Berita PB ›
Bernas: Diluncurkan, Buku II Perspektif Baru
05 Des 2005| Cetak Artikel Ini
Jogja—Seringkali hanya suara orang-orang yang mempuyai kedudukan dan kekuasaan saja yang yang muncul di tengah-tengah publik. Hanya suara orang-orang yang dianggap mampu memberikan perubahaan dari kebijakan yang dibuatnya. Dari cetusan ide dan pandangan itu kemudian diabadikan dalam berlembar-lembar halaman dalam buku yang layak jual.
Namun, di manakah suara orang-orang yang selama ini dianggap biasa meskipun merekalah yang sebenarnya saksi dan pelaku sejarah kehidupan itu sendiri yang mempunyai pandangan dan ide yang kalah cerdas dan menakjubkan? Akankah isi kepala mereka dibukukan?
Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar pun mencoba mengolah kegelisahaan tersebut melalui wawancara interaktif Perspektif Baru yang disiarkan lebih dari 200 radio di Tanah Air sejak 1996. Memang, ia melibatkan orang-orang yang dianggap biasa yang memiliki latar belakang politikus, aktivis, dokter, dan sastrawan. Namun ia juga memaparkan curahan suara penderita AIDS.
“Keragamaan bentuk Perspektif itu semata-mata untuk memuaskan keinginan orang biasa yang saat Orde Baru sangat sulit menemukan media untuk bertukar pikiran, mendapatkan informasi yang jernih dari kerancuan. Perspektif lebih menyesuaikan diri dengan kebiasaan komunikasi waktu itu.
Perspektif hanya membawakan pikiran orang biasa, orang yang bosan dengan kemunafikan. Perspektif mewakili orang yang menginginkan demokrasi tapi tidak mau demonstrasi, yang ingin kaya tapi tidak ingin korupsi” kata Wimar dalam launching Buku II Perspektif Baru yang berjudul Perspektif Baru Melebarkan Sayap di Toko Buku Gramedia, Sabtu (3/12) sore.
Perspektif hanya membawakan pikiran orang biasa, orang yang bosan dengan kemunafikan. Perspektif mewakili orang yang menginginkan demokrasi tapi tidak mau demonstrasi, yang ingin kaya tapi tidak ingin korupsi” kata Wimar dalam launching Buku II Perspektif Baru yang berjudul Perspektif Baru Melebarkan Sayap di Toko Buku Gramedia, Sabtu (3/12) sore.
Dalam kesempatan itu, Wimar juga menggelar talkshow bersama Direktur Yayasan Kesatuan Pelayanan Kerjasama (Satumama) Jogja Methodius Kusumohadi. Khalayak dengan berbagai latar belakang, seperti aktivis, praktisi pendidikan, juga pengunjung toko buku tersebut bergantian tersebut, bergantian mengacungkan terlunjuk untuk menyuarakan perspektifnya tentang berbagai hal,
“Orang-orang Indonesia itu kaya-kaya, tetapi negaranya miskin, sebaliknya, Singapura itu kaya, tapi rakyatnya miskin. Saya pikir, reformasi tidak banyak mengubah suasananya, tapi juga orang-orangnya melalui perubahan system”, Ucap Methodius saat mengomentari pertanyaan dari orang biasa tentang perjalanan reformasi di Indonesia.
buku setebal 348 halaman yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama itu, diakui Wimar, bukanlah kumpulan tulisan orang atau tulisannya sendiri. Buku itu merupakan kumpulan wawancara dalam acara Perspektif Baru dari 2003-2005 dari 500 wawancara yang kemudian disaring menjadi pandangan dan pikiran dari 35 orang biasa dengan aneka latar belakang yang mempunyai gagasan dan pengalaman menarik.
Wawancara itu dikemas secara spontan dan santai tanpa keterikatan topik-topik tertentu. Penekanan wawancara tidak pada kedalamannya, melainkan pada pemunculan pandangan yang jernih. Sedangkan kumpulan wawancara dalam buku pertamanya pada 1998 diberi judul Mencuri Kejernihan dari Kerancuan. (ito).




