Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Merawat Keragaman

Edisi 1131 | 11 Des 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kami menghadirkan Pendiri Perspektif Baru Wiwar Witoelar sebagai narasumber. Kini dia kembali aktif mengajak masyarakat merawat keragaman, dan memahami pentingnya keragaman bagi Indonesia.

Wimar Witoelar mengatakan Indonesia dibangun oleh orang Papua, Aceh, Sulawesi, dan lainnya yang dipersatukan oleh rangkaian politik sehingga menjadi negara Indonesia. Jadi Indonesia, kalau tidak ragam tidak menjadi Indonesia. Kalau Perancis menjadi negara Perancis karena mempunyai sejarah dari Kerajaan Perancis, Jerman pun seperti itu. Tetapi Indonesia tidak ada hubungan satu dengan yang lainnya, bahkan banyak perbedaan. Tapi karena perbedaaan itu, maka Indonesia mempunyai budaya yang sangat kaya.

Keragaman itu seperti kebun bunga, berwarna-warrni sehingga indah. Sesuatu yang bagus harus menambah semarak hidup kita, dan bukan membuat orang ingin mengubah semua bunganya menjadi satu warna.

Menurut Wimar, keragaman kalau dimanfaatkan oleh orang-orang yang salah, bisa memicu konflik. Kemarin Jenderal Ratko Mladic dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Kejahatan Perang PBB di Den Haag. Dia telah memanfaatkan keragamanan untuk menimbulkan pembunuhan di Bosnia. Dulu Yugoslavia hidup rukun, ada orang Bosnia, Kroasia, dan Montenegro. Dikira hal itu akan stabil, ternyata ada yang mengacau. Ada banyak sekali negara yang tadinya tenang, menjadi ribut atau dikuasai pihak ekstrim. Contohnya Iran, Pakistan, Afganistan. Awalnya, semua negara-negara itu pluralis, dimana orang itu bebas seperti di Indonesia saat ini.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Panji Kharisma Jaya sebagai pewawancara dengan nara sumber Wimar Witoelar.

Saat ini Anda giat mengadakan diskusi mengenai keragaman Indonesia. Bahkan baru-baru ini Anda ke Australia untuk berdiskusi mengenai hal ini dengan Diaspora Indonesia di sana. Apa perspektif yang Anda sampaikan saat diskusi tersebut?

Saya ke Australia untuk menyambut keinginan orang Indonesia di Australia. Mereka ingin membahas mengenai situasi keragaman di Indonesia saat ini. Orang Indonesia yang bermukim di Australia, atau bisa disebut Diaspora Indonesia, sebetulnya sangat rindu dan sayang dengan Indonesia. Mereka sangat khawatir bahwa Indonesia yang mereka kenang telah berubah dari segi keragamannya. Kita banyak berbicara mengenai bagaimana Indonesia adalah negara yang dibangun karena ada keragaman.

Indonesia dibangun oleh orang Papua, Aceh, Sulawesi, dan lainnya yang dipersatukan oleh rangkaian politik sehingga menjadi negara Indonesia. Jadi Indonesia, kalau tidak ragam tidak menjadi Indonesia. Kalau Perancis menjadi negara Perancis karena mempunyai sejarah dari Kerajaan Perancis, Jerman pun seperti itu. Tetapi Indonesia tidak ada hubungan satu dengan yang lainnya, bahkan banyak perbedaan. Tapi karena perbedaaan itu, maka Indonesia mempunyai budaya yang sangat kaya. Para Diaspora Indonesia khawatir karena melihat pengalaman di bulan-bulan terakhir di Indonesia.

Yang dikhawatirkan para diaspora itu wajar sebab keragaman memang harus dirawat. Kalau diam-diam saja, ada segelintir orang yang ingin merusak keragaman itu, dan mereka bisa berhasil. Saya mengkonfirmasikan keinginan orang Indonesia di luar negeri mulai dari Australia. Saya yakin negara lain juga begitu.

Jadi Anda ingin membawa berita dari Indonesia kepada diaspora yang ada di sana bahwa mereka tidak perlu khawatir.

Sebetulnya saya juga tidak bisa menipu orang dengan mengatakan jangan khawatir, padahal mereka seharusnya khawatir. Saya hanya menceritakan saja apa yang saya lihat di Indonesia, dan mereka yang menyimpulkan sendiri. Apakah mereka perlu khawatir sehingga harus bergerak untuk mempertahankan atau santai aja. Tetapi pesan saya, orang yang berbuat baik dan yang santun itu santai. Sedangkan orang yang bermaksud membuat keonaran, mereka tidak santai.

Selalu ada jalan untuk membuat keonaran.

Iya, apalagi sekarang keonaran itu menguntungkan. Orang-orang yang berbakat menciptakan isu yang hangat itu mempunyai nilai komersil. Mereka dibayar oleh orang yang ingin menciptakan situasi yang tidak stabil, yaitu oknum orang politik, pejabat pemerintah, dan sebagainya.

Anda mengatakan bahwa bila keragaman ini dimanfaatkan oleh orang yang salah, akan berdampak kepada sesuatu yang lebih kacau. Bisa Anda memberikan gambaran?

Kalau dimanfaatkan oleh orang-orang yang salah, bisa memicu konflik. Kemarin Jenderal Ratko Mladic dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Kejahatan Perang PBB di Den Haag. Dia telah memanfaatkan keragamanan untuk menimbulkan pembunuhan di Bosnia. Dulu Yugoslavia hidup rukun, ada orang Bosnia, Kroasia, dan Montenegro. Dikira hal itu akan stabil, ternyata ada yang mengacau. Ada banyak sekali negara yang tadinya tenang, menjadi ribut atau dikuasai pihak ekstrim. Contohnya Iran, Pakistan, Afganistan. Awalnya, semua negara-negara itu pluralis, dimana orang itu bebas seperti di Indonesia saat ini.

Keragaman itu seperti kebun bunga, berwarna-warrni sehingga indah. Sesuatu yang bagus harus menambah semarak hidup kita, dan bukan membuat orang ingin mengubah semua bunganya menjadi satu warna.

Apa pernah terjadi di Indonesia, ada pihak yang memanfaatkan keragaman untuk menimbulkan kekacauan seperti di Bosnia?

Tentu bukan saya yang bisa menjawab. Tetapi semua harus melihat, apakah keragaman di Jakarta dimanfaatkan secara positif atau dijadikan alasan untuk menimbulkan kekacauan, permusuhan, perpisahan antar agama dan antar etnis.

Apakah ada potensi kekacauan di negara yang orang Indonesia banyak bermukim di sana, misalnya Australia?

Bisa, tetapi itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah rumah kita, tanah air kita. Namun kita perlu dukungan dari luar karena Indonesia dinilai oleh pers dunia dan oleh orang luar negeri. Jadi kalau orang Indonesia di luar negeri tidak bisa menjelaskan hakekat Indonesia, maka masyarakat internasional akan mendapat kesan yang salah.

Kalau sampai orang Indonesia di Australia atau negara lain mengira bahwa Indonesia sudah dikendalikan orang-orang ekstrim, dan tidak ada tempat untuk minoritas di Indonesia, maka itu berbahaya. Sekarang pelaku usaha hanya mau berinvestasi di tempat yang ragam. Banyak negara lain yang bisa dipilih sebagai tujuan investasi, seperti Thailand atau Vietnam. Jadi sebagian besar pekerjaan rumah kita adalah mengembalikan citra Indonesia sebagai negara yang indah, ramah, yang tidak mudah dihasut teroris.

Lalu bagaimana kita harus menyakinkan orang bahwa "Indonesia is still good"?

Dalam dasar-dasar sosialisasi, sebelum kita bisa mengajak orang berfikir, kita sendiri harus yakin akan pendirian kita. Sebelum kita bisa mengharapkan orang lain berfikir ragam, kita sendiri harus berfikir ragam. Kita tidak bisa meyakinkan orang kalau kita sendiri tidak yakin. Perusahaan kami, InterMatrix Communication, mempunyai orang-orang yang dasarnya ragam. Mereka tidak segan bicara, dan ini modal kita untuk menyebarkan informasi ke tempat lain.

Teorinya adalah teori bola salju. Kita bicara kepada 10 orang, dan setiap orang dari 10 itu akan bicara lagi kepada 10 orang lainnya. Jadi kita sama saja bicara dengan 100 orang. Jadi kita tidak saling menungu. Kalau saling menunggu, kita menjadi pengikut semua. Padahal saat ini kita harus merawat keragaman secara aktif.

Jadi harmoni dalam kehidupan bernegara menjadi nilai tambah Indonesia di mata dunia.

Kita bangga mempunyai keragaman yang sangat besar. Amerika Serikat yang memang dibangun atas dasar keragaman, sekarang agak terganggu karena ada rezim politik yang justru ingin memecah belah diversity. Jerman saja sampai harus melakukan pemilihan umum kembali karena Angela Merkel yang sangat pluraris, tidak berhasil mendapatkan koalisi. Jadi tinggal kita lihat, apakah Indonesia bisa menyelamatkan diri dari serangan-serangan orang yang ingin mengubah budaya Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika sudah dicanangkan jauh sebelum negara ini berdiri. Jauh sebelum ada yang namanya Pancasila karena Bhinneka Tunggal Ika sudah menjadi identitas.

Karena ada pengertian Bhinneka Tunggal Ika, maka dibuatlah satu negara. Saya bukan ahli sejarah, jadi saya tidak tahu mana yang lebih dahulu, Pancasila atau Bhinneka Tunggal Ika.

Sekarang ini banyak sekali teman-teman kita yang disebut generasi milenial yang menyuarakan mengenai keragaman. Apa yang bisa dilakukan teman-teman milenial di luar sana?

Itu bagus, sama dengan kita dan sama dengan saya. Jadi tidak terbatas pada generasi. Kita harus ingin merawat keragaman. Jadi kata kuncinya merawat. Orang sakit harus dirawat. Tidak bisa dibiarkan saja. Sangat wajar dan bagus kalau kaum milenial, atau kaum generasi X, atau siapa saja mempunyai keprihatinan.

Bagaimana agar keprihatinan itu tersalurkan dengan baik karena ada beberapa yang terkena pengaruh buruk dari media massa atau media sosial?

Itu tugas Anda dan saya di sini. Kita sekarang berbicara justru untuk memberi informasi bahwa kita ingin tahu lebih banyak mengenai satu masalah. Kita bisa mencari pengetahuan itu, dan kalau kita khawatir pemikiran pesimis orang, maka kita bisa bersikap optimis.

Jadi kata kuncinya optimis terhadap keadaan. Yakin terhadap diri sendiri dan percaya bahwa keragaman adalah sesuatu yang indah.

Bagus. Hutan kita memiliki keragaman yang sangat besar yang disebut biodiversity. Masyarakat kita punya social diversity. Itu dua-duanya perlu dipertahankan. Kalau hutan biodiversity diganti semua dengan pohon yang sama, bagaimana pun tidak akan lebih baik. Orang itu memang harus ragam dalam pergaulan, pengetahuan, bahasa, dan segala hal. Apalagi kita memang sudah hidup di dunia yang tanpa batas.

Jadi harus membuka pemikiran terhadap hal-hal yang baru.

Iya harus, kalau mau selamat dan menjadi orang yang tercerahkan. Kalau memang ingin mengubur diri di dalam masa lalu, ya bisa saja. Indonesia itu sebagian besar sudah sangat cerdas dan sangat berbudaya.

Bagaimana kalau untuk teman-teman yang pesimis terhadap kondisi Indonesia dan ingin pergi saja ke luar negeri?

Silahkan. Saya anjurkan kalau orang pesimis untuk pindah ke luar negeri. Jangan merusak suasana di sini karena pesimis adalah sifat subyektif. Ada orang yang pada dasarnya pesimis, diberi apa pun pesimis. Tapi kalau sebetulnya optimis, walau tidak tahu apakah ada alasan untuk optimis, maka bisa kita ajak bicara dengan menunjukkan bukti-bukti bahwa keragaman kita itu berkhasiat besar.@

Apa kota berikutnya yang akan Anda kunjungi setelah kemarin berdiskusi di Jakarta, Bandung, sampai ke Melbourne?

Kami pergi ke mana orang ingin bicara, mendengar, dan menyampaikan pendapat. Jadi kami akan pergi ke mana pun selama ada biaya yang bisa diurus bersama karena kami tidak perlu biaya banyak. Bagi saya, kita sudah tidak bisa lagi berdiam diri. Tapi yang saya dengar sudah ada rencana ke Surabaya, mungkin ke Malaysia atau Jepang. Saya juga ingin ke Hong Kong, Taiwan, dimana ada orang yang menghendaki kita. Dulu saya selalu pergi ke sana-sini. Hanya dulu topiknya macam-macam, sedangkan sekarang hanya mengenai keragaman.

Dengan safari seperti ini, tidak menutup kemungkinan publik di tempat-tempat lain pun bisa tercerahkan. Jadi mereka tahu bahwa keadaan itu tidak seperti yang selama ini mereka anggap.

Mereka bisa membawa pengalaman atau catatan dari lingkungan masing-masing. Mereka bisa ikut berbagi.

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=fAMEo7Bab5Y&feature=youtu.be&ab_channel=PerspektifBaruOnline