Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Komentar Tahun Politik

Edisi 1150 | 16 Apr 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan berbicara mengenai suatu hal yang mungkin banyak dari Anda apatis atau sudah bosan. Tapi kita tidak pernah bosan untuk terus mengelorakan dan juga membicarakanya, yaitu mengenai pemilihan umum (Pemilu), pemilihan presiden (Pilpres), dan tahun politik, terutama manfaatnya bagi demokrasi dan masyarakat Indonesia dengan pendiri dari Perspektif Baru, yaitu Wimar Witoelar.

Wimar Witoelar mengatakan Pemilu itu tergantung pada pemilihnya. Kalau semua orang malas dan yang malas itu orang yang baik, maka orang yang tidak baik yang akan menang. Tetapi kalau good guy-nya rajin, maka tidak ada cara apapun dimana bad guy-nya bisa menang.

Menurut Wimar, Pilkada serentak sangat menarik karena belum pernah di dunia ada sekian banyak orang memilih secara serentak. Ini tentu menarik juga untuk barometer Pilpres tahun depan. Benang merahnya ada dan harus ada, yaitu di sini jangan dibiarkan politik identitas berkuasa. Yaitu politik yang berdasarkan identitas rasial orang, identitas suku orang, identitas budaya orang. Jangan ini menjadi kontes antara Islam dan non Islam, Jawa dan non Jawa, dan antara kelas kelas. Ini harus menjadi kontes antara orang yang punya wawasan politik. Itu akan sangat menarik.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adi Putro sebagai pewawancara dan narasumber Wimar Witoelar.

Mengapa masyarakat penting sekali untuk mengingat pemilihan umum (Pemilu), pemilihan presiden (Pilpres), proses demokrasi, dan tahun politik? Apakah sebenarnya hal tersebut membosankan atau tidak untuk diingat?

Bosan kalau dibahasnya dengan cara yang sama terus menerus. Seperti orang yang belajar sejarah di sekolah, itu membosankan karena harus menghafal nama orang, tahun, dan sebagainya. Namun kalau diceritakan melalui film, maka itu tidak akan bosan.

Politik saat ini jelas tidak perlu membosankan karena sangat berbeda dengan Pemilu-Pemilu lalu. Misalnya, Pemilu lalu memilih satu diantara dua calon presiden, setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak bisa melanjutkan, orang harus memilih antara Jokowi dan Probowo.

Sekarang tidak ada pilihan, tidak ada calon presiden yang masuk akal kecuali Jokowi karena dia sudah memberikan prestasi yang kongkrit, menunjukkan kemampuannya, dan bisa merangkul semua golongan.

Jadi kalau ada orang yang ingin menggantikan dia silakan saja, tapi akan buang-buang waktu dan uang. Karena itu sekarang banyak sekali yang cari-cari posisi untuk mendukung, atau kalau tidak mendukung ada yang sengaja membuat keributan supaya membuat nama untuk dirinya dan tentu untuk maksud lain. Tentunya orang tidak usah menjadi presiden untuk punya nama besar di masyarakat.

Apa keuntungannya orang membuat keributan di tahun politik atau di saat Pemilu dan Pilpres?

Dia bisa cepat terkenal dan cepat mengumpulkan uang karena banyak cadangan-cadangan uang dari koruptor-koruptor masa lalu yang siap untuk digelontorkan. Bisa saja orang membuat proposal akan memenangkan dia dan segala macam, kemudian diberi uangnya. Padahal itu penipuan karena tidak mungkin ada yang menang kecuali memakai cara-cara kotor. Sekarang kita harus sama-sama mengawasi supaya tidak ada cara kotor yang dipakai dalam Pemilu, Pilkada, dan Pilpres.

Banyak orang, terutama anak muda atau orang yang sudah matang berpolitik, mengatakan Pemilu 2019 kurang seru karena seperti dejavu. Kita akan melihat dua calon presiden yang kemungkinan besar akan bertarung lagi pada 2019, sehingga membuat mereka agak malas untuk mengikutinya. Bagaimana menurut Anda ketika melihat orang-orang seperti ini?

Dejavu kalau memang orang mengikuti Pemilu hanya dari kulitnya saja. Kalau dulu Presiden Jokowi bisa menang dengan selisih 7 - 8%, sekarang kalau lawannya sama mungkin perbedaannya bisa 30 - 40%. Itu karena Prabowo sudah tidak mempunyai isu, tidak mempunyai pendukung, dan tidak mempunyai uang. Jadi ini akan berbeda, tetapi kalau dibiarkan saja maka tidak tahu apa yang akan terjadi.

Pemilu itu akhirnya tergantung pada pemilihnya. Kalau semua orang malas dan yang malas itu orang yang baik, maka orang yang tidak baik yang akan menang. Namun kalau good guy-nya rajin, maka tidak ada cara apapun dimana bad guy-nya bisa menang.

Salah satu yang membuat keseruan dalam Pemilu adalah bagaimana kontestan-kontestannya juga seru, misalnya partai-partai politiknya semakin seru, calon-calon presidennya juga semakin seru dan sebagainya. Namun mengapa semakin dekat dengan Pilpres atau Pemilu, nama-nama calon presiden atau poros-poros calon presidennya justru tidak banyak pilihannya?

Sayangnya karena memang tidak muncul nama orang yang serius untuk menjadi calon. Yang aktif kemarin hanya orang yang serius menjatuhkan calon.

Namun ada yang pasang billboard dimana-mana yang akan menjadi calon wakil presiden (Wapres).

Mungkin tertipu sama pemasang billboard. Jadi banyak penipuan dari segala arah di dalam Pilpres ini. Orang harus tahu bahwa percuma memasang billboard untuk menjadi Wapres, memangnya siapa yang harus membaca billboard itu.

Sekarang kemenangan itu banyak dipengaruhi teknik-teknik baru dalam internet, sosial media, dan cara-cara cambridge analytica walaupun perusahan lain yaitu menggunakan data secara terarah kepada orang-orang kelompok pemilih yang mungkin menentukan.

Jadi billboard itu lebih kepada mempopulerkan diri saja. Misalnya Muhaimin mencalonkan sebagai Wapres, tadinya tidak terkenal sekarang menjadi terkenal, tahu-tahu tidak menang karena memang tidak ada syarat untuk menang.

Kalau kita bicara Pemilu, banyak yang mengatakan bahwa sekarang jumlah partai politik banyak tetapi miskin diferensiasi. Semua menjual hal yang sama, jargonnya pun sama, dan orang-orangnya juga mirip-mirip. Bagaimana menurut Anda?

Partai itu seperti komoditi yang hidupnya tergantung dari supply and demand. Demand artinya kalau orang membutuhkan partai, maka akan lahir sebuah partai. Tapi bisa juga ada orang yang bukan pro partai tetapi orang yang kebanyakan uang, kemudian dia membuat partai. Soalnya sekarang cara cepat untuk menghabiskan uang, atau untuk menarik uang terutama dari para koruptor, yaitu dengan menarik uang korupsinya kemudian digunakan untuk mendanai kampanye politik.

Itu kemudian menjadi kegiatan ekonomi karena sebetulnya isu yang dipersoalkan tidak ada. Semua isu yang dilemparkan ke masyarakat adalah isu yang tidak berisi. Misalnya, bicara mengenai infrastruktur, intervensi Tiongkok, dan garam. Itu semua bukan permasalahan yang serius. Kalau orang mendalami semua permasalahan yang serius, tidak ada argumen. Apa yang dilakukan sekarang pada umumnya betul.

Apakah Anda melihat ada partai-partai baru, atau partai lama yang mungkin sudah mengubah diri, berinovasi untuk bisa memberikan sesuatu yang baru di Pemilu kali ini?

Ada, kalau yang baru mungkin seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Itu partai yang didasarkan atas generasi milenial, ada warna feminim yang sangat kuat, dan juga platformnya sangat jelas yaitu "Anti Korupsi, Anti Intoleransi." Itu baru. Tapi ada partai-partai baru yang didirikan oleh uangnya Soeharto, itu sama sekali tidak baru, malah terlihat lama.

Misalnya Partai Berkarya yang Ketua Umumnya adalah Tommy Soeharto. Bagaimana komentar Anda?

Ya, itu lama sama dengan mau ikut Piala Dunia terus memakai Ramang. Itu adalah kartu mati politik.

Mengapa kartu mati politik? Bukankah mereka menjual romantisme, dan banyak juga masyarakat yang suka dengan romantisme zaman Orde Baru tersebut. Misalnya, "Isih Penak Jamanku To." Ini merupakan kampanye yang digulirkan kembali oleh mereka.

Silahkan saja, tapi saya kira nanti akan kandas. Ada yang romantismenya sampai zaman Soekarno, ada juga yang romantismenya sampai zaman Belanda. Silakan saja.

Tapi jangan lupa, PDI Perjuangan di Pemilu 1999 bersama Megawati menjual romantisme zaman Soekarno. Bagaimana dengan hal itu?

Saya tidak yakin itu akan berlangsung karena orang PDI-P pun, kalau tidak tambah tua, tambah pinter. Jadi yang tersisa adalah orang muda yang pintar. Orang tua yang kultus individu sudah semakin sedikit.

Apakah regenerasi partai-partai politik berjalan?

Regenerasi alamiah berjalan, tapi regenerasi terstruktur dan pengkaderan tidak berjalan. PDI-P menjadi partai yang modern karena orangnya makin modern dan muda. Tapi kalau regenerasi yang disengaja, barangkali hanya Golkar yang berhasil.

Meskipun sebagai partai profesional yang pengkaderannya berjalan dengan baik. Apakah itu tidak menjamin juga?

Iya, kader maling. Misalnya, ada novel karya Oliver Twist dimana orang datang ke London dan dibina oleh satu kelompok untuk belajar mencopet, mencuri. Jadi orang Golkar itu pintar main anggaran, korupsi, dan sebagainya.

Apakah orang akan mudah percaya dengan buaian-buaian dari para politisi seperti itu atau rakyat kita semakin cerdas?

Ada yang terbuai, tetapi wawancara Anda akan membantu mencerdaskan karena Anda menjalankan wawancara ini dengan bahasa yang mudah dicerna oleh siapapun. Jadi orang akan melihat bahwa orang ikut kampanye yang standar, itu akan terkena penipuan pada hakikatnya.

Kalau kita bicara mengenai "standar", menurut data BPS, di pemilu kali ini ada sekitar 48% voters kita adalah generasi milenial. Apakah menurut Anda sudah ada inovasi dalam partai, calon, ataupun organisasi mahasiswa yang menjadi tulang punggung penyebaran demokrasi di berbagai kalangan, terutama untuk kaum milenial?

Saya rasa masih dalam proses karena itu PSI berani membuat partai, dan karena itu juga begitu muncul, PSI diserang oleh Fahri Hamzah, Fadli Zon yang adalah politisi lama dan tidak mempunyai peluang jika bertarung secara terbuka.

Pilkada serentak juga menjadi miniatur Pemilu karena 60% masyarakat Indonesia akan memilih di situ. Bagaimana komentar atau Perspektif Wimar memandang Pilkada serentak ini, dan apa yang perlu kita soroti?

Pilkada serentak untuk saya sangat menarik karena belum pernah di dunia ada sekian banyak orang memilih secara serentak. Ada pemilihan yang lebih besar di India dan Amerika Serikat (AS), tapi tidak serentak. Ini menjadi menarik karena kemampuan orang atau sumber daya orang terbagi besar, tidak bisa semua disatukan pada satu provinsi.

Pada waktu Pilkada DKI sebetulnya seluruh warga negara ikut, hanya saja menyalurkannya untuk menjatuhkan Ahok. Kalau sekarang harus pilih pilih mau memenangkan yang mana. Kalau ada kandidat yang memang bagus, mempunyai isu, maka dia bisa menang karena tidak perlu uang banyak.

Ini tentu menarik juga untuk barometer Pilpres tahun depan. Yang saya tidak tahu adalah logistik dan pengawasannya, apakah sanggup atau tidak. Tapi ini bagus, kita belajar dari pengalaman. Menurut saya, ini kemajuan untuk demokrasi kita.

Apakah secara politik ada benang merahnya? Maksudnya, kalau kita melihat di tahun 2017 sejak Pilkada DKI, polarisasi dan pembelahan politik di level atas sampe level warung kopi itu terjadi. Bagaimana konfigurasinya sekarang apalagi Djarot Syaeful Hidayat menjadi Calon Gubernur Sumutera Utara, apakah itu akan sama atau tidak?

Benang merahnya ada dan harus ada, yaitu di sini jangan dibiarkan politik identitas berkuasa. Yaitu politik yang berdasarkan identitas rasial orang, identitas suku orang, identitas budaya orang. Jangan ini menjadi kontes antara Islam dan non Islam, Jawa dan non Jawa, dan antara kelas kelas.

Ini harus menjadi kontes antara orang yang punya wawasan politik. Itu akan sangat menarik, tetapi apakah kita bisa? Soalnya kalau kita kembali melihat Pilkada Jakarta merupakan pelajaran yang bagus sebab itu sepenuhnya ditentukan oleh politik identitas, dimana semua rasio dibuang demi mempertahankan identitas yang dipompa pompa sehingga orang percaya bahwa harus memakai cara itu.

Apakah elit politik yang ikut berlaga masih mempunyai kemauan atau masih ada potensi untuk memompa mompa hal yang sama atau tidak?

Ada yang mau karena dia tidak bisa mempunyai harapan kalau tidak memompa hal hal yang negatif. Hal yang buruk itu kadang-kadang lebih gampang dipompanya, misalnya, mengajari orang mencopet mungkin lebih laku daripada harus mengajari orang untuk menjadi lebih sholeh. Jadi politikus yang konsep politiknya buntu akan terangsang untuk menggunakan cara cara yang tidak terpuji.

Itu karena instan sekali, cukup bayar, cukup propaganda saja sudah bisa meraup untung.

Betul, tapi mungkin itu tidak mudah juga sebab pelajaran dari Pilkada DKI juga banyak orang yang memberikan jasanya untuk memenangkan seseorang, ternyata setelah orangnya menang juga tidak ada imbalan apa-apa. Jadi mungkin kapok juga dia.

Apakah Anda mengapresiasi atau justru melihat ada politisasi, misalnya, beberapa waktu terakhir ini Cyber Crime Polri menangkap banyak sekali sindikat sindikat penyebar kebohongan (hoax), yang kemudian dimanfaatkan katanya untuk politik praktis. Apakah Anda menganggap bahwa ini menjadi salah satu langkah baik untuk bisa mencegah politisasi hoax itu?

Itu bagus sekali, kalau dulu saya sangat tidak suka kalau internet dibatasi. Sekarang justru suka tidak suka mungkin perlu. Kalau Rudiantara pernah mengatakan bahwa Facebook mungkin dicabut adalah itu beralasan karena Facebook itu alat yang netral tapi pemakainya tidak netral. Facebook itu kumpulan data paling banyak dan bisa dipakai untuk kampanye terarah. Kalau di dalam bisnis itu tidak apa-apa, misalnya kita menjual sabun kepada orang tertentu. Kalau dalam politik, ini berbahaya.

Jadi sekarang kewaspadaaan polisi dalam memantau cyber crime sangat berguna. Kalau tidak, kita akan terkena nasib seperti di AS dimana Donald Trump terpilih dengan tuduhan cyber crime. Di Inggris dimana Brexit juga menang dengan tuduhan cyber crime, di Myanmar juga ada pantauan bahwa kekerasan di Rohingya juga dipacu oleh cyber crime.

Jadi itu bisa menjadi pemicu yang kemudian bisa berdampak secara sosial. Kalau kita bicara mengenai apa yang dilakukan kepolisian, yaitu menangkap sindikat-sindikat penyebar hoax. Itu yang harus dibuktikan secara hukum. Kalau kita baca di media sosial, GN (Genk Nyinyir) mengatakan bahwa pemerintah atau kepolisian hanya menangkap orang-orang yang kritik Jokowi dan pemerintah saja. Sedangkan genk-genk pro pemerintah dibiarkan saja. Bagaimana menurut Anda mengenai komentar seperti itu?

Namanya Genk Nyinyir, pasti kerjaannya memang nyinyir. Saya kira kita bisa menilai sendiri. Bagusnya sekarang adalah kemerdekaan bicara dan demokrasi memberikan orang peluang untuk nyinyir, tapi juga memberikan peluang untuk orang menolak fake news. Jadi ini peperangan antara fake news dengan orang yang tahu masalah. Karena itu tidak ada jalan lain selain harus mencerdaskan diri menghadapi ini semua.

Walaupun banyak sekali masalah hoax, sindikat seperti Genk Nyinyir, dan sebagainya, apakah Anda tetap optimis bahwa Pemilu kali ini yaitu Pilpres dan Pilkada serentak akan memberikan output yang jauh lebih baik?

Saya optimis, soalnya kalau saya berkata optimis barangkali orang akan tertular optimismenya. Sebetulnya kita semua was-was dan waspada karena semua perlu pekerjaan dari kita. Misalnya, kemarin Arsenal menang 4-1, tapi jangan kira itu akan membuat mereka menjadi juara. Setiap pertandingan kita harus menghadapi dengan waspada.

Jadi Anda boleh skeptis, boleh ragu-ragu, tapi jangan Golput (Golongan putih atau tidak memilih). Masalah Golput juga menarik karena anak-anak muda sekarang banyak yang Golput karena mereka berpikir bahwa semua sama saja. Apalagi dalam kasus Setya Novanto, kita mendengar di persidangannya bahwa hampir semua partai dan anggota fraksi disebut menerima uang korupsi juga. Ini berarti memang semua sama saja, mau partai baru, partai lama, partai oposisi, dan partai pemerintah adalah sama saja.

Tapi memang seharusnya ditangkap semua yang ikut kolaborasi dengan Setya Novanto. Jangan kita menyerah, kalau menyerah maka keenakan orang yang sudah melakukan crime tidak ditangkap.

Apakah Anda mempunyai perspektif mengenai Golput?

Kalau memang orangnya sangat tidak mengerti dan bodoh, silakan saja Golput. Namun saya kira tidak ada orang yang sangat bodoh, asal dia mau berusaha tahu karena Pemilu tidak perlu menguasai masalah politik, hanya perlu tahu saja kita harus memilih siapa. Kalau kita tidak tahu memilih siapa, tanya orang yang tahu dan orang yang kita percaya.

Di Pemilu dan Pilpres kali ini, sepertinya kurang layak situasinya kalau dijadikan situasi yang ramah Golput.

Betul, karena tergantung pada pemilih muda, pemilih baru, atau pemilih yang apatis itu untuk menyelematkan kelanjutan demokrasi ini.