Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ishadi SK

Hidup adalah Perjalanan

Edisi 1112 | 25 Jul 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah Ishadi SK. Nama tersebut identik dengan dunia televisi (TV). Setiap orang tahu dan ingat Ishadi SK adalah orang yang telah memberikan hidup pertama pada Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada 1970-an dan berkarya terus di TV melalui beberapa zaman pemerintah, swasta, dan segala macam dengan mempertahankan integritasnya sebagai orang TV.

Dalam menjalani hidup dan kariernya di dunia TV, Ishadi SK memegang moto yaitu hidup adalah perjalanan. Jangan pernah berhenti dan jangan pernah merasa lelah sampai waktu menghentikan.

Bagi Ishadi, TV itu menarik karena kita berada dalam sebuah lingkungan yang membuat kita terus menerus menghadapi situasi yang baru. Banyak sekali permasalahan di TV dari isi programnya, kritikan dan tantangannya, serta tuntutan dari para penonton TV khususnya, meskipun mereka tidak harus bayar saat menontonnya. Kemudian ditantang juga dengan teknologi TV yang terus menerus baru dan persaingannya begitu ketat. Kalau teknologi kita ketinggalan maka tidak akan ada yang menonton.

Menurut Ishadi, kalau hidup tidak ada tantangan, percayalah tidak akan menarik. Anda sudah sangat kaya raya tetapi tidak ada tantangan maka tidak akan menarik. Jadi karena tantangan itulah yang membuat dirinya bertahan di dunia TV.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Ishadi SK.

Banyak orang yang berkiprah hingga 50 tahun lebih, tetapi yang bisa mempertahankan integeritasnya itu susah. Bagaimana perjalanan dan motivasi hidup Ishadi SK sehingga bisa menghasilkan begitu banyak karya dalam karirnya?

Saya merasa terhormat untuk berbicara di Perspektif Baru terutama karena acara ini ditayangkan di 100 radio di seluruh Indonesia. Ini betul-betul radio Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan radio Nusantara. Saya orang televisi, jadi saya kurang sekali memahami mengenai radio, dan saya baru sadar bahwa radio sangat powerful dan luar biasa.

Saya memang dari SMA bercita-cita menjadi seorang jurnalis, kemudian waktu itu saya tertarik menjadi jurnalis TVRI karena ada dukungan dari teman kuliah, dan akhirnya saya di terima di TVRI. Saya ingin menjadi seorang jurnalis karena jurnalis adalah orang yang tahu segala hal walaupun sedikit-sedikit, orang yang tahu pertama kali setiap ada peristiwa terjadi, serta bisa bertemu, berkenalan, menyapa, bersama dengan siapa pun di republik ini dan dimana saja. Jadi ini adalah pekerjaan yang sangat menarik.

Kedua, jurnalis selalu mencari kebenaraan. Tidak ada jurnalis yang asli mencoba untuk berbohong karena program seorang jurnalis adalah truth nothing but the truth, harus benar-benar yang benar dan bukan yang salah, inilah yang memotivasi saya.

Kemudian mengenai televisi (TV). TV adalah sebuah media terbaru sebelum adanya media sosial. Televisi mengeluarkan output audio dan visual, sehingga lebih menarik orang untuk melihat dan kompleksitasnya juga banyak secara teknis maupun programmatic. Dalam pertelevisian kemampuan kita untuk menyampaikan berita juga sangat khusus karena tidak hanya suara saja, tetapi juga gambar yang bagus.

Akhirnya saya merasa berada dalam dunia yang memungkinkan banyak orang untuk menonton program-program kami. Itulah yang mendorong saya untuk terus berkecimpung, larut, teracuni dan akhirnya terlena dalam dunia pertelevisian. Saya kira saya tidak akan pindah profesi lagi dalam seusia ini.

Dari dulu saya adalah penonton TV, sehingga saya sudah sangat kenal dengan Ishadi SK. Pertama kali Indonesia mempunyai stasiun televisi yaitu TVRI pada zaman Asian Games 1964, saya sudah menyaksikan Anda menjadi tokoh dalam pemberitaan TVRI.

Saya kagum dengan Ishadi SK karena melakukan kegiatan dalam berbagai zaman televisi di Indonesia, dari mulai satu channel sampai multi-channel, dari mulai penguasaan total oleh negara menjadi penguasaan oleh pasar dan dibarengi dengan segala macam kerumitannya. Namun Ishadi tetap bisa memelihara keseimbangan dan berada di atas semua kekisruhan itu. Bagaimana caranya Anda melakukan itu?

Saya sebenarnya lebih menghargai Wimar Witoelar karena Anda betul-betul seperti moto yang saya miliki, yaitu hidup adalah perjalanan. Jangan pernah berhenti dan jangan pernah merasa lelah sampai waktu menghentikan.

Betul sekali, saya setuju dan terima kasih sekali.

Jadi kita sama-sama sehati.

Kemudian TV di Indonesia berkembang dan Alhamdulillah saya diberi waktu oleh Tuhan untuk terus menerus di TV, mungkin karena saya memang tidak mempunyai talenta lain. Saya sudah mencoba segala macam pekerjaan di luar TV dan tidak sanggup.

Bagi saya, TV itu menarik karena kita berada dalam sebuah lingkungan yang membuat kita terus menerus menghadapi situasi yang baru. Banyak sekali permasalahan di TV dari isi programnya, kritikan dan tantangannya, serta tuntutan dari para penonton TV khususnya, meskipun mereka tidak harus bayar saat menontonnya.

Kemudian ditantang dengan teknologi TV yang terus menerus baru dan persaingannya begitu ketat. Kalau teknologi kita ketinggalan maka tidak akan ada yang menonton. Yang semula analog menjadi Standard Digital Television (SDTV), naik menjadi High Definition Television, kemudian naik lagi menjadi Ultra High Definition Television, dan itu akan terus berubah.

Yang tadinya hitam putih menjadi warna, dan kita tidak bisa bertahan dengan hitam putih. Sebentar lagi juga digital dan kita tidak bisa bertahan di analog karena tidak akan ada yang nonton. Jadi kita dipacu terus untuk kerja keras menghasilkan uang yang lebih banyak yang bisa menghasilkan teknologi dan membeli acara yang lebih bagus.

Bayangkan harga acara World Cup 10 tahun lalu dengan sekarang naik hampir 20 kali lipat. Hal tersebut karena persaingan. Misalnya, kita tidak mau membayar sesuai harga yang ditentukan maka akan diberikan ke pihak lain yang pasti banyak yang mau. Tapi penonton tidak mau tahu hal-hal seperti itu. Kalau kita tidak siaran World Cup, maka semua akan marah dan TV kita bisa dibakar. Inilah yang menjadi tantangan yang akhirnya menarik perhatian saya.

Hidup kalau tidak ada tantangan percayalah tidak akan menarik. Anda sudah sangat kaya raya tetapi tidak ada tantangan maka tidak akan menarik. Jadi karena tantangan itulah yang membuat saya bertahan.

Mengenai perkembangan TV, saya mengalami dari TVRI kemudian bekerja di TV swasta sampai sekarang. Saya beruntung karena memang sewaktu saya di TVRI saat itu TVRI masih monopoli, enak kerjanya, tidak ada yang marah-marah. Kalau tidak mau dan tidak suka maka tidak usah ditonton. Saat itu kita mempunyai kekuasaan besar atau bisa dibilang love or leave it. Jadi kalau Anda suka silakan ditonton atau tinggalkan karena kita memang satu-satunya stasiun saat itu, tetapi kita tetap masih mempunyai tanggung jawab.

Tanpa ada saingan maka menjadi tidak ada kompetisi, tidak ada pertandingan, tidak ada perbedaan, dan tidak ada alternatif. Sewaktu saya menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Radio, Televisi, dan Film di Departemen Penerangan, saya pergi ke Medan dan di sana tidak ada yang menonton TVRI. Mereka menonton TV3 (TV Malaysia).

Ketika saya di lepau (warung) saya bertanya, "Mengapa tidak ada TVRI di sini, Bang?" Mereka menjawab, "Memangnya masih ada TVRI, Pak?" Besoknya saya membuat press conference, saya bicara bahwa menonton televisi tetangga berbahaya bagi kesatuan dan persatuan Republik Indonesia. Kemudian saya dimarahi oleh Dubes Malaysia waktu itu.

Jadi artinya bila ada persaingan akan membuat itu lebih bagus. Kemudian diizinkan berkembang televisi swasta. Ada lima TV swasta waktu itu yaitu RCTI, SCTV, INDOSIAR, ANTV, dan TPI.

Waktu itu saya sudah pulang dari sekolah di Amerika, sehingga sudah mengerti mengenai pertelevisian, dan sudah sekolah juga di Jerman. Kemudian saat saya bertemu dengan Menteri Penerangan Harmoko, saya mengatakan, "Lima itu terlalu banyak, pasar kita tidak mungkin bisa menampung lima stasiun TV swasta sekaligus. Saya tidak ingin mengajari Pak, tapi di Amerika saja hanya tiga national network-nya yaitu CBS, NBC, dan ABC. Di Korea ada dua yaitu TBS dan NBC. Hongkong ada dua yaitu TVB dan ATV. Jerman ada dua yaitu ARD dan WDR, Malaysia ada tiga yaitu RTM 1, RTM 2, TV pemerintah dan TV 3. Singapore ada satu. Australia ada empat yaitu ABC, TV7,TV9,TV10, sedangkan kita ada lima. Negara berkembang tidak bisa seperti itu." Menteri Harmoko berkata, "Tidak usah banyak bicara, jalani saja."

Kemudian reformasi, saya menjadi Dirjen dan menterinya adalah Yunus Yosfiah. Kita diminta untuk membuat lima stasiun TV lagi. Saya bertanya-tanya apakah tidak terlalu banyak nantinya. Harmoko berkata, "Kita konsolidasi saja mereka, misalnya mereka mungkin sudah harus ditinggalkan, sehingga kita harus push mereka untuk menyerahkan ke owner yang baru atau dijual dengan harga pasar supaya mereka tidak kehilangan. Dari sisi politik kita perlu orang yang berbeda pendapat artinya harus reformis. Dulu pada zaman Orde Baru ada lima stasiun, sekarang zaman reformasi harus ada lima lagi atau kalau perlu 10 lagi."

Menurut saya, dia tidak mengerti mengenai pertelevisian, tetapi akhirnya jadilah 10 stasiun televisi baru. Kemudian apa yang terjadi? Karena ke 10 stasiun ini tidak bersaing akhirnya terkonsolidasi sehingga satu pemilik memiliki banyak stasiun seperti MNC Grup terdiri dari stasiun RCTI, GLOBAL, dan MNC (yang tadinya TPI). Grup kedua yaitu Trans Media terdiri dari Trans TV dan Trans 7. Grup EMTEK terdiri dari SCTV dan Indosiar. Grup Viva terdiri dari TV One dan ANTV. Kemudian Surya Paloh memiliki stasiun Metro TV.

Tapi mudah-mudahan prediksi saya salah bahwa nanti akhirnya hanya akan ada tiga stasiun televisi karena memang persaingan begitu ketat. Di AS saja tiga stasiun dan sekarang empat karena ada FOX. AS adalah negara yang begitu besar. Apakah kita yang negara berkembang berani untuk memiliki lima stasiun televisi? Seperti itulah rasionalnya. Namun 10 stasiun televisi yang sudah ada ini silakan bersaing dan berkembang karena persaingan begitu ketat.

Menarik sekali, terlihat bagaimana gurih dan serunya cerita televisi. Apalagi sekarang dengan adanya lima grup televisi, yang menurut prediksi Ishadi SK lama-lama akan menjadi tiga atau akan ada shake out. Bagaimana Anda akan menyikapinya?

Kita harus lebih baik. Saya berada di salah satu grup. Saya ketua umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI). Tadi tiga TV bukan menakut-nakuti, tetapi kemungkinan. Kemudian nanti ada lagi digital dan ini kesempatan lagi untuk konsolidasi. Nanti kita lihat apa yang terjadi. Tetapi prinsipnya adalah televisi itu padat modal. Awalnya sudah mahal sekali untuk membangun televisi kemudian membangun pemancar di seluruh Indonesia. Saat ini sudah ada 50 pemancar. Sementara meskipun padat modal, bisnis modalnya tergantung dari iklan. Jeleknya di Indonesia sekarang ini adalah iklan itu terpusat di dua kota yaitu Jakarta dan Surabaya.

Sekitar 60 persen dari seluruh iklan di Indonesia ada di Surabaya maupun Jakarta. Jadi sebetulnya kalau boleh kita membuat TV hanya di Jakarta atau Surabaya saja, selesai. Tetapi kenyataannya tidak, kita diwajibkan untuk seluruh Indonesia karena kita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jadi memang harus dikaitkan ke sana karena hanya sebesar itu perebutan iklannya sehingga menjadi semakin ketat di kedua kota ini. Daerah-daerah lain kita tidak mungkin dapat mendapatkan iklan. Kalau untuk radio lokal dan televisi lokal masih bisa karena mereka tentu rate card-nya lebih rendah, sedangkan di Jakarta bisa sampai Rp 50 juta per 30 detik.

Pada dasarnya TV nasional meraih iklan dan mensubsidi (quote, unquote), penonton-penonton di daerah supaya mereka bisa menikmati program kita yang kualitasnya sangat baik. Dikatakan kualitasnya sangat baik karena kita bersaing sangat ketat dan teknologinya terus menerus berkembang.

Jadi ini situasi yang harus kita hadapi karena persaingan yang begitu ketat, akhirnya sering kali mengikuti. Misalnya, saat senang acara dangdut maka semuanya membuat acara dangdut, saat senang sinetron maka semuanya sinetron, lagi senang variety show maka semuanya variety show, dan sebagainya. Kemudian karena banyak sekali kejar tayang, karena desakan program banyak sekali, jujur harus saya sampaikan bahwa sering kali kualitasnya menurun. Ini menjadi bahan kritikan yang sangat tajam.

Menurut saya, kalau mengkritik untuk program silakan, tetapi jangan terus mengkritik bisnisnya. Kalau mereka berpikir ini karena TV dikuasai kapitalis, apakah memangnya ada TV yang tidak dikuasai kapitalis? Yang tidak dikuasai kapitalis mungkin hanya di Korea Utara, Kuba, dan Vietnam.

Itu dulu, Vietnam juga sudah mulai berubah.

Jadi inilah yang harus kita hadapi. Bagaiaman caranya? Dikontrol. Model bisnis kita dikontrol dalam arti harus bayar pajak. Kedua, harus jelas arahnya kemana. Ketiga, persaingannya harus sehat. Tetapi yang lebih harus dikontrol lagi adalah kontennya, walaupun pada dasarnya kita sudah banyak berubah.

Sebagai ketua umum ATVSI, saya melihat dari tahun lalu ke tahun sekarang, perbedaannya sangat drastis sekali. Misalnya, pada tahun lalu Trans TV, kalau tdak salah, mendapat peringatan atau teguran sebanyak 1.500 kali. Mungkin karena waktu itu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)-nya galak. Tetapi sekarang, KPI-nya sangat terbuka untuk dialog. Mereka datang ke kami. Jadi mereka juga tahu sehingga bisa memberi bimbingan, mana yang boleh dan mana yang tidak. Jangan seolah-seolah kita berada dalam dua kubu.

Kita harus terus-menerus berkomunikasi, sehingga akhirnya mendapatkan hasil akhir yang bagus. Saya yakin pada akhirnya penonton semakin pintar. Pertama, semakin pintar. Kedua, sekarang mereka sudah mempunyai alternatif, yaitu media sosial. Anak-anak umur 14 tahun ke bawah, sudah tidak menonton TV lagi, mereka menonton di media sosial, dan gadget. Itu sudah terjadi karena sangat gampang, dengan handphone mereka sudah bisa melihat program sekarang.

Ini mudah-mudahan akan menjadi penyadar untuk seluruh stasiun TV. Time has change very fastly, has been changing very fastly. Apalagi sekarang kita tidak tahu apa yang terjadi. Jadi kita harus siap-siap untuk memberikan entertainment, hiburan yang bagus dan berkualitas. Saya yakin mereka akan ke sana. Saya melihat Metro TV sudah berubah banyak dan bagus, kemudian Berita Satu juga sudah berubah banyak dan bagus.