan satu rekomendasi saja bahwa at all cost AS harus menguasai tiga sektor yaitu bio teknologi, teknologi informasi, dan energi. Inilah yang kemudian men-drive multi year project yang diinisiasi oleh Clinton, yaitu di bidang bio teknologi ada genome mapping project, kemudian mereka melakukan standarisasi di bidang IT, bahkan mereka melakukan invasi, kalau kita mau mengatakannya dengan istilah tersebut, terhadap beberapa negara atas nama kepentingan energi. Dari kacamata unilateral AS, tindakan AS itu betul sebagai bangsa, tetapi dalam kacamata pergaulan bangsa-bangsa tentu itu salah.

Kita juga harus mempunyai obsesi untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara maju. Hal itu tidak bisa broadband, tidak bisa kemudian melepaskannya hanya pada mekanisme pasar karena pasar itu kejam. Jadi kita juga harus melakukan pendidikan kepada pasar dengan cara negara tampil, dan tampilnya harus memiliki konsepsi jangka panjang, tidak bisa jangka pendek.

Setelah Soeharto jatuh, jujur saya belum melihat adanya satu konsepsi kontrak sosial baru untuk bisa menjawab 50 tahun lagi Indonesia berkuasa di sektor apa, dan kita unggul di bidang apa. Kalau hari ini kita cukup bahagia, katakanlah begitu, dengan proyeksi PricewaterhouseCoopers atau McKinsey misalnya, yang mengatakan Indonesia pada 2030 akan menjadi kekuatan nomor lima atau nomor tujuh, kemudian nanti pada 2045 atau 2050 menjadi empat besar dunia. Itu dalam kacamata purchasing power parity, bukan dalam kaca mata GDP absolut.

Menurut saya, itu adalah hal yang jangan sampai menina-bobokan kita hari ini. Ingat, bahwa di dalam proyeksi PricewaterhouseCoopers atau McKinsey mensyaratkan kalau dihitung pertumbuhan ekonomi kita harus sekurang-kurangnya 6,7%. Itu artinya kita butuh lompatan teknologi, dan lompatan teknologi itu harus dibuat oleh para pengambil kebijakan, tidak bisa kemudian dibiarkan pasar melakukan mekanismenya sendiri untuk membuat kita bisa melompat teknologinya.

Dua bangsa yang paling saya kagumi di dunia adalah Jepang dan Korea Selatan. Mereka tidak mempunyai apa-apa, mereka hanya mempunyai semangat. Akhirnya hari ini mereka menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Saya kira hari ini Jepang adalah negara dengan GDP terkuat ketiga setelah AS dan China, dan itu masih bertahan. Begitupun dengan Korea Selatan, bahkan mereka merambah sektor-sektor yang tidak pernah terbayangkan seperti K-Pop.

Jadi saya melihat bahwa kuncinya ada di SDM, dan setelah reformasi kita seperti seakan-akan lupa. Misalnya, UUD sudah mematok, bahkan mungkin satu-satunya UUD di dunia yang memberikan alokasi dalam bentuk percentage kepada sektor pendidikan yaitu 20%. Namun peningkatan index SDM kita itu tidak semenggembirakan alokasi yang semestinya sudah kita berikan cukup besar sejak amandemen UUD.

Jadi pasti ada yang salah dengan alokasi itu. Saya bukan seorang ahli di bidang pendidikan, tetapi melihat hasilnya sepertinya ada yang masih bermasalah dengan alokasi sektoral, atau mungkin orientasi penganggarannya juga tidak semestinya. Lompatan-lompatan ini saya kira adalah hal yang harus kita upayakan, dan didalam konteks ini kita tidak boleh berbeda pandangan. Kita harus duduk bersama untuk mencapai satu kesimpulan, dan kesimpulan itu penting agar tidak setiap lima tahun sekali ganti presiden kemudian kita mendapatkan satu orientasi pembangunan yang berbeda pada jangka panjangnya.

Saya heran mengapa saya setuju 100% dengan segala yang Anda utarakan tadi. Tapi saya tahu di dalam politik bahwa persetujuan kita pada kandidat secara 100% belum tentu berarti pada waktu kandidat turun ke lapangan meraih penghargaan yang sama. Itu karena Anda mempunyai tanggung jawab terhadap rekan-rekan, koalisi atau partner. Jadi, siapa tahu nantinya pada saat keluar menjadi beda sama sekali.

Tapi Alhamdulillah, paling tidak saya mendapat satu pendukung.

PPP sebagai salah satu partai Islam terbesar di Indonesia, dimana karakteristik Islamnya dalam presentasi tadi?

Islam itu meliputi universalitas. Jadi tidak perlu kita mengatakan Islam hanya untuk menunjukkan bahwa kita Islam. Tidak juga kita harus terlihat sebagai Islam dalam arti sempit untuk menunjukkan bahwa kita juga Muslim. Saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya setiap ikhtiar untuk memajukan umat manusia adalah bagian dari nilai Islam.

Setiap ikhtiar untuk memajukan kesejahteraan rakyat miskin merupakan bagian dari Islam. Itu karena ketika Rasulullah pertama kali diutus ke Mekkah yang selama 13 tahun beliau di sana mengajarkan Aqidah, yaitu salah satunya adalah peng-esa-an Allah SWT. Yang kedua adalah ajaran untuk menyamaratakan kesejahteraan umat manusia.

Di dalam 86 Ayat yang tergabung dalam surat-surat Makiyyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah, ajaran tentang kesetaraan umat manusia itu luar biasa. Bahkan ajaran-ajaran tentang pengentasan kemiskinan sangat menonjol. Bahkan Allah SWT mengatakan di dalam salah satu surat (Quraisy) bahwa sebab Allah SWT disembah ada dua hal. Bunyi ayatnya adalah: Falya'budu robbaha dzal baits. Alladzi ath'amahum minnju'iw wa amanahum min khouf. Artinya, "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan."

Jadi tidak ada urusannya dengan yang mengatakan itu tidak ada Islamnya, ternyata Itu Islam. Allah SWT menegaskan bahwa sebab ia disembah bukan karena ketunggalannya, tapi karena memberi makan dan memberi rasa aman.

Kalau itu nafas Islam yang Anda yakini seharusnya Anda dapat suara banyak, dan seharusnya tidak ada orang yang ribut-ribut, tapi sewaktu aksi 212 Anda ada di barisan sana.

Pada saat aksi 212 memang mayoritas anggota PPP berada dalam posisi yang sama. Sebenarnya bukan akrena kebencian, katakanlah kepada Ahok, tapi lebih karena kegaduhan yang ditimbulkannya. Jadi harus dibedakan perspektif antara ungkapan, misalnya oleh Hakim disebut sebagai sektarian dan menyerang Islam, tapi di sisi lain dampak dari keributan yang dimunculkan.

Kita juga bertemu dengan beberapa pedagang-pedagang di Glodok, Harco, Mangga Dua, yang mereka juga memiliki keresahan karena kalau keributan dan kegaduhan yang muncul ini dibiarkan, maka mereka tidak bisa berdagang. Saya memiliki data TPS dari Pilkada DKI tahap pertama dan kedua ada pembalikkan suara, justru di kantong pendukung Ahok di Jakarta Utara. Itu karena mereka tidak ingin kegaduhan ini terus berlangsung.

Jika Pilpres 2019 nanti melibatkan Anda, bagaimana cara Anda untuk menghindari kegaduhan serupa?

Yang jelas kita harus mengarahkan debat dan dialog itu by theme atau tematik. Jadi itu harus didasarkan bukan atas ujaran kebencian, bukan didasarkan atas sektarianisme, bukan didasarkan bahwa yang ini pasangannya lebih Islami. Sama sekali bukan seperti itu. Kalau itu kita munculkan berarti kita membangkitkan luka lama yang mungkin belum sembuh. Katakanlah, efek Pilkada DKI atau mungkin efek kontestasi 2014.

Jadi kalau saya tulis headline wawancara ini, "Bang Romi tidak akan mengajak orang untuk memilih atas dasar siapa yang lebih Islami" apakah itu benar?

Betul, itu 100% betul.