Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Berita PB

Selayang Pandang Bertabur Bintang

30 Sep 2005| Cetak Artikel Ini

Oleh Lucky Krompis
 
Ditengah hiruk pikuk permasalahan rencana kenaikan BBM, dan kemacetan yang sudah beberapa hari belakangan ini terjadi. Ditengah gelombang aksi demo dan jeritan orang miskin yang katanya mau dibantu 100 ribu sebulan, itupun kalau masuk kelas berpenghasilan 175 ribu per bulan yang terus terang saya bingung apa masih ada yang sebegitu miskinnya? Kalau Pak Ogah dan Peminta-minta dijalan bisa mendapatkan 10 rb perhari dan kerjanya 25 hari saja sudah jadi 250 ribu rupiah dan nggak akan berhak dapat konpensasi BBM mengutip kata pemerintah.

Untunglah saya mendapatkan undangan yang merupakan 'oase' buat saya untuk sesaat bisa melupakan kegamangan soal yang satu itu dengan acara book launching "Perspektif Baru Melebarkan Sayap" di Bug's Cafe kemarin.

Mulai dari pertama saya datang saya merasakan begitu nyamannya berada dilingkungan orang biasa, begitu bersahabat, begitu menyatu layaknya sebuah keluarga. Begitu indahnya kalau ini bisa kita rasakan dalam forum yang lebih besar sebagai satu keluarga dalam Repubik Indonesia yang kita cintai ini. Dan itu semua pasti terjadi kalau kita berangkat dari semangat dan jiwa yang sama seperti yang kita jalani dan alami selama pertemuan kemarin.

Tiba di Bug's Cafe tepat pukul 18.00. Begitu masuk langsung disambut hangat sama Susi (Intermatrix) dan ketemu WW & Satya warm welcome sambil mempersilahkan duduk dan pilih sendiri meja mana terserah karena memang nggak ada aturan kasta yang berlaku. Tidak lama duduk ada empat orang mahasiswi dari Malang yang dikenalkan WW untuk duduk satu meja, Kami berkenalan dan ternyata mereka adalah teman teman WW di Jaringan Friendster. Dalam hati saya merenung koq bisa-bisanya WW punya Jaringan friendster segala dan bisa kenal mahasiswi-mahasiswi ini? dan terbukti disini pin tidak ada batasan usia yang membatasi.

Nggak lama saya lihat Pak Maruli Gultom lagi asyik ngobrol, agak di belakang waktu saya datangi ternyata lagi ngobrol sama Pak Marsilam Simanjuntak ada juga Pak Benyamin Mangkudilaga dan Pak Sarwono, Ibu Noviantika Nasution dan semua tersebar duduk didepan dan dibelakang tanpa aturan protokoler apapun walau mereka pejabat dan mantan pejabat, dan bisa menyatu dengan indah.

Ada Teten Masduki yang nggak asing berteriak mengenai korupsi, ada Bambang Harimukti dan Dana Iswara dan yang lainya dari kalangan Pers dan Media tak ketinggalan ada Angelique Widjaja, Ade Rai dari kalangan Olahragawan, ada Adhie MS pokoknya semua komplit dan bertaburan bintang membentuk gugusan yang indah. Tak ada rasa kalau mereka harus diistimewakan karena mereka paling bersinar dan paling indah, tapi semua menjadi satu kesatuan yang menciptakan keharmonisan dan keindahan.

Belum selesai disitu, tapi ada kelompok Perkusi Akar yang tergabung dalam sebuah sanggar yang membina anak-anak dari kalangan yang belum beruntung yang tinggal di rumah-rumah petak dan disamping TPS di pinggiran Jakarta dan Bekasi, tapi penampilan mereka dalam musik perkusi yang indah, memikat, energik dan harmonisasi yang kuat,dan nggak kalah sama Twilite Orchestranya Mas Adhie.

Dan gong yang terindah buat saya adalah saat WW memanggil seorang bocah penjual koran dan tabloid yang katanya ketemu WW pagi harinya saat makan bubur, yang diundang bersama keluarganya ikut acara ini, yang diusung WW sebagai ujung tanduk distribusi media dan berhak mendapatkan apresiasi. Itu semua membuat lengkap malam kita dengan meniadakan batasan sosial yang seringkali menjadi dinding pembatas kerbesamaan kita.

Perspektif Baru benar-benar sebuah terobosan yang menghancurkan segala dinding dan sekat-sekat yang memisahkan kita selama ini untuk menjadi sebuah keluarga. Dan sangat-sangat relevan sekali kalau judul "Melebarkan Sayap" untuk menyentuh semua lapisan, golongan dan status sosial untuk menjadikan kita satu keluarga dalam arti yang sebenarnya.

Terima kasih Yayasan Perspektif Baru dan Yayasan Konrad Adenaurer Stiftung, berkat kalian saya bisa menyaksikan bahwa sebagian besar kita masih punya hati untuk berlaku baik dan semakin baik.

Salam,
Lucky