Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ayu Kartika Dewi

Tiga Minggu Belajar Toleransi

Edisi 1111 | 17 Jul 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan berbicara dengan orang yang sangat menarik dengan kegiatan yang sangat menarik yaitu Ayu Kartika Dewi dengan kegiatannya dalam wadah SabangMerauke.

Kartika Dewi mengatakan SabangMerauke adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia. Kita mengambil anak-anak dari seluruh Indonesia, kita seleksi dan kemudian selama liburan sekolah kita titipkan di sebuah keluarga yang beda agama dan etnis. Tujuannya adalah supaya mereka mengalami interaksi, sehingga ketika mereka kembali ke daerahnya lagi harapannya adalah agar mereka bisa menjadi duta perdamaian. SabangMerauke sebenarnya adalah sebuah singkatan dari Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali.

Ada tiga nilai pada program SabangMerauke yaitu, toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesia-an yang kemudian diturunkan menjadi kurikulum selama tiga minggu. Misalnya untuk nilai toleransi, kita ada kunjungan ke tempat-tempat ibadah yang berbeda dan anak-anak bisa bertanya apa saja. Untuk nilai pendidikan kita mengajak mereka ke kampus kakaknya masing-masing, mereka bisa ikut kelasnya, perpustakaan, dan bertemu serta mengobrol dengan mahasiswa lain.

Sedangkan untuk nilai ke-Indonesia-an, misalnya, ada kunjungan ke museum, kemudian bertemu dengan veteran-veteran perang, dan sebagainya. Intinya, banyak sekali pengalaman yang didapatkan oleh anak-anak ini selama tiga minggu mengikuti program SabangMerauke.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Ayu Kartika Dewi.

Pertemuan pertama saya dengan Ayu terjadi dalam pertemuan yang mencoba membangkitkan semangat keragaman yang sekarang ini sangat penting, mengingat ada gejala-gejala bahwa Indonesia mulai lupa akan hak hidupnya sebagai negara yang plural. Rupanya Ayu Kartika sudah menghadapi masalah keragaman dengan kegiatan kongkrit dalam organisasi SabangMerauke. Bagaimana kegiatan Anda tersebut yang sudah dilakukan sejak 2012?

Jadi intinya SabangMerauke (SabangMerauke.id) adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia. Kita mengambil anak-anak dari seluruh Indonesia, kita seleksi dan kemudian selama liburan sekolah kita titipkan di sebuah keluarga yang beda agama dan etnis. Tujuannya adalah supaya mereka mengalami interaksi, sehingga ketika mereka kembali ke daerahnya lagi harapannya adalah agar mereka bisa menjadi duta perdamaian. SabangMerauke sebenarnya adalah sebuah singkatan dari Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali.

Berapa orang atau pelajar yang terlibat dalam program ini sejak 2012 sampai sekarang?

Setiap tahun kita membawa 15 anak. Tahun pertama kita ada 10 karena masih dalam masa percobaan. Tahun berikutnya ada 15. Jadi yang terlibat ada 15 anak (Adik SabangMerauke), 15 pendamping (Kakak SabangMerauke), dan ada 15 family SabangMerauke, yaitu keluarga angkat dimana anak-anak ini ditempatkan di dalamnya.

Apakah anak-anak ini adalah anak sekolah?

Ya betul, di sini anak-anak yang dimaksud adalah anak Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pada waktu mereka menjalani program ini di daerah lain, tentunya sekolah mereka pun juga pindah. Apakah sekolah lama mereka mau melepaskan mereka selama 3 minggu dan sekolah baru mau menerimanya?

Biasanya ini dilakukan ketika liburan sekolah, jadi tidak ada sekolah baru yang ditempati. Kita ada kurikulumnya, jadi selama tiga minggu itu mereka ada aktivitas.

Apa inti dari kurikulum tersebut?

Ada tiga nilai yaitu toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesia-an yang kemudian diturunkan menjadi kurikulum selama tiga minggu. Misalnya untuk nilai toleransi, kita ada kunjungan ke tempat-tempat ibadah yang berbeda dan anak-anak bisa bertanya apa saja. Untuk nilai pendidikan kita mengajak mereka ke kampus kakaknya masing-masing, mereka bisa ikut kelasnya, perpustakaan, dan bertemu serta mengobrol dengan mahasiswa lain.

Sedangkan untuk nilai ke-Indonesia-an, misalnya, ada kunjungan ke museum, kemudian bertemu dengan veteran-veteran perang, dan sebagainya. Intinya, banyak sekali pengalaman yang didapatkan oleh anak-anak ini selama tiga minggu mengikuti program SabangMerauke.

Apakah mereka harus tinggal di lingkungan keluarga yang beragama lain, dan apakah itu sudah diketahui sejak awal?

Mereka akan ditempatkan di keluarga yang berbeda agama dan etnis. Hal tersebut juga sudah diketahui sejak awal. Jadi orang tua dan gurunya juga menandatangani surat pernyataan yang akan bersedia bahwa anaknya ikut program SabangMerauke dan akan tinggal di rumah keluarga yang berbeda agama dan etnis.

Apakah Ayu melihat ada banyak keluarga yang merasa perlu pengalaman lintas agama itu?

Sepertinya banyak sekali karena sampai sekarang kita selalu menerima banyak sekali pendaftar yang mau ikut program ini. Setiap tahun bisa ratusan bahkan lebih padahal slotnya hanya 15 anak.

Apa yang membuat anak-anak mau mengikuti program tersebut? Apakah mereka ikut karena direkomendasikan oleh orang tuanya atau ada juga keinginan untuk mengetahui lingkungan yang lain?

Mungkin kedua-duanya, ada anak-anak yang pernah mendengar teman-teman atau kakak-kelasnya pernah ikut program SabangMerauke sehingga mereka ingin ikut juga. Kemudian karena proses kita dalam menyebarkan informasi bekerja sama dengan banyak jaringan, sehingga biasanya orang-orang inilah yang menceritakan kepada murid-murid SMP bahwa ada program SabangMerauke. Mereka bisa ikut program ini ke Jakarta selama tiga minggu dan sebagainya.

Bagaimana faktor lingkungan sosialnya, misalnya dari segi kotanya, orang dari lingkungan terpencil kemudian tinggal di daerah yang berkembang dan sebaliknya? Apakah itu menjadi pertimbangan dan diamati?

Yang menjadi faktor utama kita dalam memilih anak-anak adalah kita memastikan bahwa ketika anak-anak ini pulang dampaknya akan besar. Misalnya, dalam memilih anak-anak selalu ada anak-anak yang berasal dari daerah pasca konflik, sehingga ketika anak-anak ini pulang akan ada cerita indah. Bisa juga dari daerah yang tenang-tenang saja tetapi sebenarnya sangat homogen, sehingga ketika anak-anak ini pulang dia bisa membawa cerita yang mencerahkan.

Biasanya kita memfokuskan seperti itu, kalau mengenai kondisi ekonomi biasanya kita tidak terlalu mempertimbangkan karena biasanya ketika sudah sampai di Jakarta semuanya akan ternormalisasi.

Apakah anak-anak yang menjalani program ini sempat dipantau kelanjutannya, misalnya, dimana sekarang mereka berada dan apa kegiatannya?

Setiap Adik SabangMerauke atau setiap anak akan dipasangkan dengan satu kakak pendamping dan satu keluarga. Kakak pendamping dan keluarga ini tentu saja karena mereka sudah menjadi satu bagian keluarga diharapkan hubungannya akan terus jalan. Mereka diminta untuk memonitor progres si anak selama satu tahun setelah anak-anak ini pulang. Biasanya setelah satu tahun juga diamati dan dibantu mengenai apa yang anak ini bisa lakukan supaya dia bisa terus menyebarkan semangat toleransi.

Apakah tidak ada culture shock di sini, misalnya, orang dari tempat terpencil ke daerah yang ramai dan sebaliknya, atau mungkin culture-nya berbeda dengan yang di rumahnya, yang biasanya sering pergi ke sawah sedangkan di situ perginya ke mall?

Culture shock pasti ada, ketika anak-anak pertama kali datang pasti mengalami culture shock dan ketika mereka pertama kali pulang juga mengalami culture shock. Pasti akan berbeda sekali ketika dia sudah terbiasa, misalnya dia sangat homogen saat di desanya kemudian saat di SabangMerauke mereka bertemu dengan orang-orang dengan berbagai agama dimana dia bisa bertanya apa saja secara bebas. Ketika dia kembali lagi ke daerahnya yang mungkin kebebasan dia juga berbeda dengan yang pernah dialami di SabangMerauke, ini pasti culture shock-nya dua kali.

Apakah orang tua peserta program ini memang sudah mempunyai keprihatinan atau kebutuhan terhadap pengalaman beda agama atau diperkenalkan oleh SabangMerauke?

Kalau orang tua yang di desa biasanya mereka tertarik atau memperbolehkan anak-anaknya ikut SabangMerauke karena merasa ini adalah program pendidikan yang akan memperluas perspektif anak-anak. Biasanya tujuan utamanya bukan karena dia menginginkan anaknya belajar toleransi, tetapi supaya anaknya mendapatkan kesempatan melihat tempat lain dan belajar di program SabangMerauke.

Apakah dalam program ini anak-anaknya selalu dari desa kemudian dibawa ke tempat yang lebih maju?

Selalu dibawa ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Apakah ada yang mengalami culture shock negatif, misalnya, setelah tiga minggu dia pulang kemudian tidak mau lagi ke Jakarta. Bagaimana kira-kira respon mereka secara keseluruhan?

Di sini kita sangat berhati-hati sekali, setiap anak ada proses pendampingannya secara ketat. Misalnya, ada anak yang selama di SabangMerauke keluarganya lumayan hobi untuk memainkan gadget, kemudian ketika dia pulang pasti hal seperti itu sudah tidak bisa dilakukan lagi karena mungkin di sana tidak ada internet atau tidak ada listrik. Kadang-kadang hal seperti ini menjadi komplain anak-anak, maka dari itu proses pendampingannya masih dilanjutkan selama setahun ke depan supaya anak-anaknya bisa beradaptasi kembali dengan lingkungan dimana dia berada.

Apakah pemerintah atau media mengetahui adanya kegiatan ini?

Pemerintah dan media mengetahui kegiatan ini, kita juga lumayan sering diliput di beberapa media cetak dan televisi. Pemerintah juga banyak sekali yang ikut berkolaborasi dan berpartisipasi. Misalnya, ketika anak-anak ini berada di Jakarta biasanya kita melakukan kunjungan ke beberapa institusi.

Apa saja kurikulum atau kegiatan yang dilakukan selama tiga minggu mungkin bisa diceritakan?

Di awal saya sudah menyebutkan bahwa dalam kurikulum kita mengandung tiga nilai yaitu toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesia-an. Kegiatan yang dilakukan selama tiga minggu adalah pada pagi hari orang tua angkat akan mengantarkan anak-anak ke meeting point.

Apakah 15 orang ini bertemu dan berkumpul semua di Jakarta?

Bertemu. Jadi mereka ada 15 orang yang berada di 15 keluarga yang berbeda. Dari meeting point, mereka akan diajak tour selama satu hari. Misalnya, hari ini belajar tentang toleransi rumah-rumah ibadah, besok belajar tentang pendidikan sehingga mereka datang ke kampus. Kemudian besoknya belajar tentang ke-Indonesia-an yaitu mereka pernah bertemu dengan ketua KPK atau bertemu dengan menteri Pendidikan atau dengan berbagai kepala institusi yang lain. Jadi selama tiga minggu bermacam-macam kurikulumnya, misalnya ada juga kurikulum dimana anak-anak belajar tentang sex education, sehingga ketika mereka kembali maka mereka akan bisa menjaga dirinya sendiri. Ada juga belajar tentang entrepreneurial sehingga mereka bisa belajar untuk memecahkan permasalahan di daerahnya.

Sore hari setelah kegiatan selesai mereka kembali lagi ke meeting point, kemudian orang tua angkatnya menjemput dan kembali ke rumah keluarga angkatnya masing-masing. Biasanya masa-masa mereka berinteraksi dengan orang tua angkatnya adalah pada malam hari atau ketika weekend.

Apakah dalam tiga minggu itu sudah bisa tercapai hubungan hangat antara si anak dan keluarga angkatnya?

Biasanya sudah, namun beberapa hari pertama pasti akan canggung dan takut karena mungkin anaknya pertama kali bertemu dengan orang yang berbeda agama dan etnis. Pasti ada gesekan-gesekan di beberapa hari pertama, tetapi setelah itu biasanya suasananya langsung cair. Jadi ketika pulang pasti penuh dengan keharuan karena akan berpisah dengan anak yang baru mereka temui tetapi sudah ada rasa sayang. Banyak sekali cerita-cerita dimana orang tua angkat dan anak-anaknya masih berhubungan.

Tadi dikatakan bahwa orang tua tempat asal anak itu semangat untuk ikut program ini karena dianggap sebagai salah satu bentuk pendidikan. Apa motivasi dari keluarga penerima?

Mungkin ingin ikut serta dalam menjaga perdamaian Indonesia. Terlihat lumayan banyak keluarga-keluarga yang juga concern dengan kebhinekaan dan toleransi di Indonesia. Biasanya ada pengalaman pribadi, bisa jadi dia melihat atau membaca tindakan intoleransi atau dirinya sendiri yang mengalami perlakuan intoleran sehingga dia merasa harus ikut serta menjaga toleransi dan perdamaian di Indonesia.

Setahu saya ini adalah konsep yang sangat originil di Indonesia. Apakah betul belum pernah dilaksanakan sebelumnya?

Saya sebenarnya tidak tahu persis apakah sudah pernah ada sebelumnya. Tapi idenya adalah dari para co-founder-nya. Kami ada tujuh orang yang sebagian besar pernah mengikuti pertukaran pelajar internasional, ada yang ke Singapura, US, Jepang, Belgia, dan sebagainya. Jadi kami merasa bahwa pertukaran pelajar itu membuka cakrawala atau mata hati dan pikiran, sehingga kita mengetahui hal-hal yang bahkan sebelumnya kita tidak tahu. Kami merasa bahwa akan sangat berdampak seandainya anak-anak Indonesia diberikan kesempatan pertukaran pelajar, ikut pertukaran semacam ini dimana mereka langsung terjun di lingkungan yang berbeda tetapi antar daerah di Indonesia. Jadi belajarnya tentang toleransi.

Berapa kira-kira yang beragama Islam, Kristen atau agama lainnya dari 15 keluarga tersebut, atau mayoritasnya yang mana?

Saya tidak ingat pasti. Kalau yang mendaftar mayoritasnya adalah Islam. Itu adalah hal yang wajar karena memang mayoritas di Indonesia adalah Islam. Tetapi proporsi orang islam yang menjadi keluarga angkat lebih kecil daripada proporsi orang Islam di Indonesia karena kita juga harus mempertimbangkan bahwa anak-anak yang daftar pasti juga banyak yang Islam, dan kita ingin mengirim mereka di keluarga yang bukan Islam. Jadi memang harus kita pertimbangkan.

Bagaimana respon pemerintah? Apakah pada umumnya menganggap ini adalah suatu yang perlu dilanjutkan?

Kementerian Pendidikan sempat berdiskusi dengan kami dan SabangMerauke sempat diajak dalam proses diskusinya. Akhirnya mereka membuat program yang mirip sekali dengan SabangMerauke, nama programnya adalah Keluarga Sebangsa. Bedanya adalah kalau SabangMerauke untuk SMP, sedangkan KeluargaSebangsa untuk SMA.

Perbedaannya juga adalah kalau pemerintah sumber dananya tidak terbatas dan sangat banyak, sedangkan SabangMerauke pasti harus mencari sumber dana sendiri. Dari manakah sumber dana SabangMerauke?

Dari banyak orang, institusi, dan organisasi. Ada donasi individual, sponsorship dari perusahaan, donasi Corporate Social Responsibility (CSR). Jadi lumayan macam-macam sumber dananya dan kadang-kadang kita juga membuat fundraising sendiri.

Apakah masih bisa dilanjutkan dari segi sustainability dana dari 2012 sampai sekarang?

Bisa, walaupun caranya sangat tidak mudah. Misalnya, untuk tahun ini kami yakin dananya sudah terpenuhi. Jadi sebentar lagi anak-anaknya akan datang, sehingga kami mempunyai cukup uang untuk mendatangkan mereka dan memulangkannya kembali.

Pada waktu program ini dimulai kita belum merasakan ada krisis dalam solidaritas atau dalam toleransi, tetapi tahun ini kebetulan banyak yang kita rasakan terutama di DKI. Apa pengaruhnya pada program ini?

Kami jadi menyadari bahwa pekerjaan rumahnya (PR) masih banyak dan kami harus bekerja semakin keras.

Apakah dalam hal ini bekerja keras adalah dalam hal yang sama atau ada diversifikasi?

Tema utamanya tetap toleransi karena yang ingin kita jaga adalah bagaimana caranya Indonesia tetap toleran. Kalau selama ini kita melakukannya melalui pertukaran pelajar, tahun ini kita akan memulai dengan banyak aspek-aspek lain dengan tema utamanya tetap toleransi.

Apakah ini berarti belum tentu pertukaran pelajar?

Iya, belum tentu pertukaran pelajar.

Apakah sudah ada gagasannya?

Ada beberapa, misalnya salah satu yang sedang kita coba perjuangkan juga adalah untuk teman-teman disabilitas. Karena ketika kita berbicara toleransi, tidak hanya antar etnis dan agama tetapi juga bagaimana dengan teman-teman yang memiliki ability berbeda. Saat ini kita sedang membuat projek untuk advokasi teman-teman disabilitas, memastikan agar mereka juga bisa masuk ke dunia kerja formal karena sekarang banyak sekali teman-teman disabilitas yang bekerja di dunia informal.

Berikutnya yang sedang kita kembangkan dan sedang fundraising juga adalah bagaimana caranya agar kita bisa membuat dunia online kita lebih edukatif dan lebih sejuk. Misalnya, kita membuat sesuatu yang targetnya untuk anak-anak yaitu ada e-book atau interactive e-book untuk anak-anak, ada modul online untuk berpikir kritis, ada panduan untuk untuk orang tua, dan bisa juga kita bicara bagaimana caranya kita membuat konten-konten yang bertebaran di dunia online lebih edukatif dan lebih sejuk juga. Jadi nanti kita akan bekerja sama dengan berbagai komunitas dan organisasi untuk bisa memperbanyak konten-konten yang positif di Indonesia.

Apakah ada saran-saran dari donatur individu dan perusahaan yang sudah bekerja sama sejak 2012 mengenai bagaimana melanjutkannya atau bantuannya itu hanya sekali saja?

Sebagian besar bantuannya hanya satu kali. Ada beberapa organisasi yang beberapa tahun ini masih terus membantu dan kami sangat mengapresiasinya, tapi lumayan banyak juga yang satu waktu saja karena biasanya ada pergantian pimpinan.

Apakah ada sumber dana dari partai politik atau organisasi massa?

Tidak ada.