<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	<description>Transkrip wawancara radio mingguan bersama Wimar Witoelar</description>
	<copyright>Copyright 2005 Yayasan Perspektif Baru</copyright>
	<webMaster>webmaster@perspektifbaru.com</webMaster>
        <lastBuildDate>Mon, 12 May 2008 04:01:12 GMT</lastBuildDate>
        <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
	<image>
	<url>http://www.perspektifbaru.com/html/images/pblogo.gif</url>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	</image>

 
       <item>
                <title>Daniel Dhakidae: Kebangkitan Nasional</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/634</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/634#comments</comments>
                <description>Pembicaraan kita kali ini dikhususkan untuk membahas "100 tahun Kebangkitan Nasional" dan kita mendapatkan narasumber yang sangat kompeten untuk membicarakan hal ini, yaitu Daniel Dhakidae. 

Daniel Dhakidae berpandangan kebangsaan adalah satu proses. Jadi hampir tidak mungkin di tentukan dengan tegas mulai pada suatu tanggal. Itu sama sekali tidak masuk akal untuk satu proses perkembangan yang namanya perkembangan kebangsaan. Kebangsaan tidak pernah mampu dikatakan orang mulai pada 20 Mei 1908. 

Menurut Daniel Dhakidae, walaupun itu tidak benar tapi tetap dirayakan, dalam hal ini yang penting adalah bagaimana memberikan makna pada Kebangkitan itu. Salah satu makna untuk kita sekarang ini yaitu kalau dulu ethno nationalism mampu menuju nationalism yang sesungguhnya, maka itu adalah sesuatu yang perlu direnungkan kita semua.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardhani dengan Daniel Dhakidae. </description>
                <pubDate>Mon, 12 May 2008 01:19:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Endang Sukara: Jasa Lingkungan Hidup</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/633</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/633#comments</comments>
                <description>Bagi pemerintah barangkali ekonomi dan politik merupakan persoalan terbesar bagi bangsa ini. Itu tercermin dari berbagai kebijakan termasuk dalam pengelolaan anggaran secara nasional. Tetapi bagi sebagian orang persoalan lingkungan hidup tampaknya lebih nyata, lebih konkrit dan kerusakannya bisa sangat luar biasa terutama untuk masa depan kita. Kita akan mendiskusikan persoalan-persoalan lingkungan hidup terutama mengatasi dan memperbaiki krisis ini dengan Prof. Dr. H. Endang Sukara, Deputi bidang ilmu pengetahuan hayati di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

Endang Sukara mengatakan lingkungan hidup baik flora, fauna, mikro organisme, dan barangkali virus juga, serta segala macam isinya itu sungguh mempunyai manfaat yang luar biasa untuk hidup dan kehidupan umat manusia. Karena itu jasa-jasa lingkungan hidup terhadap kehidupan manusia penting dipahami untuk memperbaiki krisis lingkungan.

Menurut Endang Sukara, jasa-jasa lingkungan tersebut harus dimanfaatkan dengan menjadikan tiga unsur pembangunan menjadi satu, yaitu membangun ekonomi, membangun sosialnya dengan masyarakat dilibatkan dalam semua proses dan juga mendapat keuntungan dampak ekonomi dari sana, dan membangun lingkungan hidup. Kalau salah satunya saja, misalnya lingkungan hidup seperti hanya untuk proteksi-proteksi, maka itu tidak ada maknanya. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Endang Sukara. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.</description>
                <pubDate>Mon, 05 May 2008 02:02:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Eko S. Tjiptadi: Melawan Perampok Kesejahteraan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/632</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/632#comments</comments>
                <description>Para pembaca dimanapun Anda berada, saya Faisol Riza hadir kembali di Perspektif Baru dan kali ini kita mendiskusikan pendidikan politik dan anti korupsi. Bersama saya sudah hadir Eko S. Tjiptadi, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Eko S. Tjiptadi mengatakan upaya pemberantasan korupsi adalah sebuah rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan penindakan (represif), pencegahan, dan peran serta masyarakat. Dalam konteks pencegahan dan peran serta masyarakat ini penting untuk melakukan pendidikan anti korupsi. Kalau itu tidak dilakukan, jangan harap korupsi kemudian menurun karena koruptor senior hanya akan diganti oleh koruptor junior.

Menurut Eko S. Tjiptadi, dalam konteks ini penting juga pemakaian istilah yang tepat bagi koruptor. Untuk koruptor harus dipersamakan dengan perampok, yaitu perampok kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan melawan kalau memang sadar bahwa kesejahteraannya dirampok. Jadi dalam konteks pendidikan anti korupsi, KPK memperkenalkan itu kepada siapapun bahwa koruptor adalah sama dengan perampok, penghianat, dan sebagainya.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Eko S. Tjiptadi. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.</description>
                <pubDate>Mon, 28 Apr 2008 00:51:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Melly Budhiman: Bom Waktu Autisme</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/631</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/631#comments</comments>
                <description>Selamat berjumpa kembali pembaca Perspektif Baru bersama saya Faisol Riza dan semoga Anda dalam keadaan sehat. Pada 2 April dunia memperingati hari autisme. Satu peringatan yang penting untuk dunia kesehatan. Bersama saya hadir Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisme Indonesia (YAI). 

Melly Budhiman mengatakan autisme kini sudah menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak dirinya berpraktek sebagai psikiater dari 1976 sampai 1980-an, pasien autisme yang datang ke dirinya hanya tiga sampai lima per tahun. Sekarang, tiga pasien baru per hari, itu pun karena dirinya membatasi menerima pasien. Kalau tidak membatasinya mungkin pasien baru lebih banyak. Bayangkan, dari tiga per tahun sampai tiga per hari hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Menurut Melly, autisme di Indonesia kurang mendapat perhatian. Padahal sekali terdiagnosa sebagai anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Ini seperti bom waktu yang mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan masyarakat bawah tidak mendapat penanganan yang baik.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Melly Budhiman. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.</description>
                <pubDate>Mon, 21 Apr 2008 03:01:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Huzna Zahir: Pahami Konsekuensi Menabung di Bank</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/630</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/630#comments</comments>
                <description>Saya Jaleswari Pramodhawardani akan berbincang dengan tamu kita Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Zahir mengenai tabungan di bank yang menjadi minus. Selama ini saat menyimpan uang di bank, kita tidak pernah peduli, tidak pernah cek, tapi tabungan kita terus berkurang walaupun tidak melakukan pengambilan. 

Huzna Zahir mengatakan masyarakat harus melihat biaya bank saat menabung di bank karena itu akan mempengaruhi nilai minimal uang tabungan kita agar tidak merugi. Jika uang tabungan kita di bawah nilai minimal, maka uang yang masuk dari bunga dan yang keluar akibat biaya lebih besar biayanya. Kadang-kadang kita tidak menyadari hal itu. 

Menurut Huzna Zahir, bank-bank seharusnya terbuka terhadap informasi perkiraan nilai minimal uang tabungan atau minimal saldo agar tidak menjadi minus terpotong biaya administrasi bank. Untuk konsumen, hak informasi itu sangat penting. Di sisi lain, di pihak bank juga ada Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mengatakan soal transparansi informasi produk bank.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Huzna Zahir. </description>
                <pubDate>Mon, 14 Apr 2008 14:42:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Dudi Sudibyo: Semua Tergantung Regulasi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/629</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/629#comments</comments>
                <description>Kami ingin membuka perspektif mengenai keamanan, atau ketidaknyamanan, atau status dari dunia penerbangan di Indonesia. Tamu kita adalah Dudi Sudibyo seorang ahli penerbangan dalam arti dia mengamati setiap tren perkembangan penerbangan. Dia redaktur senior majalah Angkasa, penulis untuk Kompas, dan orang yang secara obyektif netral atas dunia penerbangan di Indonesia.

Menurut Dudi Sudibyo, permasalahan dunia penerbangan di Indonesia timbul ketika pemerintah membuka kran dimana banyak orang bisa mendirikan perusahaan airline yaitu sekitar tahun 2000. Itu membuat industri penerbangan kita tumbuh begitu cepat dari tahun 2000 sampai 2008. Tapi itu tidak selaras dengan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) dan infrastrukturnya. Di sinilah permasalahannya.

Dudi Sudibyo mengatakan, kita tidak bisa mengimbangi pertumbuhan industri yang begitu cepat. Kita juga tidak mau ikut dalam perkembangan itu secepatnya. Dia mencontohkan jumlah inspektur bisa dihitung oleh jari. Sedangkan pesawat ada di Banda Aceh, Sorong, Makassar, Menado, dan lain-lain. Mereka juga seharusnya dibayar tinggi, tapi kenyataannya tidak. Guna memperbaiki dunia penerbangan nasional harus bermuara dari regulator. Kalau regulator kita baik, maka industrinya juga pasti baik. Dalam kaitan ini ada dua hal penting, yaitu pengawasannya dan juga penegakan aturannya harus kuat sekali. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Dudi Sudibyo. </description>
                <pubDate>Mon, 07 Apr 2008 00:39:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Bagus Takwin: Membantu Rakyat Berharap</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/628</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/628#comments</comments>
                <description>Selamat berjumpa kembali pembaca dengan saya, Faisol Riza. Bersama saya hadir Bagus Takwin, seorang dosen Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia yang juga aktivis dan penulis. Pada edisi kali ini kami menghadirkan satu tema yang barangkali tidak jauh dengan kehidupan kita sehari-hari, membahas mengenai psikologi publik di tengah-tengah situasi kontemporer sekarang. 

Bagus Takwin mengatakan fenomena sosial banyak orang mengambil jalan pintas menggambarkan bahwa yang mendominasi kita sekarang adalah ketakutan terhadap yang akan datang. Ketakutan pada masa depan yang tak teramalkan. Itu tidak selalu atau tidak didominasi oleh faktor ekonomi. Itu persoalan sosial, persoalan harapan. 

Menurut Bagus Takwin, kalau di level individu bisa dibantu dengan tips atau cerita-cerita yang membuat mereka tidak takut atau bisa berharap. Tapi kalau di tingkat komunitas, yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan kepercayaan dalam komunitas itu bahwa mereka bisa saling membantu, mengandalkan. Memang harus ada yang memprogram mungkin keberadaan rukun warga dan rukun tetangga (RW/RT) bisa dimanfaatkan. Di RT orang bisa saling membesarkan hati, menguatkan mental untuk menghadapi situasi yang tak menentu. Dalam hal ini media massa seperti televisi berperan besar juga dalam membuat harapan dan menghadirkan harapan di tengah kita.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Bagus Takwin. </description>
                <pubDate>Sun, 30 Mar 2008 19:16:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Mugianto: Mengungkap Kasus Penculikan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/627</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/627#comments</comments>
                <description>Tamu Perspektif Baru kali ini adalah Mugianto. Siapa Mugianto? Yang jelas dia bukan temannya Suharto, tapi dia adalah orang yang pernah diculik dan hilang pada zaman pemerintahan Suharto. Dia kini Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), dan juga Ketua Asian Federation Against Involuntary Disappearances (AFAD)

Mugianto mengatakan pintu keadilan dalam arti penghukuman terhadap mereka yang bertanggung jawab terhadap kasus penghilangan paksa dan penculikan orang tidak tertutup sama sekali walaupun Suharto sudah meninggal. Itu masih bisa berjalan walaupun kalau kita berbicara masalah kebenaran mungkin ada beberapa yang kontroversial, tidak terbuka sepenuhnya karena memang Suharto sudah tidak ada. Namun keadilan dan kebenaran masih bisa diungkap.

Menurut Mugianto, itu semua tergantung pada eksekutif. Kasus penculikan dirinya dan 24 kasus lainnya yang ditangani Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) sekarang sudah ada di Jaksa Agung untuk disidik dan dituntut melalui pengadilan HAM, tetapi mentok di sana. Jadi hanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bisa melakukan terobosan.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Mugianto. </description>
                <pubDate>Mon, 24 Mar 2008 01:19:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Wahyu Aditya: Aktivis Animasi Indonesia</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/626</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/626#comments</comments>
                <description>Sahabat Perspektif Baru dimanapun Anda berada, saya Jaleswari Pramodhawardani akan berbincang-bincang dengan tamu kita saat ini yang saya yakin seru karena dia animator muda, Wahyu Aditya yang biasa dipanggil Adit. Pada Oktober tahun lalu dia dinobatkan oleh dewan juri Inggris sebagai International Young Screen Entrepreneur 2007 di London. Kini Adit hadir untuk bercerita tentang bermacam hal yang berhubungan dengan animasi. Adit lebih suka dipanggil sebagai aktivis animasi.

Menurut Adit, aktivis animasi itu tidak hanya membuat animasi karena kalau hanya membuat semua bisa. Selain membuat animasi, dirinya juga memiliki kepedulian tentang perkembangan animasi di Indonesia. Jadi dirinya harus lebih aktif, tidak hanya sekedar membuat tapi juga mengakomodasi. Misalnya, banyak animator yang membuat animasi tapi tidak tahu wadahnya maka dirinya membuat festival, atau banyak orang yang ingin mengetahui bagaimana cara membuat animasi tapi tidak tahu caranya maka berusaha menyediakannya.

Adit mengatakan kita masih kekurangan film animasi dan animatornya secara kuantitas dibandingkan dengan negara-negara lain. Karena itu strateginya adalah menciptakan banyak orang yang bisa membuat animasi. Itu karena membuat animasi tidak cukup satu orang kalau kita ingin memiliki banyak film animasi secara kuantitas.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Wahyu Aditya. </description>
                <pubDate>Mon, 17 Mar 2008 00:10:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Emerson Yuntho: Pemerintah Keliru dalam Penanganan BLBI</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/625</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/625#comments</comments>
                <description>Selamat berjumpa kembali pembaca Perspektif Baru dengan saya Faisol Riza. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) adalah satu perkara besar yang tidak pernah selesai sampai hari ini sejak pertama kali digulirkan dan diusut dengan beberapa kali telah berganti presiden, pemerintahan, dan jaksa agung. Yang menarik adalah dalam beberapa kali kesempatan justru perkara ini muncul pada saat-saat menjelang Pemilu. Untuk membahas ini, bersama saya telah hadir Emerson Yuntho, Koordinator Divisi Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW). 

Menurut Emerson Yuntho, kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan kelunakan bagi delapan debitor BLBI dan memilih yang penting aset kembali, sedangkan penegakan hukum nomor berikut adalah keliru. Ini karena persamaan di depan hukum (equality before the law) terabaikan karena keistimewaan ini hanya diberikan kepada debitor BLBI. Seharusnya ada proses hukum yang keras kepada para debitor BLBI karena walaupun sudah diberikan kesempatan tapi mereka tidak mempunyai itikad baik.

Emerson Yuntho mengatakan penanganan perkara korupsi harus difokuskan kepada tiga prioritas, yaitu pemulihan penegakan hukum agar menjadi lembaga bersih, pemulihan di sektor ekonomi perbankan, dan pemulihan di sektor legislatif khususnya partai politik dan anggota partai politik yang bersih. Sepanjang lembaga itu tidak dibenahi serius, maka persoalan korupsi akan selalu berulang. Jadi mungkin diskusi kita lima tahun yang akan datang masih dengan topik yang sama. Tidak selesai dari waktu ke waktu.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Emerson Yuntho. </description>
                <pubDate>Mon, 10 Mar 2008 02:21:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Suryatin Setiawan: Nonton Indonesia di Internet</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/624</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/624#comments</comments>
                <description>Senang sekali saya Wimar Witoelar bertemu dengan Anda di Perspektif Baru. Kita akan bicara lagi mengenai topik yang asyik, yang berbeda setiap minggu selama 11 tahun. Sekitar 15-20 tahun lalu sewaktu saya tentunya lebih muda dan rajin ke seminar, saya bertemu dengan seorang muda yang ahli teknologi dan juga ahli menyampaikan konsep alias bicara. Orang tersebut adalah Suryatin Setiawan yang pernah menjadi direktur PT Telkom. Setelah tidak menjadi direktur Telkom, Suryatin mengembara menekuni beberapa bidang antara lain energi baru, perawat, dan terakhir balik lagi ke dunia telekomunikasi yang telah ditekuninya selama 21 tahun. Kini di bidang informasi dan telekomunikasi (IT), Suryatin mengembangkan video berbasis internet bernama www.beoscope.com 

Menurut Suryatin, kekayaan Indonesia seperti alam, budaya, dan kreatifitas sangat besar dan itu patut diperlihatkan kepada semua orang. Dengan menampilkan itu semua di www.beoscope.com dia berharap orang mengetahui dimana tempat bisa melihat Indonesia sampai ke detail-detailnya secara video. Kalau situs video ini terus diisi oleh seluruh orang dari seluruh pelosok, dia yakin ini akan menjadi suatu arena, wahana dan dalam perjalanan ke depan akan menjadi arsip bagi semua kekayaan ekspresi di Indonesia. Jadi nanti kita tidak usah pergi ke luar negeri, misalnya ke Belanda, untuk mencari tayangan-tayangan video yang selama ini ada tapi tidak kita kumpulkan. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Suryatin Setiawan.</description>
                <pubDate>Sun, 02 Mar 2008 15:08:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Naning Adiwoso: Jangan Sepelekan Toilet</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/623</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/623#comments</comments>
                <description>Pembaca dimana pun Anda berada, kembali saya Jaleswari Pramodhawardani berbincang-bincang dengan tamu kita saat ini Naning Adiwoso, ketua Asosiasi Toilet Indonesia. Kalau kita bicara soal toilet maka semua orang tidak ada yang tidak membutuhkannya. Itu mungkin kebutuhan primer. Dari laporan berbagai media, Naning Adiwoso adalah orang pertama di Indonesia yang concern dengan persoalan ini.

Menurut Naning Adiwoso, setiap orang pasti memerlukan toilet, minimal lima kali sehari. Tapi semua tidak mau berbicara tentang toilet, tidak mau membicarakan bagaimana toilet harus bersih. Padahal toilet terkait erat dengan kesehatan karena penyakit menyebar dari toilet. Selain itu toilet juga cermin budaya. Kalau kita mau melihat suatu kantor dan manajemennya bagus maka lihat saja toiletnya.

Naning Adiwoso meminta semua pihak jangan menyepelekan toilet yang bersih. Apalagi ke depan kita pasti akan sangat membutuhkan toilet yang baik dan bersih terkait semakin tinggi mobilitas orang termasuk anak-anak muda. Jika mereka kerap menahan kencing maka ketika berumur 20 tahun akan mempunyai permasalahan di saluran air kencing mereka. Dalam hal ini mungkin pemerintah bisa memberikan aturan atau sanksi sehingga orang yang memiliki toilet-toilet umum merasa nyaman karena ada sanksi-sanksinya jika pemakai tidak menggunakannya dengan baik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Naning Adiwoso. </description>
                <pubDate>Mon, 25 Feb 2008 00:11:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Benny & Mice: Mata Hati Bicara Lewat Kartun</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/622</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/622#comments</comments>
                <description>Perspektif baru kali ini memperkenalkan dua orang yang menyertai kehidupan di Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya dengan sangat tekun, cermat, tapi lucu dan santai karena mereka adalah penulis, penyair, wartawan yang mediumnya kartun. Dua kartunis terkenal ini adalah Benny & Mice.

Benny adalah Benny Rachmadi, sedangkan Mice adalah Muhammad Misrad. Kartun mereka begitu kuat sehingga sekali melihat kita mengetahui itu karya mereka. Sekarang di harian Kompas setiap hari minggu ada kartun mereka. Dibaca atau tidak, kartun itu melekat. Dan isinya kita mengerti atau tidak, setuju atau tidak, pesan kartun itu pasti sampai. 

Benny & Mice menyatakan kartun mereka memotret keadaan sehari-hari, terutama menyorot perilaku kelas menengah bawah Jakarta. Kartunnya tidak dilucu-lucukan tapi sebenarnya keadaan Jakarta memang sudah lucu sendiri. Ide kartun mengenai Lagak Jakarta yang telah beberapa kali dibukukan tidak akan habis karena salah satunya Jakarta menyebalkan. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad. </description>
                <pubDate>Mon, 18 Feb 2008 01:58:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Lili Romli: Parpol Jadi Alat Bos Lokal</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/621</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/621#comments</comments>
                <description>Halo pembaca dimanapun berada, kembali saya Jaleswari Pramodhawardani mengunjungi Anda dengan tamu saya kali ini DR. Lili Romli. Dia salah satu pakar politik dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang baru saja berhasil mempertahankan Disertasinya tentang Jawara dan Penguasa Politik Lokal di Banten. 

Lili Romli mengatakan partai politik (Parpol) tidak memperjuangkan kepentingan rakyat, dan hasil penelitiannya membenarkan hal tersebut. Parpol bukan melayani kepentingan rakyat, melainkan melayani kepentingan bos lokal karena bos lokal yang membiayai kegiatan-kegiatan Parpol. Karena itu Parpol kita makin jauh dari rakyat. Parpol dekat dengan rakyat ketika Pemilu, saat Pemilu usai Parpol dekat dengan orang yang membiayainya. Jadi ada ketergantungan terhadap modal, para pedagang, dan sebagainya.

Menurut Lili Romli, dirinya selalu mengkritik Parpol bukan berarti anti terhadap partai karena Parpol merupakan institusi penting di dalam demokrasi. Tanpa Parpol maka demokrasi tidak akan berjalan, dalam arti demokrasi perwakilan. Karena itu agar masyarakat tidak antipati, seharusnya Parpol mereformasi dirinya. Contohnya, di dalam recruitment harus mengutamakan orang-orang yang berkualitas untuk ditempatkan sebagai anggota dewan bukan seperti selama ini berdasarkan faktor kedekatan dengan pimpinan Parpol.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Lili Romli. </description>
                <pubDate>Mon, 11 Feb 2008 15:47:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Veven SP Wardhana: Tayangan TV yang Eksklusif</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/620</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/620#comments</comments>
                <description>Halo pembaca Perspektif Baru dimanapun Anda berada, kembali saya Jaleswari Pramodhawardhani menemani Anda berbincang-bincang dengan tamu kita kali ini, yaitu Veven SP Wardhana. Saya tidak akan berbicara banyak tentang tamu kita saat ini karena kita semua sudah mengenalnya dengan baik. Veven, seorang praktisi dan pakar media yang sering menulis di berbagai media cetak maupun elektronik. Kali ini pembicaraan kita akan mengulas tentang "Eksklusivitas Siaran TV".

Menurut Veven, pengertian siaran eksklusif adalah kalau stasiun TV lain tidak bisa menyamai. Dalam arti, dari sisi format maupun content. Misalnya, dari sisi format lebih khas. Dari sisi content ada kedalaman atau keluasan perspektif yang ada di tayangan stasiun tersebut tidak dimiliki oleh stasiun TV lain. 

Veven mengatakan eksklusivitas merupakan ideologi dari TV berbayar. Kalau TV berbayar yang memang memanjakan pelanggannya tidak istimewa, tidak eksklusif maka untuk apa menjadi pelanggannya. Jadi dalam hal ini semua pihak harus menyadari eksklusivitas dalam TV berbayar merupakan hal yang sah dan itu menjadikan keniscayaan. Jadi bukan hanya sah tapi keniscayaan.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardhani dengan Veven SP Wardhana. </description>
                <pubDate>Mon, 04 Feb 2008 14:36:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Tiara Savitri: Mengenal Penyakit Seribu Wajah</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/619</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/619#comments</comments>
                <description>Selamat berjumpa kembali para pembaca Perspektif Baru bersama saya Faisol Riza. Pada tahun 1999 saya pernah bekerja bersama seorang suster. Suatu hari, dia memutuskan untuk istirahat total. Awalnya, saya tidak tahu masalahnya, tapi kemudian mengetahui sahabat saya ini menderita lupus, suatu penyakit yang barangkali informasi lengkapnya tidak banyak kita dengar. Karena itu Perspektif Baru kini mengundang Tiara Savitri yang menderita penyakit lupus, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI). 

Tiara Savitri menjelaskan lupus merupakan penyakit seribu wajah karena bisa menyerupai penyakit lain. Jadi bisa menipu dokter dan pasiennya. Kalau pasien tidak tahu gejalanya atau dokternya juga tidak paham bahwa ini sakit lupus, maka akan didiagnosis berbeda karena penyakit ini bisa menyerang seluruh organ yang ada di dalam tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung kaki. 

Menurut Tiara Savitri, kini mulai terdata cukup banyak orang dengan lupus (Odapus). Lewat YLI, dia mengupayakan kerjasama dengan laboratorium, dokter, dan RS untuk membantu pengobatan Odapus. Apalagi sampai kini belum ada perhatian sedikitpun dari pemerintah dari sisi pengobatan dan tentang penyakit ini. YLI juga aktif melakukan pendampingan kepada Odapus karena pengobatan lupus ini tidak semata-mata hanya pengobatan medis. Tiara Savitri yakin bahwa dengan bantuan dari dalam diri dan dukungan dari lingkungan akan sangat membantu proses penyembuhan Odapus.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Tiara Savitri. </description>
                <pubDate>Mon, 28 Jan 2008 00:12:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>M. Ridha Saleh: Kejahatan HAM Kini dan Dulu</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/618</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/618#comments</comments>
                <description>Para pembaca, saya Faisol Riza kini bersama seorang anggota Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) M. Ridha Saleh. Komnas HAM merupakan sebuah lembaga yang diberi kewenangan oleh negara dan undang-undang untuk memantau, mengawasi pelaksanaan dan pelanggaran terhadap HAM di Indonesia. M. Ridha Saleh bukan orang yang hadir begitu saja di Komnas HAM. Dia sebelumnya berkecimpung di lembaga swadaya masyarakat Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) dan juga aktifis reformasi pada zaman Orde Baru berkuasa.

Menurut M. Ridha Saleh, saat ini pelaku pelanggaran HAM tidak lagi tunggal. Kalau secara hirarki, pelaku pelanggaran HAM tidak lagi langsung ke atas tapi bisa ke samping, ada aktor lain yaitu korporasi. Kedua, kasus pelanggarannya juga ganda. Jadi pelanggaran terhadap hak ekonomi, sosial, budaya, dan sipil politik sudah tidak bisa lagi dipisahkan, sangat terkait. Misalnya, tanah dirampas dan pemiliknya disiksa pula. Guna mengatasi itu, Komnas HAM tidak lagi menjadi lembaga negara non struktural yang pasif. Jadi pemantauannya tidak lagi kasus per kasus. Sekarang anggota Komnas HAM akan datang ke wilayah-wilayah yang berpeluang untuk terjadi pelanggaran HAM. Kalau tidak begitu, kita akan terus menghadapi masalah yang sama seperti tahun kemarin. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan M. Ridha Saleh. </description>
                <pubDate>Mon, 21 Jan 2008 01:24:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Frank Momberg: Perdagangan Karbon Harus Dimanfaatkan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/617</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/617#comments</comments>
                <description>Selamat berjumpa kembali pembaca Perspektif Baru dengan saya, Faisol Riza. Kita mengundang seorang tamu, seorang teman lama, Frank Momberg. Sekarang dia bekerja di sebuah lembaga bernama Flora & Fauna International untuk kawasan Asia Tenggara. Dia memiliki pengalaman banyak mengenai lingkungan, termasuk pernah bertugas di Vietnam untuk beberapa tahun setelah sebelumnya di Indonesia dan sekarang kembali lagi ke Indonesia. 

Frank Momberg menjelaskan perdagangan karbon (carbon trade) adalah instrumen untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) melalui mekanisme pasar. Contohnya, negara atau daerah yang mempunyai hak untuk konversi hutan, tapi bila tidak melakukan konversi hutan maka negara industri siap untuk mengganti rugi nilai emisi karbon yang dihindari tersebut. Jadi hutan tetap terlindungi dan nilai karbon yang ada di situ bisa dijual di pasar karbon internasional dengan harga cukup bernilai. 

Menurut Frank Momberg, Indonesia harus memanfaatkan carbon trade ini dengan meniru sistem Vietnam. Pemerintah Vietnam mengambil keputusan memberikan lahan hutan kepada masyarakat tapi tidak berdasarkan adat. Setiap desa mendapatkan 10.000 Ha yang menjadi tanggung jawab mereka untuk melestarikannya. Untuk melestarikan hutan itu, desa membentuk rekening kas desa sehingga uang kompensasi dari perdagangan karbon masuk langsung ke kas desa. Dari uang itu, setiap desa membuat rencana pembangunan desa setiap tahunnya. Dana itu dipergunakan untuk kepentingan umum, seperti Puskesmas, pendidikan gratis, atau untuk kegiatan mengembangkan sistem pertanian di situ. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Frank Momberg. </description>
                <pubDate>Sun, 13 Jan 2008 23:09:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Anies Baswedan: Aturan Demokrasi yang Pro Rakyat</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/616</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/616#comments</comments>
                <description>Tamu Perspektif Baru sekarang Anies Baswedan seorang Doktor bidang ilmu politik lulusan Northern Illinois University, Amerika Serikat. Saat ini dia adalah Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Kita akan membahas refleksi mengenai konstalasi politik Indonesia saat ini terkait pemilihan kepala daerah (Pilkada), pemilihan presiden, dan sebagainya. 

Menurut Anies Baswedan, pada tahun 2008 iklim politik akan meningkat terkait persiapan pemilihan umum (Pemilu) 2009, tapi itu normal dalam sebuah demokrasi. Yang perlu menjadi perhatian bagi semua orang adalah bagaimana proses persiapan Pemilu membuat masyarakat diuntungkan. Jadi proses politik itu bukan hanya untuk menguntungkan para politisi dan partai politik tapi menguntungkan rakyat. 
Anies Baswedan mengatakan, dalam demokrasi ini yang penting adalah institutional design. Institutional design harus dibuat untuk mengatur politisi agar mereka mengejar kepentingan pribadi, partai politik, dan kelompok dengan cara menguntungkan publik. Kalau itu bisa terjadi maka proses politik akan baik. Demokrasi tidak akan survive apabila aturan main yang ada hanya menguntungkan elit. 

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Anies Baswedan.</description>
                <pubDate>Mon, 07 Jan 2008 00:28:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Ansy Lema: Parpol Tetap Perlu Untuk Demokrasi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/615</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/615#comments</comments>
                <description>Kita sekarang akan bicara sangat spesifik mengenai satu topik yang kelihatannya umum tapi sering disalahmengerti, yaitu topik politik. Banyak orang mengatakan, "saya tidak suka politik," padahal tidak ada pilihan. Orang kalau tidak berpolitik maka akan dipolitikkan orang. Jadi lebih baik orang itu mengerti sedikit mengenai politik, mau aktif atau tidak itu soal lain. Untuk memberikan pencerahan dalam hal ini, kami mengundang seorang pembicara yang saya rasa mampu memberikan kejelasan atas beberapa hal yang terlalu sering dirancukan. Tamu kita Ansy Lema, staf pengajar Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nasional (UNAS). Selain memiliki minat pada masalah-masalah hubungan internasional, politik luar negeri, dan lainnya, belakangan ini yang sering dia cermati adalah peran partai politik di Indonesia dalam upaya membangun demokrasi. 

Ansy Lema mengatakan saat ini Partai Politik (Parpol) di Indonesia memainkan peran yang sangat vital. Misalnya, Parpol memainkan peran mulai dari upaya mengusulkan calon sampai kepada menghasilkan calon untuk memimpin lembaga-lembaga publik. Namun Parpol melalaikan salah satu tugasnya, yaitu melakukan pendidikan politik terhadap kadernya. Ketika semua institusi di republik ini sudah melakukan pembenahan diri, sudah melakukan proses reformasi, Parpol masih terkesan menghadirkan sosoknya yang sangat tidak reformis.

Menurut Ansy Lema, guna mendorong proses perbaikan Parpol maka kritik, caci maki terhadap Parpol yang sifatnya konstruktif harus tetap didengungkan. Kedua, membuka calon independen akan menjadi suatu bentuk peringatan terhadap Parpol sehingga kemudian mereka bisa berbenah diri. Di sisi lain, masyarakat juga harus dididik agar meninggalkan Parpol yang tidak layak dipilih. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Ansy Lema. </description>
                <pubDate>Mon, 31 Dec 2007 01:58:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
   </channel>
</rss>