Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Demawati Sihite

Hilangkan Dikotomi Peran Perempuan Merestorasi Gambut

Edisi 1088 | 13 Feb 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita hari ini Demawati Sihite adalah Deputi satu Bidang Perencanaan Kerjasama Monitoring dan Evaluasi dari Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Kalimantan Selatan. Dia juga Direktur Institut Bentang Maratus (IBM) Kalimantan Selatan, sebuah LSM yang memberdayakan masyarakat lokal dengan kegiatan berupa pelatihan, advokasi, dan riset.

Menurut Demawati Sihite, tidak harus ada dikotomi untuk peran perempuan dalam upaya merestorasi gambut, seperti apakah dia di bagian infrastruktur atau di bagian lainnya karena perempuan juga mempunyai kemampuan sama. Misalnya, di sejumlah daerah perempuan mengumpulkan purun (tanaman khas gambut) harus jalan jauh untuk sampai ke rawa dan rawa itu sangat tinggi kedalamannya, kadang-kadang ketemu biawak, ular, dan sebagainya. Mereka mengambil mentah, dijemur, kemudian ditumbuk pakai ulin yang beratnya sekitar 10 kg, baru kemudian diwarna. Proses mengambilnya itu dilakukan oleh mereka sendiri, bukan laki-laki. Jadi tidak hanya untuk masalah sosialisasi yang sifatnya lebih soft, tapi pekerjaan yang fisik juga tidak perlu diragukan.

Saat ini sudah banyak perubahan dalam perhatian terhadap gambut setelah ada BRG dan TRGD. Semua orang akhirnya sekarang bicara gambut. Kalau dulu gambut cuma sekadar isu sisipan, sekarang menjadi trendsetter. Dia mengusulkan jika ada Jambore Masyarakat Gambut lagi maka sebaiknya lebih banyak masyarakat yang berbicara dari perspektif mereka. Jadi yang duduk di panggung besar di depan justru masyarakat. Mereka bercerita bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah di lapangan, perspektif mereka, baru kemudian ada tim yang mungkin sifatnya scientific yang memberikan input.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Demawati Sihite.

Mantan Direktur Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati dalam pidato terakhirnya sebagai Direktur Bank Dunia di Jakarta mengenai wanita dan perubahan iklim mengingatkan bahwa orang yang paling menjadi korban perubahan iklim adalah perempuan. Apakah betul perubahan iklim mempunyai arti penting bagi perempuan?

Seperti tadi yang Anda sebutkan bahwa memang benar perempuan selama ini hanya sebagai obyek. Kalau kita lihat dalam aspek-aspek kehidupan sehari-hari perempuan memegang peranan penting meskipun sebenarnya perannya tidak dianggap. Kita lihat profesi-profesi utama, misalnya petani, di kebun suaminya yang menjadi pekerja tetapi karena tanggungannya sangat besar maka perempuan harus ikut bekerja.

Saya mempunyai beberapa teman-teman yang suaminya bekerja, kemudian istri dan anaknya ikut dibawa, akhirnya istri dan anaknya juga bekerja di perkebunan sawit. Perempuan bertugas di bagian yang meracik pestisida, namun perempuan masih dibebani juga dengan tugas-tugas domestik seperti mengurus anak, menyiapakan makanan untuk keluarga, pendidikan. Semuanya dilakukan oleh perempuan. Jadi kalau kita mengatakan perempuan salah satu obyek, saya sepakat. Kalau mau mengubah itu harus dimulai dari rumah juga, yang paling kecil adalah istri dan anak-anak.

Sekarang dalam pengalaman Anda sebagai Tim Restorasi Gambut dan juga sebagai aktivis IBM, bagaiamana kondisi lahan gambut di Kalimantan Selatan?

Pertama, kita harus akui juga bahwa Indonesia disebut sebagai korban. Dalam arti, negara-negara industri pertama di dunia menghasilkan sangat banyak emisi tetapi kemudian mereka tidak menguranginya.

Kedua, hasil riset ilmuan yang terbaru dari lahan gambut menunjukkan bahwa emisi karbon lebih besar karena dia melepaskan kandungan karbonnya ketika terbakar. Jika dibandingkan dengan hutan tropis, tanaman gambut menghasilkan karbon lebih tinggi. Misalnya di Kalimantan Selatan, saya mengalaminya pada 2015 bahkan tahun-tahun sebelumnya juga tidak bisa bernafas dengan lega. Bayangkan, itu terjadi sampai sekitar dua bulan dengan merasakan mata perih, nafas susah. Itu terjadi setiap hari. Kalau dibandingkan antara daun atau pohon yang kering terbakar dengan yang basah terbakar, maka yang lebih banyak asapnya adalah yang basah.

Saat ini Badan Restorasi Gambut (BRG) baru ada satu tahun, berarti juga baru satu tahun Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) melibatkan Anda yang sudah bertahun-tahun aktif di bidang lingkungan dan hutan. Jadi sekarang ada kesempatan memperbaikinya. Apa yang kira-kiranya akan diusahakan oleh kelompok perempuan di Kalimantan Selatan dalam program restorasi gambut?

Saya pikir ini adalah suatu kesempatan yang sangat bagus karena kalau saya melihat ke belakang sebelum 1998 kita susah sekali untuk berpartisipasi. Jadi waktu itu teman-teman NGO memilih berada di luar. Dalam arti kita tidak mempunyai akses atau kesempatan untuk bisa memasukkan ide-ide kita.

Sekarang sudah agak lumayan ada demokratisasi, apalagi makin ke sini sudah terbuka untuk ikut berperan. Akhirnya ketika mendapat kesempatan, saya pikir ini adalah salah satu kesempatan sangat bagus. Selama ini kita speak up di luar, kita tidak dikasih ruang. Sekarang dari pengalaman kita, teman-teman di lapangan, teman-teman perempuan, teman-teman aktivis lingkungan, ada hal-hal yang selama ini tidak terakomodir oleh pemerintah. Misalnya, bagaimana kita melibatkan partisipasi masyarakat, tidak hanya dari pemerintah saja atau sektor swasta, agar masyarakat yang selama ini hanya menjadi objek ikut mengambil bagian.

Saya pengurus di Institut Bentang Maratus (IBM) dan juga sebagai akademisi mengupayakan agar riset-riset di kampus yang selama ini cuma menjadi pajangan di perpustakaan bisa menjadi dasar yuridis, dasar argumentasi akademis bagi kita untuk melakukan action, dan bagaimana kita mensinkronkan para akademisi yang cuma di tataran konsep bergabung dengan masyarakat di tataran aksi.

Posisi saya sekarang di bidang perencanaan di TRGD, saya mengusulkan itu ke pemerintah menjadi sebuah kebijakan. Jadi kalau hanya sekadar berbicara di luar, maka tetap saja kita di NGO. Di luar orang bicara tetapi tidak bakal masuk ke dalam kebijakan publik. Jadi jalan sendiri-sendiri. Saya senang sekali bisa masuk TRGD. Jadi tiga unsur ini bisa saya wakili.

Boleh dikatakan usaha Anda dan rekan-rekan bertahun-tahun dengan NGO yang di luar pemerintah dan juga tidak berakses pada pemerintah merupakan tahap investasi, dan sekarang adalah pencairan investasi. Apakah perempuan lokalnya menyadari suara ini atau Anda bisa mengajak untuk menggunakan kesempatan luar biasa ini dimana berpuluh-puluh tahun mereka menjadi objek, hanya bicara sana-sini, sekarang bisa pegang peran?

Kalau selama ini di acara-acara resmi maka yang diundang pasti pejabat-pejabat, kepala dinas. Jadi isinya mungkin sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) mereka yang sangat formalistis. Tapi yang kita hadirkan di Jambore Masyarakat Gambut adalah para petani, pekebun, peternak sapi, para pengrajin anyaman yang memang sehari-hari bergelut dengan masalah itu.

Jadi ketika kemarin berbicara dengan Menteri Kementerian Desa, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan para pejabat deputi yang memang berkompeten, maka yang disampaikan adalah suara mereka langsung. "Bagaimana Pak subsidi pupuk buat kami? Bagaimana ketersediaan pasar? Bagaimana soal kebijakan-kebijakan perkebunan?" Jadi itu langsung disuarakan oleh mereka. Kalau yang datang kepala dinas, mohon maaf, itu tidak bakal sampai. Pasti programnya berjalan, namun apakah memang benar-benar dibagikan ke masyarakat atau tidak maka itu tidak berpengaruh.

Apa yang akan Anda bawa sebagai inspirasi langkah pertama pasca Jambore Masyarakat Gambut 2016?

Saya pikir Jambore ini adalah wadah yang sangat bagus ketika masyarakat bisa memiliki perspektif lain dari luar daerah. Jadi dia bertemu dengan petani di daerah lain, bertemu dengan pengrajin dari daerah lain, bertemu dengan pekebun di daerah lain. Ketika bertemu mereka bertukar pengalaman, sharing informasi, seperti bagaimana membuat sekat kanal. Jadi problem-problem di daerah mereka dijadikan bahan sharing.

Saya pikir itu sangat bagus. Pertama dari sisi informasi, jadi mereka tidak hanya dalam lingkup desanya atau daerahnya saja, tapi sudah memiliki pengalaman dengan teman-teman lain. Pasca ini kita berencana pada 2017 mau membuat juga Jambore serupa di Kalimantan. Setidaknya untuk konteks kedekatan kondisi geografi Kalimantan yang lebih mirip. Bagaimana ada sharing belajar antara Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Barat (Kalbar). Paling tidak dari tiga lokasi itu mereka bisa ada wadah untuk belajar.

Anda secara pribadi dari pengalaman beberapa hari Jambore Masyarakat Gambut 2016, apakah melihat ada pengalaman teknik orang-orang di propinsi lain yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan di daerah Anda?

Banyak, kebetulan ada pondok-pondok belajar di enam tempat, itu lumayan bagus. Ada pondok tentang resolusi konflik, ada pondok tentang bagaimana masalah hukum. Jadi mereka bisa langsung bertanya kepada narasumber yang berkompeten.

Konflik-konflik tenurial dengan perusahaan sangat nyata dalam pengalaman hutan dan gambut di Indonesia. Bagaimana peran wanita di dalam mengatasi konflik?

Untuk di Kalsel lumayan struggling. Kalau ada satu kasus di daerah Kalimantan Selatan, misalnya di daerah sawit, justru perempuan-perempuan itu men-support ketika bapak-bapaknya demo. Ketika mereka kemudian memutuskan untuk menduduki lahan yang waktu itu ganti ruginya belum jelas, mereka support memberi makanan, memasak, dan tetap melakukan aktifitas seperti biasa.

Jadi ini merupakan satu perjuangan dalam satu unit keluarga.

Betul. Saya juga mengalami di masyarakat nelayan yang terdampak perubahan iklim. Ketika laki-laki berangkat ke laut untuk bekerja sebagai nelayan lalu pulang, perempuan lah yang membersihkan ikannya lalu membuat ikan asin. Ketika kemudian ada kasus laut mereka dicemari oleh pembuangan limbah, mereka juga ikut support untuk melakukan blockade selama seminggu. Meskipun di dapur sendiri kering, tidak ada pendapatan karena tidak ada ikan yang masuk, tapi mereka support. Jadi ini dianggap sebagai perjuangan yang bukan cuma untuk laki-laki, tapi perempuan juga menganggap ini sebagai sebuah keputusan bersama. Menurut saya, sangat penting sekali kita melakukan pendekatan juga kepada kaum perempuan.

Sekarang Anda sebagai tokoh perempuan tanpa embel-embel perubahan iklim, tokoh perempuan secara umum yang sudah lama berkecimpung. Melihat secara nasional dalam bidang lain peran perempuan di Indonesia, apakah ada perkembangannya atau tidak setelah masa reformasi selain di bidang perubahan iklim?

Kalau secara umum saya pikir lumayan besar. Kalau kita lihat menteri-menteri dan anggota dewan kita banyak sekali dari perempuan, jadi tidak perlu diberi kuota khusus untuk perempuan, sudah cukup banyak yang mau maju.

Jadi sekarang kalau kita kembali pada gambut, dimana peran perempuan yang paling bagus dan apa yang perlu dikerjakan oleh perempuan dalam restorasi gambut? Apakah fisik di lapangan, atau sosialisasi, atau hanya memanfaatkan lahan untuk tanaman-tanaman yang ramah gambut?

Kalau saya terus terang agak beda dengan kaum feminis lain. Kalau saya berpikir ketika di istimewakan khusus seperti itu kita menganggap bahwa perempuan itu berarti berbeda. Saya pikir tidak harus ada dikotomi apakah dia di bagian infrastruktur atau di bagian apa karena perempuan juga mempunyai kemampuan sama.

Hanya menghilangkan hambatan saja.

Betul. Misalnya, ketika kemarin kita mengadakan pelatihan masyarakat untuk memanfaatkan tanaman purun. Purun adalah tanaman yang sangat khas daerah gambut yang sekarang sudah hampir habis. Mereka mengumpulkan purun harus jalan sekitar berapa meter ke rawa dan rawa itu sangat tinggi kedalamannya, kadang-kadang ketemu biawak, ular, dan sebagainya. Mereka mengambil mentah, dijemur, kemudian ditumbuk pakai ulin yang beratnya sekitar 10 kg, baru kemudian diwarna. Proses mengambilnya itu dilakukan oleh mereka sendiri, bukan laki-laki.

Kalau dibilang apakah mereka mempunyai kemampuan atau tidak, saya pikir sama, mereka mengangkat beras juga. Kalau di Banjar mereka sampai yang membajak ladang adalah perempuan juga. Jadi tidak hanya untuk masalah sosialisasi yang menurut saya sifatnya lebih soft, tapi pekerjaan yang fisik juga tidak perlu diragukan.

Setelah ada BRG yang kini baru satu tahun, apakah ada atau tidak perubahan dalam prospek masalah lahan gambut, maksudnya, apa sudah kelihatan karena pasti secara institusional masih perlu penataan?

Sudah banyak perubahan. Semua orang akhirnya sekarang bicara gambut. Kalau dulu gambut cuma sekadar isu sisipan, sekarang menjadi trendsetter.

Kebetulan Indonesia mempunyai posisi yang menguntungkan karena punya banyak masalah di lahan gambut dan terutama punya banyak aktivis feminis yang tidak perlu di dongkrak lagi. Jika tahun depan ada Jambore Masyarakat Gambut lagi, kemana fokus aksentuasinya nanti?

Kalau saya mungkin lebih ke action. Jadi akan lebih banyak masyarakat yang berbicara dari perspektif mereka. Kalau yang kemarin lebih banyak dari pengambil kebijakan dan orang-orang NGO yang berbicara, tapi sangat kurang yang dari masyarakat. Mungkin kalau ada lagi, yang duduk di panggung besar di depan justru masyarakat. Mereka bercerita bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah di lapangan, perspektif mereka, baru kemudian ada tim yang mungkin sifatnya scientific yang memberikan input.

Tapi masyarakat mungkin kalau dilepas begitu saja di panggung besar belum tentu nyaman dalam mengutarakan pendapatnya. Apakah tugas Anda sebagai aktivis perempuan juga memberikan kenyamanan kepada masyarakat untuk tampil?

Betul. Sebenarnya semua itu butuh proses, dari mereka malu untuk bicara, mengungkapkan hal yang kecil sampai akhirnya bisa, tetap perlu dibantu juga. Tapi menurut saya perspektif dari orang yang mengalaminya sendiri akan beda dengan orang yang mengamati.

Apa kira-kira aspek harapan komersial itu bisa menjadi poin penting atau tidak dalam memotivasi orang untuk menangani gambut. Jadi bukan hanya dari segi teknis lahan gambut, tapi dari segi peningkatan nafkah. Apakah itu bisa?

Itu penting juga karena dengan pendekatan itu akhirnya orang bisa merasakan manfaat langsung. Misalnya, sekarang secara ekonomis mereka bisa memanfaatkan produk-produk hasil lahan gambut seperti purun.

---oo000oo---