Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Harucha Tamblica Aly

Gejala Depresi

Edisi 1102 | 15 Mei 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Harucha Tamblicha Aly, psikolog dari Rumah Sakit Umum Bunda, Jakarta. Menurut Harucha, depresi merupakan akibat dari stres yang berkepanjangan. Depresi juga dapat terjadi pada semua usia, baik itu anak-anak maupun orang dewasa.

Harucha mengatakan depresi bisa terjadi pada siapa saja, hanya respon perilakunya berbeda pada setiap segmennya. Pada dasarnya, seseorang yang sedang mengalami depresi mempunyai gejala tertentu. Misalnya menjadi sulit tidur, tidak nafsu makan, kemudian ia tidak lagi melakukan hal-hal yang ia sukai. Perilaku depresi pada laki-laki maupun perempuan pun berbeda. Jika perempuan cenderung menyalahkan dirinya sendiri ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan, maka laki-laki cenderung berperilaku lebih agresif dan destruktif. Sedangkan pada anak-anak, respon yang timbul cenderung pada respon fisik, misalnya tiba-tiba sakit kepala atau sakit perut.

Menurut Harucha, pada level tertentu jika tidak ditangani dengan baik, maka depresi dapat membahayakan si penderita. Pada tingkat ini mereka merasa sudah tidak berdaya sehingga mempunyai keinginan yang kuat untuk bunuh diri. Kondisi kesepian, merasa tidak dibutuhkan lagi atau pun sakit secara fisik yang berkepanjangan merupakan kondisi yang memicu timbulnya keinginan penderita depresi untuk melakukan bunuh diri.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Harucha Tamblicha Aly sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar.

Apa pengertian paling sederhana mengenai depresi?

Secara klinis, depresi artinya stres yang berkepanjangan. Pencetus dari stres adalah rasa sedih atau rasa hampa. Pada populasi tertentu, respon stres dapat berupa perasaan agresif, marah, atau perasaaan menangis yang berkepanjangan. Misalnya stres berkepanjangan pada wanita yang menikah, perasaan mereka cemas sehingga menangis terus. Tapi kalau pada laki-laki tidak tampak perasaan cemas, tapi justru perasaan marah yang berkepanjangan, agresif, atau tindakan-tindakan yang sembrono atau sembarangan. Misalnya, mengemudi tidak mengikuti peraturan lalu lintas.

Apakah itu respon terhadap stimulus dari luar?

Tidak. Saya pikir itu adalah respon terhadap suatu kondisi yang membuat mereka merasa terhimpit dalam hidup. Persepsi atas kondisi terhimpit bagi tiap orang itu berbeda satu sama lain.

Dalam pengalaman Anda, apakah pernah bertemu orang yang memiliki profil tidak cenderung depresi, tapi tetap mengalami depresi juga?

Saya melihat, faktor kesepian pada orang yang tidak menikah asumsinya akan sangat tinggi. Ini terjadi ketika dia tidak memiliki kemampuan untuk bersosialisasi yang tinggi. Jadi faktor kesepian yang tinggi dapat memicu depresi.

Apakah depresi juga dipengaruhi faktor usia?

Profil umur saya pikir tidak. Misalnya, seorang anak mengalami trauma karena orang tuanya bercerai, atau pernah diperkosa. Kemampuan dia dalam beradaptasi terhadap stres yang timbul dari dalam atau luar dirinya bisa menyebabkan dia depresi.

Sebenarnya depresi bisa terjadi pada siapa saja, hanya respon perilakunya berbeda pada setiap segmennya. Kalau pada anak-anak, responnya lebih pada pada respon fisik. Misalnya, tiba-tiba dia sakit kepala, sakit perut. Kalau pada pria, respon biasanya mereka lebih mudah marah.

Apakah mereka yang suka tertawa kemungkinan tidak akan depresi?

Belum tentu karena bisa juga depresinya disembunyikan. Kalau pada ibu-ibu, justru keluarnya lebih pada perasaan cemas, atau menangis.

Apa memang ada perbedaan perilaku stres berdasarkan gender karena secara popular masyarakat sering ada anggapan bahwa perempuan lebih mudah cemas, sedangkan lelaki lebih cuek?

Iya, ada perbedaan gender. Perempuan cenderung lebih banyak menyalahkan dirinya sendiri ketika mereka dihadapkan pada situasi yang membuat mereka depresi. Tapi kalau laki-laki, mereka lebih menyalahkan orang lain. Laki-laki itu biasanya punya kemampuan mengontrol marah yang rendah. Mereka akan lebih agresif dan destruktif, sehingga terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Selain itu, KDRT juga terjadi sebagai respon karena perasaan marah yang berkepanjangan.

Apakah tanda-tandanya sehingga seseorang bisa dianggap sedang mengalami depresi?

Ada tanda-tanda yang bisa dilihat secara umum, misalnya perubahan pola tidur. Agar bisa memastikan apakah perubahan pola itu karena insomnia atau hipersomnia, maka harus dipastikan oleh dokter terlebih dahulu. Kemudian terjadi perubahan pola makan, apakah terlalu banyak makan atau tidak mau makan. Lalu menurunnya minat pada kegiatan-kegiatan yang dulunya mereka sukai. Misalnya dulu suka main golf, sekarang malah tidak suka sama sekali.

Kalau pada anak usia sekolah, misalnya mereka tidak mau sekolah lagi, sulit bangun pagi, sakit kepala, atau sakit perut. Jika durasi hal ini sudah berlangsung lebih dari enam bulan, maka sudah bisa dikategorikan sebagai depresi klinis. Mereka kehilangan konsentrasi, sehingga secara otomatis prestasi di sekolah menurun. Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kita mengalami depresi atau tidak adalah dengan mengidentifikasi apakah kita sudah kewalahan dalam melihat situasi hidup. Secara umum memang ada science symptoms (gejala ilimiah-red), hanya saja outputnya yang mungkin tidak dipahami oleh orang awam.

Mana yang lebih sulit mengidentifikasi, kasus pada anak sekolah atau pada orang dewasa?

Kalau anak sekolah lebih pada observasi behavior atau melakukan observasi perilaku lebih pada keluarga. Apakah perilaku anak yang biasanya dilakukan tapi tiba-tiba dalam waktu 2-3 bulan tidak dilakukan lagi. Jadi tanda-tandanya seperti itu tidak dilakukan lagi, berapa lama, kemudian apakah berpengaruh pada kehidupan mereka. Jika anak sekolah apakah berpengaruh pada nilai-nilainya, kalau bekerja apakah mengganggu prestasi kerja, kalau sebagai ibu rumah tangga apakah dia bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri.

Apakah depresi itu hanya mengganggu atau bisa berbahaya, bahkan mengancam keselamatan?

Depresi pada level-level tertentu membuat kita tidak berdaya, merasa putus asa, pasrah, hopeless atau helpless. Hal itu menyebabkan seseorang merasa tidak ada jalan lain untuk mengatasi rasa tidak berdaya atas kendala dalam hidupnya. Dengan perasaan tidak berdaya ini, mereka hanya mempunyai pandangan seperti tunnel vision (Pandangan seperti terowongan-red). Jadi mereka hanya melihat satu jalan keluar untuk mengakhiri depresi dalam hidupnya, yaitu dengan bunuh diri. Indikator orang sudah masuk fase ingin bunuh diri, yang saya tahu, biasanya mereka mulai melakukan persiapan. Mereka mulai menghubungi saudara yang jauh, kemudian meminta maaf karena mereka mempunyai salah, padahal hal ini tidak pernah dilakukan sebelumnya. Ini terjadi karena mereka sadar bahwa mereka sudah tidak mau hidup.

Jadi orang yang tiba-tiba meminta maaf itu bisa berbahaya juga, betulkah?

Bisa saja. Tapi itu tidak berarti selalu jadi indikator bunuh diri. Kemudian indikator lainnya yang bisa kita lihat adalah mereka mulai mengucapkan selamat tinggal dan membagi-bagikan warisan. Bahkan mungkin dia mengatakan, "Sepertinya hidup kalian akan lebih mudah tanpa saya". Jadi semacam ritual-ritual persiapan yang membuat kita berpikir, "Kok kamu seperti begini?"

Seandainya kita melihat orang terdekat kita mulai mengalami tanda-tanda depresi, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Kalau menurut saya, coba diajak bicara pelan-pelan. Apakah orang ini merasa ada yang berubah di dalam dirinya. Berubah artinya, yang dulunya mungkin rajin pergi ke sekolah atau kerja sekarang menjadi malas-malasan. Apakah dia merasa ada perubahan yang besar dalam dirinya. Dia merasa lebih cemas, lebih banyak menangis, atau tidak termotivasi dalam hidup. Kemudian perlunya dukungan dari keluarga. Secara umum, pria lebih cenderung tertohok jika kita beritahu bahwa mereka mengalami tanda-tanda depresi. Karena itu, agar mereka tidak tersinggung, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter umum.

Mengapa memeriksakan diri ke dokter umum dulu bukan ke psikolog?

Dokter umum bisa menganalisa gejalanya sehingga bisa mengeliminir sebab-sebab secara medis. Lalu tergantung sosial ekonomi juga dan pendidikan. Saya asumsikan, semakin tinggi pendidikan maka seharusnya edukasi tentang kesehatan mentalnya lebih tinggi.

Ketika dalam satu ruangan, apakah Anda bisa melihat seseorang sedang mengalami depresi berdasarkan pengamatan tipologi secara visual?

Analisa harus dilakukan melalui pembicaraan face to face, atau one-on-one interview. Dari pembicaraan yang panjang dan mendalam tersebut, kita baru bisa melihat gejala depresi itu keluar atau tidak. Lalu harus ada observasi dari pihak keluarga.

Banyak buku yang membahas mengenai psikologi. Apakah Anda termasuk yang menganjurkan untuk membaca literatur mengenai psikologi sebagai pegangan?

Kalau menurut saya, sebenarnya membaca buku mengenai psikologi itu tidak apa-apa karena untuk menambah pengetahuan. Mungkin hampir semua orang mengetahui gejala depresi. Yang menjadi permasalahan, mereka berusaha mendiagnosa gejala depresi pada dirinya sendiri tanpa konsultasi kepada orang yang profesional. Di psikologi sendiri, ada semacam alat ukur yang bisa mendeteksi secara valid apakah seseorang terkena depresi atau tidak.

Lalu bagaimana mengenai psikotes, baik psikotes yang dilakukan oleh ahli di klinik maupun yang ada di internet?

Kalau self-test yang ada di internet, lebih mengacu pada seberapa banyak tanda-tanda depresi itu keluar. Tapi kalau ingin mendapatkan hasil yang valid menurut psikologi, memang ada alat ukur tersendiri. Tes ini tidak bisa lakukan oleh orang awam karena harus memiliki license.

Anda sudah tinggal di Amerika Serikat (AS) selama 10 tahun. Berdasarkan pengamatan Anda, apakah ada perbedaan kasus bunuh diri di Amerika dengan di Indonesia karena menurut saya tingkat bunuh diri di Indonesia akhir-akhir ini makin meningkat.

Saya pikir hal ini berkaitan dengan exposure karena kasus bunuh diri di belahan dunia barat lebih sangat terekspos. Mengenai Indonesia, terutama Jakarta, peran media sangat berpengaruh terutama media sosial. Jadi melalui media sosial kasus bunuh diri mulai banyak terekpos oleh publik. Saya juga menyikapi bahwa kebanyakan orang yang sudah tua atau Geriatric Population, memiliki tingkat risiko untuk bunuh diri yang sangat tinggi.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Kalau di Indonesia belum terlalu terekpos, mungkin karena masalah budaya dan juga kemampuan untuk mengekspresikan diri mereka. Tapi kasus ini di negara Barat itu sangat tinggi karena mungkin mereka merasa pada usia seperti ini tidak ada lagi yang memperhatikan mereka. Bisa saja mereka tidak punya pekerjaan, atau mungkin mereka sakit secara fisik.

Tapi Anda tidak mengatakan bahwa orang tua memiliki kecenderungan lebih untuk bunuh diri dibandingkan orang muda.

Artinya secara umum, kita bisa melihat bahwa ini bisa terjadi pada level usia manapun. Perbedaannya adalah apakah si orang ini mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap stres yang tinggi atau tidak. Menurut saya, kuncinya adalah lifestyle changing.

Mengenai buku-buku psikologi terjemahan dari luar negari, apakah masih relevan untuk diterapkan atau menjadi rujukan terhadap kasus-kasus di Indonesia?

Secara umum iya karena sejauh ini buku-buku kita masih mengacu pada dunia Barat. Hanya saya pikir secara umum kita harus tahu definisi depresi dan gejala depresi seperti apa.

Indonesia berada di transisi dari negara stabil tradisional menjadi modern. Apakah orang yang berpegang pada nilai tradisional akan cenderung mengalami stres di lingkungan yang modern?

Saya tidak mau mengeneralisir setiap orang dengan budaya mereka. Hal ini kembali lagi ke orangnya karena saya berpikir bahwa bagi setiap orang family suport is important.