Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Nong Darol Mahmada

Intoleransi Merusak Politik Indonesia

Edisi 1092 | 07 Mar 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Sekarang kita dalam situasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Jakarta, tapi yang menjadi perhatian adalah seakan-akan suasana sosial dan suasana batin yang sangat mengawatirkan di Jakarta, yaitu dengan munculnya isu-isu suku, agama, ras, antar golongan (SARA), serta fanatisme agama dan hal-hal yang di kaitkan dengan multi power. Kami mengundang Nong Darol Mahmada yang adalah anggota Nahdlatul Ulama (NU).

Nong Darol Mahmada mengatakan sangat sedih dengan kondisi sekarang yang semestinya kita sebagai negara sudah maju sudah tidak membicarakan lagi atau memperdebatkan lagi isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) yang sangat sensitif.

Sebenarnya dalam kasus, misalnya Ahok yang Tionghoa, tidak akan ada penolakan begitu besar kepada etnis ini kalau tidak dimobilisasi. Itu karena sebenarnya kelompok masyarakat yang ditolak oleh masyarakat Indonesia bukan Cina, tetapi adalah kelompok ISIS.

Nong Darol Mahmada melihat ini bukan hanya soal Ahok, ini soal Indonesia. Soal bagaimana kita mempertahankan kebhinnekaan kita, soal kita mempertahankan bahwa berbeda itu biasa. Ini semua untuk Indonesia yang Bhinneka. Indonesia dikenal oleh dunia sebagai negara mayoritas umat Islam yang memiliki corak berbeda-beda namun tetap satu.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Nong Darol Mahmada.

Dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Jakarta terdapat tiga calon, sekarang tinggal dua, yaitu Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan. Saya menangkap bahwa pilihan orang tidak berdasarkan atas kemampuan masing-masing calon dan bukan juga harapan, tapi ketakutan bahwa agamanya itu disalah gunakan. Bagaiamana komentar Anda?

Sebenarnya sangat sedih juga dengan kondisi sekarang semestinya kita sebagai negara sudah maju sudah tidak membicarakan lagi atau memperdebatkan lagi isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) yang sangat sensitif.

Saya melihat bahwa karena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak bisa dikalahkan dengan program dan prestasi, maka yang diserang soal SARA dan kebetulan dalam diri Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memiliki double minority, yaitu dia kristen dan juga Cina, itu luar biasa Handicapnya.

Yang kita sayangkan adalah kemudian pihak lawan Ahok, katakanlah itu benar-benar memanfaatkan posisi itu, dan itu menurut saya benar-benar tidak mendidik masyarakat. Pilkada itu seharusnya kita jadikan ajang edukasi publik, pendidikan politik, sekarang saya melihat sebaliknya.

Orang-orang itu betul-betul memanfaatkan yang namanya sentimen dan emosi masyarakat yang dulunya tidak. Saya pribadi tidak mempredisikan bahwa ini akan terjadi seperti ini, maksudnya emosi masyarakat, dan itu yang paling sangat primordial yaitu soal agama, ketuhanan, surga-neraka. Menurut saya, Indonesia masih diangap sebagai negara, yang dalam tanda kutip, masih relatif pendek umurnya dalam membangun transisi demokrasi yang semu, tetapi ini seperti dimentahkan lagi.

Informasi dari Pricewaterhouse Coopers, proyeksi ekonomi pada tahun 2030 nanti akan menjadi lima negara super power dalam bidang ekonomi berdasarkan index-indexnya. Mereka adalah nomor satu China, kedua India, ketiga Amerika, keempat Rusia, dan nomor lima Indonesia. Kalau dikacaukan oleh isu SARA, kita bisa mundur 50 tahun. Isu SARA ini justru dihembuskan oleh orang-orang yang sebetulnya pluralis, demokratis, dan berpendidikan. Mereka menggunakan kebodohan masyarakat dengan menanamkan pikiran yang salah.

Saya sebenarnya tahu siapa-siapa saja aktor di belakang semua ini, di situ saya merasa sedih juga. Kita seharusnya mengedukasi masyarakat agar pintar, kok malah membuat masyarakat menjadi bodoh. Namun dengan adanya putaran kedua Pilkada, saya merasa kagum pada masyarakat. Yang dipikirnya masyarakat bisa dipengaruhi dengan cara seperti ini ternyata mayoritas malah tidak. Mungkin yang mayoritas itu masih setengah-setengah, tapi saya optimis bisa menarik mereka untuk tidak atau jangan mau dibodohi pakai isu SARA.

Misalnya, kita terus-menerus berkutat pada isu itu maka akhirnya menjadi tidak eksklusif. Kalau sudah begitu, fokusnya berubah menjadi bukan untuk mencari pemimpin atau pelayan publik yang kompeten tapi malah memilih yang nyaman. Kita tidak tahu sampai kapan nyamannya, pertanggung jawabannya bagaimana, kita harus betul-betul rasional. Satu-satunya cara adalah jangan persoalan SARA ini ditonjolkan.

Apakah isu Agama itu begitu kuat sampai mengabaikan kesejahteraan masyarakat itu sendiri karena mereka yang protes juga tinggal di Jakarta, tidak mau Jakarta banjir, dan macet?

Saya pribadi tidak bisa menyalahkan atau menganggap salah orang yang mengambil posisi itu. Karena itu saya mengatakan bahwa ini soal kenyamanan. Soal bahwa yang namanya agama itu kita merasa tenang, tidak perlu rasional. Tetapi justru itu tantangan bahwa tidak bisa juga seperti itu.

Seperti tulisan Burhanuddin Muhtadi kemarin yang mengupas fenomena Pilkada DKI bahwa antara hati dan kepala itu beda. Jadi kalau kepala mengatakan "survey 70% mengakui kinerja kepala daerah yang sekarang" tapi dalam hati terlihat pada saat putaran pertama tidak 70% tapi 40-an. Antara hati dan kepala itu berbeda. Namun itu belum tentu yang 20 persen juga begitu. Itu menunjukkan faktor anomali.

Ini juga sebenarnya dibuktikan dengan survei Wahid Foundation beberapa bulan lalu. Pada aksi damai massa kedua, kita semua terkaget-kaget ketika ada yang menyebutkan sampai jutaan jumlahnya. Jumlah yang sangat banyak. Tapi kita juga harus fair untuk melihat bahwa itu semua ada upaya mobilisasi, ada yang menggerakkan, dan ini terkait dengan politik Pilkada. Itu disampaikan secara jelas oleh Saiful Munjani, berdasarkan hasil survei juga ini lagi-lagi bicara soal fakta dan data.

Sebenarnya dalam kasus, misalnya Ahok yang Tionghoa, tidak akan ada penolakan begitu besar kepada etnis ini kalau tidak dimobilisasi. Itu karena sebenarnya kelompok masyarakat yang ditolak oleh masyarakat Indonesia bukan Cina, tetapi adalah kelompok ISIS. Artinya, masyarakat Indonesia tidak menginginkan Indonesia berdasarkan pada negara Islam. Dalam konteks kita melihat penolakan terhadap pemimpin Cina ini tidak akan terjadi kalau tidak ada mobilisasi. Ini cara-cara politik yang kita menyayangkan orang-orang pintar dibelakangnya kok memakai cara seperti ini.

Menurut Anda sebagai tokoh berlatar belakang Islam, apakah ada isu yang benar-benar agama sehingga kalau Gubernur Ahok terpilih lagi maka umat islam akan terancam?

Tidak, justru menurut saya, terpilihnya lagi Ahok justru akan menguntungkan. Saya pernah menulis tentang Ahok sebagai pemimpin Islami dan artikelnya menjadi viral. Pasti ada yang Pro dan Kontra, tapi bisa saya pertanggungjawabkan semua itu bahwa Ahok bisa dibilang sebagai pemimpin yang Islami.

Kita harus rendah hati melihat bahwa Ahok memimpin dengan amanah, tidak pernah korupsi. Kedepannya saya tidak tahu tapi sampai sekarang saya bisa memegang bahwa Ahok itu amanah, tabligh, fathannah. Itu sifat-sifat yang menurut Islam merupakan ciri kepemimpinan umat Islam.

Dari segi pembangunan fisik, jangan jauh-jauh, kemarin dia meresmikan pembangunan Kalijodo. Dulu image Kalijodo jelek sekali, sebagai tempat trafficking. Dibanding gubernur-gubernur Jakarta sebelumnya, Ahok yang Cina, Kristen, bisa mengubah Kalijodo menjadi Taman dan ruang terbuka publik. Ali Sadikin boleh dibilang sebagai Pembangun Fondasi. Pembangunan selanjutnya mestinya dilanjutkan oleh gubernur-gubernur setelah Bang Ali.

Yang lebih kasatmata lagi, baru pada masa pemerintahan Ahok kita bisa mendengar yang namanya Masjid Raya DKI Jakarta yang sebentar lagi diresmikan di Daan Mogot. Ini berbeda dengan Istiqlal karena Ahok merasa bahwa DKI Jakarta perlu punya masjid raya sendiri. Ini juga berbeda dengan Masjid di Balai Kota Jakarta, yang juga diresmikan oleh Ahok. Jadi kalau kita melihat secara fisik saja, bangunan yang dibangun untuk umat Islam yang paling kelihatan jelas pada masa pemerintahan Ahok.

Ahok juga sangat concern dengan tokoh islam yang oleh umat Islam sendiri sering diabaikan. Misalnya Marbot (penjaga mesjid), dulu sebelum Ahok Marbot ini tidak diperhatikan, sekarang diberangkatkan Umrah. Bahkan tiap bulan jumlah yang diumrahkan bertambah. Hal-hal seperti itu yang kadang saya pribadi berharap umat Islam masih punya pandangan bahwa dengan segala hasil kerja Ahok itu nantinya bisa tersentuh.

Sebenarnya umat Islam yang teruntungkan kalau ia menjadi pemimpin. Itu juga karena dia mengatakan, "Saya ini menciptakan keadilan sosial." Yang kebetulan warga dia itu mayoritas umat islam. Jadi dia menjadi manajer, harus melakukan A dan B, dan yang merasakan hasilnya umat Islam.

Sangat sederhana sebenarnya, tapi dibuat rumit oleh orang-orang yang haus kekuasaan jika kita lihat yang memimpin proses ini bukan orang bodoh. Ini demi kepentingan politik dan demi kekuasaan. Apakah ini akan memberikan dampak permanen, atau setelah Pilkada nanti akan kembali menjadi toleran?

Pastinya setelah pesta demokrasi usai akan kembali ke ritme awal lagi. Namun kalau dalam politik, itu tidak berhenti sampai di situ. Dampaknya akan merambah ke kota-kota lain dan kota kita sendiri juga.

Publik bisa menilai sendiri siapa orang-orang dibalik Anies dan Sandi. Mereka bersilaturahmi ke FPI, didukung PKS, yang kita tahu terus-menerus memperjuangkan Negara Islam. Jakarta itu sebagai miniatur Indonesia, kalau mempunyai pemimpin seperti ini saya tidak tahu masa depannya.

Saya pribadi melihat ini bukan hanya soal Ahok, ini soal Indonesia. Soal bagaimana kita mempertahankan kebhinnekaan kita, soal kita mempertahankan bahwa berbeda itu biasa. Ini semua untuk Indonesia yang Bhinneka.

Kita Indonesia sangat kuat karena Kebhinnekaan. Namun banyak yang tidak sadar bahwa Kebhinnekaan itu harus dirawat.

Indonesia dikenal oleh dunia sebagai negara mayoritas umat Islam yang memiliki corak berbeda-beda namun tetap satu.

 

       ---oo000oo---