Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Denny Santoso

Bisnis Harus Seimbang

Edisi 1119 | 11 Sep 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Saat ini Perspektif Baru kedatangan tamu seorang digital marketing strategist dan entrepreneur, yaitu Denny Santoso. Dia akan berbagi pengalaman profesional dan hidupnya.

Menurut Denny Santoso, kita harus mengadopsi mindset bahwa kita harus mempunyai multiple stream of income. Kebanyakan orang adalah sekolah kemudian bekerja sesuai skill-nya, dimana ketika kita berhenti dari sekolah itu ilmunya lama-lama expired. Ada yang namanya active income, dimana kita mendapat penghasilan dari skill kita.

Skill kita dijual kemudian mendapatkan uang, dan uang itu bisa dihabiskan untuk jalan-jalan, kesehatan, makan, hidup, dan sebagainya. Sementara kita membangun active income tadi, kita harus membangun the second business yaitu aset. Misalnya, aset properti, investasi, atau paper asset dan sebagainya atau membangun bisnis yang lain. Dari passive income yang lain-lain itu bisa menghidupi kita, tanpa kita harus melakukan yang namanya active job.

Kalau saya lebih suka networking, misalnya dengan banyak teman di luar negeri karena pikiran kita juga bisa lebih terbuka. Kadang-kadang yang kita achieve, yang sudah kita banggakan ternyata di luar negeri tidak ada apa-apanya. Jadi itu yang membuka pikiran saya bahwa, "Saya ini belum apa-apa loh, di luar negeri itu masih luas sekali." Sebenarnya you don't know what you don't know. Kadang kita suka merasa puas, padahal di luar sana masih banyak sekali yang lebih baik.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Panji Kharisma Jaya sebagai pewawancara dan narasumber Denny Santoso.

Anda baru saja menulis buku. Tolong ceritakan mengenai buku tersebut.

Buku saya berjudul Done is Better Than Perfect. Sebenarnya itu adalah buku biografi, tetapi di sini saya tidak mau bercerita mengenai biografi saja. Banyak masukan di dalamnya, semacam pembelajaran yang saya alami dari pertama sampai sekarang, banyak aha moment (adalah saat ketika seseorang tiba-tiba mendapat pencerahan untuk melakukan sesuatu ¨C Red), mind set - mind set yang saya pelajari, dan semua itu saya compile menjadi satu buku. Buku ini memang story saya, tetapi banyak sekali aha moment di situ sebagai pembelajaran.

Saya mendapat informasi bahwa Anda sudah mempunyai jiwa entrepreneur atau bisnis sejak kecil, dan yang uniknya adalah waktu itu Anda menjual CD Game. Bagaimana ceritanya?

Sewaktu SMA saya suka sekali nge-game, tetapi karena saya bukan orang kaya yang bisa membeli banyak game akhirnya saya kenalan dengan toko game, dan saya suka nongkrong dan main-main di situ. Kemudian saya mempunyai ide menjual game ke teman-teman di sekolah. Saya nego dengan toko game, dan akhirnya setiap ada game baru saya bawa dan saya jual ke teman-teman di sekolah.

Enaknya berjualan game adalah bisa sambil dimainkan, jadi saya bisa memberi tips-tips ke pembeli yang lain. Akhirnya oleh toko game saya diperbolehkan untuk menjualnya lagi. Yang penting kalau dalam waktu seminggu tidak laku, maka harus dikembalikan. Dalam waktu seminggu itu saya sudah tamat memainkan game-nya. Jadi sambil main, sambil jualan.

Apakah game yang dimaksud di sini adalah Playstation (PS)?

Bukan, saya tidak mempunyai PS, pada waktu itu adalah game komputer. Jadi kalau ada yang bertanya ke toko bagaimana cara menginstal game tersebut, maka pengelola toko akan mencari saya untuk bertanya.

Kegiatan tersebut dilakukan pada masa SMA. Apa kegiatan Anda setelah itu?

Setelah lulus SMA, saya kuliah. Pertama kali saya menjadi asisten dosen pada 1997. Saat itu saya bekerja mati-matian dan hanya mendapat upah Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per jam.

Dimana kampus Anda pada waktu itu?

Kampus STIKI Malang dan saya bisnis pertama kali pada 1999, kira-kira masih semester enam atau tujuh. Jadi setahun sebelum lulus, saya menjadi programmer dan berjualan supplement.

Setahun sebelum lulus, Anda sudah menjadi asisten dosen dan juga pebisnis. Apakah kuliah Anda lancar-lancar saja?

Ya, kuliah lancar. Kebetulan kuliah saya menyenangkan karena saya memang suka komputer.

Semua hal kalau dilakukan dengan senang hati pasti akan menyenangkan. Apa hobi Anda?

Karena saya banyak me time, jadi hobi saya adalah baca buku, main game, dan nonton.

Apakah orang-orang yang mempunyai hobi seperti Anda bisa menjadi seperti Anda nantinya karena stigma yang muncul di masyarakat adalah anak yang hobi main game dan baca buku terkesan kuper, sedangkan Anda tidak seperti itu?

Banyak teman lama saya mengatakan bahwa saya sebenarnya adalah introvert dan extrovert by training. Dulu pada sekitar 2006, ketika saya harus berbicara di depan publik dan bertemu dengan mic, saya sudah keringat dingin. Tapi sekarang sudah tidak karena waktu itu saya mencari pertolongan professional dan saya dihipnotis.

Pada waktu itu saya hanya mendengarkan CD dan akhirnya berhasil. Saya merasa kalau kita punya weakness yang benar-benar menghalangi kita untuk maju ke goal kita, maka kita harus dapat mengatasinya.

Waktu itu saya memimpin perusahaan, goals saya adalah harus bisa berbicara di depan publik, maka saya harus dapat mengatasi kelemahan saya. Akhirnya saya mencari teman untuk membantu saya mengatasi public speaking problem. Setelah mendengarkan CD itu sampai sekarang justru saya bisa menjadi pembicara dan sebagainya.

Apakah weakness itu selalu menghalangi goals?

It really depends orangnya. Misalnya, saya tidak suka nanas berarti itu adalah my weakness. Tapi ketika saya tidak usah memikirkan untung atau ruginya makan nanas, maka itu menjadi tidak penting lagi. Kalau tidak bisa berbicara di depan publik, sementara saya harus pimpin perusahaan dan sebagainya, itu yang harus saya pikirkan lagi baik atau buruknya. Itu karena ketika saya harus berbicara di depan publik kemudian berkeringat dingin, maka message tidak akan tersampaikan. Itu yang bahaya.

Kapan pertama kali Anda menyadari memiliki weakness tersebut?

Ketika tiba-tiba saya disuruh berbicara di depan publik, kemudian deg-degan, tidak bisa bicara, dan sebagainya.

Apakah itu terjadi pada waktu kuliah atau sudah menjadi seorang pemimpin?

Sebenarnya sewaktu kuliah saya sudah terbiasa bicara di depan publik, tapi saat itu hanya mengajar sebagai asisten dosen. Setiap minggu mengajar sehingga lama-lama menjadi biasa. Setelah lulus kuliah pada 2000 hingga 2006, saya tidak banyak kegiatan dan tidak pernah public speaking lagi. Ketika diminta berbicara lagi di depan publik, tiba-tiba nervous, keringat dingin, dan sebagainya. Akhirnya saya menyadari bahwa ini adalah weakness saya yang harus diatasi.

Apakah berarti itu tergantung dari kebiasaan kita?

Pertama, memang kebiasaan. Kedua, mungkin kadang-kadang kita pernah merasa takut diangggap dan dipandang orang sebelah mata. Itulah mengapa buku saya berjudul Done is Better Than Perfect karena untuk mengingatkan saya sendiri bahwa done is better dari pada harus sempurna.

Saya dengar Anda adalah seorang family man, apakah bisa diceritakan?

Salah satu value yang saya bawa di buku saya adalah family. Selain itu ada juga fitness dan freedom. Saya memilih family karena saya memang suka sekali bersama keluarga, di rumah bersama-sama orang tua, istri dan anak-anak saya.

Mindset saya adalah bagaimana caranya saya bisa bekerja sambil tetap berada di dekat keluarga. Misalnya, kondisi di rumah saya yaitu kamar anak saya hanya 10 langkah dari kantor saya di rumah. Jadi kalau mau main tinggal jalan 10 langkah, kemudian kembali bekerja lagi. It¡¯s a pro and cons, tapi paling tidak saya lebih suka di situ daripada saya harus merantau ke luar kota dan tidak bertemu dengan keluarga dalam jangka waktu lama.

Bagi saya keluarga adalah tempat dimana kalau kita ada problem apa pun, kita akan kembali kepada keluarga.

Menarik ketika Anda mengatakan family adalah point atau faktor yang sangat menentukan dalam kehidupan. Jadi Anda tinggal di Malang, sedangkan semua bisnis berada di Jakarta. Bagaimana Anda membagi waktu antara bisnis dan keluarga?

Bisnis saya ada beberapa di Jakarta dan ada di luar negeri juga. Jadi yang penting buat saya adalah delegasi. I¡¯m a good lazy person. Jadi yang penting buat saya adalah bagaimana caranya kita bisa build system sehingga semuanya bisa running. Saya selalu build team terlebih dulu, kemudian mengajari mereka supaya bisa running dengan bagus, sehingga saya bisa build the second business, and build the next business.

Saya tidak mau waktu saya ditukar dengan uang, dimana kita harus 24 jam mengerjakan bisnis kita, harus lembur, atau harus menjaga sendiri semuanya. Kalau seperti itu, kita hanya bisa mempunyai satu bisnis saja dan itu pun tidak bisa besar. Misalnya, kita mempunyai restoran dan kita harus masak sendiri, ketika kita mau buka cabang kedua maka rasanya akan beda.

Lebih baik kalau kita ada franchise makanan pizza atau apapun itu, walaupun rasanya bukan the best place, tapi¡¡paling tidak mempunyai cabang yang banyak. Which is, itu menjadi lebih bagus daripada mempunyai restoran dengan rasa yang enak sekali tapi hanya satu.

Saya pernah mendengar filosofi dari Tiongkok itu ¡®Jangan menyimpan satu telur di satu keranjang¡¯. Apakah itu maksudnya?

Ya, betul, harus ada beberapa bisnis. Jadi kita mengadopsi mindset bahwa kita harus mempunyai multiple stream of income. Kebanyakan orang adalah sekolah kemudian bekerja sesuai skill-nya, dimana ketika kita berhenti dari sekolah itu ilmunya lama-lama expired. Ada yang namanya active income, dimana kita mendapat penghasilan dari skill kita.

Skill kita dijual kemudian mendapatkan uang, dan uang itu bisa dihabiskan untuk jalan-jalan, kesehatan, makan, hidup dan sebagainya. Sementara kita membangun active income tadi, kita harus membangun the second business yaitu aset. Misalnya, aset properti, investasi, atau paper asset dan sebagainya atau membangun bisnis yang lain. Dari passive income yang lain-lain itu bisa menghidupi kita, tanpa kita harus melakukan yang namanya active job.

Apakah itu termasuk ke dalam financial freedom?

Ya, financial freedom is a bit tricky. Beberapa orang terpikir ingin financial freedom padahal tidak mengerti. Seharusnya financial freedom itu adalah kebebasan kita untuk membeli barang atau apapun tanpa kita harus menabung, asalkan yang dibeli sesuai lifestyle. Itu kuncinya karena setiap orang berbeda lifestyle dan jangan memakai patokan uang karena setiap orang berbeda. Kalau tidak disesuaikan lifestyle, nanti disebutnya boros. Boros adalah membeli barang yang sebenarnya tidak perlu, memakai uang yang belum milik kita alias utang untuk pamer ke orang yang belum tentu peduli sama kita. Itu banyak sekali terjadi.

Ada satu lagi F, yaitu fitness. Apa yang dimaksud mengenai fitness tersebut?

Maksud fitness adalah saya ingin tetap sehat dengan menjaga yang namanya healthy lifestyle. Jadi kalau kita sudah mempunyai uang banyak, kemudian financial freedom, dan time freedom, tetapi sakit-sakitan maka tidak akan bisa menikmati.

Apa hobi olah raga Anda?

Gym karena di rumah ada alatnya misalnya treadmill.

Jadi 3F ini sangat sinkron yaitu family, fitness dan freedom. Apakah kita semua bisa melakukan itu?

Itu tergantung bagaimana mindset kita. Berbicara mengenai freedom sebenarnya itu ada tiga yaitu financial freedom, time freedom dimana kita bisa pergi kemana saja terserah kita dan tidak tergantung job. Kemudian ada place freedom, kalau bisa. As a digital marketer is a place freedom, dimana kita bisa bekerja atau tinggal dimanapun asalkan ada wifi.

Apa tips agar kita bisa membuat pekerjaan kita menjadi menyenangkan dan tidak selalu berpikir bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan saja?

Kalau saya lebih suka networking, misalnya dengan banyak teman di luar negeri karena pikiran kita juga bisa lebih terbuka. Kadang-kadang yang kita achieve, yang sudah kita banggakan ternyata di luar negeri tidak ada apa-apanya. Jadi itu yang membuka pikiran saya bahwa, "Saya ini belum apa-apa loh, di luar negeri itu masih luas sekali." Sebenarnya you don't know what you don't know. Kadang kita suka merasa puas, padahal di luar sana masih banyak sekali yang lebih baik.

Kadang ada beberapa orang yang justru malas, misalnya ada beberapa teman yang berpikiran networking nanti saja, sekarang kerja dulu padahal hal itu berkesinambungan.

Mereka belum memiliki goal yang indah di kepalanya. Menurut saya itu tinggal kemampuan imajinasi saja.

Jadi step pertama kita harus mempunyai goal.

Betul, jangan bilang ¡®saya ingin sukses¡¯ tapi sukses yang seperti apa tidak jelas. Itu jelas tidak bisa. Untuk mendapatkan income Rp 5 juta, kita harus mempunyai skill. Agar Rp 5 juta tersebut menjadi 10 juta membutuhkan another skill. Dari Rp 10 juta ke Rp 100 juta another skill. Dari Rp 100 juta ke Rp 1 miliyar membutuhkan juga another skill lagi. Jadi skill-nya harus terus dibangun.