Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH

Perilaku Masyarakat Indonesia Tidak Sehat

Edisi 1149 | 09 Apr 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Semoga Anda semua dalam keadaan sehat selalu, ingat kesehatan merupakan modal terpenting untuk kita dapat melakukan aktifitas sehari-hari termasuk melakukan pembangunan. Hari ini topik pembicaraan kita adalah kesehatan dengan Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH.,DR.PH, Guru Besar Kebijakan dan Ekonomi Kesehatan di Universitas Indonesia.

Menurut Hasbullah Thabrany, secara umum perilaku masyarakat Indonesia tidak sehat karena kita kurang makan serat, kurang olah raga, makanan dietnya tidak cukup bagus, dan perilaku merokoknya juara dunia. Masyarakat kita membelanjakan uang penghasilannya untuk beras, kemudian rokok, dan yang ketiga adalah pulsa. Ini mengakibatkan kita menjadi tidak kompetitif karena belanjanya yang tidak karuan.

Hasbullah mengatakan dampaknya bukan hanya ke kesehatan tapi juga ekonomi. Faktanya ekonomi kita tidak cukup kompetitif. Kita sudah hampir 75 tahun merdeka, tetapi ekonomi kita jauh dibandingkan Malaysia yang merdekanya 12 tahun setelah kita, atau dengan Korea yang merdekanya dua hari lebih dulu dari kita. Ini karena memang kualitas bangsa kita tidak cukup bagus.

Guna mengetahui tingkat kesehatan masyarakat Indonesia secara secara lebih jelas, pemerintah sedang melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Di sini kalau ada pembaca yang kedatangan para peneliti, maka tolong jawab apa adanya dengan benar. Dari jawaban yang benar, jujur, dan amanah akan membuat kita bisa memetakan penyakit apa yang menjadi ancaman kita, dan bagaimana mengurangi serta mengendalikannya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dan narasumber Prof. dr. Hasbullah Thabrany. MPH., Dr.PH.

Modal utama dan paling besar untuk pembangunan adalah kesehatan. Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat Indonesia saat ini?

Masalah paling besar mayoritas masyarakat kita adalah tidak mengetahui bahwa sehat itu sesuatu yang sangat berharga, sehat itu sesuatu yang baru dirasakan ketika tidak ada. Misalnya, kalau sudah sakit mata maka kita baru tahu bahwa sakit mata membuat rusak semuanya, kerja tidak bisa, menikmati pemandangan indah tidak bisa, dan ini tidak disadari.

Apa faktor penyebab kesadaran masyarakat terhadap kesehatan masih rendah?

Dalam kesehatan masyarakat itu ada dua bagian besar yang penting untuk dipahami. Pertama, masalah terbesar adalah yang berkaitan dengan perilaku kita sendiri sebagai individual. Masalah penyakit yang terkait dengan masalah perilaku kita adalah penyakit yang tidak menular yang sekarang menjadi penyebab sekitar dua pertiga kematian.

Apa contohnya?

Contoh penyakit tidak menular adalah kencing manis (diabetes), penyakit kanker, penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, dan sebagainya. Semua penyakit ini penyebabnya adalah perilaku kita sendiri.

Misalnya, masyarakat kita terlalu banyak makan gorengan, sebenarnya lemak itu bagus kalau memadai atau secukupnya, tetapi kalau kebanyakan tidak bagus. Sekarang makanan manis dan berkarbohidrat makin banyak juga. Ini memudahkan kita terkena penyakit kencing manis, tekanan darah tinggi karena lemak dan garamnya. Kalau kedua penyakit biang kerok ini tidak terkontrol, maka komplikasinya bisa sampai ke jantung dan struk.

Apakah perilaku masyarakat Indonesia memang "tidak sehat"?

Secara umum tidak sehat karena kita kurang makan serat, kurang olah raga, makanan dietnya tidak cukup bagus, dan perilaku merokoknya juara dunia.

Apakah dampaknya hanya ke kesehatan atau ke faktor lain juga seperti ekonomi?

Faktanya ekonomi kita tidak cukup kompetitif. Kita sudah hampir 75 tahun merdeka, tetapi ekonomi kita jauh dibandingkan Malaysia yang merdekanya 12 tahun setelah kita, atau dengan Korea yang merdekanya dua hari lebih dulu dari kita. Ini karena memang kualitas bangsa kita tidak cukup bagus.

Misalnya, kita masih ketingalan di kejuaraan Asian Games. Level ranking IQ kita karena dulu gizinya tidak bagus sehingga sama dengan Iraq dan Myanmar. Jadi banyak masalah kesehatan yang berakibat pada daya saing ekonomi.

Tadi disebutkan perilaku merokok masyarakat kita juara dunia. Apa dampak dari kebiasaaan merokok ini?

Kebiasaan merokok merupakan masalah kesehatan terbesar di Indonesia karena ini merupakan bagian yang sulit untuk dikendalikan bahkan oleh perokoknya sendiri. Hal ini karena rokok menyebabkan adiksi atau ketagihan. Seseorang yang sudah merokok akan terus merokok dan sulit berhenti.

Celakanya, anak-anak kita yang usia SD dan SMP sudah mulai merokok karena harga rokok terlalu murah. Jadi uang jajan mereka bisa untuk membeli rokok, apalagi bisa dibeli satuan. Peran orang tua juga lemah, tidak mengontrol dan melarang karena kebanyakan orang tua tidak memahami bahayanya.

Rokok lebih berbahaya daripada narkoba karena efek narkoba akan langsung terlihat dan terasa. Sedangkan bahaya rokok memerlukan waktu 20 hingga 30 tahun baru ketahuan. Yang paling bahaya dari rokok sebenarnya adalah masalah ekonomi karena kebanyakan masyarakat kita mengeluarkan uang lebih banyak untuk belanja rokok daripada untuk pendidikan dan makanan bergizi.

Masyarakat kita membelanjakan uang penghasilannya untuk beras, kemudian rokok, dan yang ketiga adalah pulsa. Ini mengakibatkan kita menjadi tidak kompetitif karena belanjanya yang tidak karuan. Sayang sekali pemerintah juga tidak menyadari hal ini, dan para ulama banyak juga yang memberi contoh buruk.

Mengenai ulama, saya muslim dan saya sering melihat tokoh-tokoh ulama di agama saya banyak yang merokok dan itu menjadi role model. Apakah ini juga menjadi salah satu faktor penyebab susahnya kebiasaan merokok dihilangkan?

Betul, sayangnya ulama kita kebanyakan ulama tradisional yang tidak meng-update pengetahuannya terhadap pengetahuan non-religius, seperti bahaya rokok. Sebetulnya ini sederhana, tanya saja, "Ustadz, kalau zaman Nabi ada rokok, apakah kira-kira Nabi dan Abu Bakar yang merokok atau Abu Jahal yang merokok?" Pasti jawabannya sudah jelas.

Orang mau merokok pasti tidak pernah baca "Bismillah" dulu untuk merokok, atau tidak pernah bilang "Alhamdulillah" juga setelah selesai merokok. Saya pernah baca pandangan seorang ustadz yang mengatakan bahwa tembakau adalah tanaman yang tumbuh saat setan buang air kecil. Yang jelas, ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa rokok berbahaya sekali untuk manusia.

Apa saja bahayanya bagi tubuh kita maupun orang lain, baik dari segi kesehatan maupun segi ekonomi?

Dari segi kesehatan jelas sekitar 7.000 bahan kimia berbahaya ada di asap rokok. Bahaya yang paling terkenal adalah kanker. Penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara maju lain yang meneliti selama 50 tahun mengenai bahaya merokok ini ternyata ada kencing manis dan kanker payudara yang juga dipengaruhi oleh merokok. Juga ada lebih dari 40 penyakit tidak menular yang disebabkan oleh rokok.

Apakah karena tidak menular berarti yang terkena hanya perokoknya saja?

Celakanya, yang terkena adalah yang merokok dan orang di sekitarnya. Sebenarnya kita bodoh sekali, di bungkus rokok sudah disebutkan bahwa "rokok membunuhmu" dan juga "membunuh keluargamu". Namun kita seperti orang buta huruf yang tidak membacanya, ini memalukan sekali sebetulnya.

Harga rokok juga terlalu murah, seharusnya harga rokok minimum Rp 50.000 sebungkus, dan tidak boleh dijual satuan, sehingga anak-anak sekolah tidak bisa membeli rokok. Itu yang dilakukan Singapura, Malaysia, Australia, tetangga-tetangga kita melindungi anak-anaknya.

Harga Rp 50.000 masih sedang untuk income Indonesia masih. Kalau di Singapura harga rokok sudah Rp 150.000 sebungkus karena tingkat penghasilannya lebih tinggi. Bagi Indonesia harga Rp 50.000 akan mengurangi prevalensi jumlah orang yang mau membeli rokok, hanya mengurangi dan tidak berhenti. Jadi industri rokok tidak perlu khawatir.

Kita juga jangan percaya sama hoax. Baru-baru ini pemerintah percaya pada Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control FCTC) bahwa itu sesuatu yang digembor-gemborkan oleh perusahaan farmasi. Ini hoax tapi dipercaya oleh pejabat, dan dipercaya juga FCTC bahwa itu bisa mengganggu kedaulatan. Ini aneh sekali.

Bagaimana kalau dari sisi ekonomi?

Angka belanja dalam rumah tangga menunjukkan rokok menjadi nomor dua setelah beras. Itu jelas menambah kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa rokok merupakan salah satu penyumbang kemiskinan.

Kenyataannya juga tingkat kemiskinan di kalangan petani tembakau dan pekerja di industri rokok lebih tinggi dari tingkat kemiskinan di masyarakat umum. Mereka relatif lebih miskin, tetapi mereka dimanfaatkan ketika akan mempengaruhi pemerintah agar tidak ada aktivitas pengendalian tembakau yang lebih agresif (pelarangan atau pencabutan izin).

Faktor-faktor yang sering digunakan untuk mempengaruhi pemerintah untuk mencegah pengendalian tembakau secara lebih agresif adalah mengurangi pendapatan negara. Apakah sebanding antara pendapatan dengan dampaknya?

Justru kalau harga rokok dan cukai dinaikkan, negara akan mendapatkan uang lebih banyak, industri mendapat uang lebih banyak, seharusnya petani dan pekerja juga mendapat uang lebih banyak.

Bukti di seluruh dunia, tidak ada negara yang turun pendapatannya karena harga rokok yang dinaikkan. Yang memang rugi karena membayar lebih banyak itu adalah perokoknya. Ini tidak menjadi masalah karena memang dia harus bayar lebih mahal akibat dia merusak kesehatan dirinya dan kesehatan keluarganya.

Guna mengetahui tingkat kesehatan masyarakat Indonesia secara secara lebih jelas, pemerintah akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada bulan ini. Apa arti penting dari Riskesdas ini?

Riskesdas adalah sebuah upaya memotret keadaan kesehatan masyarakat yang caranya adalah mendatangi rumah-rumah, menanyakan sakit apa, kebiasaan makan apa, belanja apa, punya kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau tidak. Tujuannya adalah melihat dari tahun ke tahun apakah terjadi peningkatan atau penurunan dalam satu hal.

Di sini saya berharap bahwa kalau ada pembaca yang kedatangan para peneliti, maka tolong jawab apa adanya dengan benar. Dari jawaban yang benar, jujur, dan amanah akan membuat kita bisa memetakan penyakit apa yang menjadi ancaman kita, dan bagaimana mengurangi serta mengendalikannya. Apakah perilaku hidup tidak sehat yaitu kurang makan buah, sayuran, kurang olah raga, terlalu banyak makan lemak, dan terlalu banyak makan gula masih berlanjut.

Kita ingin melihat juga apakah perilaku merokok masih jalan terus, siapa saja yang merokok, dan sebagainya. Kalau ternyata banyak yang bisa membeli rokok dengan harga murah, di sini kita juga akan menannyakan penghasilannya, maka kita bisa melakukan sebuah intervensi agar pemerintah bisa mengendalikannya.

Jadi beri jawaban yang betul karena itu sangat penting untuk melihat sejauh mana kita telah berhasil dengan program-program pembangunan kesehatan. Misalnya, apakah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan sebagainya berhasil dan dipahami atau tidak oleh masyarakat terutama di tingkat bawah.

Satu lagi yang paling penting adalah masyarakat harus memahami bahwa ini cara kita untuk membangun bangsa yang sehat dan mampu bersaing. Kalau dalam Islam kami menyebutnya fastabiqul khoirot yang berarti berlomba-lombalah atau bersainglah kamu mencapai yang terbaik. Yang terbaik adalah hidup harus sehat dan kesehatan digunakan untuk sesuatu yang produktif untuk diri sendiri dan untuk komunitas. Karena itu tolong dibantu agar riset ini bisa berjalan dengan baik, jawaban yang jujur dan benar menjadi kunci keberhasilan.

Apa arti penting dari data-data yang akan didapat dari Riskesdas untuk pembangunan kehidupan kita sebagai sebuah negara?

Pertama, kita ingin mengetahui masyarakat mana yang kondisi kesehatannya tidak bagus sekarang dan masa depan. Jadi kita akan mempersiapkan pelayanan kesehatan yang sesuai di berbagai daerah. Contoh, kalau masyarakat yang merokok banyak berada di Jawa Timur, karena produsen rokok berada di daerah sana, maka penyakit akibat rokok akan diantisipasi. Karena itu fasilitas kesehatan, program kesehatan, harus difokuskan kepada bagaimana mengendalikan konsumsi rokok divsana. Penyakit jantung dan kanker akan banyak nanti di sana, sehingga kita bisa merencanakan.

Kemudian juga dalam Jaringan Kesehatan Nasional (JKN), misal BPJS, mereka juga harus mempersiapkanny, dimana yang perlu difokuskan. Kalau penyakitnya banyak sakit jantung, maka harus banyak dokter jantung di sana, itu bagian yang perlu. Kalau ada kekurangan fasilitas, kekurangan tempat karena waktu disurvei orang tidak bisa berobat karena terlalu jauh dan ongkosnya mahal, maka pemerintah daerah akan diminta membantu ongkos untuk ke rumah sakit.

Apakah mungkin perlu untuk dibuatkan Puskesmas disana?

Tidak perlu dibuatkan Puskesmas juga, tetapi bisa memberikan izin dokter praktek yang mempermudah. Kalau ada swasta yang mau untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatan, maka tidak perlu pemerintah yang bertindak, hanya memberikan izin dan permudah saja.

Seringkali mindset atau pola pikir pemerintah adalah, "Harus saya yang menjalankan." Ini keliru. Sebetulnya masyarakat bisa melakukan itu, asalkan permudahlah masyarakat untuk menolong masyarakat lain dalam bidang kesehatan.

Apakah penyakit tidak menular masih akan menjadi trend dalam lima tahun ke depan atau hanya saat ini saja?

Justru ke depan akan menjadi dominan dan penyakit menular relatif akan menurun, walaupun kemarin ada sedikit ancaman karena terjadi difteri dan campak. Saya menduga ada kelengahan pemerintah daerah dan Puskesmas yang menjadi ujung tombak untuk melakukan vaksinasi tidak melakukan dengan frekuensi yang tepat dan benar sehingga terjadi lagi letupan.

Namun itu lebih mudah dan relatif murah kalau dilakukan pencegahan penyakit menular. Penyakit tidak menular yang sangat sulit karena perilaku manusia sangat besar dipengaruhi oleh orang-orang lain dan media sosial yang diikuti iklan-iklan. Inilah yang tidak bisa dihambat. Iklan rokok masih saja ada, di negara lain sudah tidak boleh ada iklan rokok, sehingga dugaan saya justru akan makin besar penyakit tidak menular.

Bagaimana cara kita untuk mencegah agar tidak terkena penyakit tidak menular ini atau bagaimana supaya kita melindungi dari penyakit tidak menular ini agar tidak terus meningkat?

Pertama, tentu memerlukan pengetahuan, kita pelajari apa penyakit yang menjadi dominan, yang menjadi risiko, dan bagaimana cara-cara mencegah atau mengatasinya. Yang jelas kalau kita makan banyak serat, banyak buah, olah raga paling sedikit tiga jam dalam seminggu yang menghabiskan sekitar 300-500 kalori, tidak atau berhenti merokok, berhenti mengonsumsi alkohol, Insya Allah akan sehat.

Memang polusi udara juga mempengaruhi, tapi polusi udara hanya di kota-kota besar, tidak terlalu banyak penduduk kita yang hidup di kota-kota besar yang terpolusi. Tapi di pedesaan perilaku tadi masih bisa berjalan karena perilaku yang tidak sehat masih terjadi.

 

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=FvH7TIjz21g&feature=youtu.be