<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	<description>Transkrip wawancara radio mingguan bersama Wimar Witoelar</description>
	<copyright>Copyright 2005 Yayasan Perspektif Baru</copyright>
	<webMaster>webmaster@perspektifbaru.com</webMaster>
        <lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 18:50:53 GMT</lastBuildDate>
        <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
	<image>
	<url>http://www.perspektifbaru.com/html/images/pblogo.gif</url>
	<title>Perspektif Baru</title>
	<link>http://www.perspektifbaru.com</link>
	</image>

 
       <item>
                <title>Faisal Basri dan Sigit Pramono: Kasus Century secara Gamblang</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/728</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/728#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kita akan mengikuti satu percakapan yang langka mengenai aspek-aspek Bank Century yang barangkali terlewatkan hiruk pikuk yang ada di media lainnya. Tamu kita dua orang yang kami pilih karena dapat memberikan kejernihan di tengah-tengah kerancuan yang kita alami. Kesatu, orang yang seringkali kita bertemu di forum-forum umum, ekonom terkemuka dan seniordari Sri Mulyani Indrawati yaitu Faisal Basri. Tamu lainnya adalah Sigit Pramono. Kalau Faisal Basri sudah berbau selebriti karena banyak diundang, Sigit Pramono seorang yang bekerja serius, tekun dan seharusnya memberikan testimoni yang paling berbobot di Panitia Khusus (Pansus). Namun karena sesuatu hal dia tidak pernah dipanggil. Sigit Pramono hadir mewakili perbankan karena dia adalah pimpinan dari Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas). 

Berdasarkan pandangan dari dua orang tersebut, kebijakan bail out atau penyelamatan Bank Century merupakan tindakan yang benar karena:
1. Bail out Bank Centur merupakan keputusan yang menguntungkan dunia perbankan dan perekonomian Indonesia. Jika Bank Century tidak diselamatkan ditengarai akan membuat bank-bank lainnya kolaps sehingga akan ada krisis ekonomi yang dalam. Kini kondisi perbankan secara umum sangat baik terlihat dari beberapa indikator seperti aset total perbankan naik 10%.
2. Sampai saat ini belum ada kerugian negara apapun karena bail out melalui penyertaan modal LPS di Bank Century adalah pernyertaan modal sementara. Kalau nanti kita bisa menaikkan nilai Bank Century (kini bernama Bank Mutiara) maka kita bisa jual sahamnya. Inilah yang perlu kita sadari dan pahami agar tidak mendapat informasi yang keliru seolah sudah ada uang rakyat yang dipakai. 
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Faisal Basri dan Sigit Purnomo.</description>
                <pubDate>Sun, 07 Mar 2010 23:18:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Yayuk Basuki: Yayuk Basuki, Ikon Tenis Indonesia</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/727</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/727#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Saya penggemar tenis sejak lama sebelum saya terlibat mengurusinya. Saya sudah senang main sedikit-sedikit dan saya banyak menonton tenis. Kemudian oleh suatu kecelakaan sejarah saya mengurus dan bertemu lalu bekerja dengan Yayuk Basuki, bintang tenis Indonesia dan saya kenal baik, yang kini menjadi tamu kita. 

Menurut Yayuk, dulu tenis Indonesia mencatat prestasi yang baik termasuk di Fed Cup. Bicara tentang Fed Cup, pengalaman yang paling saya ingat adalah di New Zealand sewaktu dia dan teman-teman meloloskan Indonesia menjadi juara zona Asia dengan mengalahkan Taiwan. Kita juga pernah menembus 16 besar dunia dan mengalahkan Italia. Sedangkan kini Indonesia terlempar ke grup II zona Asia yang sebelumnya belum pernah terjadi.
Yayuk Basuki mengatakan saat ini tenis Indonesia memang terpuruk sehingga menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama untuk memikirkan dan memperbaikinya karena mau tidak mau kita juga ikut sedih. Salah satu cara untuk membantunya, dia akan terjun dan aktif lagi. Yang pasti dia berusaha stay healthy untuk bermain lagi karena sebetulnya dia ingin memotivasi pemain-pemain muda. Ini salah satu yang akan dia gunakan untuk menginspirasi mereka karena sebenarnya kita memerlukan icon/idola untuk mempromosikan tenis.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Yayuk Basuki.</description>
                <pubDate>Mon, 01 Mar 2010 00:42:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Asvi Warman Adam: Pansus Century Hanya Membuang Waktu</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/726</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/726#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Sekarang kita membicarakan perkembangan politik seputar Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai Bank Century. Pansus ini merupakan perwujudan dari suatu drama politik besar yang pernah terjadi di Indonesia. Kita harapkan dapat menggali beberapa segi yang tajam dan menarik yang berlangsung di sekitar kita. Pada kesempatan ini hadir DR. Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

Asvi mengatakan, dirinya sebagai sejarawan yang mengamati masa lampau, kadang terbiasa juga untuk meramal. Karena itu dia meramal hasil Pansus akan berupa tiga fraksi menolak kebijakan bailout dan enam fraksi mendukung bailout. Setelah Pansus ini, SBY akan tegas di dalam menentukan siapa lawan dan siapa kawan. Artinya, tidak ada lagi partai atau kelompok yang bisa bermain dua kaki yaitu ingin tetap di pemerintahan tapi sekaligus menjadi oposisi. 

Menurut Asvi, Pansus Bank Century harus cepat selesai seperti keinginan banyak publik supaya kita dapat melakukan hal-hal lain yang mungkin lebih positif dan berguna bagi bangsa dan negara ini. Hal-hal yang lebih penting untuk memajukan bangsa ini dalam menghadapi persaingan dengan China dan negara lain. Banyak yang kita bisa pelajari dari gonjang-ganjing Bank Century yaitu dari dulu kita merupakan bangsa yang suka membuang waktu. Itu pelajaran yang sangat berharga. Perjalanan sejarah Indonesia, kita dari dulu selalu membuang waktu dan hendaknya kalau ini selesai maka kita harus bertekad memajukan Indonesia. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan DR. Asvi Warman Adam.</description>
                <pubDate>Mon, 22 Feb 2010 07:03:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Huzna Zahir: PerlindunganTerhadap Nasabah Bank Masih Lemah</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/725</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/725#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kita akan membicarakan pembobolan anjungan tunai mandiri (ATM). Beberapa waktu lalu kita digemparkan kasus banyak sekali dana nasabah yang dibobol oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan sejumlah kelemahan yang ada dalam sistem keamanan perbankan. Pada kesempatan ini hadir Husna Zahir, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). 

Menurut Huzna, pembobolan dana nasabah melalui ATM adalah pelanggaran hak konsumen atas keamanan dan kenyaman dalam menggunakan produk barang atau jasa. Pada saat menggunakan kartu ATM, kita menggunakan sistem yang diterapkan oleh bank dan itu tidak aman.

Huzna mengatakan kasus tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi bank. Selain jaminan penggantian, security system juga harus dibenahi. Kontrol bank pun harus diperbaiki, bukan hanya dari sisi bank saja tapi dari sisi Bank Indonesia (BI) sebagai pengawas bank juga harus dibenahi dan ditingkatkan. Itu yang kita harapkan ke depan. Bukan hanya sekadar reaksi sesaat karena ada kasus, setelah itu terjadi lagi kasus-kasus sejenis dengan modus yang mungkin berbeda lagi. 

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Huzna Zahir.</description>
                <pubDate>Mon, 15 Feb 2010 07:00:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Wimar Witoelar: Gus Dur Mengangkat Derajat Rakyat Indonesia</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/724</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/724#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kali ini kita akan membahas mengenai sosok dan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia. Kita akan membahasnya dengan salah seorang yang kenal dekat dengan dia, yaitu Wimar Witoelar, mantan Juru Bicara Kepresidenan Republik Indonesia dan sahabat Gus Dur.

Menurut Wimar, Gus Dur berhak dinilai sebagai orang besar dan mendapat gelar pahlawan karena sikap dan pemikirannya. Gus Dur masuk ke sendi-sendi kepentingan negara yaitu budi pekerti orang Indonesia. Bahwa orang Indonesia tidak boleh membedakan sesama atas dasar ras, suku, jender, agama, turunan etnis, dan lain-lain. 
Jadi Gus Dur memperjuangkan kepentingan manusia, memerdekakan manusia agar sama-sama makmur. Juga memberantas kekerasan dan korupsi. Gus Dur percaya kalau kita meningkatkan derajat manusia, negaranya juga akan maju. Ia hanya mengharapkan bahwa nilai-nilai yang dianut menjadi nilai bersama. Jadi yang penting adalah mengoptimasikan hasil bersama. 

Berikut wawancara Didiet Adiputro dengan Wimar Witoelar.</description>
                <pubDate>Mon, 08 Feb 2010 01:21:01 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Rachland Nashidik: Pelanggar HAM Harus Ditolak</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/723</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/723#comments</comments>
                <description>Beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengangkat Letnan Jenderal Sjafrie Sjamsoedin sebagai Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan). Sebagai departemen yang strategis dan penting, tampaknya cukup beralasan untuk ada posisi Wamenhan. Tapi kontroversi kemudian muncul karena Sjafrie Sjamsoedin yang dipilih menjadi Wamenhan sehingga itu menjadi sorotan sejumlah pihak. Kontroversi bukan pada perlu atau tidaknya posisi Wamenhan, tetapi pada sosok Sjafrie Sjamsoedin yang oleh sebagian kalangan dinilai tidak tepat menempati posisi tersebut. Kita mendiskusikan hal ini dengan Rachland Nashidik, Direktur Eksekutif Imparsial.

Rachland Nashidik mengatakan pengangkatan Letjen Sjafrie Sjamsoedin menjadi Wamenhan merupakan persoalan serius. Ini untuk pertama kali presiden mengambil keputusan yang jelas-jelas melanggar undang-undang (UU) karena seorang perwira tinggi TNI yang masih aktif diangkat untuk sebuah jabatan politik yang sesungguhnya sudah dilarang oleh UU No.34/2004 tentang TNI. Itu akan menjadi preseden ke depan bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan lain bisa membuat perwira TNI aktif diangkat untuk jabatan-jabatan politik. Itu sesuatu yang mau kita hapuskan sebetulnya selama ini. 

Menurut Rachland Nashidik, Sjafrie Sjamsoedin juga mempunyai track record tidak menggembirakan dalam hak asasi manusia (HAM). Ada dua kasus pelanggaran HAM yang diduga melibatkannya ketika dia menjabat Pangdam Jaya, yaitu kasus Trisakti dan Semanggi. Ke depan, sangat penting untuk menjadikan pertimbangan-pertimbangan kepedulian, penghormatan, dan jaminan HAM di dalam background seseorang sebelum diangkat menjadi pejabat publik. 

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Rachland Nashidik, Direktur Eksekutif Imparsial.</description>
                <pubDate>Mon, 01 Feb 2010 00:48:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>M. Riza Damanik: Nasib Nelayan Indonesia Memprihatinkan</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/722</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/722#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kini kita bincang-bincang tentang perikanan yang merupakan hal penting karena bicara tentang perikanan selalu berhubungan dengan nelayan. Kita mengetahui nelayan termasuk warga negara kita yang berekonomi lemah,kontras dengan perannyasebagai pahlawan protein bangsa. Untuk itu narasumber kita adalah M. Riza Damanik dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) 

Riza Damanik mengatakan, dalam 10 tahun terakhir jumlah nelayan kita berkurang 25%. Sekarang jumlahnya sekitar 2,8 juta kepala keluarga nelayan tangkap di laut. Ada beberapa faktor penyebab berdasarkan temuan di beberapa daerah. Pertama, karena kebijakan yang tidak menguntungkan. Kedua, karena memang ada pengabaian baik oleh pemerintah maupun industri yang melakukan pencemaran di laut mereka. Ketiga, ada yang disebut dengan praktik pengusiran. Ini jelas sekali terlihat di kawasan industri pariwisata dimana nelayan-nelayan kita tidak boleh menangkap ikan dengan alasan wilayah pariwisata. 

Menurut Riza Damanik, perlu ada langkah luar biasa agar tetap ada masyarakat yang mau menjadi nelayan seperti antara lain memberi asuransi kepada nelayan agar mereka lebih berani untuk pergi melaut. Kedua, harus ada langkah luar biasa juga untuk menyiapkan sistem informasi yang sampai ke kampung-kampung nelayan mengenai kondisi laut. Informasinya tidak hanya mengatakan kapan melaut dan kapan tidak melaut, tetapi juga ada alternatif kemana mereka harus pergi melaut. Saya kira hari ini dampak perubahan iklim menyebabkan wilayah tangkap ikan berubah.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan M. Riza Damanik.</description>
                <pubDate>Mon, 25 Jan 2010 03:39:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Fatchiah E. Kertamuda: Mengendalikan Stres</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/721</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/721#comments</comments>
                <description>Salam Perspektif Baru,

Perspektif Baru edisi ini menghadirkan seorang Psikolog lulusan dari East Texas State University tahun 1995 yang juga dosen di Universitas Paramadina. Pada kesempatan ini, Ibu Fatchiah Ekowaty Kertamuda berbagi informasi mengenai pengelolaan stres untuk memperbaiki kepribadian kita. 

Jika sahabat Perspektif Baru hidup di kota-kota besar, stres bukan sesuatu yang aneh. Itu merupakan hal yang biasa kita hadapi dengan segala macam seluk beluk keseharian kita. Bisa di rumah, kantor, di jalan atau bisa juga dalam hidup berkeluarga. Minggu-minggu terakhir ini kita dikejutkan dengan beberapa kejadian yang secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan dengan masalah stres. Banyak berita mengenai orang yang loncat dari ketinggian dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Yang menarik, fenomena ini justru terjadi di pusat-pusat keramaian misalnya mall atau pertokoan. Bagi sebagian orang kematian adalah hal biasa, tapi bagi sebagian lainnya kematian apalagi di tengah-tengah keramaian dengan sengaja tentu cukup mengejutkan. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Fatchiah Ekowaty Kertamuda.</description>
                <pubDate>Sun, 17 Jan 2010 23:51:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Del Afriadi Bustami: Kurangi Risiko Bencana</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/720</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/720#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Kita akan membicarakan penanganan bencana di Indonesia pasca lima tahun peristiwa tsunami Aceh. Tamu kita adalah Del Afriadi Bustami, Koordinator Pendidikan Publik untuk Program Persiapan Masyarakat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Menurut Del Afriadi Bustami, yang kita harus perhatikan dan tingkatkan dalam konteks penanganan bencana di Indonesia antara lain pengurangan risiko bencana harus diupayakan dalam prioritas-prioritas yang jelas dan legal formal yang jelas dengan infrastruktur yang terinci. Karena itu kita harus memiliki hirarki wewenang yang jelas di tingkat nasional sampai ke daerah. 

Del Afriadi mengatakan, kita harus menyusun standar operasional prosedur (SOP) secara nasional. Saat ini kita melihat banyak SOP, misalnya, kabupaten/kota memiliki SOP, polisi punya SOP, TNI punya SOP, PMI punya SOP, SAR punya SOP. Kalau masuk dalam penanganan bencana maka SOP yang dipakai adalah SOP yang dimiliki oleh kabupaten/kota. Mereka larut dan tunduk pada SOP kabupaten/kota, itu yang kita sebut dengan SOP tingkat daerah. Di tingkat nasional belum ada SOP. Kita belum melihat bagaimana koordinasi BNPB dengan BMKG dan juga dengan Kementerian Kordinator Kesejahteraan Rakyat bisa lebih tajam supaya upaya penanganan bencana lebih bagus. Jadi agar ada koherensi mulai dari pusat sampai daerah. Yang paling penting juga adalah bagaimana kita mengajarkan hal itu kepada generasi berikut. 
Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Del Afriadi Bustami.</description>
                <pubDate>Mon, 11 Jan 2010 00:07:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Edvin Aldrian: Peluang-Peluang dalam Konteks Perubahan Iklim</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/719</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/719#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Beberapa waktu lalu kita disajikan satu isu global yang mencuat dan diberitakan luas mengenai perubahan iklim yang dibahas dalam konferensi di Copenhagen, Denmark. Ada beberapa kejadian, ada yang memprotes dan yang mendukung. Juga ada perseteruan antara negara maju dan negara berkembang. Pada kesempatan ini, kita mengundang Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DR. Edvin Aldrian. Mudah-mudahan kita bisa memfokuskan pikiran pada yang terjadi dengan dunia saat ini terutama mengenai iklim dan kehidupan kita beberapa waktu yang akan datang.

Edvin Aldrian mengatakan perubahan iklim adalah dampak tidak langsung pemanasan global. Yang terjadi pertama adalah pemanasan global lalu diikuti beberapa gejala langsung seperti kenaikan suhu bumi lalu kenaikan permukaan air laut. Kedua, dampak tadi menyebabkan penurunan luasan atau cakupan es-es di kutub. Dari perubahan langsung tadi juga mengakibatkan perubahan pada iklim. Kalau semula kita memiliki suatu keteraturan iklim seperti awal musim hujan atau kemarau datang di bulan tertentu, maka itu akan berubah. Perubahan pola musim juga akan menganggu aktifitas kehidupan petani dan nelayan. Jadi ada sektor kehidupan yang terkena dan makin lama dirasakan bahwa ternyata hampir seluruh sektor kehidupan manusia terkena dampaknya.
Menurut Edvin Aldrian, pemanasan global terjadi akibat kelebihan energi di atmosfir. Jadi cara paling cerdas mengatasi perubahan iklim adalah dengan menyerap kelebihan energi di atmosfir atau menyerap radiasi matahari itu sendiri dengan solar panel. Kalau cara yang sangat eco friendly, pilihannya adalah energi angin dan solar panel. Denmark sebenarnya sudah mengambil keuntungan nyata dari perubahan iklim dengan membuat kincir angin yang sangat efisien. Itu sudah dijual dan memberikan profit pada negara mereka, sehingga mereka melihat bahwa perubahan iklim adalah suatu pasar. Pasar untuk menyebarkan teknologi mereka. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Edvin Aldrian.</description>
                <pubDate>Sun, 03 Jan 2010 23:49:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>M. Chatib Basri: Jangan Pertaruhkan Perekonomian Indonesia</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/718</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/718#comments</comments>
                <description>Saat ini Perspektif Baru memberikan fokus pada topik Bank Century karena banyak terjadi kerancuan yang dilontarkan politisi dan beberapa pihak seperti terekam di media mainstream. Guna terus memberikan kejernihan pada publik, kali ini Perspektif Baru membahas Bank Century dengan ekonom dari Universitas Indonesia (UI) DR. M. Chatib (Dede) Basri.
Menurut Dede Basri, isu pokok dalam Bank Century bukan soal membela Sri Mulyani – Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba menyelamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik yang membahayakan ini.
Dede Basri mengatakan, siapa pun di sana kalau dia melakukan pekerjaan benar maka harus kita dukung. Jangan sampai gonjang ganjing politik itu kemudian membuat nilai tukar rupiah jatuh, bank tutup, orang tidak bisa bekerja, pengangguran naik. Gonjang ganjing politik saat ini membuat semua implementasi dari reformasi menjadi sangat terganggu. Mari kita sama-sama berfikir masih ada satu yang lebih penting ketimbang isu Bank Century yaitu nasib ekonomi Indonesia. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan M. Chatib Basri.</description>
                <pubDate>Mon, 28 Dec 2009 00:19:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Puji Hastuti: Prestasi Tuna Grahita</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/717</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/717#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Tamu kita sekarang dr. Pudji Hastuti, MSc. PH, yang menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Special Olympics Indonesia (SOIna) 2006 – 2010. Sebelumnya, pada 2001 dia menjabat sebagai Dirjen. Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial hingga masa pensiunnya pada Maret 2006. Dia juga aktif di Persatuan Wredatama Republik Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, dan membantu Komisi Nasional Lanjut Usia.

Puji Hastuti mengatakan dalam upaya memberdayakan penyandang tuna grahita, negara kita telah memiliki undang-undang (UU) dan kebijakan pemerintah. Misalnya, UU No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, dan juga rancangan aksi nasional penyandang cacat 2009-2014. Namun di dalam pelaksanaannya masih jauh dari yang diharapkan, baik di dalam penganggaran, program maupun sarana dan prasarana yang tersedia untuk mereka. 

Puji Hastuti ingin menggugah kepedulian semua pihak termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat agar kita secara bersama menangani penyandang tuna grahita bisa setara dengan mereka yang tidak tuna grahita karena selama ini prestasi mereka juga cukup membanggakan di dunia internasional. Dukungan dari pemerintah diharapkan dalam bentuk penganggaran, sarana, dan prasarana yang lebih optimal. Dari dunia usaha dalam bentuk alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk membantu memberdayakan atlet tuna grahita. Sedangkan dari masyarakat adalah bisa menerima keberadaan anak-anak tuna grahita setara dengan kelompok masyarakat lainnya. 

Berikut ini wawancara Ansy Lema dengan Puji Hastuti.</description>
                <pubDate>Mon, 21 Dec 2009 00:41:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Wimar Witoelar: Mencuri Kejernihan dari Kerancuan Bank Century</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/716</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/716#comments</comments>
                <description>Saya suka sekali dengan kutipan Wimar Witoelar "Mencuri Kejernihan dari Kerancuan". Sekarang kita ingin mencuri kejernihan dari kerancuan pemberitaan Bank Century yang sudah menjadi wacana publik demikian lama. Kita tidak akan membicarakan soal detail teknisnya. Saya dan Bung Wimar akan berbincang-bincang tentang bagaimana komunikasi ini kemudian menggelinding dan menjadi wacana publik yang ditangkap begitu berbeda-beda di publik. 

Beberapa poin penting untuk bisa memahami kasus Bank Century secara jernih adalah

- ;Bank Century dilanda krisis karena penjarahan bank oleh pemiliknya yaitu Robert Tantular yang sekarang sudah ditangkap dan sedang diadili karena mencuri uang nasabah Bank Century dan mengacaukan bank tersebut. 
- ;Uang Rp 6,7 triliun untuk menyelamatkan Bank Century bukan uang negara tapi uang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan pemilik mayoritas dari LPS adalah bank-bank yang membayar premi.
- ;Kebijakan penyelamatan (bailout) Bank Century adalah tepat. Ibarat, ada rumah yang terbakar di tengah perkampungan padat pada saat musim kemarau. Kalau kita tidak menyelamatkan rumah tersebut maka kebakaran itu bisa merembet ke rumah lain karena terjadi di musim kemarau sehingga bisa cepat menyebar. Jadi, suatu bank yang ambruk di masa krisis ekonomi (musim kemarau) akan mudah menular ke bank lain.
- ;Sesudah LPS mengambil alih, sekarang Bank Century yang bernama Bank Mutiara adalah bank yang sehat. Ia memiliki solvabilitas yang tinggi, liquidity yang baik, dan capital asset ratio (CAR) di atas 8%. 
- ;Isu yang seharusnya dikejar dalam persoalan Bank Century adalah mengejar orang yang menjarah uang Bank Century yaitu Robert Tantular yang membuat bank tersebut sampai krisis. Uang tersebut mencapai sekitar 4 triliun. Jadi kemana uang itu, dibagi dengan siapa, Itu yang lebih riil. 

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Wimar Witoelar.</description>
                <pubDate>Mon, 14 Dec 2009 00:09:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Margarito Kamis: Rumor dan Spekulasi Memperlambat Proses Hukum</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/715</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/715#comments</comments>
                <description>Setiap masalah di masyarakat bukan saja memberikan informasi kepada para pengikut berita tapi juga kadang-kadang memberikan pendidikan dalam topik-topik yang tadinya tidak pernah terpikirkan. Misalnya, krisis KPK-POLRI membuat semua orang sedikit banyak paham soal hukum, paling tidak mengikuti pakar hukum yang ia sukai. Bank Century membuat orang sekonyong-konyong ahli soal rekapitalisasi bank. Semua orang bisa bicara dan itu adalah kenikmatan demokrasi. Sisi negatifnya adalah sering kita berbicara mengenai hal yang kita tidak mengerti betul. Beruntunglah kita kali ini kedatangan tamu berasal dari Ternate, tapi sekarang banyak berkecimpung di Jakarta, yaitu Margarito Kamis. Dia lulusan Magister Hukum Universitas Hasanuddin dan pada 2006 – 2007 menjabat Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara. Dia ikut dalam kegiatan mempersiapkan Panitia Seleksi Komisioner KPK di Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada 2007 dan menjadi anggota Tim Seleksi Hakim Mahkamah Konstitusi di Dewan Pertimbangan Presiden pada 2008. 

Terhadap kasus Bibit – Chandra, Margarito Kamis mengatakan bahwa prinsip dasar dalam hukum kita adalah orang yang bisa menjadi saksi adalah orang yang mengalami sendiri, melihat sendiri, mendengar sendiri. Sejauh ini yang kita dengar adalah Bibit dan Chandra dituduhkan menerima uang, tapi tuduhan itu bukan berdasarkan kesaksian orang yang mengalami atau melihat sendiri. Misalnya, kata Ari Muladi, ia sudah memberikan uang ke Yulianto. Siapa itu Yulianto? Hal seperti ini tidak bisa dijadikan sebagai barang bukti. Terhadap kasus Bank Century, Margarito mengatakan dari segi hukum terlihat ada sebuah peristiwa yang dapat dikualifikasi sebagai peristiwa pidana dari temuan BPK. BPK mengkualifikasi itu sebagai kerugian negara. Semestinya dikualifikasi dulu status uang di LPS sebagai uang negara atau bukan. Kalau bukan uang negara tidak bisa dikualifikasi sebagai kerugian keuangan negara. Dan jika mau dikonstruksi di dalam hukum pidana, apakah penarikan dana oleh Robert Tantular itu terjadi sebelum bailout atau penarikan itu yang menyebabkan bailout dikeluarkan.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Margarito Kamis.</description>
                <pubDate>Mon, 07 Dec 2009 01:32:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Irvan Helmi: Kopi Bukan Sekedar Minuman</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/714</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/714#comments</comments>
                <description>Kopi bukan hanya sekedar minuman lezat  ;dan beraroma nikmat, tapi  ;dibalik itu aktivitas minum kopi juga bisa menjadi  ;simbol  ;situasi yang tenang dan damai. Kalau situasi negara aman maka orang bisa dengan tenang pergi ke coffee shop dengan santai. Kita akan membicarakan kopi dengan Irvan Helmi. Dia adalah Coffee Chief di Anomali Cafe, Juri Indonesia Barista Competition 2009, Manajer Operasional RS Khusus Bedah SS Medika, lulusan Sarjana Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom), mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Fasilkom 2003/2004 dan sekarang sedang menjalani Tesis untuk Master of Public Health di Universitas Gadjah Mada. 

Menurut Irvan, memilih kopi seperti kita mencari pasangan sebab preference orang berbeda-beda. Jadi kita tidak bisa mengatakan kopi yang satu lebih enak karena preference orang berbeda-beda. Secara umum, ada dua species kopi yaitu arabica dan robusta. Arabica memiliki rasa yang lebih kompleks karena lebih adaptif terhadap lingkungan tanahnya. Jadi kalau arabica ditanam di tanah Sumatera Lintong, Bali dan Jawa maka kopi yang dihasilkan akan menyesuaikan dengan kadar nutrisi di dalam tanahnya. Sedangkan robusta tidak sekompleks arabica karena tidak terlalu adaptif, tapi dia tahan terhadap hama.

Irvan mengatakan harga kopi robusta di pasar internasional bisa setengah harga dari arabica. Anehnya di Indonesia, walaupun termasuk eksportir kopi terbesar di dunia, tapi sekitar 80% kopi yang diekspor adalah robusta. Padahal tanah yang ditanam untuk robusta juga cocok untuk arabica. Jadi sangat disayangkan mengapa seperti itu. Padahal kalau kita bisa mengganti robusta dengan arabica maka kita bisa mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari tingkat petani sampai ke pendapatan devisa. 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Irvan Helmi.</description>
                <pubDate>Mon, 30 Nov 2009 06:11:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Baharoedin Ildrem Siregar: Membangun Kesadaran Mencegah Stroke</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/713</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/713#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,

Kesehatan adalah salah satu masalah terbesar di negara kita, dan salah satu juga yang sering kali ada di sekitar dan "menghinggapi" diri kita, sanak saudara adalah penyakit stroke. Kita akan membicarakan stroke dengan Baharoedin Ildrem Siregar, ahli neurolog dari RSPI dan MMC Kuningan, Jakarta. Dia juga pengurus inti Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia (Perhuki) Pusat, Pendiri dan Pembina Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), serta anggota dari Western Pacific Critical Care Society.

Baharoedin Ildrem Siregar mengatakan pencetus terbesar stroke adalah pola hidup (lifestyle) yang tidak baik, misalnya kurang tidur, merokok, workaholic, tidak kenal lelah, banyak makan lemak. Itu bisa menyebabkan hipertensi sehingga bisa menyebabkan stroke. Jadi stroke lebih banyak akibat pola hidup. kalau kita memodifikasi pola hidup pasti bisa mencegah stroke. Misalnya, hidup lebih teratur, makan teratur, jangan makan daging terlampau banyak, jam tidur yang cukup, dan olah raga yang sesuai dengan umur.

Menurut Baharoedin, jika terkena stroke maka bisa mengganggu sosial ekonomi keluarga. Jadi harus ada upaya mempromosikan upaya pencegahan stroke. Dalam hal ini bisa dengan mengikuti sistem kesehatan nasional. Mulai dari Puskesmas di kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi harus diadakan penyuluhan-penyuluhan bagaimana hidup teratur, makan sehat, dan lain-lain. Mereka harus jadi benteng terdepan untuk memerangi stroke. 

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Baharoedin Ildrem Siregar. </description>
                <pubDate>Sun, 22 Nov 2009 23:22:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Dicky Edwin Hindarto: Membentuk Pasar Karbon di Indonesia</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/712</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/712#comments</comments>
                <description>
Salam Perspektif Baru,
Minggu-minggu ini secara intensif kami menyorot masalah perubahan iklim (climate change) karena pada tahun ini dan ke depan akan menjadi masalah yang menguasai kehidupan kita, dan juga akan menguasai dialog publik termasuk soal politik internasional. Kita mengharapkan itu akan menjadi topik domestik yang sekarang perhatiannya masih tersedot pada hal lain. Saya sangat beruntung karena saat berminat secara pribadi maupun atas dasar peran publik kami dalam persoalan perubahan iklim, kami bertemu secara kebetulan dengan orang yang paling berwenang yaitu Dicky Edwin Hindarto yang menjabat Kepala Divisi Carbon Trading di Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Selain itu ia juga aktif dalam sebagai negosiator, representatif Indonesia dalam konferensi internasional dalam isu climate change (perubahan iklim), terutama dalam United Nation Framework on Climate Change Conference (UNFCCC).

Dicky Edwin Hindarto mengatakankan carbon trading adalah bagian dari mitigasi perubahan iklim. Mitigasi itu bermakna mengurangi atau mencegah terjadinya perubahan iklim. Dalam hal ini bermula dari kesepakatan antar negara di dunia untuk melakukan pengurangan karbon.

Menurut Dicky Edwin, saat ini sudah ada dua bentuk carbon trading yaitu voluntary market dan CDM. Ke depan, akan ada satu jenis pasar lagi yaitu REDD yang akan diciptakan pada 2012. REDD mengupayakan agar hutan mendapatkan insentif karena hutan bisa menyerap banyak karbon. Dalam hal ini akan dihitung jenis hutannya seperti apa, umurnya berapa dan kemudian daya serapnya berapa. REDD akan persis sama dengan CDM. Jadi dibutuhkan usaha, investasi, dan satu komitmen yang kuat untuk membawa hutan akhirnya bisa menghasilkan duit.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Dicky Edwin Hindarto. </description>
                <pubDate>Sun, 15 Nov 2009 23:45:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Nur Hidayati: Hutan adalah Kekayaan Kita</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/711</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/711#comments</comments>
                <description>Kita akan berbincang mengenai perubahan iklim (climate change) dengan Nur Hidayati. Kini dia menjabat Greenpeace Country Representative, Indonesia. Sebelumnya pernah menjadi Coordinator - Civil Society Forum for Climate Justice (April 2008-February 2009), Climate & Energy Campaigner – Greenpeace Southeast Asia (2006-2008), Campaign Advisor – Sawit Watch (2005-2006)

Nur Hidayati mengatakan kita tergolong negara ketiga terbesar setelah Amerika Serikat dan China sebagai penghasil karbon yang menyebabkan perubahan iklim. Karbon terbesar Indonesia bukan dari sektor pabrik, mobil, dan lain-lain, tapi dari sektor kehutanan akibat deforestasi. Laju deforestasi di Indonesia tercepat di dunia akibat pola pembangunan yang masih eksploitatif dan merusak kekayaan alam kita yang sangat berharga yaitu hutan. 

Konversi hutan lahan gambut menjadi perkebunan skala besar seperti kelapa sawit atau hutan tanaman industri untuk pabrik kertas menghasilkan karbon yang besar. Lahan gambut memiliki kandungan karbon sangat besar di dalam tanahnya. Kalau hutan di lahan biasa ditebang, karbon yang terlepas hanya dari pohon yang digunduli. Kalau di lahan gambut, karbon yang terlepas dari pohon yang ditebang dan juga dari terjadi proses oksidasi gambut itu sendiri. 

Menurut Nur Hidayati, komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk emisi karbon Indonesia turun hingga 26% bisa tercapai jika melakukan stop deforestasi, menghentikan ekspansi di lahan gambut, dan meninjau ulang izin bagi perusahaan skala besar yang saat ini masih dibolehkan ekspansi.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Nur Hidayati. </description>
                <pubDate>Mon, 09 Nov 2009 00:29:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Herliyana Suharta: Semua akan Hancur oleh Perubahan Iklim</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/710</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/710#comments</comments>
                <description>Kita akan berbincang mengenai orang, binatang, pohon, seluruh alam. Ini tidak berlebihan karena kita berbicara mengenai bahaya perubahan iklim di dunia, yang sering diistilahkan sebagai global warming. Sebetulnya bukan hanya pemanasan global sebab ada bagian dunia yang makin dingin dan berangin. Ini hal yang sangat mengkhawatirkan. Kita akan berbincang mengenai perubahan iklim (climate change) dengan Prof. Dr. Herliyani Suharta. Dia adalah salah satu pakar di Indonesian Renewable Energy dan juga aktif di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai Tim Penilai Jabatan Peneliti Instansi (P2JPI). 

Herliyani Suharta mengatakan dampak perubahan iklim sangat berbahaya. Misalnya, kalau temperatur bumi meningkat akan mengakibatkan es di kutub mencair sehingga akan menaikkan permukaan laut. Ini berbahaya bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan karena orang yang tinggal di pesisir sangat rentan mengalami tenggelam. Selain kenaikan permukaan laut, juga akan meningkatkan temperatur samudera sehingga akan menumbuhkan uap air di angkasa. Uap air ini bisa bergerak oleh angin yang tidak menentu dan bisa terbawa menjadi hujan di suatu tempat yang tidak bisa kita prediksi atau bisa menimbulkan badai yang sangat berbahaya. 

Menurut Herliyani Suharta, penyebab utama perubahan iklim adalah akibat peningkatan produksi karbon (CO2) di bumi. Karbon adalah polusi akibat penggunaan energi oleh umat manusia yang terjadi sejak revolusi industri pada 1820-an. Keberadaan karbon di atmosfir bisa sampai selama 200 tahun. Satu cara utama mengurangi CO2 adalah dengan menanam pohon dan menjaga hutan karena pohon dapat menyerap banyak CO2. Jadi orang biasa bisa turut berperan mencegah perubahan iklim dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya.

Berikut ini wawancara Wimar Witoelar dengan Herliyani Suharta.</description>
                <pubDate>Thu, 29 Oct 2009 11:19:28 GMT</pubDate>
        </item>
        
 
       <item>
                <title>Siti Zuhro: Menteri Harus Dapat Sorotan Kritis</title>
                <link>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/709</link>
                <comments>http://www.perspektifbaru.com/wawancara/709#comments</comments>
                <description>Tamu kita peneliti senior di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Siti Zuhro. Kita akan membicarakan mengenai kabinet 2009 – 2014.

Menurut Siti Zuhro, partai politik memang berjuang untuk berkuasa dan harus merepresentasikan kepentingannya. Namun menjadi masalah ketika orang yang ditempatkan di kabinet masih dipertanyakan profesionalisme, integritas, kompetensi, dan kapasitasnya. Susunan kabinet sekarang adalah kabinet pelangi jilid kedua. Itu karena ada konsekuensi yang dilematis dari koalisi besar yang dibangun SBY dengan melibatkan enam partai politik (Parpol). 

Siti Zuhro mengatakan, kabinet 2009 – 2014 telah terbentuk. Kita tidak punya pilihan kecuali menerima format susunan kabinet itu. Namun ada bagusnya kita kritis untuk meluruskan kabinet baru ini. Kita sebagai warga negara memiliki hak untuk ikut berpartisipasi dan mengawal. 

Berikut ini wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Siti Zuhro. </description>
                <pubDate>Mon, 26 Oct 2009 03:12:00 GMT</pubDate>
        </item>
        
   </channel>
</rss>