<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	<description>Transkrip wawancara radio mingguan bersama Wimar Witoelar</description>
	<copyright>Copyright 2005 Yayasan Perspektif Baru</copyright>
	<webMaster>webmaster@perspektifbaru.com</webMaster>
        <lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 21:51:52 GMT</lastBuildDate>
        <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
	<image>
	<url>http://www.perspektifbaru.com/html/images/pblogo.gif</url>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	</image>

 
       <item>
                <title>Ade Armando: Intoleransi Tumbuh Kembali</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/753</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/753#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Pembicaraan hari ini pasti akan mengundang banyak diskusi. Saya melihat tamu kita sekarang ketika dia berbicara di acara pagi di suatu program stasiun televisi swasta dalam bahasa Inggris. Sejak itu saya merasa harus mewawancara dia, yaitu Dr. Ade Armando. Ia berlatar belakang sangat solid dalam bidang komunikasi dan media dengan pendidikan S1, S2 dan S3, serta mempunyai kegiatan yang bernafaskan Islam. Sekarang dia staf di Universitas Paramadina, selain juga mengajar di tempat lain, menulis, berbicara, dan sebagainya. 

Ade Armando mengatakan kasus kekerasan terhadap umat yang sedang menjalankan ibadah seperti terhadap Ahmadiah maupun Jemaat HKBP di Bekasi, Jawa Barat, tidak bisa didiamkan, harus ditindak. Dalam hal ini perlu dipertanyakan mengapa itu dibiarkan terjadi. 

Menurut Ade Armando, pemerintah tidak cukup berhenti pada pernyataan "menyayangkan", tapi harus mengatakan kita tidak terima dan menghentikannya. Sebetulnya Indonesia memiliki mayoritas Islam bukan yang begitu. Jadi ini memang kelompok kecil yang sangat vokal dan rela melakukan apa saja, tapi sayangnya dibiarkan. Karena itu sudah selayaknya, sudah waktunya, pengutukan terhadap tindak kekerasan terhadap umat beragama datang dari para pemuka agama. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Ade Armando.</description>
                <pubDate>Mon, 30 Aug 2010 00:15:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Siti Musdah Mulia: Menegakkan Pluralisme</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/752</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/752#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kita akan berbicang mengenai suatu tema yang sangat fundamental dan juga essential ketika kita berbicara tentang makna kemerdekaan yang kini bersamaan dengan bulan Ramadhan. Untuk membicarakan masalah ini tamu kita adalah Prof DR Siti Musdah Mulia, seorang cendikiawan muslim yang juga sangat concern pada upaya membangun demokrasi, HAM, gender dan pluralisme. 

Menurut Musdah Mulia, menguatnya identitas-identitas berbasis agama ini sebagai suatu tanda bahwa para pengelola negara benar-benar tidak mengerti dan tidak melaksanakan kewajiban mereka dengan optimal. Sebagai pengelola negara seharusnya mereka mengerti bagaimana memenuhi hak-hak sipil warga negara salah satunya adalah hak untuk beragama dan berkeyakinan. 

Menurut Musdah Mulia, adanya sekelompok orang yang menampilkan wajah Islam yang menakutkan sehingga sampai mengganggu hak untuk beragama warga lainnya karena ada interpretasi yang keliru. Islam dalam normatifnya adalah agama yang membawa ajaran-ajaran tentang perlunya perdamaian, perlunya hidup harmonis antar sesama manusia, bahkan antar manusia dan alam semesta. Ada tiga prinsip yang menjadi dasar Islam yaitu kebebasan, persaudaraan, dan persamaan. Namun dalam implementasinya, ajaran ini dapat disalahpahami oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam. Di dalam implementasinya mereka menjauhi Islam yang sesungguhnya.

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Siti Musdah Mulia.</description>
                <pubDate>Mon, 23 Aug 2010 00:42:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Urip Santoso: Coast Guard Menjaga Pantai Kita</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/751</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/751#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Bincang-bincang kita pada kesempatan kali ini dengan Urip Santoso, seorang purnawirawan perwira tinggi dari Angkatan Laut. Kita akan berbincang mengenai pertahanan maritim kita yang selama ini sering diwacanakan di media, dan apakah sejauh ini telah mendapatkan implementasi yang memadai. 

Urip Santoso mengatakan Indonesia belum menerapkan sistem negara maritim karena hingga kini belum memiliki Coast Guard. Ini terkait ada kepentingan politik, ekonomi, power, otoritas, dan tidak ada ketegasan. Jadi masing-masing mencoba mengamankan kavlingnya sendiri-sendiri dalam urusan laut dan pantai. Seharusnya Coast Guard juga dibuat berdasarkan satu UU khusus agar bisa menjaga kedaulatan dan kewenangan di laut dan pantai.

Menurut Urip Santoso, secara budaya juga harus ditumbuhkan kecintaan pada maritim. Dia mengusulkan agar ada kapal layar untuk Pramuka, Saka Bahari Laut, sehingga mereka bisa pergi berlayar, bertualang dan menikmati laut. 

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Urip Santoso.</description>
                <pubDate>Mon, 16 Aug 2010 01:04:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K)  : Cegah Kekurangan Gizi, Hindari Kelebihannya</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/750</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/750#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Tujuan pembangunan di Indonesia seharusnya untuk manusianya dan yang paling penting adalah anak-anak, sebab mereka yang masih bisa diselamatkan untuk masa depan. Anak-anak kita selalu dihadapi masa pertumbuhan yang sulit dan panduannya tentu seharusnya datang dari orang tua selain dari sekolah, masyarakat dan publik. Tamu kita Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, adalah spesialis anak yang telah menjalani pengalaman klinis sejak 1984, mulai Puskemas daerah sampai dengan tingkat pusat dan juga internasional. Dia menempuh jalur akademik yang menyangkut anak-anak dan nutrisi bahkan genetika. Gelar Doktornya itu diperoleh dari pendidikan S3 di Utrecht, Belanda.

Menurut Damayanti, saat ini kita menghadapi double burden of malnutrition atau beban ganda masalah gizi. Di satu sisi, kita masih menghadapi anak yang kurang gizi. Di sisi lain, kita mulai menghadapi anak yang mengalami gizi lebih bahkan obesitas. Keduanya berdampak negatif bagi bangsa kita ke depan. 

Damayanti mengatakan kita akan menghadapi kehilangan generasi akibat double burden of malnutrition. Pada tiga tahun pertama usia anak merupakan 95% pertumbuhan otak, sehingga intelektual dibina pada saat itu. Jadi kalau tidak meninggal, maka intelektual anak tersebut akan separuh, istilah dia. Terus kita punya satu lagi kelompok orang tua yang mampu sehingga bisa menyekolahkan anaknya hingga ke Harvard University atau universitas ternama lainnya. Namun dia mengalami obesitas sehingga saat balik ke Indonesia dan berusia 40 tahun mengalami stroke, serangan jantung. Jadi siapa yang memimpin negara kita nanti.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Dr. dr. Damayanti Rusli </description>
                <pubDate>Mon, 09 Aug 2010 00:29:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Dra. Kustantinah Apt. M. App.Sc. : Melindungi Masyarakat dari Obat dan Makanan Berbahaya</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/749</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/749#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Hari ini topiknya sangat strategis, sangat penting dan saya rasa sangat kurang diketahui masyarakat, yaitu bagaimana masyarakat melalui pemerintah melindungi diri dari obat-obatan dan makanan yang berpengaruh buruk terhadap semua orang Indonesia. Pembicaraan akan dilakukan dengan orang yang paling berwenang, kompeten membahas ini yaitu Dra. Kustantinah Apt. M. App.Sc, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 
Kustantinah mengatakan keamanan pangan jajanan anak sekolah terutama sekolah dasar termasuk menjadi prioritas BPOM saat ini karena anak-anak tidak bisa memilih, hanya rasa keinginan membeli. BPOM melakukan sampling ke jajanan yang banyak dikonsumsi anak kecil, misalnya, bakso, mie, kerupuk, sirup yang mengandung zat warna, dan lain-lain. Itu dilakukan dengan cara membeli tanpa diketahui oleh penjual jajanan pangan.
Menurut Kustantinah, kalau dari hasil penelitian menunjukan makanan itu mengandung boraks (pengawet), formalin, dan pewarna yang tidak diperbolehkan, maka BPOM melakukan pembinaan karena kebanyakan dari produsen jajanan anak sekolah adalah usaha kecil menengah (home industry). Pembinaan dilakukan melalui komite sekolah atau pengawas sekolah secara komprehensif mengenai bahan apa yang boleh dan yang tidak, termasuk cara membersihkan peralatan dan badan kita sendiri. Selain pedagangnya, BPOM juga melakukan pembinaan mulai dari rumah. Artinya, sebaiknya anak-anak dibawakan bekal dari rumah. Kalau memang ia ingin jajan di sekolah maka lihat kantinnya. 
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Dra. Kustantinah Apt. M. App.Sc. </description>
                <pubDate>Mon, 02 Aug 2010 01:05:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Marina S. Kusumawardhani: Tujuh Minggu di India dan Thailand</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/748</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/748#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Tamu kita seorang yang sangat positif dan cerah. Saya bertemu dia saat sedang mengambil bagasi, rebutan koper di bandar udara (bandara). Sebuah situasi yang tidak mengundang senyum tapi begitu melihat Marina senyum tenang, saya menjadi tersenyum. Dari pertemuan di baggage claim di bandara, saya berkenalan dengan Marina yang ternyata sedang menulis buku dan kini sudah diluncurkan. Bukunya mengenai sebuah perjalanan mencari makna hidup.

Marina telah pergi ke puluhan kota di dunia untuk bertualang dan mencari pengalaman spiritual. Dia berpandangan semua orang memiliki spiritual outlook. Contohnya mengenai keindahan. Semua orang tertarik pada keindahan, dan ketertarikan kepada keindahan sebetulnya menunjukkan semua orang juga memiliki spiritual in a sense. 

Menurut Marina perjalanan mencari pengalaman spiritual bukan berarti berguru atau meditasi, tapi lebih kepada berbicara dengan orang-orang yang ditemui di sana. Berbicara dengan sopir taksi, sesama traveller untuk berbicara soal kebijaksanaan hidup. Jadi makna sebetulnya adalah tidak usah jalan ke mana-mana untuk mencari surga di bumi karena sebetulnya makna ada di kita sendiri. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Marina S. Kusumawardhani.</description>
                <pubDate>Mon, 26 Jul 2010 01:26:48 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Prof. Hardinsyah: Fungsi Lemak dalam Gizi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/747</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/747#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kami sangat beruntung tamu kita Prof. Hardinsyah bisa hadir di sini karena secara pribadi saya mempunyai motivasi yang kuat terhadap topiknya. Prof. Hardinsyah meraih gelar Master of Science (MSc) dan Doctor of Philosophy (Ph.D) di bidang gizi khususnya community nutrition. Dia pernah menjadi Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Menurut Prof. Hardinsyah, zat gizi tidak hanya karbohidrat, protein, vitamin, tapi juga lemak, mineral dan air. Lemak salah satu zat gizi yang kita butuhkan dalam jumlah yang banyak. Karbohidrat, protein, dan lemak adalah gizi makro yang lebih banyak dibutuhkan. Sebenarnya semua lemak itu bermanfaat bagi sumber tenaga tapi begitu lemak berlebih maka akan disimpan oleh tubuh karena tubuh mempunyai mekanisme pencadangan, jika suatu saat diperlukan lagi. 

Prof. Hardinsyah mengatakan salah satu lemak yang dibutuhkan adalah lemak esensial. Namun karena tubuh tidak dapat memproduksinya, jadi harus kita usahakan dari luar (dimakan). Asam lemak esensial itu ada yang disebut Omega 3, Omega 6, dan Omega 9. Dari semua makanan yang mengandung minyak atau lemak, terutama untuk lemak nabati banyak mengandung Omega 6 dan Omega 9. Sedangkan untuk Omega 3 umumnya berasal dari hasil laut, contohnya di ikan. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Prof. Hardinsyah. </description>
                <pubDate>Mon, 19 Jul 2010 01:28:32 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Donny Ardyanto: “Tindak Tegas FPI”</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/746</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/746#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kali ini kita akan membahas mengenai aksi kebrutalan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dan ; kita akan mencermati juga sikap negara terhadap aksi kebrutalan ini. Untuk mengupas persoalan ini kami mewawancarai Managing Director Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) Donny Ardyanto. 

Menurut Donny Ardyanto, kalau ada sebuah organisasi yang jelas-jelas melakukan kekerasan terhadap warga negara lainnya, maka harus dibekukan atau dibubarkan. Pembubaran ini tidak serta merta dilakukan secara sepihak oleh negara, tapi melalui prosedur hukum di pengadilan. Jadi keputusan pengadilan yang menentukannya. 

Donny Ardyanto mengatakan saat ini yang harus dilakukan adalah mempertegas bahwa kita negara hukum, kita negara demokrasi, mana wilayah privat dan mana wilayah publik. Di sini peran negara bukan hanya soal mengadopsi aturan atau perangkat hukumnya. Tapi juga ditunjukkan dalam praktek bahwa inilah wilayah publik, inilah wilayah privat. Jadi masyarakat bisa dengan cepat belajar bagaimana berdemokrasi, menghargai orang lain, hidup dalam satu komunitas yang memang secara faktual adalah plural. 

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Donny Ardyanto.</description>
                <pubDate>Fri, 09 Jul 2010 06:57:55 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Asmiati Rasyid: ICT Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/745</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/745#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Hari ini kita akan bicara mengenai telekomunikasi dan peran pemerintah dalam mengembangkan pasarnya. Kami sangat beruntung menerima tamu yang sudah mempraktekkan ini, Asmiati Rasyid yang baru pulang dari Perancis setelah menyelesaikan Doktor dengan studi mengenai kerangka regulasi untuk mendorong industri Information, Communication, and Technology (ICT) sebagai mesin pertumbuhan di negara berkembang. 

Menurut Asmiati, industri ICT bisa menjadi suatu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Itu karena kemampuan kreativitas dan inovasi anak-anak kita sudah terbukti dan tidak kalah pintar dengan orang-orang di Amerika, Eropa, maupun China. Cuma pemerintah belum mampu melihat itu. Padahal hanya dengan satu komputer dan kreativitasnya, mereka bisa menghasilkan produk-produk IT hebat yang bisa dijadikan uang.

Asmiati mengatakan guna mendorong industri ICT lebih besar maka harus ada langkah-langkah untuk memperbesarnya. Dari situ baru pemerintah harus melihat darimana untuk bisa mencapai investasinya. Karena itu perlu peran penting pemerintah untuk membuat suatu aturan investasi asing, dan mengatur kompetisinya agar industri ICT berkembang. Misalnya di China, semua operator yang mau investasi untuk jaringan, misalnya US$ 100 juta, maka 5% dari jumlah tersebut harus dialokasikan ke riset dan pengembangan (R&D) dan itu harus benar-benar di China dan masuk ke universitas-universitas mereka.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Asmiati Rasyid</description>
                <pubDate>Sun, 04 Jul 2010 17:49:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Rocky Gerung: Integritas adalah Sumber Energi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/744</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/744#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Senang sekali bertemu Anda kembali. Hari ini kita akan bicara dengan orang baik mengenai isu yang sangat penting seputar perpolitikan Indonesia. Tamu kita kali ini adalah Rocky Gerung, yang namanya seperti seorang petinju, namun ia sangat jauh dari kekerasan fisik. Terakhir kita melihat ia berada di panggung Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D). 

Menurut Rocky Gerung, Kalau kita lihat situasi saat ini seperti polisi menangkap polisi, jaksa menuntut jaksa, hakim mengadili hakim, itu berarti sudah kacau negeri ini. Sementara, di tingkat yang lebih formil lagi, DPR semakin finansial. Mereka tidak bisa berpikir kalau tidak ada uang. Yang paling parah, presiden makin feodal. Lengkaplah kondisi kengerian politik kita hari-hari ini. 

Menurut Rocky Gerung, saat ini semua sudah dikuasai kartel karena partai tersendat dan trias politika macet, maka warga yang harus bergerak. Dalam kondisi politik seperti tadi, Sri Mulyani Indrawati mengajarkan kita tentang integritas. Itu hal yang paling penting. Saya percaya bahwa integritas menjadi sumber utama untuk energi perubahan. Nanti akan ada suatu periode dimana publik politik akan menerima suatu perspektif baru. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Rocky Gerung.</description>
                <pubDate>Sun, 27 Jun 2010 22:18:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Eryanto Nugroho: Melawan Serangan Balik Koruptor</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/743</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/743#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru
Kita akan berdiskusi mengenai nasib pemberantasan korupsi di Indonesia dan proses delegitimasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hari-hari ini kerap menjadi perbincangan masyarakat. Pada kesempatan ini hadir salah seorang yang punya kompetensi dan juga kepedulian terhadap masalah pemberantasan korupsi di Indonesia yaitu Eryanto Nugroho, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). 

Menurut Eryanto Nugroho, saat ini ada perlawanan balik dari para koruptor atau corruptors fight back. Antara lain terlihat dari upaya delegitimasi KPK seperti melalui upaya kriminalisasi dua pimpinan KPK. Rekayasa kasus Bibit dan Chandra termasuk upaya corruptors fight back. 

Eryanto Nugroho mengatakan kita harus memperlakukan KPK sebagai harapan. Jadi ketika kita perlakukan KPK sebagai harapan, kita akan rawat dan mempertahankannya sekuat mungkin ketika dia akan dirusak. Ketika kita menafsirkan KPK sebagai harapan untuk Indonesia yang lebih baik maka kita semua harus ikut bersama-sama mempertahankan KPK dari serangan balik para koruptor. Ery berharap agar masyarakat jangan hanya diam. Semua orang mempunyai kapasitas untuk melakukan sesuatu dengan kapasitasnya masing-masing. Kemudian sampaikanlah kepedulian dan concern terhadap pemberantasan korupsi mulai dari kita sendiri dan lingkungan terdekat.

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Eryanto Nugroho.</description>
                <pubDate>Mon, 21 Jun 2010 00:18:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Yesayas Oktovianus: Piala Dunia 2010</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/742</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/742#comments</comments>
                <description>Kali ini topik kita seputar momentum puncak sepakbola yang datang sekali dalam empat tahun, seputar Piala Dunia. Tamu kita adalah Yesayas Oktavianus, rekan bicara yang paling tahu mengenai Piala Dunia.Yesayas telah menjadi wartawan sepak bola sejak tahun 1980.

Menurut Yesayas, Piala Dunia 2010 sangat menarik karena sampai sekarang semua pakar tidak bisa menjagokan dengan pasti siapa yang berpeluang paling besar menjadi juara dunia. Dari tiga zona dunia yaitu Eropa, Amerika Latin dan Afrika, masing-masing wilayah mempunyai peluang.

Selain itu, kini muncul kekuatan baru dalam dunia sepak bola. Misalnya, kekuatan baru dari Eropa adalah Spanyol yang selama ini tenggelam di bawah kekuatan lain, seperti Jerman, Inggris ataupun Italia. Sedangkan dari Afrika adalah Pantai Gading. Karena itu dia menjagokan Spanyol, Brazil dan Pantai Gading sebagai tim yang berpeluang untuk maju ke babak empat besar.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Yesayas Oktovianus. </description>
                <pubDate>Mon, 14 Jun 2010 04:19:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>M. Guntur Romli: Merawat Kebebasan Melalui Seni Budaya</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/741</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/741#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini seorang intelektual muda yang berbeda dengan masyarakat di kota pada umumnya. Pikirannya kadang-kadang melampaui orang intelektual perkotaan. M. Guntur Romli, lulusan pesantren di Madura, Jawa Timur, dan pernah bersekolah di Kairo, Mesir. Sekarang dia menjadi penjaga gawang di komunitas Salihara. Satu Kantung kebudayaan dan kesenian yang sangat penting saat ini. Kita akan berbicara tentang Komunitas Salihara dan aktifitasnya. 

M. Guntur Romli mengatakan saat ini masih besar ancaman terhadap kebebasan yang sudah bisa kita perjuangkan. Misalnya, pada akhir tahun lalu ada fenomena kembalinya tirani negara, yaitu dengan bukti pelarangan film Balibo 5 oleh Lembaga Sensor Film (LSF) dan juga Menteri Kebudayaan. Kedua, pelarangan beredarnya lima buku yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung. 

Menurut Guntur Romli, komunitas di Salihara menilai merawat kebebasan tidak bisa sendirian. Tidak hanya orang yang terlibat dalam komunitas, tapi juga bagaimana kita mengajak masyarakat, warga negara untuk terlibat. Selama ini yang mempertemukan mereka yang berkumpul di Salihara adalah peduli terhadap kebebasan. Jadi bukan hanya untuk ekspresi kesenian, bisnis, tapi ada misi. Mungkin itu yang membuat unik Salihara. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan M. Guntur Romli.</description>
                <pubDate>Mon, 07 Jun 2010 00:31:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Poltak Hotradero: Dampak Kehilangan Sri Mulyani Indrawati</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/740</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/740#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Pembicaraan kita sangat aktual dan sangat tajam, banyak dibahas orang dari berbagai background yang mengerti maupun tidak, yang terpengaruh maupun tidak, yaitu seputar berangkatnya Sri Mulyani Indrawati menjadi Managing Director Bank Dunia, dan yang berdampak langsung ke kita, mundurnya dia dari jabatan Menteri Keuangan. Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan kemudian digantikan oleh Agus Martowardojo, dan Ani Ratnawati diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Kita tidak akan membicarakan aspek-aspek lain kecuali aspek finansial dan dampaknya ke ekonomi. Kita akan membicarakannya dengan Poltak Hotradero, Kepala Divisi Riset, PT. Recapital Securities.

Poltak Hotradero mengatakan Sri Mulyani mempunyai kontribusi sangat besar dalam mereformasi Kementerian Keuangan dan dalam membuat postur anggaran kita sehat. Terutama pasang badan paling depan dalam usaha menekan belanja kementerian lainnya. Ini yang kadang-kadang menyebabkan Sri Mulyani harus berhadapan dengan menteri-menteri lain.

Menurut Poltak, Kini fundamental ekonomi Indonesia cukup baik. Tetapi yang penting adalah menjaga momentumnya karena di sini penerimaan pajak harus tetap mencapai target. Basis penerimaan pajak juga meluas dan meningkat. Menteri Keuangan yang baru seharusnya mengejar para penunggak pajak besar karena akan menjadi preseden buruk bila dari satu penghutang pajak tidak terpenuhi penerimaan negara maka semua akan bertanya: Apa esensinya kita bayar pajak kalau bisnis sebesar itu dan memang menguntungkan tapi tidak bayar pajak?

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Poltak Hotradero.</description>
                <pubDate>Thu, 27 May 2010 10:40:19 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Immas Sunarya: TVRI dalam Peran Baru</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/739</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/739#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Siaran televisi (TV) yang mencapai seluruh negara sejak 1962 dan pertama di Indonesia adalah TVRI. Saat ini Direktur Utama TVRI Immas Sunarya menjadi tamu di acara ini. Dia masuk TVRI pada 1982 dan berpendidikan S1 Komunikasi Universitas Padjajaran kemudian melanjutkan S2 di bidang marketing. 
Immas Sunarya mengatakan TVRI ada pada porsi untuk penyeimbang komunikasi bagi masyarakat, khususnya melalui televisi. Itu karena saat ini TV sangat berdampak bagi masyarakat untuk mengubah perilaku dan juga pendapat, sehingga kadang-kadang masyarakat menjadi permisif terhadap sesuatu hal yang sangat melanggar nilai dan norma. 

Menurut Immas pemerintah tidak ikut campur terhadap konten TVRI. Kita juga tidak boleh alergi terhadap pemerintah. Sekarang kita sudah menjadi negara demokrasi, pemerintah dipilih oleh lebih dari 60% rakyat Indonesia. Saya pikir itu legitimasi yang sangat kuat. Mereka juga harus mempunyai porsi untuk memberikan informasi, dan masyarakat juga mempunyai hak untuk mengetahui sampai seberapa jauh apa yang dilakukan pemerintah yang notebene sudah dipilih. Disamping tentu saja kami tetap memberikan kritik sosial yang membangun. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Immas Sunarya.</description>
                <pubDate>Mon, 24 May 2010 00:21:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Ulil Abshar Abdalla: Negara Sekuler Untuk Semua</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/738</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/738#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Pada kesempatan ini kita akan berbicara mengenai kebebasan beragama dan relasi antara negara dan agama paska keputusan Mahkamah Konsitusi (MK) yang menolak Judicial Review terhadap undang-undang perihal larangan penodaan agama.  ;Kita akan membicarakan hal ini dengan Ulil Absar Abdalla, seorang cendekiawan muslim.

Ulil mengatakan negara tidak boleh mencampuri aqidah internal umat beragama. Misalnya, negara tidak bisa mengatakan aqidah A. B, C atau dokma A, B, C dari agama tertentu benar dan yang lain sesat, yang ini meyimpang sedangkan yang itu salah. Itu tidak bisa sebab masalah dokma adalah masalah kepercayaan. Itu masalah kebebasan masing-masing orang. Kalau Kementerian Agama diberikan wewenang oleh negara untuk menentukan mana aqidah yang benar dan yang tidak, maka nanti ujungnya negara akan melakukan inkuisi ke kepercayaan. Jadi itu seperti abad pertengahan di Eropa dimana negara melakukan pengadilan terhadap kepercayaan penduduk. Saat itu kalau aqidah atau dokma yang Anda percayai bertentangan dengan dokma yang diikuti oleh negara, maka Anda dihukum. 

Menurut Ulil, negara sekuler adalah negara yang paling adil terhadap semua kelompok. Kalau suatu negara menjadi suatu negara agama tertentu maka warga negara dari agama lain akan menjadi warga negara kelas dua. Jadi negara sekuler adalah negara yang membawa berkah kepada semua umat beragama karena negara bersifat netral ;dan memperlakukan semua penduduknya secara setara tanpa memperhatikan agamanya.

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Ulil Abshar Abdalla.</description>
                <pubDate>Mon, 17 May 2010 01:09:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Benny Handoko: Perluasan Akses Politik Kelas Menengah</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/737</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/737#comments</comments>
                <description>
rekaman mp3: http://bit.ly/bPPKyr
Saya belum lama berkenalan dengan Benny Handoko, insinyur sipil dari Universitas Parahyangan (Unpar). Dia masuk kuliah 1997 dan lulus 2001. Anda bisa membandingkan generasi Anda dengan dia. Benny jelas di bawah saya karena saya masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1963. Dia masih muda dan saya senang bergaul dengan orang dari berbagai usia. Saya berkenalan dengan Benny melalui Twitter setelah melihat suatu wawasan, suatu perspektif kewargaan dari dirinya. Saya tidak mengatakan perspektif politik tapi dia mempunyai sudut pandang terhadap yang terjadi di masyarakat dan diungkapkannya melalui media sosial. 

Kekhawatiran melihat sepak terjang beberapa politikus menguasai media terutama televisi dan adanya upaya penyetiran opini publik. Kekhawatiran terbukti dengan adanya Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai Bank Century. Menurut Benny, hal tersebut yang membuat saya perlu merasa kritis kembali terhadap perkembangan politik yang terjadi sekarang. 
Benny Handoko berharap jika suatu ketika nanti Sri Mulyani Indrawati dan Boediono tidak dipertahankan karena tekanan politik, kita yang Orang Biasa dapat mulai bersuara dan membuat catatan di dunia maya. Orang Biasa dapat mulai menghimpun kekuatan untuk mengawasi jejak rekam anggota DPR karena sebenarnya mereka sedang mengacaukan kondisi politik kita ini. Mudah-mudahan gerakan Orang Biasa suatu saat akan menjadi lebih kuat. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Benny Handoko.</description>
                <pubDate>Fri, 07 May 2010 04:36:14 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Susy Rizky Wiyantini: Kekuatan Spontan Orang Biasa Membela Sri Mulyani Indrawati</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/736</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/736#comments</comments>
                <description>
rekaman mp3: http://bit.ly/bWbgZN
Terima kasih Anda terus bersama kami setiap minggu tanpa interupsi sejak tahun 1996. Kita bangga dan senang tidak pernah kesulitan mencari tamu karena tamu kami dipilih dengan sangat selektif, bukan berdasarkan prestasi, sekolah atau kemampuan tapi dari inspirasi yang diberikannya kepada masyarakat. Juga dari kegunaannya untuk diketahui orang biasa karena di Indonesia kalau kita tidak terinspirasi oleh orang biasa maka terlalu banyak orang tidak biasa yang tidak benar. ;Tamu kita kini Susy Rizky Wiyantini. Dia adalah anggota kelompok Kami Percaya Integritas Sri Mulyani Indrawati (KPI-SMI) di jejaring media sosial. 

Susy Rizky Wiyantini mengatakan KPI-SMI berdiri pada akhir November 2009 sebagai bentuk keprihatinan bahwa seorang pejabat publik yang kita lihat dan tanpa mengenalnyapun kita tahu bahwa dia orang baik, cerdas, dan jujur, kok dianiaya. Kami di situ bukan hanya menanggapi tapi juga mendiskusikan topik-topik yang hangat di luar. Kami merasa informasi di media banyak yang tidak benar. Kita diskusikan, tukar informasi apa sih yang sebenarnya terjadi. 

Prinsip KPI-SMI adalah bukan Sri Mulyani yang membutuhkan dukungan, kitalah yang memerlukan dia. Jadi tidak terbalik. Tanpa kita pun Sri Mulyani tetap bertahan kok. Kalau tidak bertahan pun dia bisa seperti orang-orang katakan bahwa dia bisa bekerja dimana saja, seperti di Bank Dunia. Justru kita yang memerlukan dia. Kita harus bisa mempertahankan Sri Mulyani Indrawati untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Susy Rizky Wiyantini. </description>
                <pubDate>Fri, 30 Apr 2010 09:06:58 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Beben S. Mulyana: Jazz adalah Musik Kehidupan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/735</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/735#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Tamu kita dari dunia musik, dan dia akan memberitahu kita bahwa musik adalah kehidupan dan kehidupan adalah musik. Di awal wawancara alunan musik pembuka disajikan oleh Beben S. Mulyana.
Menurut Beben, sejak awal kelahirannya, jazz adalah manisfestasi sebuah sikap kebebasan karena orang kulit hitam di zamannya sama sekali tidak bebas untuk bergaul, bersosialisasi, tapi mereka hanya bisa bebas salah satunya ketika bermusik jazz. Improvisasi dari kebebasan dan dilakukan spontan adalah jazz.
Di Indonesia, ungkap Beben, jazz ada di kalangan tertentu dan biasanya berada di café atau di hotel. Sedangkan di kalangan menengah ke bawah cenderung tidak ada. Sepertinya jazz menjadi musik orang elit dan segala macam. Padahal kita lihat sejarah jazz dari orang kulit hitam bahkan bukan menengah ke bawah lagi tapi dari kalangan tertindas.

Melalui Komunitas Jazz Kemayoran (KJK), misi Beben sangat sederhana, melalui jazz, mengajak orang untuk bersilaturahmi, mengajak orang memahami jazz itu sendiri dengan memberikan edukasi ke semua orang mengenai jazz, musik dan sejarah dibelakangnya dan mensosialisasikan musik jazz karena jazz milik semua, semua status sosial, semua usia.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Beben S. Mulyana.</description>
                <pubDate>Mon, 26 Apr 2010 08:48:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>William Kwan HL: Mempopulerkan Kembali Batik Lasem</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/734</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/734#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kalau kita bicara tentang batik maka ingatan kita tertuju pada batik Yogyakarta dan Solo. Padahal kita memiliki banyak sekali ragam batik di seluruh pelosok Indonesia. Inilah sebabnya mengapa kami undang William Kwan, pemrakarsa bangkitnya kembali batik Lasem di Indonesia. Selain giat melakukan program revitalisasi budaya batik Lasem di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dia juga menaruh perhatian pada batik-batik lain di seluruh pelosok Indonesia. William Kwan adalah Direktur Institut Pluralisme Indonesia (IPI) dan alumnus Universitas Kristen Satyawacana di Salatiga. Kemudian dia mengambil Economic Development di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat. 

Menurut William Kwan, di batik Lasem ada pengaruh interaksi lintas budaya. Terlihat dari multikultur desainnya. Batik Lasem merupakan perpaduan antara batik China dan Jawa. Dulu industri batik Lasem merupakan industri besar, tapi kemudian merosot sehingga dia berpikir, "Kok bisa ya, batik ini diterlantarkan." Hal itu yang kemudian mendorongnya untuk mengangkat kembali batik Lasem.

William Kwan mengatakan upaya yang dilakukannya sederhana yaitu dengan pemberdayaan para perempuan pembatik untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan pembatik di Lasem. Awalnya, seorang perempuan pembatik diberi motivasi dan ditingkatkan kemampuan teknis dan manajemen. Juga diajarkan bagaimana dinamika kelompok bahkan sampai mempelajari apa yang disebut dengan modal sosial untuk mengembangkan jaringan-jaringan. Dengan cara begitu akhirnya sekarang mereka pelan-pelan sudah dapat bergerak. Menurut dia, langkah tersebut bisa juga dipakai untuk merevitalisasi batik lainnya. 

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan William Kwan HL. </description>
                <pubDate>Mon, 19 Apr 2010 01:12:45 GMT</pubDate>
        </item>
        
   </channel>
</rss>