Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Supriadi

Barisan Pemuda Penjaga Hutan Adat

Edisi 1095 | 30 Mar 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Wawancara Perspektif Baru kali ini dilakukan dari tempat Kongres Masyarakat Adat Nusantara, yaitu di Kampong Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara. Tamu kita adalah Supriadi, tokoh pemuda adat yang merupakan pemimpin dari Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) di desa Talang Mamak, Riau.

Menurut Supriadi, pemuda adat berperan untuk menggali sejarah di setiap komunitas adat. Kami memulainya dengan mengkoordir pemuda-pemudi adat di Indragiri Hulu, Riau, untuk mengali sejarah budaya yang ada di Talang Mamak. Kami melakukan gerakan-gerakan untuk menggali sejarah di setiap komunitas. Kami mulai berkunjung ke hutan keramat, menggali sejarah ke ketua adat, dan juga meyakinkan pemuda-pemudi bahwa betapa pentingnya adat dan budaya di setiap komunitas.

Supriadi mengatakan sekarang wilayah adat kami sudah ditempati oleh perusahaan-perusahaan yang belum mempunyai izin, bahkan memang tidak ada izin sama sekali sehingga Riau menjadi daerah yang terbanyak bagi perusahaan yang tidak memiliki izin. Harapannya ke depan perlu ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat adat untuk mengupas tuntas permasalahan, baik dari konflik wilayah adat maupun kepercayaan. Dengan adanya kerjasama yang beriringan dengan pemerintah akan memudahkan kita untuk menyelesaikan persoalan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Supriadi.

Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) merupakan salah satu Organisasi Sayap dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang bergerak di bidang kepemudaan. Apa yang penting dari sayap kepemudaan ini?

Pemuda adat berperan untuk menggali sejarah di setiap komunitas adat. Kami memulainya dengan mengkoordir pemuda-pemudi adat di Indragiri Hulu, Riau, untuk mengali sejarah budaya yang ada di Talang Mamak. Pada 2013 BPAN Indragiri Hulu bergabung dengan BPAN Nasional, sejak itu kami melakukan gerakan-gerakan untuk menggali sejarah di setiap komunitas. Kami mulai berkunjung ke hutan keramat, menggali sejarah ke ketua adat, dan juga meyakinkan pemuda-pemudi bahwa betapa pentingnya adat dan budaya di setiap komunitas.

Anda dan kawan-kawan menggali sejarah di situs-situs dan wilayah keramat adat, apakah usaha tersebut dilaporkan atau diceritakan ke publik?

Sampai sekarang belum ada upaya untuk menyebarkan ke publik karena lokasi komunitas kita berasal dari pelosok-pelosok.

BPAN mengklasifikasikan pemuda adalah orang yang berusia 17 sampai 35 tahun. Berapa usia yang paling aktif?

Dari data yang kita dapat dari pengurus lama BPAN menunjukkan yang memenuhi syarat usia 17 sampai 35 tahun ada sekitar 30 orang. Setelah ada penggantian pengurus baru, dari kegiatan Jambore Pemuda Adat kita mendapatkan pemuda-pemudi di bawah usia 17, yaitu 14 sampai 16 tahun. Mereka sudah bergabung dan terlibat dalam beberapa kegiatan, tetapi belum terdaftar di BPAN.

Bagaimana kegiatan sehari-hari para pemuda-pemudi di dalam komunitas masyarakat adat?

Dari segi kehidupan, mereka banyak bertani, berkebun, menderes karet. Di sini yang menjadi perhatian kita untuk kawan-kawan di sana adalah mereka menjadi buruh di tempat mereka sendiri. Itu yang menjadi perhatian kita untuk pemuda-pemudi di Indragiri Hulu.

Apakah ada kegiatan lainnya selain berfokus pada studi sejarah?

Di luar kegiatan BPAN, mereka dalam keseharian memang belum mendapatkan ilmu atau pengalaman. Jadi mereka hanya menghabiskan waktu-waktu kosong selain pekerjaan bertani.

Bagaimana rasanya Supriadi berada di tempat pusat begitu banyak kegiatan seperti di Kongres Masyarakat Adat Nusantara ini?

Menurut saya, sangat menyenangkan karena kita bisa berkumpul bersama-sama dengan pemudat adat dari seluruh Nusantara.

Apakah Anda sudah berkeluarga?

Belum.

BPAN di Talang Mamak adalah salah satu dari beberapa komunitas. Dimana saja BPAN ada di Riau?

Di Riau BPAN baru tergabung satu Kabupaten di Indragiri Hulu. Kemarin memang ada kawan-kawan yang juga dari komunitas pencinta alam yang juga tertarik dengan organisai BPAN. Mereka memang ingin bergabung dengan BPAN, tapi kita juga menyesuaikan dengan anggaran dasar BPAN, yaitu tidak ada organisasi lain yang masuk ke organisai kita.

Saya mendengar BPAN sudah ada di beberapa komunitas masyarakat adat di tujuh region Nusantara yaitu di Papua, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Jadi nantinya ini akan menjadi jaringan yang sangat luas. Apakah Anda juga berhubungan dengan BPAN daerah lain selain di Kongres ini?

Dengan tujuh region ini kita memang merasakan memiliki banyak kawan. Jadi apabila ada permasalahan kita akan saling berkomunikasi dengan pengurus BPAN di setiap daerah maupun provinsi.

Anda terlihat sudah sangat berpengalaman, fasih berbicara. Barangkali di masyarakat Anda tidak banyak orang seperti Anda. Darimana Anda mendapatkan pengalaman itu sehingga dapat berorganisasi dengan baik?

Sewaktu masih SMA dan kebetulan di jurusan saya ada pelajaran geografi dan pemetaan. Pada waktu itu AMAN Indragiri Hulu melakukan pemetaan. Jadi saya pikir kalau di sekolah kita hanya mendapatkan materi, tapi kalau kita masuk organisasi AMAN maka kita bisa langsung praktek ke lapangan. Dari situ saya mulai tertarik dengan organisasi. Jadi setelah kita bergabung dengan AMAN kita diberikan pelatihan fasilitator di Kalimantan dengan kawan-kawan se-Nusantara.

Apakah teman-teman yang tergabung di dalam BPAN Talang Mamak mendapatkan informasi dari daerah lain? Jika iya, apa bentuknya, apakah dalam bentuk koran, internet, radio atau lainnya?

Kita mendapatkan informasi dari kawan-kawan, mereka ada juga yang mempunyai radio, internet, misalnya grup di facebook atau whatsapp. Di situlah kita semua menyampaikan informasi-informasi.

Kelihatannya minat dari pemuda yang tergabung masih sangat muda-muda yaitu banyak yang di bawah 17 tahun. Apa sebenarnya yang mereka cari dalam organisasi BPAN ini atau di Indonesia pada umumnya? Apa harapan mereka dari Indonesia?

Pada umumnya di Indragiri Hulu mereka yang berusia 14-16 tahun, berarti belum memenuhi syarat BPAN tetapi sudah bergabung dalam gerakan kita, adalah karena mereka selesai sekolah dasar (SD) tidak mendapatkan pendidikan lagi. Hal tersebut karena memang ada hambatan untuk mereka melanjutkan sekolah ke jenjang SMP atau SMA. Hambatan itu misalnya urusan administrasi seperti masalah akte, KTP, dan lain-lain. Itulah yang menjadi permasalahan sehingga mereka melakukan perjuangan, seperti menggali sejarah.

Jadi memang susah mendapatkan legalitas lengkap sebagai warga negara Indonesia karena administrasi negara barangkali tidak memberikan ruang untuk kolom agama atau kepercayaan?

Iya, itulah yang kita permasalahkan sekarang karena di Indragiri Hulu ada tiga kecamatan yang masih menganut kepercayaan. Sementara bila kita ingin melanjutkan pendidikan harus mendapatkan legalitas yang sah, sedangkan kepercayaan mereka belum terdaftar di negara sehingga sulit untuk mendapatkan legalitas tersebut. Mereka teguh dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianut, sehingga mereka lebih mementingkan kepercayaan daripada harus meningkatkan pendidikan.

Bagi negara hal ini tentu sangat penting, apakah mendahulukan peraturan negara yang sudah ada, atau menyesuaikan aturan negara dengan kenyataan yang ada di masyarakat, misalnya kepercayaan. Mana yang Anda setuju? Apakah Anda setuju bahwa kepercayaan memang perlu dipertahankan atau bahwa hukum negara yang harus ditegakkan melawan kenyataan di lapangan?

Menurut saya, kepercayaan ini lahir sebelum Indonesia ada. Jadi memang itulah yang harus kita tegakan walaupun memang Indonesia mempunyai hukum seperti harus mempunyai agama yang disahkan oleh negara yaitu salah satu dari tujuh agama. Sebelum ada negara ini kepercayaan di Talang Mamak sudah ada. Jadi itu perlu kita angkat juga karena kalau kita disuruh menganut kepercayaan yang sudah disahkan oleh negara maka otomatis kita sudah melakukan kriminalisasi terhadap masyarakat adat.

Setuju sekali. Jadi Anda mempunyai keyakinan yang teguh walaupun Anda pribadi tidak termasuk dalam penganut kepercayaan yang belum diakui negara, tapi anda mau memperjuangkan keteguhan hati untuk rekan-rekan masyarakat adat. Saya juga tahu dan merasakan bahwa negara itu diciptakan untuk manusianya, bukan menciptakan manusia untuk negara seperti tentara. Apakah Anda optimis ini akan berkelanjutan karena tentu ini tidak bisa diperjuangkan pemuda saja, harus perjuangan AMAN secara keseluruhan?

Pengurus AMAN daerah, AMAN provinsi Riau juga sedang berkoordinasi dengan pengurus besar AMAN di Jakarta untuk mengurus masalah kepercayaan yang ada di Indragiri Hulu.

Apakah di Kongres Masyarakat Adat Nusantara hal ini akan dibahas juga?

Kemungkinan besar kita akan bahas mengenai kepercayaan.

Ini adalah berita besar tentunya untuk media nasional bahwa pengikut atau orang yang berpegang pada kepercayaan yang sudah ada sebelum aturan-aturan negara ada berteguh untuk mempertahankannya. Jadi Anda akan mempertahankan pendapat ini di depan umum?

Iya, saya akan mempertanggung jawabkannya selagi memang ini kami anggap benar.

Berdaulat, mandiri, bermartabat. Nah, itu bukan hanya kata-kata kosong, Justru pengertian berdaulat, mandiri, dan bermartabat dituangkan dalam keyakinan Bang Supriadi dan teman-teman untuk mempertahankan status pengakuan kepercayaan. Daripada mengakui dan memaksa diri ikut aturan negara, aturan negara diharapkan disesuaikan, tetapi tentunya tanpa kekerasan. Apakah sudah ada atau belum kekerasan mengenai persoalan ini?

Kekerasan belum ada, tapi secara kepengurusan memang kita diintimidasi.

Apa harapan Anda sekarang untuk kerjasama masyarakat adat dengan pemerintah?

Harapan kami secara umum untuk Talang Mamak, sekarang wilayah adat kami sudah ditempati oleh perusahaan-perusahaan yang belum mempunyai izin, bahkan memang tidak ada izin sama sekali sehingga Riau menjadi daerah yang terbanyak bagi perusahaan yang tidak memiliki izin. Harapannya ke depan perlu ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat adat untuk mengupas tuntas permasalahan, baik dari konflik wilayah adat maupun kepercayaan. Dengan adanya kerjasama yang beriringan dengan pemerintah akan memudahkan kita untuk menyelesaikan persoalan.

Pemerintah harus beritikad baik karena memang memiliki kepentingan untuk menjaga pemeliharaan hutan terhadap perusahaan tanpa izin dan dari kesewenangan pejabat karena hutan adalah sumber daya nasional, sumber daya untuk semua orang. Apakah Anda merasa lebih mampu hidup pada hutan dan hidup di dalam hutan daripada pendatang-pendatang dari perusahaan-perusahaan besar itu?

Kami memang mampu menjaga wilayah adat kami dibandingkan pemerintah yang belum mampu untuk turun ke lapangan untuk melihat wilayah-wilayah adat yang terjangkau itu.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada akhir 2016 sudah menyatakan sejumlah tanah menjadi hutan adat karena tadinya hutan negara padahal itu bukan hutan negara. Presiden dan pemerintah juga memiliki target yang besar untuk pengalihan hutan ini. Apakah sanggup kalau rekan-rekan tentunya masyarakat adat punya hak untuk mengelola hutan?

Ya, sebenarnya sejak dulu kami yang mengelola hutan. Yang menjaga hutan adalah masyarakat adat. Seiring kehidupan masyarakat berjalan, sesuai yang disampaikan Bapak tadi bahwa itu menjadi milik negara tetapi bukan seperti itu. Itu karena sejak sebelum hingga setelah penjajahan Belanda memang wilayah adat kami memang masih utuh karena yang menjaganya masih masyarakat adat.

Jadi masyarakat adat bukan mau merebut hutan tetapi mau mengembalikan hak yang memang ada di situ.

Iya bisa dibilang begitu.

Lalu dalam perjuangan ini, apakah Anda memiliki banyak teman bicara mengenai hal-hal seperti ini?

Ada kawan-kawan yang membantu dari organisasi dan lembaga lain. Mereka yang membantu kita untuk menjalankan kegiatan-kegiatan.

Apakah Anda terbuka untuk bekerja sama dengan pihak luar?

Menurut saya, kerja sama terasa sangat membantu karena menyebarkan isu yang ada di Indragiri Hulu mengenai isu dan konflik permasalahan.

Apa Anda dan kawan-kawan ada target khusus di KMAN-V selain mengikuti, mendukung, dan membahas resolusi yang baru?

Target kami memang sangat besar dari segi pengakuan. Kita sudah diakui bahwa itu punya wilayah masyarakat adat, tetapi di lapangan kita belum dibuktikan. Nah, kami akan menargetkan bahwa setelah pulang dari kongres ini kami akan mendesak pemerintah untuk membuat SK atau Perda mengenai wilayah adat kami.

---oo000oo---