Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. Nylvia Lamsari Sardy

Perhatikan Kesehatan Mata Sejak Dini

Edisi 1091 | 07 Mar 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Mata adalah jendela dunia karena mata berperan penting dalam hidup kita. Kelainan atau gangguan penglihatan dapat menurunkan produktivitas dan bukan tidak mungkin dapat berpengaruh khususnya pada masa depan kita. Jadi hari ini kita akan bahas indra pengelihatan dengan pakarnya yaitu dr. Nylvia Lamsari Sardy spesialis mata, yang bertugas di Rumah Sakit Mata Aini dan Rumah Sakit Mitra Keluarga, serta menjadi anggota Pengurus Pusat Himpunan Ahli Mata Indonesia.

Menurut Nylvia Lamsari, angka gangguan penglihatan di Indonesia mulai mengkhawatirkan. aat ini aktivitas mereka baik di saat senggang atau kegiatan sekolahnya lebih banyak membutuhkan gadget atau komputer. Kalau dibandingkan dengan aktivitas kita dulu mungkin jarang bahkan belum ada gadget, sehingga aktivitas kita banyak di luar ruangan. Saat ini ada studi yang mengatakan bahwa aktivitas di luar ruangan bisa menurunkan progresivitas dari miopi atau kelainan pada mata (rabun). Pasien-pasien kami yang memang kebanyakan anak sekolah dasar (SD), kami anjurkan untuk membatasi kegiatan gadgetnya dan beraktivitaslah di luar ruangan.

Nylvia mengatakan agar sedini mungkin ketika anak sudah mulai bisa baca maka dianjurkan untuk melakukan screening. Kalau ukuran kacamata minusnya agak tinggi maka kita harus memeriksakannya lebih cepat yaitu tiga sampai enam bulan sekali melakukan kontrol. Jika didapatkan ukurannya tidak maksimal atau tidak sampai 100 persen pada saat pemeriksaan pertama, biasanya kita lebih ketat supaya nanti begitu ada perubahan kacamata, kita koreksi dan seiring jalan nanti perkembangannya akan mendapat 100 persen.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan nara sumber dr. Nylvia Lamasri Sardy.

Saya melihat anak-anak Indonesia di sekolah atau dimanapun tampak sudah banyak yang memakai kacamata. Mengapa anak-anak Indonesia sekarang sudah mulai berkacamata sejak SD?Kita lihat aktivitasnya yang sangat berpengaruh. Saat ini aktivitas mereka baik di saat senggang atau kegiatan sekolahnya lebih banyak membutuhkan gadget atau komputer. Kalau dibandingkan dengan aktivitas kita dulu mungkin jarang bahkan belum ada gadget, sehingga aktivitas kita banyak di luar ruangan. Saat ini ada studi yang mengatakan bahwa aktivitas di luar ruangan bisa menurunkan progresivitas dari miopi atau kelainan pada mata (rabun). Pasien-pasien kami yang memang kebanyakan anak sekolah dasar (SD), kami anjurkan untuk membatasi kegiatan gadgetnya dan beraktivitaslah di luar ruangan.Mengapa aktivitas anak-anak yang sering memakai gadget bisa berdampak kepada matanya?Studinya mengatakan ada blue light dari pancaran gadget yang mempengaruhi aktivitas. Jadi mereka terlalu fokus dengan itu. Mungkin mereka melihat layar gadgetnya dengan jarak yang tidak ideal.Berapa jarak ideal untuk kita melihat layar gadget?Biasanya 30 cm sampai 40 cm dan harus ada batas waktunya. Misalnya, kita di depan komputer tidak boleh terlalu lama. Kita harus mengistrirahatkan mata kita.Berapa lama maksimal kalau terus-menerus di depan komputer?Biasanya kita istirahat saja sehingga ada jeda. Kalau di depan komputer sekitar 20 menit, maka istirahat dua puluh detik, sejauh dua puluh kaki. Jadi harus ada istirahatnya untuk mata.Jadi mata istirahat dengan cara tanpa melihat komputer.Iya, kita melihat jauh, melihat objek di tempat yang jauh, atau memandang ke arah yang jauh. Lihat jauh sangat berpengaruh untuk mata kita. Kalau zaman kita dulu selalu melihat jauh terus karena bermainnya di luar rumah.Apakah asupan makanan berpengaruh pada kesehatan mata anak kita?Iya, ada pengaruh dari asupan makan, khususnya vitamin A karena itu untuk mempengaruhi syaraf mata. Namun banyak pasien yang menanyakan ke dokter apa vitamin yang harus dikonsumsi supaya mata normal lagi, jawabannya adalah sampai sekarang belum ada obatnya ataupun asupan makanan yang terbukti mengurangi atau menghilangkan ukuran kaca mata. Apa yang harus kita lakukan supaya anak-anak kita tidak mengalami mata minus sejak dini?Pertama yang harus dilihat adalah faktor genetik atau bukan. Kalau faktor genetik maka itu susah dicegah. Jadi yang mungkin kita modifikasi adalah aktivitasnya, faktor lingkungannya, yaitu dengan cara kita membatasinya. Misalnya, berapa lama dalam sehari mereka bermain dengan gadget. Kemudian anjurkan mereka untuk beraktivitas di luar rumah seperti bermain sepeda, berenang atau apapun yang berada di luar rumah agar mata mereka tidak terus-menerus terpancar oleh blue light. Kemudian berikan asupan buah-buahan, sayur-sayuran yang banyak vitamin untuk mata. Aktivitas mereka seperti cara mereka belajar dan posisi saat belajar harus benar. Jangan sambil berbaring, atau cahayanya kurang, sehingga mata tidak mudah lelah.Apa yang harus kita lakukan ketika mata anak sudah mulai minus?Sebenarnya tidak boleh menunggu minus. Sedini mungkin ketika anak sudah mulai bisa baca maka dianjurkan untuk melakukan screening. Kadang-kadang orang tua tidak sadar kalau anak-anak kita menggunakan kacamata yang ukuran minusnya sudah besar. Bahkan yang ditakutkan adalah kalau mata anak masuk dalam kategori mata malas.Apa itu mata malas?Mata malas atau amblyopia yaitu keadaan mata yang tidak terkoreksi maksimal, dalam hal kelainan refraksi dalam kasus yang umumnya terjadi. Amblyopia bisa disebabkan oleh banyak hal yaitu bisa disebabkan dari katarak, kelainan macam-macam organ, dan sebagainya. Namun dalam hal umum yang kita bicarakan ini adalah anak-anak yang tidak terkoreksi kacamatanya secara maksimal, maka dapat menyebabkan matanya malas. Misalnya, kemampuan matanya melihat maksimal cuma 70 atau 60 persen, maka sampai tua kemampuan melihatnya akan tetap dan tidak bisa mencapai 100 persen. Karena itu pada saat mereka sudah mulai membaca harap di-screening, datang ke dokter mata untuk diperiksa, dan itu paling lama setahun sekali. Kalau ukuran kacamata minusnya agak tinggi maka kita harus memeriksakannya lebih cepat yaitu tiga sampai enam bulan sekali melakukan kontrol. Jika didapatkan ukurannya tidak maksimal atau tidak sampai 100 persen pada saat pemeriksaan pertama, biasanya kita lebih ketat supaya nanti begitu ada perubahan kacamata, kita koreksi dan seiring jalan nanti perkembangannya akan mendapat 100 persen.Apa lagi gangguan penglihatan atau mata yang harus kita waspadai baik pada anak-anak maupun orang dewasa?Ada katarak, glaukoma, dan masih banyak lagi. Katarak pada umumnya terjadi pada orang yang sudah berusia lanjut, yaitu di atas 50 atau 60 tahun. Tidak hanya pada orang tua, anak kecil bahkan bayi pun bisa katarak yang biasa kita sebut katarak kongenital. Hal ini bisa karena adanya faktor genetik atau bawaan. Selain itu ada katarak pada usia muda yang disebut katarak juvenile. Ada juga katarak yang disebabkan sesuatu, misalnya karena trauma, terkena pukulan, katarak pada orang muda tapi hanya terkena pada satu mata, atau yang biasa disebut katarak monocular, dan masih banyak lagi jenis-jenis katarak.Apakah katarak itu sama dengan rabun jauh?Beda. Rabun jauh adalah kelainan refraksi yang umumnya dapat dikoreksi dengan kacamata. Sedangkan kasus katarak terjadi pada lensa mata yang keruh yang umumnya bila dikoreksi dengan kacamata apapun akan tetap keruh atau buram.Apa solusi untuk mata katarak?Kalau untuk katarak sampai saat ini solusinya adalah harus dioperasi.Jadi tidak ada pengobatan lain selain operasi?Belum ada obat ataupun makanan yang dapat mengembalikan kekeruhan lensa mata menjadi jernih.Apakah tidak ada upaya pencegahan sebelum mata tersebut menjadi keruh, misalnya diberikan obat tetes atau semacamnya?Belum ada yang membuktikan karena obat tetes mempengaruhi metabolisme lensa, tetapi dengan trauma itu sendiri metabolisme dari awal sudah terganggu sehingga mengakibatkan lebih cepat terjadinya katarak.Selain katarak, apalagi penyakit mata yang sering menyerang masyarakat Indonesia?Kalau dari studi Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) adalah kelainan refraksi, katarak, glaukoma dan lain-lain.Apa penyebab glaukoma dan bagaimana pencegahannya?Glaukoma adalah suatu kelainan di syaraf mata yang menyebabkan adanya gangguan lapang pandang dengan faktor utama tekanan bola mata yang meningkat. Ada beberapa macam penyakit glaukoma, yaitu ada yang karena sudutnya terbuka, ada yang sudutnya sempit. Kalau yang sudutnya sempit, biasanya saat terjadi serangan cepat ketahuan karena matanya merah, mendadak buram, matanya sakit, kepalanya sakit sampai mual bahkan muntah. Hal tersebut biasanya terjadi pada sudut tertutup karena aliran matanya tertutup mendadak.Apa penyebabnya?Penyebab glaukoma multi faktor, yaitu ada faktor usia, RAS, dan banyak lagi. Hal ini berlaku pada sudut terbuka dan terturup. Kalau yang terbuka, gejalanya lebih pelan-pelan dan tidak ketahuan, mendadak datang, dan syaraf mata rusak.Gangguan penglihatan tentu saja hal ini dapat dicegah dengan deteksi dini. Dalam hal ini negara juga ikut bertanggung jawab untuk mengurangi angka kebutaan, dan mengenai kebutaan ini juga telah mendapatkan perhatian dunia Internasional dengan setiap tahunnya pada pekan kedua Oktober ada peringatan Hari Penglihatan Sedunia. Bagaimana upaya-upaya yang telah dilakukan oleh negara kita untuk mencegah angka kebutaan terus meningkat?Dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) untuk mengatasi kelainan refraksi pada anak-anak kita ada program yaitu memberikan kacamata gratis. Jadi dari PERDAMI cabang bekerja sama dengan Sekolah Dasar (SD) dan Gabungan Pengusaha Optik Indonesia (GAPOPIN) memberikan screening kepada anak-anak dan memberikan kacamata gratis kepada mereka.Bagaimana caranya bagi anak-anak kurang mampu untuk bisa mendapatkan kacamata gratis tersebut?Biasanya dari PERDAMI cabang akan mendidik kader-kader, baik dari Puskesmas atau dari bidan atau dari UKS di sekolahnya untuk men-screening anak-anak yang memang ada keluhan mata buram. Kemudian dari situ PERDAMI cabang akan menghubungi PERDAMI pusat untuk mengatur koordinasi bagaimana cara pemberian kacamata gratis itu.Jadi mekanismenya adalah dengan PERDAMI turun ke lapangan dan bukan anak yang mengajukan permohonan ke PERDAMI?Bukan, jadi kita screening semuanya. Itu untuk yang kelainan refraksi, sedangkan untuk katarak, PERDAMI sudah banyak sekali melakukan program penanggulangan buta katarak. Kita mengadakan banyak baksos ke seluruh Indonesia sampai ke pelosok.Untuk glaukoma, kita biasanya melakukan screening, tapi biasanya rumah sakit yang melakukan promosi sendiri untuk screening. Misalnya, ada screening glaucoma dengan cara melakukan pemeriksaan non-contact tonometer yaitu kita cek tekanan bola mata dengan menggunakan non-contact ditiup. Begitu ada kelainan biasanya kita merujuk mereka untuk ke dokter mata.Pemerintah sudah menyelenggarakan BPJS dan itu untuk penyakit mata juga ditanggung. Jika memang ada kelainan refraksi atau mata minus/plus maka bisa mengajukan pergantian kacamata. Namun hanya diganti senilai Rp 300.000. Hal tersebut banyak dikeluhkan karena tidak cukup untuk membuat kacamata. Bagaimana solusinya?Kalau untuk kacamata saya rasa tidak sampai ratusan ribu, mungkin yang sampai ratusan ribu tersebut adalah yang bermerk atau mungkin kualitas lensanya yang seperti apa. Lensa kacamata itu ada bermacam-macam, kalau misalnya memang yang diminta ada tambahan filternya tentu tidak di-cover oleh BPJS. Tapi kalau yang standar untuk anak-anak saya rasa tidak sampai ratusan ribu bisa, frame-nya saja itu murah.Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, bagaimana tingkat penyakit mata di Indonesia?Angka kebutaan kita kalau tidak salah belum sampai 1%. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yaitu 0,6 %.Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 350 juta berarti jumlah 0,6% tersebut cukup besar.Ya, makanya sekarang kita ada study yang hasilnya saya belum tahu. Study tersebut adalah Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB), jadi kita screening dan survey lagi angka-angka pastinya. Soalnya kalau dari hasil pada 1996 belum akurat. Jadi study RAAB yang sekarang itu diharapkan akan lebih akurat.Jadi penyakit mata di Indonesia ini apakah sudah atau belum terlalu mengkhawatirkan?Sangat mengkhawatirkan, makanya kita banyak melakukan kegiatan PERDAMI untuk mengantisipasi segala kebutaan yang ada yaitu dengan mengadakan lebih banyak bakti sosial.