Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Anggun Anggrekawati

Membentuk Keseimbangan dalam Dimensi Kemahasiswaan

Edisi 1155 | 21 Mei 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita mempunyai arti khusus bagi saya karena dia menjalankan pekerjaan yang saya jalankan sendiri 53 tahun lalu, yaitu sebagai seorang aktivis mahasiswa. Pada waktu itu saya ikut suatu perhimpunan bernama Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Tamu saya kali ini adalah Ketua Senat PMB sekarang, yaitu Anggun Anggrekawati. Dia masih kuliah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Anggun mengatakan untuk belajar organisasi yang benar itu di luar kampus karena dalam kampus hanya untuk diri mahasiswanya sendiri. Misalnya, jurusan A mempunyai himpunan A sehingga acaranya hanya untuk himpunannya sendiri.

Menurut Anggun, pada masa jabatannya sekarang merupakan tahun Pilkada. Dia ingin nanti generasi muda Bandung, terutama pemilih pemula, mengetahui siapa yang akan memimpin. Jangan sampai nanti memilih tetapi tidak paham latar belakang calon pemimpinnya seperti apa. Jadi di sini dia mencoba untuk memberi wadah kepada generasi muda Bandung agar tahu siapa calon pemimpinnya. Itu karena kalau tidak diberi wadah oleh pemerintah, maka generasi Bandung akan apatis. Apatisnya sekarang masih sebanding dengan 2014. Ketika dia survei kepada beberapa orang yang pernah menjadi pemilih awal, mereka mengatakan, "Saya tidak tahu itu siapa, asal coblos saja." Yang seperti itu bahaya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Anggun Anggrekawati.

Apakah bisa sedikit bercerita mengenai Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB)?

PMB lahir pada 17 Maret 1948. Jadi tahun ini merupakan 70 tahun PMB. Dulu PMB didirikan oleh para aktivis mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang awalnya bernama Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Bandung. Dua bulan kemudian Slamet Bratanata dan rekan-rekan lain di ITB mengganti namanya menjadi Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Keistimewaan PMB adalah mengutamakan pergaulan yang berwawasan jernih. Apakah sekarang masih seperti itu atau sudah ikut paham, aliran yang politis, atau keyakinan tertentu?

Saat ini PMB masih independen, tidak memihak pada siapa pun, partai politik manapun dan tidak terpengaruh oleh siapapun dalam hal politik, dukungan, dan lain-lain.

Bagaimana soal peran perempuan di PMB sebab sekarang menjadi perhatian orang? Apakah PMB biasa memillih ketua perhimpunan yang perempuan?

Jadi saya merupakan perempuan keempat yang menjadi Ketua Senat selama 70 tahun PMB. Di PMB ada sosialisasi yang menyebutkan antara laki-laki dan perempuan adalah sama dan tidak ada perbedaan.

Apakah ini berarti tidak ada resistensi?

Tidak ada.

Sudah berapa lama menjadi Ketua Senat PMB?

Baru tiga bulan.

Bagaimana rasanya tiga bulan menjadi Ketua Senat PMB?

Sangat luar biasa dan berat.

Mengapa berat dan dimana tekanannya?

Tekanannya dari luar dan dari dalam. Contohnya kalau dari luar, banyak sekali yang mengajak saya sebagai ketua senat untuk bergabung mendukung seseorang. Namun saya harus menjaga nama PMB karena PMB tidak bisa dipengaruhi dan tidak bisa diajak hadir untuk mendukung salah satu pasangan calon (Paslon), dan semacamnya.

Sekarang generasi muda dituntut untuk paham politik, sedangkan posisi Anda sekarang mengharuskan untuk tidak memihak. Bagaimana Anda menyikapinya?

Ketika diundang, yang saya ambil adalah positifnya, pembelajarannya, dan melihat siapakah tokoh yang mengundang. Namun tidak berarti ketika saya datang ke sana adalah untuk mendukung karena semua orang, yang saya kira adalah orang-orang yang terpandang, saya harus kenal. Jadi tidak ada salahnya untuk hadir, dan tidak ada salahnya untuk tidak mendukung.

Apakah ada pilihan antara sekolah dan kegiatan perhimpunan mahasiswa bagi kehidupan mahasiswa sekarang?

Bagi saya pribadi, kegiatan kuliah saya tidak mengganggu perhimpunan dan sebaliknya. Jadi saya sudah melakukan manajemen waktu, kapan saya harus kuliah dan kapan harus PMB.

Apakah di perkuliahan Anda yaitu di UPI ada pengendalian waktu yang ketat?

Ada, misalnya di jam kuliah, ada jam tambahan lain seperti jam tambahan mengaji bagi yang muslim. Sedangkan bagi non-muslim ada juga, biasanya dilakukan pada Jumat dan Minggu.

Apakah sampai saat ini tidak ada tekanan yang membuat PMB harus bubar atau memilih suatu aliran politik tertentu?

Tokoh di PMB bagus-bagus, jadi saya harus tetap menjaga nama baik PMB. Di PMB tidak ada istilah alumni, semuanya masih anggota perhimpunan sampai akhir hayat. Jadi saya harus menjaga titipan dari para tokoh pejuang PMB dari dulu sampai sekarang, tidak bisa PMB menjadi memihak satu partai tertentu.

Apakah ini berarti banyak tokoh yang standby untuk memberikan advice? Apakah itu tidak mengganggu independen Anda?

Tidak menggangu. Jadi apapun keputusan yang diambil ada di tangan ketua senat sehingga saya pilih untuk tetap independen.

Apa kira-kira yang diharapkan bisa diraih dari kehidupan berorganisasi pada masa sekarang?

Luar biasa, saya bahkan sampai tidak aktif di kampus karena kesibukan saya di PMB. Saya juga aktif di organisasi sosial Karang Taruna. Di balik itu, saya merasa banyak generasi muda di Bandung yang apatis. Jadi saya merasa memang harus memberikan program kerja yang mampu menyentuh generasi muda Bandung, sehingga ketika saya berbuat maka orang lain akan mendapatkan manfaat dengan adanya saya.

Apatisme itu tentu akan terasa dalam Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Apakah sudah ada usaha untuk menanggulangi masalah itu?

Memang pada masa jabatan saya sekarang merupakan tahun Pilkada. Saya ingin nanti generasi muda Bandung, terutama pemilih pemula, mengetahui siapa yang nanti akan memimpin. Jangan sampai nanti kita memilih tetapi tidak paham latar belakang calon pemimpinnya seperti apa. Jadi di sini saya mencoba untuk memberi wadah kepada generasi muda Bandung agar tahu siapa calon pemimpinnya. Itu karena kalau tidak diberi wadah oleh pemerintah, maka generasi Bandung akan apatis.

Apakah pada 2014 apatismenya sebanding dengan sekarang?

Masih sebanding dan sama. Ketika saya survei kepada beberapa orang yang pernah menjadi pemilih awal, mereka mengatakan, "Saya tidak tahu itu siapa, asal coblos saja." Yang seperti itu bahaya.

Sebagai penduduk Bandung Anda tentu akan menghadapi beberapa pemilihan baik Pilkada maupun pemilihan nasional. Ada pemilihan walikota, gubernur, DPRD, DPR, kemudian presiden. Manakah yang paling menarik dan paling bisa menggugah perhatian mahasiswa, apakah lebih masalah pemimpin di Bandung atau Indonesia?

Bandung dan Indonesia menarik semua untuk masalah pemimpin.

Bagaimana bentuk mahasiswa yang sekarang?

Bentuk mahasiswa sekarang aktif sekali, ada yang memang lebih memilih ekstra di kampus, atau ada yang memilih di luar kampus.

Apakah sekarang di kampus sudah banyak kegiatan karena dulu itu tidak ada?

Iya, sekarang banyak kegiatan. Tapi memang kalau kegiatan ekstra di kampus tidak boleh membuat sekretariat. Menurut saya, untuk belajar organisasi yang benar itu di luar kampus karena dalam kampus hanya untuk diri mahasiswanya sendiri. Misalnya, jurusan A mempunyai himpunan A sehingga acaranya hanya untuk himpunannya sendiri.

Di tahun kepengurusan saya, saya membuat program kegiatan yang ke luar seperti diskusi calon walikota, kemudian nanti ada diskusi calon gubernur, sehingga memang menyentuh generasi muda dan banyak yang tertarik. Tapi waktu dulu saya tertarik PMB karena memang ada tokoh-tokoh yang saya kagumi seperti Wimar Witoelar, Sarwono Kusumaatmadja, Arifin Panigoro, dan masih banyak lagi.

Apakah menganut pada tokoh tertentu dapat mematikan kreativitas seseorang? Bagaimana menurut Anda?

Tidak sama sekali karena sebenarnya bisa dijadikan motivasi.

Apakah menurut Anda jaringan perkenalan di luar ini memang terwujud?

Terwujud sekali karena memang itu yang harus dilatih di PMB, yaitu komunikasi yang baik dan cara berkolaborasi.

Bagaimana Anda mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan? Apakah itu memang dari praktek atau memang ada pelatihannya?

Kalau saya tidak ikut pelatihan, tapi saya sering melihat beberapa cara orang berbicara misalnya di youtube, melihat bagaimana cara berpenampilan yang baik, bagaimana cara tampil di depan umum, dan sebagainya. Jadi asal ada kemauan pasti bisa, kalau bakat bisa dibentuk.