Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. M. Al Azhary

Bantuan Dasar untuk Kelangsungan Hidup

Edisi 1114 | 07 Aug 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah dr. Muhammad Al Azhary, yang akrab disapa dengan dr. Ary, bertugas di Rumah Sakit Jantung Binawaluya. Sekarang dia menjalankan program pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), yang memungkinkan orang untuk melangsungkan hidup orang lain dalam keadaan darurat. Program pendidikan ini dilakukan dalam sehari dan bersertifikat.

dr Ary menjelaskan BHD adalah pertolongan pertama yang dilakukan pada korban henti jantung atau henti nafas. Hal pertama yang harus diketahui mengenai BHD pada keadaan darurat adalah Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau dalam bahasa Indonesia berarti resusitasi jantung paru. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan nafas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR kita kerjakan kepada orang yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.

Untuk kasus tersedak kita bisa melakukan Heimlich Manuever. Sebelumnya kita tanya dulu apakah dia benar-benar tersedak. Kalau tersedaknya berat dia tidak akan bisa bicara dan akan membuat postur seperti mencekik leher sendiri. Kita berdiri di belakangnya, kita selipkan paha kaki di bagian tengah, kemudian kita rangkul, lalu tangan kanan kita kepalkan, kita taruh di sekitar pusar, di bawah tulang rusuk di daerah ulu hati. Kemudian tangan kita yang sebelah kiri membantu kepalan tersebut dihentakkan, sehingga diharapkan bisa keluar yang menyebabkannya tersedak.

Kedua teknik tersebut amat sangat berguna. Semua orang pasti bisa asal dilatih karena dia juga sudah melatih semua staf di rumah sakit, dan kesimpulannya bisa.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber dr. M. Al Azhary.

Saya telah mendapatkan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dari dr. Ary. Kini saya merasa lebih siap dan tenang untuk menghadapi keadaan darurat seperti tersedak dan serangan jantung. Apa pelatihan BHD itu?

Hal pertama yang harus diketahui mengenai BHD pada keadaan darurat adalah Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau dalam bahasa Indonesia berarti resusitasi jantung paru. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan nafas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR kita kerjakan kepada orang yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Misal, teman sekantor kita tiba-tiba tergeletak jatuh. Sebagai awam biasanya kita langsung panik, kaget, dan bingung. Pelatihan BHD untuk melatih diri dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat saat terjadi keadaan darurat. Pertama, kita bisa membangunkan dengan cara menepuk pundaknya untuk memastikan respon teman kita. Jika setelah dibangunkan teman kita tidak ada reaksi, maka tindakan berikutnya kita harus memanggil bantuan ke teman-teman yang ada di sekitar dan tentunya menghubungi gawat darurat.

Saya menonton televisi kalau di Amerika Serikat (AS) ada keadaan darurat maka selalu menelepon 911. Apakah di Indonesia ada nomor telepon yang bisa kita gunakan untuk kasus-kasus darurat?

Ada, yaitu hotline dari Kementerian Kesehatan di 118.

Dari pengalaman institusi atau Anda sendiri, apakah orang yang suka mendadak hilang kesadaran atau pingsan memang biasanya hanya orang tua atau bisa terjadi juga pada orang muda?

Rata-rata orang tua biasanya umur 40 tahun ke atas.

Tadi sudah mulai untuk tindakan BHD yang pertama yaitu membangunkan dengan cara lembut tapi tegas. Apa lagi selanjutnya, Dok?

Kemudian memanggil bantuan atau meminta pertolongan.

Memanggil bantuan melalui 118 yaitu nomor Kementerian Kesehatan. Kalau kita mempunyai nomor rumah sakit terdekat barangkali bisa kita telepon.

Ya.

Apa langkah berikutnya, Dok?

Langkah berikutnya kita memeriksa nadi. Jadi kita memegang nadi, sambil melihat pernafasan.

Apakah nadi yang diperiksa itu dari leher atau pergelangan tangan?

Dari leher. Bukan dari pergelangan tangan karena jaraknya terlalu jauh dengan jantung, dan yang paling dekat adalah leher. Kemudian sambil memeriksa nadi, kita melihat pergerakan pernafasan di dinding dada. Biasanya kalau orang awam agak susah memeriksa nadi. Jadi kalau dia sudah tidak bernafas, maka kita anggap dia sudah pasti jantungnya berhenti.

Apa cara terbaik untuk mengecek pernafasannya masih jalan atau tidak?

Dilihat pergerakan dinding dada. Sebelum era sekarang ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu look, listen, feel. Jadi sambil melihat pergerakan dinding dada, telinga kita diletakkan dekat mulut korban, sehingga kita sambil merasakan juga mendengarkan kalau dia bernafas. Namun untuk sekarang yang paling cepat hanya melihat pergerakan dinding dada karena itu cukup mudah dan pasti kelihatan.

Zaman dulu mengambil cermin lalu diletakkan di bawah hidungnya. Apakah itu betul?

Itu zaman dulu tujuannya untuk melihat kondensasi pengembunan. Kalau sekarang menggunakan pedoman terbaru. Guideline terbaru memang seperti itu. Jadi lebih simple.

Bagaimana kalau kita mau menipu orang dengan menahan nafas, Dok?

Bisa saja dia menahan nafas, tapi di medis bisa ketahuan dari nadinya. Jadi tidak bisa dibohongi.

Jadi ada yang harus diperhatikan yaitu nadi dan nafas. Lalu, apa langkah yang keempat?

Langkah terakhir ini yang paling penting yaitu kita melakukan CPR. Jadi kita melakukan pompa jantung, yaitu dengan cara kompresi dada dan kita memberikan pernafasan buatan/bantuan.

Kelihatannya kompresi dada itu susah, Dok. Betulkah?

Kompresi dada sebenarnya gampang-gampang susah, tapi dengan dilatih pasti bisa.

Apakah semua orang bisa diharapkan untuk bisa melakukan CPR?

Iya, semua orang pasti bisa asal dilatih karena saya juga sudah melatih semua staf di rumah sakit, dan kesimpulannya bisa.

Apakah pernah ada orang yang disalahkan karena memberikan CPR tapi gagal?

Kalau CPR gagal saya rasa tidak. Namun memang salah satu komplikasi dari CPR adalah jika kita tidak tepat melakukan kompresi dada, misalkan tidak tepat di garis tengah dinding tulang dada, hal itu bisa mengakibat tulang dada bisa retak karena di situ lemah. Hubungan antara tulang iga dengan tulang dada yang di tengah (sternum) kalau istilah kita adalah punctum-nya tulang rawan/tulang lunak yaitu semacam pengikat yang lemah saja. Bila kita salah melakukan bantuan maka tulangnya bisa retak atau patah (fraktur).

Itu pernah terjadi dan ada pasiennya. Jadi ada seseorang/pasien bekerja di swasta, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri. Perusahaannya memiliki perawat untuk menolong kalau ada kegawatan, maka perawatnya segera menolong memberikan bantuan dan melakukan CPR. Kemudian perusahaannya juga memiliki Automatic External Defibrillator (AED). 

Jadi sambil melakukan CPR, temannya yang lain mengambil alat itu, ditempelkan lalu dihidupkan, dan dijalankan sesuai instruksi. Alat AED ada instruksinya seperti "hidupkan, tunggu sebentar" karena dia menganalisis irama kemudian ada perintah "lakukan CPR".

Alat itu memang canggih untuk orang awam. Kemudian alat itu memerintahkan "kamu kurang dalam" sehingga harus "push hard" atau tekan lebih keras. Sebenarnya tekan lebih keras juga ada aturannya yaitu kedalamannya 5 6 cm. Mungkin karena tidak begitu paham sehingga terlalu keras, terlalu semangat, dan akhirnya fraktur di beberapa tempat, tapi orangnya selamat.

Pada umumnya orang yang terlibat emergency dan tidak biasa menghadapinya pasti akan panik.

Pasti panik. Saya mempunyai contoh kasus yang baru saja terjadi sekitar 1-2 minggu lalu ada pasien datang kita CPR tapi tidak tertolong, meninggal. Ternyata riwayat sebelumnya dia sedang meeting tiba-tiba tergeletak jatuh. Di perusahaan itu ada dokternya. Saat dokternya datang bukan menolong dengan CPT malah menyatakan, "Wah kayaknya sudah tidak ada nih, sudah dibawa saja dulu ke rumah sakit." Akhirnya dibawa ke rumah sakit. Anggap saja, jarak rentang waktu kantornya ke rumah sakit 10 menit. Sementara angka kehidupan setiap 1 menit turun 10%, turun terus sehingga lama-lama habis. Dokter tersebut bisa begitu mungkin karena panik.

Ada juga keluarga dokter umum menghadapi tiba-tiba orang tuanya tidak sadarkan diri, tapi dia tidak langsung melakukan CPR malah diangkat pelan-pelan, digotong, kemudian dibawa ke rumah sakit.

Apakah semua dokter mendapatkan pelatihan BHD, ataukah tetap ada yang masih bisa panik saat menghadapi emergency walaupun dokter?

Di Indonesia mungkin 90% ke atas dokter-dokter sudah mengikuti pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) yaitu bagaimana dia membantu pasien dengan kondisi tidak sadarkan diri, bahkan pelatihan itu sudah di atas BHD. Kalau BHD adalah bantuan hidup dasar untuk orang awam. Kalau Basic Life Support biasanya untuk perawat. Sedangkan ACLS di atasnya. Cuma tidak serta merta saat sudah mengikuti pelatihan ACLS lantas langsung bisa segala-galanya. Ternyata itu juga perlu dilatih terus.

Tadi bicara cardiac emergency. Apakah ada gawat darurat lainnya lagi, misalnya, neurologist emergency untuk yang mengalami stroke?

Untuk stroke ada, tapi untuk orang yang tidak sadarkan diri. Perlakuannya semua sama, yaitu BHD tadi. Kalau kecelakaan jelas beda lagi seperti untuk luka besar, berdarah. Jika tidak sadarkan diri dan tidak bergerak, maka sudah selesai.

Banyak yang bisa dicapai dengan keterampilan menangani keadaan berhenti nafas seperti itu. Apakah banyak kasus seperti itu?

Banyak, apalagi di rumah sakit jantung. Kemarin kita juga ada pasien yang merasa dadanya tidak nyaman. Rumah dia di Lenteng Agung, saat sampai perempatan lampu merah Pasar Rebo, nafasnya berhenti, sehingga ambulans langsung menerobos lampu merah. Tiba di rumah sakit dalam waktu lima menit.

Kita langsung CPR, kita resusitasi jantung paru sesuai guideline, CLS. Jantungnya yang tadi berhenti kembali berdetak. Cuma karena nafas sudah berhenti lima menit, otaknya sudah tidak berfungsi dengan baik karena kekurangan oksigen. Jadi saat jantungnya berdetak kembali kita amankan yang lain-lain, kita periksa rekam jantung ternyata dia sedang mengalami serangan jantung yang sangat berat. Masuk ICU, besoknya meninggal. Jantungnya berhenti pada akhirnya.

Ada lagi emergency yang pernah saya lihat di berita dimana dia sedang makan ayam goreng tersedak lalu meninggal karena tidak bisa nafas. Apakah ada emergency untuk keadaan seperti itu?

Untuk kasus tersedak kita bisa melakukan Heimlich Manuever. Sebelumnya kita tanya dulu apakah dia benar-benar tersedak. Kalau tersedaknya berat dia tidak akan bisa bicara dan akan membuat postur seperti mencekik leher sendiri. Kita berdiri di belakangnya, kita selipkan paha kaki di bagian tengah, kemudian kita rangkul, lalu tangan kanan kita kepalkan, kita taruh di sekitar pusar, di bawah tulang rusuk di daerah ulu hati. Kemudian tangan kita yang sebelah kiri membantu kepalan tersebut dihentakkan, sehingga diharapkan bisa keluar yang menyebabkannya tersedak.

Apakah dokter pernah mengalami kejadian seperti itu?

Kalau saya pribadi belum pernah mengalaminya. Yang pernah anak saya. Jadi dia makan jelly yang potongannya agak besar, dan makannya sambal main-main di arena anak kecil. Tiba-tiba dia memegang lehernya sambil kaget, saya perhatikan dia tidak bisa bernafas. Kemudian saya melakukan Heimlich Manuever, yang agak berbeda karena dilakukan pada anak-anak.

Lalu, apakah jellynya bisa keluar?

Tidak langsung. Awalnya, jellynya sempat nyangkut dulu karena lengket, tapi akhirnya keluar juga ketika dihentak di bagian perut dengan satu tangan. Sejak saat itu tidak pernah lagi saya memberi dia makan jelly.

Jadi para pembaca lebih baik menghindari pesan minuman pakai topping jelly atau bubble yang ukurannya lebih besar dari sedotan karena bisa berbahaya dan menyebabkan tersedak.

Iya, terutama untuk anak-anak karena ukurannya sangat pas betul

Seberapa besar kegunaannya kalau kita menguasai teknik-teknik CPR, Heimlich?

Kedua teknik tersebut amat sangat berguna. Saya ketemu pasien yang lima menit berhenti nafas dan berhenti detak jantung, begitu tiba di rumah sakit berdetak kembali jantung. Semakin cepat kita memberikan bantuan, seperti pernapasan dengan kompresi dada 30:2, maka semakin besar angka untuk kemungkinan selamat.

Dimana pembaca bisa kontak dokter dan lembaga pelatihannya jika ada yang ingin mendapatkan pelatihan mengenai teknik emergency, atau ingin sekadar mengetahui. Apakah orang-orang yang belum pernah mencoba melakukan teknik ini bisa melakukannya hanya dengan membaca wawancara ini?

Biasanya tidak bisa karena harus langsung diberikan materi praktek. Sekarang sudah banyak tempat-tempat yang menyediakan pelatihan untuk kegawat-daruratan.