Berita PB ›
Kompas: Suara di Balik Belenggu “Mainstream”
05 Des 2005| Cetak Artikel Ini
Diskusi Buku “Melebarkan Sayap”
Oleh: Agung Setyahadi
Wimar lantas membuat talk show panggung Perspektif Live yang berkeliling ke berbagai kota. Pada 26 Januari 1996, Perspektif Baru (PB) digelar untuk pertama kalinya. PB merupakan acara dialog yang disiarkan melalui 380 radio dan 12 surat kabar. Program ini dikelola oleh Yayasan Perspektif Baru (YPB), sebuah lembaga non profit di bidang pendidikan publik yang diketuai oleh Wimar.
YPB berusaha menyediakan dan menyebarkan informasi suatu isu agar publik memahami dengan format yang menarik dan mudah dipahami. Juga masyarakat mendapatkan informasi yang sama dan seimbang. Distribusi informasi ini bisa diakses melalui www.perspektifbaru.com yang berisi sekitar 507 wawancara.
Hasil wawancara dalam PB telah diterbitkan dalam dua buku berjudul Mencuri Kejernihan dari Kerancuan (1998) dan Melebarkan Sayap (2005). Buku terakhir berisi 34 wawancara PB 2003-2005 yang dikelompokkan dalam Perspektif, Perjuangan, Cara dan Rasa.
Setelah diluncurkan di Jakarta bulan September, buku Melebarkan Sayap dipromosikan ke berbagai kota, salah satunya di Toko Buku Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Sabtu (3/12). Hadir dalam acara itu Wimar Witoelar, dan pembicara tamu Meth Kusumohadi dari USC Satunama.
Menurut Wimar wawancara dalam buku PB memang dengan orang yang punya otoritas dan pengalaman di bidangnya. Mereka pada umumnya orang biasa yang memiliki gagasan dan pengalaman. Keragaman bentuk perspektif ini semata-mata untuk memuaskan keinginan orang biasa yang pada masa Orde Baru sangat sulit menemukan media untuk bertukar pikiran dan memperoleh informasi yang jernih dari kerancuan.
Perspektif, menurut Wimar lebih menyesuaikan diri dengan kebiasaan komunikasi Orde Baru. Perspektif hanya membawakan pikiran orang biasa, orang yang bosan dengan kemunafikan, menginginkan demokrasi tetapi tidak mau demonstrasi, yang ingin kaya tetapi tidak korupsi.
“Pesan dasar yang saya tangkap dari buku ini adalah fakta pengalaman yang dialami seseorang secara riil. Pengalaman itu disampaikan secara kritis. Unsur kritis ini yang menurut saya lemah sekali di Indonesia, baik dalam pendidikan formal maupun nonformal,” ujar Meth.
Dimensi itu penting sekali untuk menguatkan masyarakat sipil. Yaitu masyarakat sipil yang bisa mengontrol pemerintah maupun bisnis. Kontrol itulah yang sangat lemah di Indonesia, hingga menyebabkan banyak keruwetan di republik ini.
Pengalamam dalam PB ujar Meth , di luar mainstream dan ini membutuhkan keberanian dari orangnya. Mereka adalah orang-orang biasa dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Tetapi, mereka berani maka mereka bisa keluar dari kotak-kotak yang dibuat oleh mainstream.
Jika perspektif ini menjadi pikiran alternatif dan bisa ditindaklanjuti dengan tindakan nyata, akan ada perkembangan bagus di Indonesia. Dan Yogyakarta merupakan lahan subur untuk melebarkan sayap PB. Karena di Yogyakarta banyak mahasiswa yang potensial mengembangkan perspektif baru menuju perubahan.
Meth berpendapat, saat ini kekuatan mainstream sangat besar, sehingga perubahan sangat lambat. SBY memang berkomitmen untuk perubahan seperti membongkar korupsi dan menstabilkan keamanan. Namun, perubahan itu masih jauh dari ekspektasi masyarakat.
"Perspektif Baru sebaiknya diinisiasi oleh organisasi yang peduli. Dengan begitu perubahan pemikiran makin luas dan membawa perubahan Indonesia lebih baik," kata Meth. PB juga mengandung pendidikan demokrasi pada publik. Selama 32 tahun, publik tidak memperoleh penyadaran hak-haknya sebagai warga negara akibat mandulnya fungsi pemerintah untuk mempromosikan, memproteksi, dan mencegah pelanggaran hak-hak masyarakat. Perspektif Baru yang digarap dengan baik merupakan kontribusi penting untuk perbaikan Indonesia.




