<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	<description>Transkrip wawancara radio mingguan bersama Wimar Witoelar</description>
	<copyright>Copyright 2005 Yayasan Perspektif Baru</copyright>
	<webMaster>webmaster@perspektifbaru.com</webMaster>
        <lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 07:14:13 GMT</lastBuildDate>
        <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
	<image>
	<url>http://www.perspektifbaru.com/html/images/pblogo.gif</url>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	</image>

 
       <item>
                <title>Vina Puspita: Stop Memberi Uang kepada Anak Jalanan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/842</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/842#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Berbicara tentang anak-anak, terutama anak jalanan, banyak sekali permasalahan yang muncul ketika kita memberikan uang kepada mereka. Salah satu permasalahan yang muncul adalah meminta-minta menjadi sebuah ‘profesi’. Dengan meminta-minta dan mendapatkan uang membuat anak-anak jalanan terbuai, sementara di sisi lain mereka mempunyai hak untuk hidup tidak di jalanan. Kita membicarakan anak jalanan dengan Vina Puspita dari Komunitas Sahabat Anak.

Vina mengatakan anak jalanan adalah tetap seorang anak. Mereka sosok yang masih rentan, butuh pengarahan, butuh komunitas, butuh sesuatu yang positif untuk membangun pola pikir mereka, dan butuh didengar. Kita harus menjadi sahabat mereka. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi sahabat anak-anak jalanan, salah satunya dengan tidak memberikan uang kepada mereka..

Menurut Vina, memberikan uang kepada anak jalanan memberikan dampak yang tidak positif karena mereka akan selalu terbuai oleh uang, sementara ada alternatif lain yang dapat diberikan kepada mereka selain uang, yaitu memberikan susu atau buah-buahan atau waktu kita. Memberikan uang adalah sama dengan menjebak mereka kepada lingkaran setan. 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jaleswari Pramordyawardani sebagai pewawancara dengan narasumber Vina Puspita. </description>
                <pubDate>Mon, 14 May 2012 03:54:44 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>August Melaz: UU Pemilu Mengabaikan Hak Berpolitik Rakyat</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/841</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/841#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kita akan berbicara tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Tentu kita sudah mengamati Pemilu secara lebih aktif sejak kejatuhan rezim Orde Baru pada 1998. Tapi kebanyakan diantara kita, kalau bukan orang partai atau pendukung partai, tidak begitu paham mengenai seluk beluk teknis peraturan Pemilu. 
Tamu kita kali ini adalah August Mellaz, peneliti Pemilu di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Sejak 1999 saat pertama kali ada Pemilu terbuka August Mellaz sudah menjadi salah seorang pendiri Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) di Jawa Timur. Dia mendalami, mensosialisasikan, dan mempromosikan ide Pemilu dari waktu itu sampai sekarang. 

Menurut August, UU tentang Pemilu yang sekarang ada beberapa kelemahan sehingga kini ada gugatan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menguji UU tersebut. Misalnya, ketentuan tentang verifikasi partai politik, kemudian keberlakuan parliamentary threshold (PT) secara nasional. Kita mau uji apakah memang itu masuk kategori open legal policy dari DPR. Nah ini yang kita mau cek karena satu-satunya yang bisa mengerem parlemen di semua negara adalah MK atau MA. Jadi sangat bergantung putusan MK nanti.

August mengatakan ketentuan tentang verifikasi partai politik sebagai peserta Pemilu digugat oleh partai-partai non-parlementer ataupun partai-partai baru. Ada sekitar 22 partai politik melakukan gugatan. Selain partai politik, beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) mengajukan gugatan juga terhadap hal itu.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber August Mellaz. </description>
                <pubDate>Mon, 07 May 2012 01:45:44 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Akhmad Fauzi : Green Economy Menjaga Kekayaan Alam</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/840</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/840#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Saat ini kita akan membicarakan mengenai ekonomi hijau (green economy) dengan Akhmad Fauzi, Direktur Institute of Resource and Environmental Economics Studies (IRESS). Latar belakang Akhmad Fauzi, selain di ekonomi juga di bidang matematika dan ilmu lingkungan dengan menempuh studi di Kanada dan sekarang di seluruh dunia mengikuti berbagai seminar. Anda bisa mencari tulisan-tulisannya di google.

Akhmad Fauzi mengatakan secara singkat green economy adalah pertumbuhan yang sustainable (berkelanjutan) untuk kelestarian manusia dan juga tidak harus merusak lingkungan. Green economy bahkan bisa menciptakan pertumbuhan baru dari sumber daya alam dan lingkungan yang lebih sustainable atau lebih environmental friendly (ramah lingkungan). 

Menurut Akhmad Fauzi, posisi Indonesia sangat unik dalam konteks green economy. Satu, kekayaan sumber daya alam yaitu biodiversity (keragaman hayati) kita sangat besar. Kedua, kekuatan ekonomi kita dengan jumlah penduduk yang banyak, sehingga Indonesia sebenarnya mempunyai power. Istilahnya di Amerika adalah too big to fall, terlalu besar untuk jatuh. Jadi Indonesia bisa semacam laboratorium percobaan untuk tes green economy. Kalau Indonesia berhasil maka menjadi the best choice yang bisa dilakukan di beberapa negara. 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Akhmad Fauzi.</description>
                <pubDate>Fri, 27 Apr 2012 11:20:57 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Maman Suherman: Jurnalisme Makna Berdasarkan Kejujuran</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/839</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/839#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Topik kita kali ini tentang monopoli media oleh partai politik dan kreatifitas dalam membuat acara televisi yang bagus untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Kita akan membicarakannya dengan Maman Suherman, presenter acara Mata Hati di Kompas TV. 

Menurut Maman, televisi (TV) menggunakan frekuensi publik milik negara yang terbatas. Karena terbatas maka itu harus high regulated atau peraturannya harus sangat ketat. Namun, kini pemilik stasiun TV cuma beberapa orang. Saat ini ada 11 TV nasional termasuk TVRI, tujuh diantaranya sudah milik orang yang punya partai politik. Bayangkan saja, untuk Pemilu 2014 tidak ada aturan yang mengatakan seperti di Amerika Serikat yaitu suatu TV harus mendeklarasikan bahwa dia pendukung suatu partai. Jadi, dia tidak perlu lagi malu-malu untuk tidak mengakuinya. Sampai hari ini Partai Nasdem atau Golkar tidak pernah menyatakan dia punya televisi. Itu sangat terlihat dengan mata telanjang. Hal semacam ini yang bisa membuat kita harus curiga, apakah mereka bisa objektif atau tidak.

Maman mengatakan untuk Pemilu 2014 dirinya berharap UU Penyiaran yang revisi harus segera keluar. Kendati demikian kini ada Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran P3SPS mungkin menakutkan pemilik TV karena TV tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan individu termasuk kepentingan pemiliknya. Pasal itu mungkin yang akan menakutkan mereka.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Maman Suherman.</description>
                <pubDate>Fri, 20 Apr 2012 10:19:16 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Toto Sugito : Gaya Hidup Bersepeda</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/838</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/838#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Topik kita kali ini adalah mengurangi polusi dan kemacetan dengan bersepeda. Di beberapa negara, bersepeda sudah menjadi gaya hidup masa kini masyarakatnya yang sudah peduli dengan lingkungan, kesehatan serta mengurangi dampak pemanasan global. Di Indonesia, gaya hidup dengan menggunakan sepeda saat ke sekolah dan bekerja mulai digalakkan. Kita akan membicarakannya dengan Toto Sugito, pelopor dan penggiat serta Ketua Komunitas Bike to Work. 

Toto Sugito mengungkapkan, dirinya dan kawan-kawan yakin apa yang kita lakukan yaitu bersepeda sebagai gaya hidup bermanfaat bagi semua orang, siapapun dia. Apalagi dengan adanya permasalahan jalanan macet, harga bahan bakar minyak (BBM) naik, dan sebagainya. Intinya adalah bagaimana kita bisa melakukan sesuatu yang paling mudah, yang bisa kita lakukan dan bermanfaat bagi diri kita, keluarga, lingkungan dan akhirnya bangsa dan negara ini. 

Menurut Toto, pihaknya sudah membuktikan kepada semua pihak dan itu jelas terlihat dari semakin banyaknya peminat, mulai dari office boy sampai ke presiden. Ini memang bermanfaat untuk semua orang. Ini juga untuk bangsa. Semakin banyak orang bersepeda, semakin sehat lingkungan kita, maka kualitas bangsa akan semakin baik dan akhirnya bangsa ini akan menjadi lebih baik.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan narasumber Toto Sugito. </description>
                <pubDate>Sun, 15 Apr 2012 12:21:26 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Verena Puspawardani: Earth Hour Menumbuhkan Kesadaran</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/837</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/837#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Dari semua masalah yang ada sekarang, yang paling penting adalah bagaimana kita memelihara planet tempat tinggal kita untuk mencegah pemanasan global. Dampak pemanasan global atau perubahan iklim sudah dapat dirasakan oleh kita semua saat ini, seperti musim hujan yang tidak menentu. Banyak yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dampak perubahan iklim, salah satunya adalah dengan aksi memadamkan lampu atau listrik selama satu jam yang dikenal dengan istilah Earth Hour. Kita akan membicarakannya dengan Verena Puspawardani, Campaign Coordinator, Climate & Energy Program ¨C WWF Indonesia.

Menurut Verena, Earth Hour dipilih dengan memadamkan lampu karena orang kadang-kadang suka berpikir seperti mengapa tidak pemerintah dulu yang melakukannya? Mengapa bukan korporasi atau industri besar dulu yang memulai untuk berubah? Tapi kita lupa, dari diri kita sendiri sebelum kita menuntut orang, kita belum melakukan apa-apa. Jadi, ada ide memadamkan lampu karena semua orang bisa melakukannya. Siapa sih yang tidak bisa memadamkan lampu? Dari anak kecil sampai orang tua bisa memadamkan lampu. Dari orang kaya sampai orang miskin bisa memadamkan lampu. Inti kampanye ini memungkinkan orang untuk berpikir bahwa tidak ada batasan apapun untuk melakukan perubahan. Kalau kita bisa melakukannya dari diri sendiri, mengapa kita harus menunggu orang lain.

Semua ide kegiatan Earth Hour muncul dari teman-teman yang merasa bahwa isu perubahan iklim adalah isu yang dianggap semua orang mengawang-awang, tidak dekat dengan kita. Padahal sebenarnya kita sudah mengalaminya setiap hari. Saat ini isu lingkungan yang paling urgent adalah perubahan iklim karena sekarang kita sudah melihat sendiri dan berita-berita juga sudah mengangkat hal yang sama seperti persoalan krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Kalau kita tidak mulai dari sekarang, dampaknya akan lebih besar lagi terutama yang paling kita rasakan sekarang adalah musim yang sudah berubah kalau untuk di perkotaan.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan narasumber Verena Puspawardani.ˇˇ</description>
                <pubDate>Sat, 07 Apr 2012 01:43:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Wimar Witoelar: Wimar tentang BBM</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/836</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/836#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Topik kita kali ini adalah mengenai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sedang dibahas oleh pemerintah dan akan diberlakukan per 1 April 2012. Kenaikan BBM, sudah bisa ditebak seperti kenaikan yang sudah-sudah, ada yang pro dan kontra terhadap kebijakan ini. Kali ini Wimar Witoelar berbagi perspektif jernihnya mengenai kenaikan harga BBM. 

Menurut Wimar Witoelar, kebijaksanaan menaikkan harga BBM sebetulnya adalah kebijaksanaan mencabut subsidi. Subsidi itu artinya menombok. Jadi pemerintah nalangin atau menombok pembelian BBM untuk dijual kepada rakyat, dan itu dicabut supaya uang yang tadi dipakai untuk nombok BBM dipakai untuk subsidi pupuk, transportasi umum, kesehatan, dan segala macam program yang pro rakyat.

Wimar mengatakan, justru masalahnya sekarang bukan kenaikan harga BBM tapi paniknya masyarakat. Sayangnya, itu tidak bisa diatasi oleh pemerintah tapi oleh kita dan pemilik media. Agar masyarakat jangan panik, maka jangan menyebarkan berita-berita yang membuat orang panik dan warga juga jangan terlalu mau ikut untuk diajak berdemo. Yang keberatan terhadap kenaikan harga BBM, pikirkan secara jernih. Kalau susah memahaminya, maka bertanyalah kepada teman, baca wawancara seperti ini. Jadi kalau dari pemerintah, antisipasinya adalah kurangi sedikit penjelasan ekonomi dan sebaiknya gunakan ilmu komunikasi. 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Margaretha Habeahan sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar. </description>
                <pubDate>Fri, 30 Mar 2012 07:39:16 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Mas Achmad Santosa: Memiskinkan Koruptor</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/835</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/835#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Sekarang yang paling menyita perhatian orang adalah soal kriminalitas luar biasa (extraordinary crime) yang disebut sebagai korupsi. Orang menonton korupsi dalam bentuk M. Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan Gayus Tambunan. Jadi hampir seperti sinetron karena yang dilihat adalah cerita-ceritanya. Memang itu adalah entertaining story, tapi di balik itu ada hal-hal serius yang kalau tidak di atasi secara serius akan menjadi bencana lebih berat lagi untuk negara kita. Tamu kita adalah Mas Achmad Santosa atau akrab dipanggil Ota, ahli hukum dari Universitas Indonesia (UI) bahkan pernah menjadi Ketua Ikatan Alumni (Iluni) Fakultas Hukum UI. Dia juga sudah menempuh studi lanjutan di mana-mana dalam berbagai aspek hukum termasuk hukum lingkungan, tapi itu tidak kita bahas pada saat ini. Topik kita kali ini adalah adalah korupsi di Indonesia yang masih merajalela dan sanksi untuk para koruptor perlu ditegaskan agar keadilan bisa terlihat jelas. 

Mas Achmad Santosa mengatakan bahwa yang menyebabkan korupsi masih tumbuh dan menjamur di Indonesia karena hukuman terhadap koruptor tidak ada efek jera. Jadi, kalau seseorang korupsi, atau pelaku tindak pidana korupsi yang sudah terbukti koruptor kemudian dia menjalani hukuman misalnya empat atau tiga atau dua tahun penjara, lalu dipotong remisi pembebasan bersyarat, serta pada masa menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan (Lapas) dia bisa izin berobat dan bisa keluar bebas, atau kalaupun di dalam penjara bisa mendapatkan satu kamar yang mewah, maka hal itu tidak ada bedanya, tidak menimbulkan efek jera. 

Menurut Mas Achmad Santosa, ada tiga cara membuat efek jera pada koruptor. Pertama, dihukum seberat-beratnya. Walaupun gagasan hukuman mati saya kira menarik untuk diperbincangkan, tetapi lebih baik kita sampingkan dulu karena ini pro dan kontra. Kedua adalah sita dan rampas seluruh harta hasil korupsi. Artinya, pemiskinan koruptor dengan cara menyita atau merampas seluruh harta hasil korupsi. Ketiga, mengikis kemewahan para narapidana di dalam penjara, termasuk jangan mengobral remisi dan pembebasan bersyarat.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Mas Achmad Santosa.</description>
                <pubDate>Thu, 22 Mar 2012 13:26:12 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Yayat Supriatna: Jakarta Milik Seluruh Warga Indonesia</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/834</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/834#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,Mengenai kota Jakarta, ada banyak lagunya, banyak kenangannya, banyak cinta, banyak kebencian, dan terutama banyak permasalahan. Saat ini kita menghadapi pemilihan gubernur Jakarta yang akan dilaksanakan pada tahun ini. Jadi kita patut ikut memikirkannya bukan saja siapa yang menjadi gubernurnya nanti, tapi apa permasalahannya dan bagaimana ke depannya. Untuk itu kami berterima kasih atas kehadiran Yayat Supriatna, ahli perkotaan. 
Menurut Yayat Supriatna, mengingatkan kepada orang Jakarta agar hati-hati dalam pemilihan gubernur. Dalam hal ini sebetulnya warga Jakarta punya tingkat rasionalitas yang cukup baik, tingkat pendidikannya cukup baik, ekonominya juga cukup baik. Jadi sebetulnya mereka bisa melihat mana yang paling sesuai dengan pilihan mereka yang paling tepat. Nah kalau sekarang ada calon independen maka orang bisa juga melihat calon independen tersebut yang sebetulnya berkeringatnya lebih banyak.
Satu hal yang harus diingat bahwa Jakarta milik semua warga sehingga yang kita dorong sekarang adalah kepedulian. Yang kita rasakan sekarang adalah kalau warga Jakarta menyelesaikan masalah pribadi maka dia bisa, tapi untuk menyelesaikan masalah bersama sulit. Itu karena persoalannya satu, yaitu makin ke depan makin terjadi krisis modal sosial di kota ini.
Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Yayat Supriatna.</description>
                <pubDate>Fri, 16 Mar 2012 08:12:29 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Don Bosco Selamun: Mengalir Positif di Arus Media</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/833</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/833#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,

Selamat bertemu kembali para penggemar Perspektif Baru. Topik kita kali ini adalah tentang bagaimana sanksi untuk media terutama televisi yang terlalu vulgar menjelek-jelekkan pemerintah maupun sebuah partai. Sejauh mana kode etik jurnalistik yang dibuat oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ditaati dan dilaksanakan secara benar. Objektifitas berita, akurasi sumber berita dan sebagianya menjadi catatan penting di tengah maraknya persaingan media. Untuk itulah, kali ini kita mengundang mantan anggota KPI, yaitu Don Bosco Selamun.

Menurut Don Bosco, ada beberapa alasan mengapa KPI atau sebuah televisi itu dijatuhi sanksi. Ada sanksi administratif dan ada sanksi pidana, kalau memang nanti harus melalui pengadilan. Sanksi itu justru menjadi kabur kalau persoalannya mengenai politik. Termasuk tayangan sebuah organisasi atau partai yang sering terjadi akhir-akhir ini yang tidak jelas apakah itu adalah sebuah kampanye atau sekedar memberikan informasi. 

Mengenai kualitas media, Don Bosco juga menambahkan ia percaya bahwa publik kita makin lama akan makin cerdas, sehingga harus diberi pilihan-pilihan yang lebih banyak, alternatif media yang memiliki standar etik dan integritas.
Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Don Bosco Selamun.</description>
                <pubDate>Fri, 09 Mar 2012 12:09:24 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Ari Sunarijati: Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah Profesi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/832</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/832#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,

Selamat bertemu kembali para penggemar Perspektif Baru. Sudah lima belas tahun acara ini di udara. Setiap minggu kita bawakan topik yang menarik, penting, lucu atau lainnya. Topik kita kali ini mengenai Rancangan Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga. Pekerjaan rumah tangga yang dilakukan para pekerja sangat kompleks mulai dari bangun pagi hingga malam, mereka masih melakukan pekerjaan. Mulai dari mencuci pakaian, masak dan bersih-bersih rumah hampir semua aktifitas itu dilakukan oleh PRT. Di sisi lain terkadang perlindungan dan hak-hak PRT masih sering terabaikan seperti gaji yang tidak dibayar tepat waktu, hak istirahat dan sebagainya.

Tamu kita kali ini adalah Ari Sunarijati, anggota Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga atau JALA PRT dari FSPSI (Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) Reformasi. Menurut Ari, pekerja rumah tangga (PRT) adalah sebuah profesi dan bukan lagi pekerjaan yang memiliki nilai rendah. Rancangan Undang-Undang ini, menurut Ari harus secepatnya disahkan DPR menjadi Undang-Undang agar para pekerja rumah tangga mendapatkan jaminan hak-haknya, jaminan hukum apabila mengalami kekerasan seksual, tidak mendapatkan hak gaji, hak untuk cuti dan sebagainya.
Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Melda Wita Sitompul sebagai pewawancara dengan narasumber Ari Sunarijati. </description>
                <pubDate>Fri, 02 Mar 2012 08:03:17 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Biem Benyamin: Calon Independen Membuka Pilihan Lebih Baik</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/831</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/831#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,

Selamat bertemu kembali para penggemar Perspektif Baru. Sudah lima belas tahun acara ini di udara. Setiap minggu kita bawakan topik yang menarik, penting, lucu atau lainnya. Tamu kita kali ini adalah Biem Benyamin yang merupakan calon wakil gubernur dari independen atau non partai dengan pasangan Faisal Basri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Biem Benyamin adalah anak dari tokoh Betawi yang tersohor yakni Benyamin Sueb atau lebih dikenal dengan Benyamin S. Bermodal integritas dan kepercayaan diri serta dukungan publik, membuat Biem Benyamin memberanikan diri berpasangan dengan Faisal Basri sebagai calon Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Menurut Biem, dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi mengenai diperbolehkannya calon independen maju sebagai kepala daerah memberikan kesempatan kepada calon independen untuk membangun daerah menjadi lebih baik. Keberanian Faisal Basri dan Biem Benyamin sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta banyak mendapatkan dukungan dari masyarakat luas. Hal itu terbukti dengan banyaknya jumlah dukungan yang terkumpul yakni sebanyak 460 ribu, lebih dari jumlah syarat 407.354 dukungan.
Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar dan Biem Benyamin.</description>
                <pubDate>Fri, 24 Feb 2012 02:46:59 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Donny Budi Utoyo: SOPA-PIPA Menekan Kebebasan Berekspresi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/830</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/830#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru. Setiap minggu kita membawakan topik yang menarik, penting, lucu atau apa saja. Hari ini topik yang menarik dan sangat penting mengenai Stop Online Piracy Act and Protect IP Act atau yang lazim kita kenal dengan SOPA-PIPA. Tamu kita adalah seorang peneliti muda yang aktif dalam komunitas information, communication, and technology (ICT), Donny Budi Utoyo yang sehari-hari menjabat Direktur Eksekutif ICT Watch Information and Communication Technology.

Menurut Donny, adanya SOPA-PIPA tidak akan menjadi masalah jika orang mengetahui bahwa dia harus memproteksi hak kekayaan intelektualnya, tapi dia punya semangat untuk berbagi. Yang jadi masalah adalah tidak semua atau kebanyakannya adalah orang yang memiliki hak atas kekayaan intelektual mengunci informasi tersebut, atau oleh suatu institusi dikunci. Jadi, yang kaya makin kaya, yang miskin akan makin susah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau informasi, atau apapun bentuknya. Selain itu, yang dikhawatirkan di SOPA-PIPA adalah belum tentu yang melanggar merupakan pemilik server atau hosting-nya. Misalnya, ada yang memiliki layanan seperti KasKus atau forum semacamnya, atau Perspektif Baru mempunyai forum. Ada orang iseng menaruh postingan lagu, misalnya dia menaruh lirik lagu atau link film. Link itu juga bisa dianggap bermasalah karena memfasilitasi adanya kemungkinan orang untuk men-download ke tempat yang melanggar hak cipta.

Donny berpendapat lebih baik tidak pernah ada RUU ini. Kita percaya sama local wisdom. Di internet juga ada internet wisdom dimana ada istilah creative common, open source dan segala macamnya. Ilmu pengetahuan makin dibagi akan membuat yang punya pengetahuan juga akan makin maju, yang dibagi bisa maju juga.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Ansy Lema dan Donny Budi Utoyo. </description>
                <pubDate>Fri, 17 Feb 2012 09:12:36 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Ira Wibowo: Kanker yang Bisa Dihindari</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/829</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/829#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
 ;
Selamat bertemu kembali para penggemar Perspektif Baru. Sudah lima belas tahun acara ini di udara. Saya tidak tahu sudah berapa tahun Anda mengikuti. Setiap minggu kita bawakan topik yang menarik, penting, lucu atau yang lain. Topik hari ini sangat menarik dan sangat penting, yaitu mengenai kanker serviks. Tamu kita kali ini adalah salah satu orang yang peduli terhadap bahaya kanker serviks, yaitu Ira Wibowo dalam kapasitasnya sebagai duta kanker serviks. 
 ;
Menurut Ira Wibowo, kanker serviks adalah penyakit penyebab kematian perempuan nomor satu di Indonesia dan nomor dunia di dunia. Tapi kanker serviks merupakan satu-satunya kanker yang diketahui penyebab pastinya, yakni virus Human Papiloma Virus (HPV), sehingga bisa dihindari karena ada vaksinasinya.  ;Treatment vaksinasi paling efektif diberikan pada umur 9 – 27 tahun. Kita disarankan melakukan vaksinasi di usia itu, terutama kalau kita belum aktif secara seksual karena vaksinasi akan lebih efektif. 
 ;
Ia juga menambahkan bahwa kanker serviks dapat dicegah sejak dini, melalui pemeriksaan pap smear rutin setahun sekali. Vaksinasi sekali seumur hidup dan pap smear dapat mencegah penularan kanker serviks.
 ;Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar dan Ira Wibowo.</description>
                <pubDate>Sat, 11 Feb 2012 08:20:45 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Setia Pada Kreativitas: Joko Anwar</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/828</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/828#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
 ;
Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru di seluruh Indonesia, dari Barat sampai ke Timur. Kita bergembira dapat bertemu seperti yang sudah terjadi selama 15 tahun setiap minggu. Minggu ini kita akan membicarakan topik film-film karya Joko Anwar yang sudah melanglang ke beberapa negara. Sebagai ikon perfilman dalam negeri, Joko Anwar memberikan warna baru dalam perfilman Indonesia. Sejarah dan pengalaman hidupnya yang sederhana menjadikan spirit tersendiri dalam mencapai cita-cita sebagai filmmaker. 
 ;
Joko ;Anwar ;adalah karakter yang unpredictable dan kontroversial. Lulus sebagai sarjana teknik aeronautik dari ITB, ;Joko ;bekerja sebagai kritikus film untuk harian ;The Jakarta Post. Memulai karirnya di dunia film sebagai penulis skenario film ;Arisan!, dia memulai karir penyutradaraannya di film ;Janji Joni ;yang menyemangati indie music scene di Indonesia. Dipuji di dalam negeri oleh para kritikus dan penonton, ;Janji Joni ;melanglang buana di festival-festival film internasional di lima benua, termasuk New York, Pusan, Tokyo, Toronto, Sydney, dan Barcelona. Saat penonton mengharapkan ;Joko ;kembali membuat film komedi setelah Arisan! dan Janji Joni, ;Joko berbelok arah dengan tajam dengan film noir KALA, sebuah allegori politis tentang Indonesia.
 ;Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar dan Joko Anwar.</description>
                <pubDate>Fri, 03 Feb 2012 13:32:03 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Kurtubi: Harus Beralih dari Minyak ke Gas</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/827</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/827#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
Kita akan bincang-bincang mengenai bahan bakar minyak (BBM) dan subsidinya bersama Dr. Kurtubi. Dia pengajar di pasca sarjana Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia (UI) serta pengamat paling tersohor dalam perminyakan dari Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES). 
 ;
Menurut Kurtubi, upaya untuk menggiring rakyat secara masal pindah dari Premium ke Pertamax dan sejenisnya tidak tepat, bahkan boleh dibilang salah. Itu karena memindahkan pemakaian dari minyak ke minyak. ; Premium berasal dari crude oil atau minyak mentah, Pertamax juga asalnya sama minyak mentah. Padahal, semestinya ke depan kita sebagai bangsa harus bisa menjamin ketersediaan atau keamanan energi kita yang tangguh. Saat ini kita mengetahui produksi minyak kita terus turun. Jadi kebijakan energi yang benar adalah harus mengurangi ketergantungan pada minyak.
 ;
Kurtubi mengatakan, yang tersedia sekarang untuk non-minyak adalah gas. Kita harus ; memilih mengalihkan ke gas karena harganya lebih murah dibandingkan dengan BBM bersubsidi. Jadi gas tanpa subsidi lebih murah dibanding dengan BBM. Kedua, di perut bumi Nusantara ini secara geologis cadangan gas kita 5-6 kali lipat jumlah cadangan minyak. Kita lebih kaya gas daripada minyak. Kita terbesar di kawasan Asia Timur untuk cadangan gas. 
 ;Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jaleswari Pramodhawardani dan Kurtubi. </description>
                <pubDate>Mon, 30 Jan 2012 02:10:11 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Rocky Gerung: Inventaris Pluralisme Memperkokoh Demokrasi</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/826</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/826#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru di seluruh Indonesia, dari Barat sampai ke Timur. Kita bergembira bisa ketemu seperti sudah terjadi selama 15 tahun setiap minggu. Dan kebetulan minggu ini kita akan membicarakan satu topik yang akan penting untuk 15 tahun lagi. Apa yang kita simak hari ini dan kita kerjakan selanjutnya akan sangat menentukan negara yang kita akan miliki 15 tahun dari sekarang sampai 15 tahun yang akan datang. Kita akan membicarakannya dengan Rocky Gerung, Dosen ; Fakultas Filsafat Universitas Indonesia. Selain dosen,  ;dia dari dulu memang aktifis politik dalam arti politik warga negara yang kita perlukan saat ini. 
 ;
Rocky Gerung mengatakan pluralisme memberi peluang kepada seluruh masyarakat untuk berkelahi di dalam konsep, apalagi konsep kebijakan publik. Kalau kebijakan publik dimonopoli oleh suatu lembaga, maka itu berarti kehidupan plural juga tidak berlangsung. Contohnya, sekarang ada ribut-ribut soal Badan Anggaran melakukan renovasi besar-besaran ruangannya, dan publik hanya bisa nyinyir karena terus-menerus diucapkan hal yang bertentangan. Kita tidak pernah mengetahui bagaimana proses memutuskan untuk merenovasi kursi seorang anggota dewan seharga Rp 20 juta. 
 ;
Menurut Rocky Gerung, pluralisme menyodorkan suatu percakapan yang betul-betul bermutu. Kalau dimungkinkan ada debat publik, karena perdebatan itu seharusnya adalah hak warga negara. Sedangkan sekarang kita melihat perdebatan itu hanya hak komisi ini dan itu di DPR. Kalau kita sedikit cerewet kita dianggap tidak sopan sebagai warga negara. Padahal pluralisme menjamin itu. Jadi justru agar supaya kita saling merawat kepercayaan antar warga, kita mengadakan diskusi khusus kemajemukan. Dengan cara itu ada kontrol akal sehat terhadap kebijakan publik. Dengan cara itu korupsi bisa kita minimalisir. 
 ;Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar dan Rocky Gerung. </description>
                <pubDate>Thu, 19 Jan 2012 11:33:17 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Dharsono Hartono: Pemanasan Global sebagai Peluang Bisnis</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/825</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/825#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
Tamu kita Dharsono Hartono, perintis dalam bisnis yang mengubah paradigma dari perusakan hutan ke pelestarian hutan. Saat ini ada satu skema yang diluncurkan secara international yaitu Reducing Emission from Deforestration and Degradation (REDD+). Ini upaya mengurangi emisi karbon dengan mengurangi deforestrasi dan perusakan hutan. 
 ;
Dharsono Hartono mengatakan saat melihat hutan, kita harus melihat asetnya bukan hanya kayunya. Kini kita harus melihat lingkungannya sebagai aset utama dan aset jangka panjang dari hutan. Kalau kita menjaga hutan, tata kelola airnya berjalan, biodiversitas binatang-binatangnya juga ada, maka bisa menghasilkan uang. Ini merupakan peluang bisnis baru saat munculnya pemanasan global atau perubahan iklin. ; 
 ;
Dia mencontohkan, jika ada hutan seluas 1.000 hektar dan pohon-pohonnya tidak dijaga dan dirawat maka 20 tahun lagi hutan itu bakal hilang dan terbakar. Itu akan memberikan emisi yang cukup tinggi dalam 20 tahun ke depan. Kalau kita punya kegiatan untuk menjaga hutan agar tidak hilang, maka kita menurunkan emisi yang akan direncanakan oleh dunia. Jadi, yang kita perjualkan itu namanya service (jasa) karena kita menjaga hutan. Dalam hal ini ada pihak ketiga yang bernama validator. Mereka yang memvalidasi dan memverifikasi. Secara scientific itu sudah bisa. Di internasional sudah ada standarnya yaitu Verified Carbon Standard (VCS).
 ;Berikut wawancara Wimar Witoelar dan Dharsono Hartono.</description>
                <pubDate>Mon, 16 Jan 2012 02:17:29 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Makarim Wibisono: Diplomasi Sebagai Modus Perjuangan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/824</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/824#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
 ;
Hari ini kita mewawancarai salah seorang diplomat paling senior di Indonesia yang masih aktif. Dia pernah menduduki berbagai jabatan dan melaksanakan pekerjaan di berbagai hal termasuk menjadi Duta Besar RI di PBB, Duta Besar di Guatemala, dan negara lain. Dia juga pernah menjadi Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi di Kementerian Luar Negeri, serta berbagai jabatan instrumental di dalam pengembangan ASEAN dan dalam menyiapkan konferensi lingkungan COP 13 di Bali. Sekarang dia menjabat Direktur Eksekutif di ASEAN Foundation. Dia adalah Makarim Wibisono.
 ;
Menurut Makarim Wibisono, kini dunia dihadapkan pada suatu sikap apakah kita melakukan langkah yang konkret untuk mengatasi kenaikan emisi gas rumah kaca, atau tidak berbuat apa-apa. Sekarang di hadapan kita adalah kalau kita tidak sepakat berarti tidak ada suatu usaha melakukan pengurangan gas rumah kaca sesudah Protokol Kyoto. Indonesia bisa memainkan peran besar dalam hal mengatasi perubahan iklim. Kepemimpinan ; atau leadership Indonesia termasuk diplomasi untuk terus membuka cakrawala dunia bahwa jika tidak melakukan sesuatu maka dunia akan menghadapi bencana dan semua akan menerima akibatnya. ; 
 ;
Kekuatan diplomasi menjadi salah satu kriteria kuat tidaknya suatu negara dalam hubungan internasional, setelah kriteria kesiapan militer, kemampuan ekonomi, dan kekompakan kaum elite. Kalau kita canggih dalam berdiplomasi, akan lebih baik.Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Makarim Wibisono. </description>
                <pubDate>Fri, 06 Jan 2012 08:40:19 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Djayadi Hanan: Sistem Presidensial Multi Partai, Suatu Anomali</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/823</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/823#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,
Saya gembira sekali menyambut tamu kita sekarang Djayadi Hanan yang pertama kali saya kenal di Palembang, Sumatera Selatan. Selain bertemu di Palembang, saya membaca berita mengenai dia di media massa. Saat ini sedang dalam proses meraih gelar Ph.D di Ohio State Columbus University, Amerika Serikat. Kita menemui dia di sela-sela menyusun disertai mengenai sistem multi partai presidensial.
 ;
Menurut Djayadi Hanan,  ;sistem multi partai presidensial kita secara makro bagus. Demokrasi kita stabil minimal sejak 2004 sampai sekarang. Sejak kita menerapkan sistem multi partai presidensial cukup bagus dan tidak ada gontok-gontokan terlalu tegang antara parlemen dan pemerintah yang sampai membuat pemerintahan gagal, kemudian militer juga tidak masuk lagi ke politik. Namun secara mikro, banyak keluhan tentang kualitas parlemen sekaligus juga keluhan tentang presiden kita baik di masa lalu, periode 2004 – 2009, maupun sekarang. Jadi, kita melihat ada dua hal. Pertama, sistem multi partai presidensial kita tampaknya berjalan. Namun di sisi performance, kinerja riilnya tampak lemah.
Menurut sistem multi partai presidensial kita perlu dimodifikasi sedemikian rupa oleh Indonesia sehingga bisa berjalan dengan baik dan fokusnya adalah untuk kepentingan masyarakat secara riil, sehingga orang-orang yang membutuhkan akses layanan kesehatan yang lebih baik dapat dijangkau, ; orang-orang yang membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi bisa mendapatkannya, orang-orang yang perlu pekerjaan ; bisa mendapatkan pekerjaannya, dan seterusnyaBerikut wawancara Wimar Witoelar dengan Djayadi Hanan.</description>
                <pubDate>Fri, 30 Dec 2011 02:14:53 GMT</pubDate>
        </item>
        
   </channel>
</rss>
