Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dr. Mada Sukmajati

Eropa Semakin Konservatif

Edisi 1093 | 30 Mar 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah Dr. Mada Sukmajati adalah lulusan Jerman dan spesialis di bidang politik, khususnya kepartaian. Sekarang dia mengajar di Universitas Gajah Mada (UGM). Kita membicarakan kondisi perpolitikan Eropa.

Mada Sukmajati mengatakan Sekarang Eropa sedang dihadapkan pada isu politik identitas. Dari pengalaman Eropa saat ini bisa diambil pelajaran bahwa demokrasi yang sudah mapan pun ternyata masih gelagapan dalam mengelola politik identitas. Salah satu masalahnya adalah akulturasi.

Jerman dan Perancis menjadi pilar di Uni Eropa. Kanselir Jerman Angela Merkel mendorong agar imigran tidak sekadar datang atau Jerman membuka pintu, tapi kemudian juga terjadi akulturasi atau ada pembauran di situ. Problemnya sekarang adalah pembauran itu tidak terjadi dengan baik.

Tahun ini, 2017, akan ada pemilihan Kanselir dimana orang mengatakan itu menjadi pertaruhan dan Pemilu tersebut mungkin akan menjadi sangat emosional seperti Pemilu di AS. Meskipun demikian, ia dan CDU mengatakan bahwa mereka tidak akan mengubah kebijakannya dan tetap akan menentang kebijakan populisme yang mereka sebut sebagai nasionalis buta proteksionalisme dan juga pembilahan sosial. Itu karena yang mereka tawarkan tadi adanya akulturasi, pembauran, dan keberagaman multikultural untuk Eropa harus didasari hal itu, sehingga Jerman dan Swedia membuka pintu.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Dr. Mada Sukmajati.

Perubahan politik yang signifikan dimulai di Eropa, tepatnya di Inggris, yaitu ketika Inggris mengadakan referendum mengenai tetap atau keluar dari keanggotaan Uni Eropa, yang kita kenal dengan istilah "British Exit" atau Brexit. Hasilnya mengejutkan, Inggris memilih untuk keluar dari Uni-Eropa. Perubahan Politik kemudian terjadi di Amerika Serikat, dimana Donald Trump, di luar semua dugaan, terpilih secara muktlak dengan kuat.

Kedua kejadian tersebut ternyata menjadi inspirasi bagi proses demokrasi lainnya di Eropa yang sudah lama ada, tetapi baru sekarang menjadi kuat dan mengancam perubahan yang besar, yaitu golongan sayap kanan.

Di Perancis ada Marine Le Pen yang menghadapi pemilu, di Italia ada Matteo Renzi yang reformis namun kalah. Akhirnya harapan dunia untuk bertahannya demokrasi liberal, pluralisme, dan semua nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi ada pada Jerman, yaitu pada Angela Merkel.

Apakah betul Jerman sekarang bisa dianggap sebagai benteng terakhir, atau sementara, untuk memepertahankan nilai-nilai liberal?

Jerman dan Perancis menjadi pilar di Uni Eropa. Perancis, seperti yang diketahui beberapa waktu belakangan ini, partai Sayap Kanan mendapat dukungan suara yang makin meningkat di sana. Sayangnya, pada pemilihan umum (Pemilu) September 2016 di tiga negara bagian Jerman, partai populis sayap kanan di Jerman bernama Alternative für Deutschland (AFD) juga mendapatkan kenaikan suara yang sangat signifikan pada Pemilu di tiga negara bagian di Jerman.

Jadi mereka betul-betul dengan sangat baik mengemas isu imigran, dan memberi tawaran alternatif kebijakan terutama untuk masyarakat Jerman yang mungkin sebagaian besar di antara mereka juga sudah mulai tidak nyaman dengan kehadiran imigran sebagai hasil kebijakan Christlich Demokratische Union Deutschlands (CDU) dan Angela Markel. Juga soal tenaga kerja dan seterusnya. Isu ini kemudian dimainkan dengan baik oleh AFD, dan ini terbukti pada September 2016 meraih suara luar biasa. Di Berlin meningkat kursinya 14,2% sehingga di peringkat ketiga sekarang.

Tiga daerah pemilih di Jerman jelas memberikan indikasi bahwa pilihan rakyat mulai bergeser ke kanan. Apa itu semata-mata karena isu imigrasi ataukah ada isu ekonomi di Jerman seperti di AS misalnya?

Meskipun Eropa secara umum mengalami krisis ekonomi, tapi Jerman memiliki performance ekonomi luar biasa bagus. Bahkan pada 2016 surplus mereka tertinggi selama beberapa dekade terkahir sehingga membuat stabilitas ekonomi di Jerman tidak terjadi masalah.

Apakah ada tingkat unemployment yang meningkat?

Tingkat unemployment tidak terlalu meningkat kecuali kebutuhan untuk mengakomodasi para imigran agar terserap ke tenaga kerja di pasar kerja Jerman.

Jadi beda dengan AS atau Inggris. Di Jerman sebetulnya tidak ada krisis middle-class yang kehilangan pekerjaan.

Ya, berbeda dengan Inggris atau AS. Sekarang Eropa sedang dihadapkan pada isu politik identitas. Dari pengalaman Eropa saat ini bisa diambil pelajaran bahwa demokrasi yang sudah mapan pun ternyata masih gelagapan dalam mengelola politik identitas.

Mengapa? Bukankah identitas atau brand dari Eropa itu sudah kuat?

Salah satu masalahnya adalah akulturasi. Jadi Angela Merkel mendorong imigran tidak sekadar datang atau Jerman membuka pintu, tapi kemudian juga terjadi akulturasi atau ada pembauran di situ. Problemnya sekarang adalah pembauran itu tidak terjadi dengan baik.

Jadi identitas setelah ada imigrasi?

Betul.

Itu berbahaya sekali karena keduanya kuat, apalagi Jerman punya sejarah yang buruk dengan politik identitas. Tapi ini beda dengan politik identitas pada zaman dulu tahun 1930-an.

Tentu berbeda. Sekarang sentimennya adalah agama lebih spesifiknya, bahkan ada satu kelompok anti muslim bernama Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abendlandes (PEGIDA) yang subur mendapat banyak dukungan di wilayah-wilayah yang dulu adalah wilayah Jerman Timur, termasuk di Berlin atau sebagian Jerman Timur.

Kita mungkin bisa melihat polanya juga bahwa di sebagian daerah itu, yang dulu adalah wilayah Jerman Timur, dukungan AFD bagi partai populis sayap kanan meningkat sangat signifikan. Sedangkan di wilayah Jerman Barat yang memang mungkin sudah terbiasa dengan multiculturalism menunjukan performance AFD tidak sebagus di wilayah-wilayah yang dulu adalah bekas wilayah Jerman Timur. Namun secara domestik ini memang isu ketimpangan yang sudah ada sejak integrasi Jerman wilayah Barat dan Timur termasuk ekonominya.

Apakah sekarang masih ada ketimpangan ex-Timur dan Barat?

Ya, walaupun mungkin tidak sebesar dulu.

Apakah ada migrasi dari Jerman Timur ke Jerman Barat untuk mengejar lapangan pekerjaan yang lebih baik?

Tentu saja ada, bahkan sampai ke Eropa Timur seperti Polandia juga mendesak pasar kerja di Jerman sebelumnya.

Ketika Jerman sangat pro AS setelah Perang Dunia kedua, bahkan John Kennedy waktu berkunjung ke Berlin pada 1963 nuansa "Ich bin ein Berliner" terasa kuat sekali. Sewaktu tembok Berlin juga orang senang Ronald Reagan. Massa terbesar yang terkumpul sejak John Kennedy adalah sewaktu Obama datang. Jadi pada zaman Obama mereka sangat pro. Bagaimana sekarang sikap orang Jerman terhadap kemenangan Donald Trump?

Akun twitter politisi-politisi senior di Jerman memperlihatkan bahwa mereka sangat pesimis dengan menyambut kemenangan Donald Trump kemarin. Mereka membayangkan situasinya tidak akan lebih baik dibandingkan dengan periode Obama.

Bagaimana hubungan Jerman dengan Republik Rakyat Cina?

Dalam bidang perdagangan justru pasar Jerman adalah ke AS. Salah satu tantangan Jerman dengan kepemimpinan AS yang baru adalah soal perdagangan karena Donald Trump dan partai Republik merasa bahwa selama ini perdagangan dengan Jerman tidak fair. Jerman lebih banyak memberi tapi tidak lebih banyak membeli. Saya kira ke depan ini akan menjadi salah satu target dari Donald Trump untuk paling tidak membuat lebih seimbang perdagangannya, sehingga keuntungan tidak hanya dinikmati oleh sebagian besar Jerman.

Jerman khawatir pada sikap AS pada perdagangan barangkali karena omongan Trump sangat kritis terhadap semua perjanjian perdagangan luar negeri dan juga sangat kritis terhadap NATO. Namun, apa yang akan terjadi jika persahabatan atau kerjasama Cina dan Amerika yang berjalan baik sejak 1979 terganggu oleh kejadian terakhir mengenai Taiwan, dimana Trump melakukan panggilan telepon dengan Presiden Taiwan sehingga mengakibatkan Pemerintah Cina marah. Apakah masyarakat Jerman akan melihat itu sebagai kesempatan untuk mengisi ruang kosong atau dia prihatin kalau ada keretakan antara AS dengan Republik Rakyat Cina?

Dari statement yang dilontarkan oleh Donald Trump menunjukkan bahwa kebijakan AS ke depan adalah membawa kembali ekonomi AS yang sejauh ini bergantung pada luar negeri kemudian sekarang dikembalikan lagi kepada AS. Kalau itu terjadi kepada Cina kemungkinan yang terjadi dengan pesat akan terjadi kepada Jerman.

Tetapi Trump tidak sering mengkritik Jerman untuk mengomentari neraca perdagangan dan sebagainya.

Itu komentar terakhir dimana beberapa minggu yang lalu ada statement dari Trump bahwa Jerman lebih banyak menikmati hubungan ekonomi perdagangan AS. Ke depan Presiden Trump ingin situasinya tidak diubah, paling tidak saling memberi manfaat yang sama.

Berarti Trump boleh dibilang membuat marah banyak negara, bukan hanya satu dua negara saja. Apakah kekecewaan dengan AS dapat berpaling ke Jerman sehingga Jerman menjadi pemimpin baru di dunia?

Semuanya kembali ke figur Angela Merkel. Di mana figurnya saya rasa sangat ironis sekarang. Di level regional dan global orang tidak melihat figur alternatif lain yang mengempuni Eropa dan situasi global. Ini yang kemudian membuat harapan masih banyak kepada Kanselir Merkel. Hanya di domestik, dari tiga pemilu terakhir terlihat ada ketidaksetujuan pada kebijakan Merkel dan partainya untuk membuka pintu bagi para imigran ke Eropa.

Apakah karena itu Merkel mengorbankan politik imigrannya demi mempertahankan dukungan rakyat?

Tahun ini, 2017, akan ada pemilihan Kanselir dimana orang mengatakan itu menjadi pertaruhan dan Pemilu tersebut mungkin akan menjadi sangat emosional seperti Pemilu di AS. Di Jerman pemilu yang emosional seperti itu sangat langka dan ia mengatakan akan running untuk yang keempat kalinya.

Meskipun demikian, ia dan CDU mengatakan bahwa mereka tidak akan mengubah kebijakannya dan tetap akan menentang kebijakan populisme yang mereka sebut sebagai nasionalis buta proteksionalisme dan juga pembilahan sosial. Itu karena yang mereka tawarkan tadi adanya akulturasi, pembauran, dan keberagaman multikultural untuk Eropa harus didasari hal itu, sehingga Jerman dan Swedia membuka pintu.

Hanya dua negara di Eropa yang membuka pintu untuk imigran. Swedia relatif lebih tertata karena mungkin juga mereka tidak menjadi bagian dari Uni Eropa. Namun untuk Jerman, saya kira, ketika pintunya terbuka di situ akan menjadi ke mana-mana. Itu yang sebetulnya ditangkap oleh orang Inggris pada saat Brexit, sehingga orang-orang senior merasa tidak merasa nyaman dengan kehadiran imigran dan merasa tidak secure. Itu berbeda dengan generasi muda yang melihat masa depan lebih cerah dan menantang, tetapi jumlahnya tetap kalah. Pemilu tahun depan sangat menentukan perkembangan tidak hanya Jerman tetapi juga Eropa secara regional, bahkan global.

Apakah partai lawan dari Angela Merkel yaitu Sozialdemokratische Partei Deutschlands (SPD) sudah tidak begitu kuat atau mungkin masih kuat?

Masih relatif kuat tetapi tidak ada figur yang melebihi atau sama dengannya. Meskipun pada polling terakhir Merkel masih mendapat 40% suara dari masyarakat.

Dari golongan mana sekarang dukungan untuk Markel secara demografis? Siapa yang kira-kira mendukung Markel?

Terutama adalah bagian yang mendukung CDU. Namun karakter pendukung CDU adalah kelas menengah ke atas katolik karena yang protestan cenderung kepada SPD. Golongan tua juga cenderung ke CDU, dan yang lebih muda biasanya yang SPD. Tetapi secara sistem kepartaian, sekarang CDU masih didukung kepada partai sehingga kalau nanti tidak ada koalisi yang tercipta di parlemen, maka koalisi itu akan menjadi harapan untuk CDU berkuasa dan Markel tetap menjadi Kanselir Jerman.

Dalam hal lain, apakah rakyat Jerman suka dengan peran kuat Jerman di Uni Eropa dengan membantu krisis ekonomi Yunani atau Portugal?

Secara umum, ada yang mengatakan dan merasa mereka membayar pajak yang tinggi karena pajak di Jerman relatif tinggi dibandingkan Skandinavia. Mereka mengatakan, "Saya membayar pajak mahal-mahal tetapi kembalinya ke orang lain." Dengan adanya imigran, saya merasa atmosphere di Jerman berbeda dengan empat tahun dulu ketika saya terakhir kali meninggalkan Jerman.

---oo000oo---